
“Tentu saja Tuhan tidak akan merestui niat burukmu itu padaku karena tahu kalau saat itu aku benar-benar tulus mencintaimu. Tapi ternyata kamu malah memanfaatkanku karena keinginanmu memiliki Steven tidak kesampaian,” ujar Sebastian dengan wajah kesal dan senyuman sinis.
“Kalau saja aku tidak terlalu lelah menjelang pernikahan kita, sudah pasti aku berhasil membodohimu dan kamu akan percaya kalau Raven itu anakmu. Apalagi kita…” Shera sengaja memenggal kalimatnya sambil tertawa mengejek melirik Kirana.
“Jangan menambah catatan kebohonganmu, Shera ! Tidak pernah terjadi hubungan suami istri di antara kita sebelum menikah. Aku bukan tipe lelaki yang mudah tidur dengan perempuan,” ujar Sebastian sambil menatap Shera yang masih tertawa.
Sebastian melirik Kirana yang hanya diam saja. Wajah calon istrinya itu terlihat datar dan biasa saja, tapi Sebastian tahu kalau Kirana sedang memendam kekesalan dalam hatinya.
“Dan kamu tahu bagian yang paling seru, Bas ? Bahkan dalam keadaan tidak sadar dan berada di bawah pengaruh obat, Steven melakukannya sambil terus mengucapkan nama calon istrimu. Dalam bayangannya ia sedang bercinta dengan Kirana,” Shera tertawa.
“Cukup Shera !” tegas Sebastian dengan rahang mengeras.
“No ! Kamu harus tahu semuanya, Bas. Steven begitu mencintai dan terobsesi dengan calon istrimu itu. Dia menyentuh setiap lekukan tubuhku dengan menyebut Kirana. Dalam pengelihatannya aku adalah Kirana. Jadi secara tidak langsung, Steven merasa telah tidur dengan istrimu, Bas. Aku yakin kalau Steven sering membayangkan bercinta dengan Kirana,” ujar Shera sambi tertawa puas.
“Kamu benar-benar wanita paling gila yang aku kenal Shera !” ujar Sebastian dengan geram. Kedua tangannya terkepal di bawah meja. “Aku bersyukur karena Tuhan membukakan mata dan hatiku untuk mengetahui semuanya sebelum pernikahan kita berjalan.”
Steven memejamkan matanya dan telinganya masih mendengar percakapan Shera dengan Sebastian bagaimana gilanya Steven saat malam kelam itu.
“Kamu adalah perempuan paling jahat yang aku kenal, Shera,” desis Steven di sela-sela tawa Shera. “Dan selamanya aku tidak akan pernah mencintaimu. Hanya akan ada Kirana satu-satunya perempuan yang aku cintai sekalipun aku tidak dapat memilikinya.”
“Entah pelet apa yang dipakai perempuan ini sampai kamu gelap mata, Steven,” ejek Shera.
“Sekalipun Raven terbukti adalah anakku dan papa mengharuskan aku menikah denganmu, namun jangan pernah berharap kamu akan mendapatkan cintaku. Mungkin kamu akan memiliki ragaku, tapi tidak akan pernah hatiku,” ujar Steven dengan rasa kecewa.
“Maafkan aku, Nana,” Steven memandang Kirana dengan wajah sendu. “Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diriku dan membiarkan dijebak oleh perempuan gila ini.”
Kirana membalas tatapan Steven dengan wajah iba. Ia kembali teringat saat pertama bertemu dengan Steven yang sedang di-bully oleh Aleandro dan teman-temannya. Saat itulah Steven memandang Kirana dengan bias mata yang sama.
“Semuanya sudah terjadi Steve, tidak akan ada yang bisa membuatnya kembali seperti semula. Setidaknya aku berharap kamu akan menjadi seoarng ayah yang bertanggungjawab. Raven tidak bersalah apa-apa. Ia pasti juga tidak ingin dilahirkan di tengah orangtua yang hanya memiliki cinta sebelah saja,” ujar Kirana dengan senyuman dan tatapan lembut.
__ADS_1
Sebastian menatap Kirana dengan perasaan cemburu yang hampir meledak. Bagaimana Steven bisa move on kalau sikap Kirana begitu lembut dan menenangkan sekalipun Steven sempat menyakitinya dengan kejadian di hotel.
Shera mengambil gelas air putih yang sempat dibawakan oleh pelayan atas permintaan Kirana. Diteguknya isi gelas itu sampai habis.
“Sejak awal aku tidak pernah menuntutmu untuk bertanggungjawab atas anak yang kulahirkan. Bahkan saat papa menamparku dan memaksaku mengatakan siapa yang menghamiliku, aku tidak pernah buka suara. Kalau bukan karena perempuan ini !” Shera menunjuk Kirana dengan mata membelalak.
Sebastian memajukan badannya dan langsung menepis telunjuk Shera yang berada dekat dengan wajah Kirana.
“Perempuan ini punya nama dan ia adalah calon istriku,” ujar Sebastian dengan kesal.
“Terserah apa katamu, Bas, “ sahut Shera dengan kesal. “Yang pasti karena calon istrimu itu, hidupku dan Steven kembali kacau. Masalah yang sudah aku pendam harus dimunculkan kembali karena dia !” Pekik Shera sambil menatap Kirana dengan tajam.
Kirana tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya dalam hidupmu tidak ada pernah kata bersyukur dan menerima takdir. Selalu saja ada pihak lain yang disalahkan karena jalan hidupmu yang tidak menentu. Dan entah kenapa, sepertinya namaku yang jadi ranking pertama.”
“Dan kamu akan berusaha untuk menjebak Sebastian lagi supaya kamu memiliki seseorang yang dijadikan tumbal untuk menanggung semua perbuatan burukmu ? Kalau kamu tidak meracuni Steven untuk merebut aku dari Sebastian dengan alasan kamu ingin kembali lagi dengan Sebastian, mungkin aku tidak akan bertindak sampai sejauh ini,” sahut Kirana.
“Bukankah kamu yang memulainya dengan mengirim foto calon suamiku dengan Esti ? Lalu kamu menyuruh Steven sengaja merekam acara makan malam kami di hotel ?” Ujar Kirana dengan senyuman mengejek.
“Aku tidak pernah memaksa Steven untuk melakukannya. Itu semua karena ia ingin memiliki cintanya yang diambil oleh Bastian,” sahut Shera dengan wajah kesal.
“Kamu memang pemain drama yang ulung, Shera,” Kirana tertawa.
“Aku memang sudah lama tidak bertemu dengan Steven, tapi persahabatan kami jauh lebih lama dari rentang waktu perpisahan kami. Steven terlalu menjadikan diriku sebagai perempuan istimewa dalam hidupnya hingga tanpa sadar ia menjadi obsesi dan kamu,” Kirana menunjuk ke arah Shera.
“Kamu memanfaatkan kondisi Steven yang mulai terobsesi. Namun cinta yang dimiliki oleh Steven kepadaku adalah perasaan yang tulus, hingga ia tidak akan sanggup melakukan semua itu tanpa provokasi dari orang yang mengetahui benar kehidupan kita berempat.”
“Ternyata kamu seorang perempuan yang entah naif atau bodoh, Kirana,” Shera tertawa mengejek.
__ADS_1
Kirana melirik ke arah Steven yang lebih banyak terdiam. Ia memajukan badannya dan mendorong gelas berisi air putih mendekat ke arah Steven.
“Minumlah Steve supaya hatimu lebih tenang,” ujar Kirana. Steven menatap gadis yang dicintainya itu dengan tatapan haru. Ia mengangguk dan meneguk air putih yang ada di dalam gelas.
“Steven yang aku kenal memiliki hati yang baik dan bukan seorang yang pendendam. Aku sadar ketika Aleandro bercerita banyak padaku dan mengatakan betapa ia menganggumi seorang Steven yang pemaaf,” ujar Kirana yang sambil kembali menatap Steven.
“Dan hati yang baik itu telah tertanam dalam diri Steven. Kalau ia sekedar terobsesi ingin memiliki aku sekalipun berulang kali aku menolaknya, bukan hal yang sulit ia memaksaku dengan cara seperti yang kamu lakukan Shera. Tapi Steven hanya melakukan sebatas ancaman. Ia tidak benar-benar tega melakukannya padaku. Itulah sebabnya aku yakin bahwa dirimu adalah akar semua permasalahan ini. Kamu terus mencari jalan untuk memuaskan keinginanmu dengan cara apapun, Shera. Bahkan kamu tega merusak hidup orang lain, termasuk Raven, darah dagingmu sendiri,” ujar Kirana panjang lebar.
“Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bahas hari ini selain menunggu hasil tes DNA dan keputusan uncle Raymond,” ujar Sebastian bersiap bangun.
Ia harus kembali ke kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum ia cuti panjang untuk pernikahan dan honeymoon. Kirana juga harus langsung ke café untuk bekerja sore ini.
Kirana menahan lengan Sebastian dan membisikan sesuatu pada calon suaminya. Terlihat Sebastian mengerutkan dahi dan akhirnya mengangguk setuju.
“Maaf kami tidak bisa melanjutkan obrolan ini, Shera,” Kirana ikut bangun setelah Sebastian lebih dulu beranjak dari kursinya.
“Steve, biar Tomo yang mengantarmu kembali ke rumah sakit,” ujar Sebastian sesuai dengan permintaan Kirana. Calon istrinya itu tidak ingin Steven mengemudikan mobilnya sendiri dalam keadaan seperti sekarang ini.
“Kami duluan, Shera, Steve,” ujar Kirana pamit pada keduanya. Kali ini ia membiarkan tangannya digandeng oleh Sebastian. Ia tidak ingin memperlihatkan bagaimana hatinya sudah berhasil diracuni oleh Shera dengan masalah Sebastian.
Kirana sudah mengirimkan pesan pada Felix dan ijin untuk tidak bekerja di café hari ini dengan alasan ada keperluan mendadak dengan Sebastian. Ia memilih ikut dengan Sebastian ke kantor MegaCyber.
Selain ingin mengambil barang-barangnya yang masih dititipkan di gudang, hatinya sedang tidak nyaman untuk bekerja di café melayani tamu-tamu yang pasti cukup ramai sore ini karena merupakan awal bulan.
Sebastian tidak berani menanyakan apapun pada Kirana yang memilih diam sambil melihat keluar jendela sepanjang perjalanan dari restoran ke MegaCyber . Padahal tidak ada Dion ataupun sopir di dalam mobil karena Sebastian menyetir sendiri.
Tidak lama Steven pun keluar restoran tanpa bicara apa-apa lagi dengan Shera, dimana Pak Tomo sudah menunggunya untuk mengantar Steven kembali ke rumah sakit.
Shera pun keluar masih dengan hati yang penuh kemarahan dan kebencian. Dia menuju mobilnya sendiri untuk kembali ke kantor.
__ADS_1