
“Kamu mau makan dimana ?’ tanya Steven saat mereka sudah berjalan beriringan menjauh dari supermarket.
“Mau traktir ?” tanya Kirana sambil mengerling dan tersenyum.
Steven tersenyum dengan Raven masih digendongannya. Bumil ini bagai roller coaster emosinya. Tadi keluar dari supermarket dengan wajah cemberut, sekarang berbinar cerah saat bicara soal makanan.
“Pasti pilih yang paling mahal kalau dengar kata traktir,” gerutu Steven namun tetap tersenyum.
“Makanan Jepang boleh ?”
“Tidak ada pantangan untuk orang hamil, hanya hindari makanan mentah,” nasehat Steven seolah berbicara dengan istrinya sendiri.
“Iiihh mana mungkin aku pilih makanan mentah. Kan dari dulu kamu juga tahu kalau aku tidak suka makanan mentah,” Kirana mencibir dengan wajah sedikit masam.
“Siapa bilang kamu nggak suka makanan mentah ?” ledek Steven membuat Kirana menautkan kedua alisnya. “Kamu lupa suka makan lalap kalau lagi makan pecel ayam atau pecel lele ? Belum lagi suka ikut makan karedok kesukaan tante Lia.”
Kirana tertawa sambil manggut-manggut. Raven yang tidak mengerti pembicaraan kedua orang dewasa di depannya hanya ikut tertawa.
“Duuhh jangan sebut pecel lele dong, mendadak jadi kepingin,” gerutu Kirana.
“Jangan latah ! Tadi bilangnya mau makanan Jepang. Kalau pecel lele bayar sendiri, nggak level dokter traktir makan begitu, kembaliannya kelebihan banyak,” ledek Steven sambil terkekeh.
“Dih sombongnya dokter anak baru. Pengalaman aja masih segelintir,” cebik Kirana. “Beda cerita kalau ukurannya dompet pewaris rumah sakit.”
Steven tertawa. Hatinya gemas melihat ekspresi Kirana dan ingin rasanya memeluk wanita di sampingnya ini. Ia memang merelakan Kirana memilih Sebastian menjadi suaminya, tapi tidak bisa menghapus begitu saja rasa cintanya yang sudah tertanam bertahun-tahun.
Mereka pun menempati meja di salah satu restoran Jepang yang ada di Mal. Beberapa orang melirik ke arah mereka dengan pandangan kagum karena Kirana terlihat begitu dekat dengan Steven. Bayangan mereka, Steven dan Kirana adalah sepasang suami istri dengan satu orang anak yang masih kecil. Terlihat harmonis dan bahagia.
Kirana masih membolak-balik menu karena hatinya ingin memesan banyak makanan, tapi ia sadar kalau itu semua hanya latah mata. Sedang asyik menimbang-nimbang pilihan makanan untuk menu makan siangnya, handphone Steven berbunyi.
“Mau kamu yang langsung angkat atau aku jawab dulu ?” Steven memperlihatkan layar handphonenya dengan nama Sebastian yang muncul melakukan panggilan masuk.
“Bilang aja aku lagi jalan-jalan ke laut,” gerutu Kirana dengan wajah cemberut.
Steven tertawa sambil geleng-geleng kepala.
“Ya Bas,” sapa Steven saat mengangkat panggilan Sebastian.
Sudah pasti pertanyaan Sebastian menanyakan keberadaan Kirana karena Steven langsung menjawab kalau wanita yang dicari Sebastian ada di depannya.
Steven menyodorkan handphonenya saat Sebastian minta tolong memberikan handphone pada Kirana.
Terdengar helaan nafas panjang Sebastian saat Kirana hanya diam saja meski handphone Steven sudah menempel di telinganya.
“Kenapa handphone kamu dimatikan, Honey ?” tanya Sebastian berusaha bersikap sabar pada istrinya yang sedang dalam mode ngambek.
“Kehabisan baterai,” sahut Kirana ketus.
“Kalau begitu jangan lama-lama di mal-nya. Pulang ke rumah istirahat sekalian isi lagi handphone kamu.”
“Terus aku nggak boleh makan siang, gitu ?”
Sebastian mengusap wajahnya meski Kirana tidak bisa melihatnya. Antara tenang dan tidak rela mengetahui Kirana pergi makan siang dengan sepupunya yang pernah menjadi rivalnya.
“Maksud aku setelah makan siang,” ujar Sebastian masih dengan nada kalem.
“Habis ini aku mau belanja dulu, mumpung ada Steven yang bisa membantu membawakan belanjaan dan bawa mobil.”
__ADS_1
Sebastian menghela nafas dan alisnya langsung terangkat mendengar Kirana akan pergi berbelanja dengan Steven.
“Belanjanya nanti sore saja sama aku ya, Honey. Aku janji nggak akan pulang malam.”
“Malas kalau sudah pulang harus pergi lagi,” sahut Kirana dengan nada ketus.
“Honey, please pergi belanjanya sama aku aja, ya,” pinta Sebastian dengan suara memelas.
“Mama,” panggilan Raven mengalihkan perhatian Kirana pada bocah lelaki itu.
“Lihat saja nanti, aku mau makan dulu. Tenagaku habis terkuras menghadapi ulat bulu yang bisanya bikin gatal-gatal satu badan.”
Tanpa menunggu jawaban dari Sebastian, Kirana langsung menyudahi panggilannya dan mengalihkan perhatiannya pada Raven. Bocah tiga tahun itu merengek ingin duduk di sebelah Kirana.
“Bee… eh maaf maksudku Steve, boleh nggak…” Kirana hanya memberi isyarat dengan gerakan dagunya meminta agar babysitter Raven tidak ikut duduk satu meja dengan mereka.
Bukan karena Kirana tidak mau makan satu meja dengan seorang babysitter, tapi Kirana merasa sedikit tidak nyaman kalau ingin mengeluarkan unek-unek hatinya di depan orang asing seperti babysitter Raven. Apalagi kemungkinan orang upahan Shera itu bisa saja mengadu semua pembicaraan Kirana dengan Steven. Biar bagaimana, Kirana tidak ingin Shera tahu masalah Sebastian yang membuat hati Kirana kesal.
Mengerti akan isyarat Kirana, Steven mengeluarkan dompet dan memberikan selembar uang limapuluh ribuan lalu meminta babysitter itu untuk mencari makan di luar restoran. Mau dimana terserah dan Steven memintanya kembali ke tempatnya sekitar tigapuluh menit ke depan.
Akhrnya mereka memesan makanan termasuk untuk makan siang Raven yang sudah sedikit terlambat. Sambil menunggu pesanan datang, Kirana mulai mengajak Raven bicara. Bocah itu semakin lancar bicaranya, hanya saja perbendaharaan katanya masih sangat terbatas.
“Sepertinya Sebastian masih aktif meskipun tahu istrinya sedang hamil,” ledek Steven sambil terkekeh. Kirana mengerutkan dahinya, belum menangkap maksud ucapan Steven.
“Itu di leher kamu masih ada sisa-sisa tanda cinta,” Steven menunjuk bagian leher Kirana yang masih terlihat dipenuhi bercak kemerahan meski sudah sedikit samar.
“Apa ada larangan wanita hamil tidak boleh memanjakan suaminya ?” tanya Kirana dengan bibir mengerucut.
“Tidak ada larangan selama tidak ada keluhan dan tidak dilakukan terlalu sering dan berlebihan,” sahut Steven sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Wajahnya sengaja dibuat serius.
“Terus karena aku dokter anak berarti aku tidak tahu masalah seputar kehamilan dan hubungan suami istri ?”
“Tidak ada larangan, tapi gaya kamu melebihi tante Wanda yang jam terbangnya sudah jauh di atasmu,” Kirana kembali mencibir pada Steven yang hanya tertawa.
“Kamu kenal dengan wanita tadi ?” mata Steven mengernyit menanti jawaban Kirana.
“Nggak kenal dan nggak mau kenal. Terlalu banyak ulat bulu yang mau nempel pada Sebastian. Bikin kesal aja ! Bahkan dokter Renata yang bekerja di rumah sakitmu mengaku kalau Sebastian pernah melamarnya dan mereka sudah bertunangan.”
“Maklumlah, kan suamimu itu duren sawit,” ledek Steven sambil tertawa.
“Mereka itu sudah jadi ulat bulu bahkan sebelum Sebastian menyandang status duren sawit,” sahut Kirana dengan penuh emosi. “Benar-benar kegatelan ! Kayak di Jakarta ini hanya Sebastian satu-satunya lelaki yang pantas diperebutkan !”
Steven tertawa. Kirana benar-benar terlihat lucu dengan ekspresi wajah yang sejak tadi cemberut dan mengomel terus.
“Jangan terlalu kesal apalagi benci dengan para ulat bulu suamimu itu. Kamu pernah dengar kan nasehat para orang tua jaman dahulu kalau wanita hamil pantang membenci seseorang. Bisa-bisa begitu lahir anak kamu mirip dengan salah satu ulat bulu itu. Kamu mau anakmu dianggap anak kandungnya Sebastian dengan salah satu ulat bulunya ?’
Kirana terdiam dan wajahnya langsung menunjukan kalau ia sedang berpikir serius. Kirana teringat akan ucapan Steven barusan, dan ia sendiri memang pernah mendengarnya.
“Duh amit-amit deh,” Kirana mengusap-usap perutnya yang mulai sedikit terlihat menonjol.
Percakapan mereka terjeda saat pelayan mengantarkan pesanan Steven dan Kirana. Raven yang sudah lapar langsung berbinar begitu melihat makanan di depannya. Kirana membantu menyiapkan makanan untuk Raven. Pemandangan itu membuat hati Steven menghangat dan berangan-angan seandainya mereka benar-benar sebagai orangtua Raven tentu akan berbeda rasanya.
“Bagaimana kabar Shera, Steve ?” tanya Kirana tiba-tiba membuat lamunan Steven langsung buyar. Ia tersenyum tipis.
“Seperti yang aku katakan sejak awal kalau aku menikahi Shera hanya sebagai pertanggungjawabanku sebagai ayah biologis Raven. Jangan pernah berharap aku akan menganggap Shera sebagai istri sahku, apalagi ia mendapatkan diriku dengan cara yang sangat menjijikan,” ujar Steven dengan raut wajah penuh kebencian terutama saat mengucapkan satu kalimat terakhirnya.
“Tapi itu akan berpengaruh terhadap perkembangan Raven,” nasehat Kirana. “Apalagi semakin bertambah besar, Raven akan mampu melihat bagaimana hubungan mommy dan papanya.”
__ADS_1
“Itu masalah nanti, Nana. Aku tidak ingin memikirkannya saat ini. Setidaknya aku akan memperlakukan dan membesarkan Raven sebagai anak kandungku, darah dagingku, meski aku tidak mengakui ibunya sebagai istri sahku.”
“Ternyata kamu bisa keras kepala juga, Steve,” ujar Kirana sambil tersenyum tipis.
“Tentu saja seharusnya kamu tahu sejak dulu, Nana. Itu sebabnya aku mampu bertahan dengan perasaanku, mencintai satu wanita yang sama sejak dulu bahkan sampai detik ini.”
Kirana menghela nafas saat mendengar ucapan Steven. Sesekali ia membantu Raven menyendok makanannya. Bocah ini sudah pintar makan sendiri, hanya saja masih sedikit berantakan.
“Belajarlah untuk menerima Shera, Steve. Terimalah jalan hidupmu yang harus menikahi Shera. Biar bagaimana ia adalah istri sahmu sekarang.”
“Aku tidak ingin membahasnya lebih jauh, Nana. Mengingat bagaimana hidupku harus terikat dengan Shera karena Raven, semua itu cukup membuatku frustasi dan kadang-kadang aku masih merasa benci pada kebodohan diriku sendiri.”
Kirana terdiam, suasan sempat hening dan keduanya menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Raven masih sibuk dengan makanannya sendiri membuat Kirana tertawa pelan melihat tingkah lucu bocah ini. Ada rasa kasihan dalam hati Kirana mengingat bagaimana Raven sempat diabaikan oleh Shera dan ditolak oleh Steven sebagai anak kandungnya.
“Kemungkinan aku akan menerima tawaran menjadi sukarelawan di daerah pedalaman, Nana,” ujar Steven di sela-sela makan mereka.
Kirana tercengang hingga tanpa sadar sumpit yang ada di tangannya terlepas. Dahinya berkerut seakan tidak percaya dengan ucapan Steven barusan.
“Berapa lama ?” tanya Kirana dengan wajah sedih.
“Mereka hanya meminta bantuan untuk tiga bulan, tapi sepertinya aku akan menetap selama setahun atau bahkan lebih,” sahut Steven sambil tersenyum tipis.
“Dan kamu akan membiarkan Raven kembali tumbuh tanpa pendampingan seorang ayah ?”
“Masih ada kedua orangtua Shera dan orangtuaku juga yang bisa menjadi pengganti orangtua bagi Raven.”
“Tidak akan sama Steven. Status mereka adalah opa dan oma, sementara Raven membutuhkan papa dan mama kandungnya,” ujar Kirana dengan nada sedikit emosi.
“Aku perlu menjauh untuk merenungkan hidupku ini, Nana. Semoga setelah aku kembali, aku menemukan jawaban pasti mau kemana aku melangkah meneruskan hidupku. Dan yang pasti, aku ingin menjauh darimu agar aku bisa benar-benar melepaskanmu dari dalam hatiku.”
Kirana menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya mulai berkabut membuat Steven mengerutkan dahinya. Baru kali ini ia melihat Kirana jadi wanita cengeng seperti ini.
“Nana,” Steven menyentuh jemari Kirana yang ada di atas meja. “Jangan menangis. Aku hanya pindah tugas bukan pindah alam. Lagipula jaman sekarang sudah canggih, kita bisa tetap berkomunikasi.”
Kirana hanya diam dan masih menoleh ke arah lain. Ternyata buliran air mata sudah keluar dari kedua sudut matanya.
“Nana,” Steven menggenggam jemari Kirana. “Apa kamu begitu kehilangan aku saat jauh darimu ? Jangan bilang kalau kamu baru menyadari kalau kamu menyayangiku,” ledek Steven sambil tertawa pelan.
Raven yang mulai merasa kenyang menyipitkan matanya saat melihat papanya memegang salah satu jemari Kirana. Tidak ingin kalah, Raven ikut menggenggam jemari Kirana yang lainnya. Kirana ingin menoleh, tapi ia tidak ingin Raven melihatnya sedang menangis.
“Aku tidak suka mendengar alasanmu yang terakhir. Jadi penyebab kamu memutuskan pergi jauh karena diriku juga ?” ujar Kirana dengan nada ketus.
Ia melepaskan genggaman Steven dan mengambil tisu yang ada di atas meja untuk menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
“Aku tidak bermaksud menyalahkanmu, Nana,” Steven berusaha menghapus air mata yang kembali bergulir di pipi Kirana dengan punggung tangannya.
Raven langsung memeluk Kirana dari samping saat melihat mata Kirana yang mulai sembab layaknya orang habis menangis.
“Jangan sentuh istriku seperti itu !” teguran dengan suara keras dan tegas itu mengurungkan niat Steven yang ingin menghapus airmata Kirana.
Spontan Kirana dan Steven langsung menoleh ke arah asal suara dan Raven langsung melepaskan pelukannya, ikut menatap ke arah Sebastian yang sudah berdiri tidak jauh dari meja mereka.
Kirana menghela nafas dan membuang pandangan ke arah lain. Entah bagaimana caranya, Sebastian selalu bisa menemukan keberadaan Kirana. Padahal handphone sudah dimatikan dan Kirana tidak mengenakan perhiasan apapun yang sempat dipasang pelacak oleh Sebastian.
__ADS_1