
Kirana sudah kembali ke kamar dan bertemu dengan Om Herman, Tante Mira dan babysiter yang biasa mengurus Raven.
Bocah itu sendiri sudah terlihat ceria dan mulai aktif. Namun sesuai pesan Steven kalau sebaiknya Raven jangan terlalu lelah dan masih perlu dirawat semalam lagi untuk memastikan kalau panasnya tidak akan kambuh.
“Tante bawakan makanan untukmu, Kirana,” TanteMira membuka tas kain yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalamnya.
“Buat nanti saja, Tante. Saya sudah sarapan dengan mommy Amelia.”
Tante Mira menghentikan gerakan tangannya dan mendongak menatap Kirana yang duduk di atas ranjang menemani Raven menyusu.
“Nyonya Amelia ada di sini sekarang ?” Raut wajah Tante Mira berubah cemas.
“Iya, mommy sedang melakukan pemeriksaan rutin saja, Tante. Apa Tante mau bertemu dengan mommy ?”
Tante Mira tersenyum sambil menggeleng.
Kirana melanjutkan mengusap-usap punggung Raven hingga balita itu tertidur setelah botol susunya sudah habis
Kirana berpindah duduk di sofa dekat Tante Mira dan Om Herman. Ada keletihan di wajah keduanya. Beban hidup mereka pasti tidak mudah. Putri satu-satunya yang mereka banggakan ternyata membawa luka yang cukup menyakiti kedua orangtuanya. Dan sekarang, di saat cucu mereka sakit, bahkan Shera tidak berusaha untuk bergegas pulang mengurus anaknya.
“Apa Shera sudah bisa dihubungi, Tante ?” tanya Kirana dengan hati-hati, jangan sampai menambah rasa sakit mereka.
“Sudah,” om Herman yang menyahut. “Tapi Shera belum bisa pulang karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal. Dia sudah menghubungi Steven dan meminta bantuannya untuk mengobati Raven.”
“Maaf kalau kami jadi merepotkanmu, Kirana,” ujar Tante Mira dengan wajah sendu.
“Tidak apa-apa, Tante. Kebetulan minggu ini Sebastian sedang keluar kota dengan daddy Richard.”
Terdengar pintu kamar diketuk dan tidak lama langsung terbuka. Terlihat mommy Amelia dengan seorang perawat menemaninya.
“Mommy,” Kirana beranjak bangun dan menghampiri mommy Amelia. “Sudah selesai medical check-up nya ?” Kirana merangkul lengan calon mertuanya.
“Sudah setengah jam yang lalu. Kamu sudah makan ?” Mommy Amelia menggengam jemari Kirana yang ada di lengannya.
“Belum. Tante Mira membawakan banyak makanan. Mommy sendiri sudah makan ? Mau Kiran temani ?”
Mommy Amelia tersenyum dsn mendekat ke arah sofa dimana ada Om Herman dan Tante Mira di sana.
“Nyonya Amelia,” sapa om Herman pertama sambil bangun dari sofa lalu mengulurkan tangannya.
“Jangan panggil saya dengan nyonya lagi Herman. Tidak masalah bagi saya dipanggil dengan nama saja.” Mommy Amelia berkata dengan sopan dan elegan, tidak lupa dengan senyuman khasnya.
Kirana memuji sikap mommy Amelia yang terlihat sangat berkelas namun jauh dari kesan sombong.
“Apa kabar, Mira ?” Ganti mommy Amelia menyalami Tante Mira yang terlihat sedikit canggung.
__ADS_1
“Kabar baik Nyonya… eh… ngg… Jeng Amelia,” terlihat Tante Mira membalas senyuman mommy Amelia dengan kikuk.
“Apa itu anak Shera ?” Mommy Amelia menunjuk dengan dagunya ke arah ranjang Raven.
“Iya, Raven anaknya Shera,” sahut Tante Mira pelan.
Mommy Amelia mendekati ranjang Raven dan memandangi balita yang lelap tertidur. Selang infus sudah dicabut semua oleh perawat sesaat setelah Kirana mengajak Raven jalan-jalan.
“Apa kita bisa bicara ?” Tanya mommy Amelia dengan posisi di samping tempat tidur Raven.
Mommy Amelia melirik ke arah babysitter yang berdiri dekat ranjang Raven. Om Herman yang memang fokus pada Mommy Amelia langsung mengerti arti lirikan mantan besan sekaligus istri bossnya.
Om Herman memanggil babysitter Raven dan memberinya uang untuk makan siang. Perawat yang tadi mendampingi mommy Amelia pun ikut keluar meninggalkan kamar.
Sekarang mereka duduk berempat di sofa dengan posisi Tante Mira bersebelahan dengan mommy Amelia, Om Herman dan Kirana di sofa tunggal laiinnya.
“Saya tidak mau berbasa-basi. Saya yakin kalian berdua sudah tahu kalau Kirana adalah calon istri Sebastian, yang berarti calon menantu kami,” mommy Amelia menatap Tante Mira dan Om Herman yang memgangguk pelan.
“Kami, terutama saya, tidak ingin calon menantu saya banyak berhubungan dengan urusan Shera. Tentu kalian sudah mengerti alasannya. Tapi lebih daripada itu karena Shera masih berusaha mendapatkan perhatian Sebastian dengan mengganggu calon menantu saya.”
Om Herman mengerutkan dahinya, begitu juga dengan Kirana yang sedikit bingung menangkap maksud ucapan mommy Amelia.
“Maaf maksud nyonya… ngg.. maksud saya Bu Amelia ? Maaf saya masih sungkan kalau hanya memanggil nama,” ujar Om Herman.
“Shera mengirimkan foto yang sengaja direkayasa untuk merusak hubungan Kirana dan Sebastian.”
Kirana terkejut mendengar ucapan mommy Amelia yang sudah mengetahui masalah otak pelaku pengiriman foto Sebastian.
“Saya dan Richard sangat tidak suka dengan perbuatan Shera. Dan karena calon menantu saya ini,” mommy Amleia menunjuk Kirana dengan telapak tangannya. “Memaafkan Shera, maka kami tidak membawa perbuatan anak kalian ke jalur hukum atas fitnah dan pencemaran nama baik.”
Om Herman tampak terpukul mendengar penjelasan mommy Amelia, begitu juga dengan Tante Mira yang sempat tercengang dan sekarang menunduk malu mendengar perbuatan putrinya.
“Tolong jangan melibatkan Kirana dalam masalah apapun yang berkaitan dengan Shera. Lagipula keputusan memiliki anak tanpa suami yang sah adalah keputusan Shera sendiri. Ia harus mulai belajar untuk menjalani konsekuensi atas tindakannya.”
“Maafkan kami Jeng Amelia,” suara Tante Mira terdengar serak karena bercampur isak tangis. “Kami telah gagal mendidik putri kami.”
Mommy Amelia menyentuh jemari Tante Mira dan mengusapnya perlahan.
“Saya yakin kalau kamu sudah mengajarkan yang baik padanya, Mira. Sayangnya kepintaran dan kecantikan yang dimiliki Shera membuatnya sombong dan lupa diri. Ia terbiasa selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Entah apa yang diinginkannya dari Sebastian, tapi yang pasti batalnya pernikahan mereka karena kesalahan Shera sendiri.”
“Maafkan saya yang terlalu memanjakannya,” ujar Om Herman dengan penuh penyesalan.
“Well,” mommy Amelia beranjak dari sofa. “Bukan maksud saya menghakimi bagaimana kalian mendidik Shera. Saya sangat berharap kalau ke depannya, jangan sampai Kirana yang jadi korban. Kalau sampai itu terjadi, saya dan Richard yang akan turun tangan langsung untuk menyelesaikannya. Saya pamit dulu. Semoga cucu kalian cepat sembuh.”
”Maafkan kami sekali lagi,” Om Herman mengulurksn tangannya dan dibalas oleh Mommy Amelia.
__ADS_1
Tante Mira pun menjabat tangan mommy Amelia dan kembali mengucapkan kata maaf.
Kirana pamit untuk mengantarkan mommy Amelia sampai ke mobil. Ia mulai terbiasa merangkul lengan calon mertuanya itu setiap berjalan bersama, layaknya seorang anak pada ibunya.
“Terima kasih Mommy sudah memperhatikan Kiran,” Kirana sempat menempelkan kepalanya di bahu mommy Amelia saat mereka sudah ada di dalam lift.
“Apa Mas Bas yang cerita sama mommy soal pertemuan kami dengan Shera dan Esti ?”
“Iya, dan kami senang karena ternyata kamu orang yang pemaaf,” monmy Amelia mengusap pipi Kirana.
“Ke depannya jangan terlalu baik dan pemaaf di depan perusak hidup seperti Shera. Mereka akan memanfaatkan kebaikanmu dan selalu mencari celah lewat kelemahanmu. Ada banyak orang-orang semacam Shera yang akan kamu temui saat menjalani hidup dengan Sebastian. Mereka tidak akan berhenti sebelum keinginan mereka terpenuhi. Ingatlah selalu pesan mommy ini.”
Kirana mengangguk. Mereka sudah sampai di lantainl dasar. Para perawat dan petugas medis termasuk para dokter yang berpapasan memberi hormat pada mommy Ameia, yang mereka ketahui masih keluarga pemilik rumah sakit ini.
Saat melewati ruang poli, mereka bertemu dengan Steven yang baru saja selesai praktek.
“Auntie Amelia,” Steven mendekati tantenya itu dan memberikan salam dengan cipika cipiki.
“Pemeriksaan rutin, Auntie ?”
“Iya,” mommy Amelia mengangguk.
“Lalu sekarang sudah mau pulang ?” Steven menatap mommy Amelia dan Kirana bergantian.
Steven tidak yakin kalau Kirana akan pulang, karena gadis itu tidak membawa apapun, bahkan tas tangannya.
“Mau mengajak menantu auntie makan siang,” mommy Amelia tersenyum sambil menepuk tangan Kirana yang masih memegang lengannya.
“Sepertinya akan sangat menyenangkan kalau saya bisa bergabung,” kelakar Steven sambil tertawa.
“Kamu yang traktir ?” Tanpa terduga, mommy Amelia justru mengijinkan Steven bergabung.
Kirana tercengang mendengar ucapan mommy Amelia yang ternyata berencana mengajaknya makan siang bahkan membiarkan Steven untuk ikut bersama. Ia tidak siap karena tas nya masih ditinggal di atas, hanya handphone yang tetap tersimpan d kantong roknya.
“Untuk bisa bersama dengan dua wanita cantik, rasanya tidak ada artinya hanya sekedar membayarkan makan siang.”
“Dasar pria penggombal,” cebik momny Amelia.
“Seharusnya dengan kelebihan pintar merayu, kamu akan lebih mudsh mendspatksn calon istri,” ledek mommy Ameia.
Steven tertawa sambil meirik Kirana yang terlihat biasa-biasa saja. Steven langsung merogoh handphone di saku snellinya dan menghubungi seseorang.
Kirana pun mengirimkan pesan kepada Tante Mira, mengabarkan kalau ia akan keluar makan siang dengan mommy Amelia dan Steven.
Tidak lama seorang perawat meghampiri mereka. Steven melepaskan snellinya dan menitipkan pada perawat tadi.
__ADS_1
Atas permintaan mommy Ameia, mereka pergi makan siang menggunakan mobilnya berikut dengan sopir. Steven yang sungkan menolak permintaan auntie-nya itu menurut tanpa tahu kalau mommy Ameia sengaja mengaturnya seperti itu.
Ia tidak mau memberi kesempatan pada Steven yang beberapa kali mencoba meminta Kirana meninggalkan Sebastian.