
Kondisi Raven terlihat lebih baik pagi ini. Matanya langsung berbinar melihat Kirana saat bangun dari tidurnya. Tangannya terulur minta digendong oleh Kirana.
Melihat kondisi Raven yang masih lemah dan tidak mungkin ditinggal, Kirana memutuskan untuk mengambil cuti hari ini. Kirana mengirim pesan pada Echi dan Pak Rano kalau ia cuti hari ini karena ada keperluan keluarga.
Raven merengek minta diajak jalan saat Kirana menggendongnya, namun selang infus masih terpasang di lengan balita itu. Kirana membujuknya kalau Raven boleh keluar saat selang infusnya dicabut.
Anak itu menurut pada Kirana, bahkan saat Kirana membasuh tubuh dan mengganti pakaian Raven, lalu memberinya susu serta roti untuk sarapan.
Kirana tersenyum saat Raven sudah mulai berceloteh, bahkan saat Steven masuk untuk memeriksanya di pagi hari, Raven merengek minta supaya selang infusnya dilepas.
Kirana merasa sedikit lega karena kedatangan Steven didampingi dua orang perawat dan satu asisten dokter. Kunjungan resmi seorang dokter memeriksa pasiennya, bukan seorang Steven yang menemui anak temannya.
Jam 9 pagi Tante Mira mengabarkan kalau mereka baru bisa sampai di rumah sakit sekitar jam 10. Akhirnya Kirana memutuskan membawa Raven jalan-jalan ke taman rumah sakit. Itu pun karena cairan di kantong infus sudah habis.
“Kirana !” Panggilan itu membuat Kirana menoleh ke arah sumber suara.
Saat ini ia sedang duduk di bangku taman rumah sakit, mengajak Raven berjemur sebentar.
“Mommy ?” Kirana terkejut saat melihat mommy Amelia ada di rumah sakit, nanun sekaligus senang karena bisa bertemu dengan calon mertuanya.
“Anak siapa, Ki ?” Mata mommy Amelia memicing saat melihat Raven memeluk leher Kirana dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
“Anak Shera, Mom.”
Mommy Amelia tampak terkejut. Raut wajahnya berubah terlihat kurang suka melihat calon menantunya menggendong anak mantan istri Sebastian.
“Kenapa sama kamu ? Memang Shera kemana ?”
“Namanya Raven, Mom. Dia sedang sakit dan dirawat di sini. Menurut Tante Mira, Shera sedang tugas kantor ke Singapura.”
“Jadi Mira yang menyuruh kamu menemani cucunya menggantikan mamanya ?” Suara mommy Amelia terdengar sedikit meninggi dengan wajah kesal.
“Maaf, Mom,” Kirana menundukan kepalanya, merasa bersalah. Bahkan ia belum mendapatkan ijin dari calon suaminya.
Mommy Amelia menghela nafas dan sadar kalau ia sudah terbawa emosi. Mengingat bagaimana perlakuan Shera pada Sebastian dan berakhirnya hubungan mereka di rumah sakit ini, membuat mommy Amelia merasa tidak nyaman.
“Lalu kenapa Mira bisa menghubungi kamu dan meminta menjaga cucunya ?” Suara momny Amelia terdengar sudah melunak.
“Kiran sudah beberapa kali bertemu dengan Raven, Mom. Dan menurut Tante Mira, Raven mencari Kiran saat demam semalam,” Kirana mengangkat wajahnya dan menatap mata mommy Amelia yang masih terlihat kesal.
“Apa Sebastian tahu soal ini ?
Kirana menggeleng. “Sudah 3 hari kemarin Kiran tidak bisa menghubungi Mas Bastian. Bahkan wa Kiran juga belum dibaca. Maaf, Mom, Kiran sudah kemari tanpa ijin Mas Bastian.”
__ADS_1
Kirana mulai memanggil Sebastian dengan tambahan Mas di depan kedua mertuanya. Tidak mungkin dengan rentang usia yang cukup jauh, Kirana hanya memanggil nama atau memanggilnya Bee seperti biasanya.
Mommy Amelia menghela nafas kembali. Ia mengambil handphone dari dalam tasnya dan menghubungi seseorang. Ternyata mommy Amelia menghubungi daddy Richard yang langsung mengangkat panggilannya.
“Apa Bastian ada denganmu, sayang ?”
“Bisa minta Bastian menghubungiku atau Kirana segera ?”
“I love you too, Dear.”
Kirana hanya mendengar ucapan mommy Kirana tanpa tahu apa yang disampaikan oleh daddy Richard.
“Kamu sudah sarapan ?” Mommy Amelia sedikit menyesal karena bersikap keras pada Kirana.
“Belum, Mom. Tante Mira dan Om Herman baru sampai rumah sakit sekitar jam 10.”
“Huh sudah minta tolong orang, bahkan makananmu saja tidak diperhatikan,” dengus mommy Amelia dengan wajah kesal.
“Ayo kita sarapan dulu,” ajak mommy Amelia sambil berjalan menuju cafe yang ada di dekat lobby.
Kirana mengangguk dan memberitahu Raven kalau mereka akan pergi mencari cemilan dulu. Raven mengangkat wajahnya dan mengangguk.
Keceriaannya tadi sempat hilang dan terlihat wajahnya sedikit takut. Kirana pun sempat bingung karena sikap Raven seperti itu terhadap orang yang baru ditemuinya, termasuk saat balita itu bertemu Echi dan Marsha si mal beberapa saat yang lalu.
“Mommy tidak makan ?”
“Mommy masih harus puasa sampai jam 10 karena akan check up. Kamu makan saja, jangan sampai sakit saat ditinggal Bastian.”
Kirana mengangguk dan tersenyum karena mendapat perhatian dari mertuanya. Kirana melihat pandangan mommy Amelia terfokus pada Raven si pangkuannya.
Kirana membujuk Raven untuk bersalaman dengan mommy Amelia sekaligus menyebut namanya. Mulanya ia menggeleng, namun setelah Kirana membujuknya akhirnya Raven mengangguk.
“Laven,” ujarnya masih sedikit cadel saat tangan mommy Amelia menggenggamnya.
“Oma Amelia,” mommy Amelia mulai tersenyum saat menyebutkan namanya.
Perlahan kecemasan Raven mulai terurai dan celotehnya mulai terdengar. Sesekali terlihat mommy Amelia mengernyit dan memicingkan matanya memperhatikan Raven.
Tidak lama panggilan telepon berbunyi di handphone Kirana. Agak sedikit sulit, Kirana mengeluarkan handphone dari saku roknya. Wajahnya berbinar saat melihat nomor asing dengan kode negara (1) di handphonenya.
“Halo,” sahutnya dengan sumringah.
“Hai Honey,” suara yang dirindukannya langsung terdengar. “Kamu lagi sama mommy ?”
__ADS_1
“Lagi dimana, Bee ? Iya aku lagi sama mommy makan di cafe rumah sakit.”
“Lagi di hatimu,” gombal Sebastian membuat Kirana tersipu malu. Momny Amelia yang melihat Kirana tersipu hanya senyum-senyum.
Percakapan itu terganggu saat Raven mencoba mengambil handphone Kirana sambil memanggilnya mama. Mommy Amelia kembali mengerutkan dahinya saat mendengar Raven memanggil mama pada Kirana.
“Siapa itu, Kiran ?” Sebastian mengerutkan dahinya di sana, mencoba menyimak suara anak kecil yang terdengar jelas di handphonenya.
“Raven, Bee,”ujar Kirana jujur.
Bukan karena ada mommy Amelia di depannya, namun sejak kejadian foto itu, mereka sepakat untuk terbuka satu dengan lainnya.
“Bukannya mommy lagi ke rumah sakit ? Kamu bertemu dengan anak itu di rumah sakit lagi ? Bertemu dengan Steven lagi ?”
Pertanyaan Sebastian yang bertubi malah membuat Kirana tersenyum. Hatinya merindukan kebawelan Sebastian yang selalu khawatir saat ada nama Shera atau Steven di antara mereka.
“Bee, aku kangen,” lirih Kirana.
Sebastian menghentikan ocehannya dan tersenyum sendiri. Posisinya sedang berada di luar restoran tempatnya meeting bersama daddy Richard.
“Bukan karena habis bertemu Steven kamu baru ingat aku, kan ?” Sebastian sengaja membuat suaranya berat dan tegas.
“Bee…” Kirana merajuk. “Kamu mau aku kangennya sama Steven ? Memangnya dia calon suamiku ? Lagian kenapa nggak pernah balas pesan atau menghubungi aku ? Udah ketemu bule cantik ?”
Kirana yang lupa kalau sedang di depan mertuanya terus mengoceh. Raven yang ada di pangkuannya menatapnya bingung dan mommy Amelia senyum-senyum melihat wajah calon menantunya itu cemberut. Terlihat kalau sisi kekanakan Kirana masih cukup besar, namun ia yakin kalau itulah yang membuat Sebastian merasa bahagia.
“Awas kalau berani sama Steven !” Tegas Sebastian.
“Kalau pesanku nggak dibalas-balas aku mau selingkuh aja ,” oceh Kirana.
“Yakin kamu mau selingkuhi anak mommy ?” Mommy Amelia terkekeh mendengar ucapan Kirana.
Kirana tersipu saat sadar kalau sedang duduk semeja dengan calon mertuanya.
“Tuh dengar kata mommy, nggak boleh selingkuhi anak kesayangannya,” Sebastian tergelak saat mendengar ucapan mommy-nya.
“Honey, maaf aku nggak bisa lama-lama. Aku harus balik meeting sama daddy. I miss you too. Kalau ada apa-apa sementara ini kamu bicara dengan mommy dulu ya. Dan maaf kalau aku lama balas pesan atau meneleponmu. I love you my Kirana.”
“I love you too, Bee.”
Kirana tersenyum tipis. Sebagian kerinduannya terobati hanya dengan mendengar suara Sebastian.
“Jangan khawatir dengan Bastian, Ki. Anak mommy itu tipe pria setia, sampai karena terlalu setia bisa dibodohi oleh Shera. Selain itu, Daddy pasti akan menjaganya untukmu,” ujar mommy Amelia saat Kirana sudah menutup pembicaraannya dengan Sebastian.
__ADS_1
Kirana tersenyum sambil menatap mommy Amelia yang juga tersenyum padanya. Hatinya sedikit tenang, sampai lupa kalau Raven masih menatapnya dengan wajah bingung.