Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 53 Lamaran dan Orang Ketiga


__ADS_3

Tidak seperti umumnya acara lamaran, Kirana, calon tunangan Sebastian justru dibawa masuk oleh pria yang melamarnya langsung.


“Sudah ingin buru-buru saja kamu, Bas,” goda momny Amelia yang melihat putranya keluar dari dalam rumah menggandeng Kirana.


“Sesuai amanah mama, lamar, terus nikah dan prpduksi,” tanpa malu-malu Sebastian menanggapi Mommy Amelia di depan keluarga mereka.


“Bee !” Kirana yang tersipu malu mendengar ucapan Sebastian memukul bahu pria itu.


“Honey, aku tuh anak penurut. Sebisa mungkin ingin mewujudkan harapan orangtua.”


Kirana hanya diam dengan wajah menunduk karena malu. Ia sempat melirik Steven yang ikut duduk di ruang tamu, hanya saja pakaiannya sudah berganti dengan kemeja batik.


“Jangan terlalu memperhatikan Steven, aku cemburu,” bisik Sebastian saat melihat tatapan Kirana ke arah sepupunya.


“Aku tidak menyangka kalau Steven akan tetap di sini,” sahut Kirana dengan suara pelan.


“Mulai sekarang kita akan menghadapinya bersama supaya tidak ada kesalahpahaman,” Sebastian tersenyum dan mengeratkan genggamannya. Kirana mengangguk dan tersenyum pula.


Keduanya ikut duduk di sofa, namun mommy Amelia melarang Sebastian duduk di sebelah Kirana sampai proses pinangan selesai.


Sebastian yang semula menolak akhirnya menurut melihat tatapan mommy Amelia yang melotot kepadanya.


Kedua orangtua Kirana dan daddy Richard hanya senyum-senyum melihat kelakuan Sebastian.


“Sepertinya kita tidak perlu panjang lebar Pak Heru,” Daddy Richard memajukan posisi duduknya yang berseberangan dengan papa Heru.


“Seperti yang sudah diketahui kalau tujuan kami kemari ingin melamar Kirana untuk menjadi istri Sebastian. Meskipun sepertinya Kirana dan Sebastian sudah saling setuju, ada baiknya kalau Kirana bisa mengungkapkannya di depan kita semua sebagai keluarga.” Lanjut Daddy Richard.


“Jadi gimana Kiran ? Apa kamu bersedia menjadi calon istri Sebastian ?” Pandangan Daddy Richard beralih pada Kirana.


“Apa masih boleh menolak, Om Richard ?” Kirana malah balik bertanya sambil senyum-senyum.


“Honey !” Pekik Sebastian dengan mata membelalak.


“Bas,” Mommy Amelia menepuk tangan putranya.


“Masih boleh kok, Kirana,” jawab Daddy Richard santai sambil melirik putranya yang sudah berubah raut wajahnya.


“Daddy, kok jadi membolehkan Kirana menolak ?” Protes Sebastian dengan wajah kesal.


“Loh namanya kan meminta,” sahut mommy Amelia. “Jadi orang yang diminta punya hak menerima atau menolak.”


Sebastian bertambah kesal dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.


“Sebastian Pratama, aku Kirana Gunawan menolak kalau kelamaan jadi tunangan, maunya langsung jadi istri kamu aja,” ledek Kirana sambil terkekeh.


“Tuh Bas, makanya jangan emosi dulu,” mommy Amelia menepuk paha anaknya.


Sebastian menegakkan duduknya dan membalas senyuman Kirana dengan wajah berbinar.

__ADS_1


“Dasar jahil !” Sebastian menjepit hidung Kirana dengan jarinya. “Sudah berani ya meledek aku .”


Kirana meringis dan berusaha melepaskan tangan Sebastian sementara keluarga yang ada di situ hanya tertawa.


Mommy Amelia mendekati Kirana dan menyematkan kalung dengan liontin tulisan SK dalam bingkai hati yang dipenuhi dengan berlian.


“Mulai sekarang, kamu jadi anak daddy dan mommy juga dan tidak boleh panggil om dan tante lagi.”


Kirana tersenyum langsung memeluk mommy Amelia, lanjut memeluk daddy Richard. Begitu juga Sebastian memeluk mama Lia dan papa Heru dan ikut memanggil mereka sama seperti Kirana.


Tanpa disangka, Sebastian yang berdiri dekat Kirana langsung menarik pinggang gadis itu dan mencium bibirnya di depan seluruh keluarga.


Mommy Amelia yang terkejut langsung memukul bahu anaknya.


“Dasar duda perjaka !” Omel mommy Amelia. “Belum juga resmi jadi istri udah main disosor saja anak gadis orang. Bikin malu !”


Daddy Richard tertawa sambil geleng-geleng kepala, sementara papa Heru dan mama Lia tertawa dengan sedikit kikuk melihat kelakuan calon menantu mereka di depan banyak orang.


“Udah kebiasaan Kak Bastian, Tante,” sahut Kendra dengan nada kesal. “Bukan kali ini aja.”


“Kendra !” Pekik Kirana dengan wajah memerah.


Kendra hanya menjulurkan lidahnya meledek Kirana.


“Kalau begitu, pernikahan mereka harus secepatnya, Dad,” ujar mommy Amelia pada suaminya. “Bisa-bisa produksi jalan sebelum pabrik resmi dibuka.”


Semua yang ada di situ kembali tertawa.


“Jangan !” Sahut Kirana dan Sebastian bersamaan.


“Ide yang bagus Jeng Lia,” sahut mommy Amelia dengan seringai di bibirnya.


Sebastian pun langsung mengalihkan rencana kedua mama itu dengan mengajak semua yang hadir untuk makan siang.


Berhubung waktu sudah menunjukkan jam 11, yang lain pun setuju dengan usul Sebastian. Mereka pun berangkat dengan 3 mobil.


Om Raymond dan Tante Rosa yang semula berangkat dengan daddy Richard dan mommy Amelia, pindah ke mobil Steven. Papa Heru dan mama Lia serta Kendra ikut di mobil daddy Richard. Dan Sebastian berdua dengan Kirana di mobil milik Sebastian.


Tidak ada pihak keluarga dari Mama Lia dan papa Heru yang diminta datang hari ini karena beberapa orang tinggal di luar Jakarta, dan tidak enak mengajak banyak orang karena Sebastian yang membiayai acara makan siang.


Selama di mobil, perlakuan daddy Richard dan mommy Amelia sangat diluar dugaan mama Lia dan papa Heru bahkan Kendra. Meskipun termasuk dalam daftar keluarga konglomerat, namun keduanya sangat menghormati papa Heru dan mama Lia sebagai orangtua Kirana dan besan mereka.


Sangat berbeda dengan keluarga Tante Rosa yang hampir semuanya memiliki pembawaan sifat sombong dan menilai orang lain dari sisi uang.


Restoran yang dipilih Sebastian berada di pusat kota Jakarta dan terbilang cukup mewah. Pria itu telah menyiapkan yang terbaik untuk merayakan bersatunya kedua keluarga dan berharap diberi kelancaran hingga pernikahan mereka berlangsung.


Acara makan siang terasa nyaman, karena Om atau Uncle Raymond adalah seorang dokter terkenal yang juga sangat ramah, sama seperti daddy Richard.


Hanya Tante Rosa yang terlihat menyebalkan dan tidak senang dengan pertunangan Kirana dan Sebastian, serta Steven yang sejak tadi banyak memilih diam dan terus memandangi Kirana tanpa sungkan hingga membuat Sebastian merasa kesal dan tidak nyaman.

__ADS_1


“Bee, aku ke toilet dulu,” Kirana beranjak dari kursinya.


“Aku temani,” Sebastian bersiap bangun juga.


“Nggak usah, Bee. Kamu di sini saja. Ajak tuh sepupu kamu bicara biar dia nggak bikin kamu tambah kesal,” Kirana terkekeh.


Sebastian tersenyum tipis sambil mengangguk, membiarkan Kirana pergi ke toilet sendiri.


Baru saja Kirana selesai buang air kecil, ternyata Tante Rosa ada di dalam toilet juga sedang mencuci tangan.


“Jadi berhasil juga kamu merayu Sebastian sampai bersedia menjadikan kamu istri keduanya ?” Ucapan Tante Rosa yang sinis itu diabaikan oleh Kirana yang langsung menuju wastafel.


Merasa kesal diabaikan oleh Kirana, Tante Rosa mendorong bahu gadis itu dengan kasar.


“Hei perempuan penggoda, baru saja dilamar jadi calon istri sudah berani kurang ajar !” Suara Tante Rosa yang meninggi dengan mata melotot tidak membuat Kirana takut.


“Ooo jadi Nyonya bicara dengan saya ?” Tanya Kirana sambil memasang wajah polosnya. “Saya kira Nyonya Rosa sedang stress sampai bergumam sendiri.” Suara Kirana yang datar tanpa nada mengejek justru semakin memancing emosi Tante Rosa.


Kamu…” Tangan Tante Rosa yang sudah melayang di udara dan siap menampar Kirana ditahannya.


“Nyonya Rosa yang terhormat, jangan mengotori tangan anda untuk melakukan hal semacam ini. Kelakuan anda sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, selalu menganggap saya tergila-gila dengan putra anda, bahkan menyebarkan fitnah dengan mengatakan kalau saya sengaja mendekati Sebastian untuk membalas sakit hati pada anak anda ?” Terlihat senyuman sinis di bibir Kirana.


“Bukan fitnah, tapi kenyataan. Kamu dan mamamu sama saja, sukanya menggoda pria-pria kaya.”


Kirana tertawa mengejek dengan tatapan sinis memandang Tante Rosa.


“Jangan asal menyebarkan berita kebohongan Nyonya. Saya bisa melaporkan anda ke polisi karena melakukan fitnah terhadap saya dan orangtua saya.”


“Baru saja dilamar jadi calon menantu Richard, sifat aslimu langsung keluar,” Tante Rosa berdecih dan tertawa sinis.


“Sejak dulu baik mama atau saya tidak pernah berpura-pura baik dan menjadi wanita penggoda.”


Kirana memajukan badannya mendekati Tante Rosa yang langsung mundur selangkah. Dengan tatapan sinis, Kirana mendekatkan wajahnya ke depan muka Tante Rosa.


“Saya yakin kalau Nyonya Deswita tidak akan keberatan untuk kembali menjadi saksi atas kejadian tujuh tahun yang lalu.”


Tante Rosa terkejut mendengar Kirana menyebutkan nama Deswita. Kirana semakin melebarkan senyum sinisnya.


“Jangan terlalu kepo dengan kehidupan saya dan keluarga saya. Bukankah sebentar lagi kita akan terikat dalam hubungan keluarga.”


“Siapa yang sudi disebut keluarga olehmu ?” Suara Tante Rosa bertambah emosi.


“Terserah Nyonya ! Suka atau tidak, saya akan menjadi istri Sebastian dan bagian keluarga Pratama. Saya harap Nyonya tidak menjadi orang ketiga yang senangnya merisak hidup saya.”


Kirana tertawa pelan dengan nada sinis dan keluar dari toilet meninggalkan Tante Rosa.


“Aarrrghhh,” Tante Rosa menggeram kesal karena tidak mampu menjatuhkan mental Kirana. Ia pun keluar toilet menyusul Kirana.


Setelah yakin kalau Tante Rosa sudah keluar, mommy Amelia yang sejak tadi ada di dalam satu bilik membuka pintu dan menuju wastafel.

__ADS_1


Ia mendengus kesal mendengar pembicaraan Kirana dengan kakak iparnya. Tangan mommy Amelia terkepal saat keluar dari toilet.


__ADS_2