Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Kekalutan Renata


__ADS_3

Sebetulnya Bara sudah mulai jengah dan bosan menunggu di ruang tunggu pasien poli kebidanan. Pasalnya sebagian ibu-ibu itu mulai kasak kusuk sambil melirik ke arah Bara seolah bertanya kemana istrinya yang akan memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Mau beranjak dari situ, Bara tidak ingin melewatkan situasi Renata yang mulai panik. Bisa-bisa kalau dibiarkan kabur hari ini, ibarat orang berlari diberi jeda untuk istirahat dan memulihkan tenaga, Renata punya waktu untuk berpikir tentang cara menangkis ucapan Bara.


“Istrinya belum sampai, Mas ?” akhirnya seorang pria yang terlihat seusia dengannya membuka suara seolah mewakili banyak pasien yang menatap Bara dengan penuh tanda tanya.


Bara berusaha bersikap tenang dan tersenyum, padahal dalam hatinya kesal bukan kepalang. Apalagi biasanya Bara jarang berbasa-basi dengan orang, baginya lebih asyik berinteraksi dengan konputer.


“Ooo saya bukan mau mengantar istri periksa, tapi menunggu calon istri yang lagi mengurus pasien-pasiennya di dalam,” sahut Bara dengan penuh rasa percaya diri.


“Ooo jadi calon istrinya Mas ini dokter kandungan ? Yang mana ?”


“Dokter Renata,” sahut Bara asal namun dengan wajah meyakinkan.


”Hebat ya, masih muda sudah jadi dokter spesialis yang punya banyak pasien,” sambung si calon papa itu kembali.


Bara hanya mengangguk kalem dan tersenyum. Kalau bisa ia ingin menutup mulut pria itu dengan lakbam. Pasalnya Bara sangat malas meladeni kekepoan orang lain.


Untung saja tidak lama di pria itu bangun menemani istrinya yang ternyata pasien dokter Wanda.


Sementara di dalam ruangannya, Renata masih terlihat gelisah. Sudah sejak 20 menit yang lalu, Renata sudah tidak ada pasien lagi dan informasi dari perawat yang membantunya, Bara benar-benar setia menunggunya.


Akhirnya Renata bangun dari kursinya sambil menghela nafas beberapa kali. Ia tahu kalau sudah dalam kondisi seperti ini, tidak akan mungkin bisa kabur dari Bara.


“Saya keluar sebentar, Sus, mau ke ruangan IT bersama tamu yang di depan,” ujar Renata pada perawat yang membantunya.


“Kalau ada sesuatu yang penting, hubungi saja handphone saya.”


“Baik dok.”


Kembali Renata menghela nafas sebelum tangannya membuka pintu. Dilihatnya Bara sedang asyik dengan handphonenya.


“Sudah selesai ?”


Renata sedikit terkejut saat Bara langsung bangun dsn menatap ke arahnya, padahal beberapa detik sebelumnya terlihat pria itu sedang serius menatap ke handphonenya.

__ADS_1


“Kita makan dulu,” Bara menunggu Renata untuk berjalan bersamanya.


“Tadi katanya mau ke ruangan IT,” ujar Renata.


“Stafnya lagi istirahat sampai jam 7, jadi daripada bengong nggak jelas, lebih baik isi perut dulu, biar otak anda lebih lancar menjawab pertanyaan nanti.”


Renata menggerutu namun akhirnya berjalan bersisian dengan Bara menuju salah salah cafe yang ada di rumah sakit.


“Sekarang gue sudah sanggup membayar makana lo, jadi silakan pesan apa yang elo mau. Nggak usah pakai kata-kata pedas kayak anak SMA,” sindir Bara yang merubah panggilan dirinya dan Renata dengan gue elo karena baginya acara makan malam ini di luar urusan pekerjaan.


“Yakin elo sanggup membayar apapun yang gue pesan ?” ejek Renata dengan wajah yang kembali sombong.


“Iya, dengan catatan semua makanan yang elo pesan harus habis bersih, nggak boleh ada yang tersisa. Kalau sampai bersisa biar itu satu sendok kuah, bukan cuma elo harus ganti rugi biaya makannya dua kali lipat, tapi juga urus sendiri masalah elo dengan pihak rumah sakit. Gue akan lepas tangan depenuhnya,” Bara menyahut dengan senyum mengejek dan wajah menantang.


Renata menelan salivanya. Baru saja sifat aslinya yang sombong dan suka menyepelekan orang yang lebih rendah ekonominya keluar dan membuat Bara tersenyum sinis, Renata kembali terdiam. Saat ini ia tidak ada gambaran sama sekali tentang bukti yang dimaksud oleh Bara.


Akhirnya keduanya pun mulai memakan pesanan mereka. Sengaja Bara diam saja dan asyik sendiri menikmati makanannya. Ia tahu kalau sejak tadi Renata ingin mengajaknya bicara dan sudah pasti menanyakan masalah dirinya yang bisa masuk dalam daftar saksi dan mungkin saja berubah jadi tersangka.


Setelah duapuluh menit, Bara kembali merapikan dan menyusun peralatan makannya yang sudah kosong di atas nampan. Ia menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi.


“Bukankah masalah usaha pembobolan data sudah ada semenjak gue belum bekerja disini, Bar ?” akhirnya Renata memberanikan diri bertanya pada pria di depannya.


Renata terdiam. Apa yang dikatakan Bara memang betul, tapi bukan untuk mengambil kesempatan melakukan sabotase untuk pencurian data.


“Kenapa diam ?” tanya Bara dengan alis menaut.


“Nggg..nggak apa-apa,” sahut Renata dengan suara terbata.


Bara mengangkat tangannya memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi panas. Ia hanya menatap Renata tanpa mengeluarkan suara bertanya apa Renata mau memesan tambahan minuman juga.


Renata memesan tambahan minuman jeruk nipis hangat karena tadi siang sudah menikmati segelas es americano.


“Gue benar-benar nggak pernah punya niat apalgi berbuat sejauh itu, Bar.”


“Nanti elo bisa langsung ngomong sendiri dengan pihak-pihak yang berkepentingan di bawah aturan hukum. Nggak ada gunanya juga kalau ngomong sama gue sekarang. Lagian ini jam makan, buat gue artinya istirahat dari masalah pekerjaan. Malas ngomongin hal-hal berat.”

__ADS_1


Renata terdiam dan meneguk air putihnya. Diliriknya Bara yang kembali sibuk dengan handphonenya.


“Apa elo udah punya pacar, Bar ?”


Bara mendongak sekilas dengan wajah datar.


“Kenapa ? Elo gantian mau nembak gue ?” Ejek Bara dengan senyuman sinis.


“Dalam mimpi !” Cebik Renata.


“Hati-hati dengan mulut lo. Kata orang mulutmu harimaumu, dan kebanyakan orang yang bilang benci berkali-kali pada lawan jenisnya justru berakhir dengan benar-benar cinta dan susah move on,” ledek Bara kembali sambil tertawa sinis.


“Pengalaman pribadi ?” Renata kembali membalas dengan ejekan.


“Penting banget elo tahu soal kisah hidup gue ?” Bara menatap Renata dengan pandangan mengejek. “Takut gantian jatuh cinta sama gue tapi ternyata gue tolak karena udah punya pasangan ?”


“Cihh..” Renata berdecih. “Ternyata sifat mudah ge-er elo belum juga berubah. Jangan bilang akhirnya gara-gara sifat itu, elo udah kena tipu perempuan berkali-kali,” Renata tergelak.


“Gue udah bukan anak abege lagi yang suka sama perempuan dari fisiknya aja, dari yang kelihatan di luar aja. Sekarang saatnya gue cari istri, bukan sekedar pacar. Dan cukup perempuan sombong kayak elo jadi batu sandungan gue.”


“Bukan gue yang sombong, tapi elo yang terlalu naif sampai gampang dibohongin,” ejek Renata.


“Ternyata ya, sifat sombong elo itu udah mendarah daging karena diberikan secara turun temurun dari nyokap elo. Gampang berasa di atas angin. Nggak nyadar kalau yang tambah pintar karena berhasil jadi dokter bukan elo doang, yang bisa jadi kaya tanpa mengandalkan peninggalan orangtuanya begitu banyak di luaran. Sementara elo dan Reina ? Nggak ubahnya benalu yang hidup bergantung di pohon lain. Saat pohon itu ditebang dan mati, gue yakin kalau elo nggak ubahnya kayak tuh benalu, ikutan layu dan pelan-pelan mati.”


“Jadi elo nyumpahin orangtua gue jatuh miskin ?” Mata Renata melotot dengan raut wajah yang galak.


“Apa elo sudah terlalu pintar sampai nggak bisa mencerna Bahasa Indonesia dengan baik ? Nggak ada satu katapun dari kalimat gue yang mengeluarkan kata sumpahan supaya keluarga elo jatuh miskin.” Bara tertawa mengejek dan menatap Renata dengan pandangan sinis.


“Daripada elo kepo dengan masalah keadaan hidup gue setelah dibuat berantakan sama elo, lebih baik elo pikirin bagaimana menghadapi tim penyidik rumah sakit.”


Bara beranjak dari bangkunya dan menuju ke kasir untuk membayar bon makanan mereka berdua.


Dengan wajah cemberut Renata mengikuti langkah Bara keluar dari cafe menuju lantai 2 dimana ruangan operasional admin dan IT rumah sakit secara keseluruhan berada.


“Satu hal yang perlu elo ingat,” ujar Bara saat mereka sudah dekat dengan tempat yang dituju. “Kegagalan elo mendapatkan Sebastian adalah hal yang paling membahagiakan gue dan membuat gue terbahak sampai sakit perut. Kenapa ? Karena dulu begitu yakin dan sombongnya elo bilang sama gue kalau sembilan puluh sembilan persen Sebastian pasti jadi milik elo selamanya. Ternyata cukup hanya dengan sisa satu persen aja, elo dibuat gagal mendapatkan asebastian. Bahkan mendapatkan respeknya aja nggak bisa.”

__ADS_1


Bara tertawa dengan nada penuh ejekan. Renata engepalkan kedua tangannya di samping.


Apa yang diucapkan memang benar kalau Renata pernah menyombongkan dirinya pada Bara soal Sebastian. Dan benar juga kalau hanya dengan satu persen kemungkinan gagalnya, Renata justru benar-benar gagal mendapatkan Sebastian sebagai jodohnya.


__ADS_2