
Suasana hati Kirana semakin tidak menentu bukan hanya karena bertemu dengan Steven, tapi sampai jam kerja berakhir, tidak ada balasan atau pesan apapun dari Sebastian. Kirana tidak lupa kalau di tempat Sebastian saat ini masih sekitar jam 5 pagi.
Akhirnya Kirana memutuskan untuk pulang dan segera membereskan meja kerjanya, mematikan komputer dan mengunci laci meja dan lemarinya. Hatinya sempat bimbang untuk bicara dengan daddy Richard yang mungkin saja mengetahui keadaan Sebastian.
Kirana menghela nafas. Hatinya maju mundur untuk bertemu daddy Richard. Apakah calon ayah mertuanya itu akan berpikir kalau Kirana adalah calon istri yang terlalu posesif dan menuntut untuk Sebastian ? Sementara hatinya yang terlalu menahan rindu tidak mampu dicegah untuk tidak gelisah.
Akhirnya Kirana memberanikan diri naik ke lantai 16, tanpa memikirkan apakah Steven masih ada di sana atau tidak.
“Mbak, apa Tuan Richard masih ada di dalam ?” tanya Kirana saat sudah sampai di lantai 16 dan berdiri di antara meja Echi dan Marsha.
“Masih ada dokter Steven di dalam. Kamu mau ketemu dengan papa mertuamu ?” tanya Echi sambil bekerja di depan komputer.
“Apa Tuan Richard ada jadwal lagi setelah ini, Mbak ?”
“Nggak ada, Ki,” sahut Marsha. “Sepertinya Tuan Richard akan langsung pulang.”
“Aku mau ketemu sebentar, Mbak Marsha,” ujar Kirana yang diangguki oleh Marsha.
Kirana duduk di sofa yang ada di ruangan itu karena tidak ingin mengganggu Echi dan Marsha yang masih disibukkan dengan pekerjaan mereka, sementara Amir tidak terlihat batang hidungnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, terlihat Tuan Richard keluar bersama dengan Steven. Kedua pria beda generasi itu tampak terkejut melihat Kirana yang duduk di ruang sekretariat.
“Belum pulang, Kiran ?” Tuan Richard menyapa calon menantunya terlebih dahulu.
“Belum Dad, kalau boleh Kiran mau bicara sebentar sama Daddy,” ujar Kirana yang sudah bangun dari sofa.
Steven sempat tersenyum pada Kirana dan dibalas dengan anggukan kepala oleh gadis itu. Hati Steven sedikit tercubit saat mendengar Kirana memanggil pamannya dengan sebutan daddy.
Tuan Richard memberi isyarat pada Kirana untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan. Mereka duduk di sofa supaya suasana tidak terlalu formal.
“Ada apa lagi dengan Sebastian ?” tanya Daddy Richard sambil tertawa pelan.
__ADS_1
“Sudah tiga hari ini bukan hanya Sebastian, tapi Dion dan Aleandro tidak bisa dihubungi bahkan pesan Kiran tidak bisa terkirim dua hari ini.”
“Aleandro ?” tanya daddy Richard sambil mengerutkan dahinya. “Kamu kenal dengan anak Tuan Alexander itu ?”
“Kenal, Dad,” sahut Kirana sambil mengangguk. “Kami adalah sahabat lama saat masih satu sekolah. Aleandro, Steven dan Kiran. Padahal secara tingkatan kami berbeda semua, tapi kami cukup dekat saat itu.”
“Kebetulan yang tidak disangka,” sahut daddy Richard sambil tertawa.
“Apa Daddy tahu kenapa mereka tidak bisa menerima pesan apalagi panggilan telepon ?” tanya Kirana hati-hati, takut ayah mertuanya salah paham.
Namun bukannya marah karena merasa Kirana adalah calon istri yang posesif, daddy Richard malah tertawa.
“Mereka tidak lagi di California, Kiran. Atas saran partner kami di sana, Sebastian dan timnya diajak ke kantor pusat mereka yang berada di North Carolina. Ada kemungkinan di kantor itu terpasang alat proteksi signal atau semacam itu untuk mencegah para hacker menerobos sistem mereka. Tapi tenang saja, Daddy yakin kalau Sebastian akan memberi kabar kepadamu setelah pekerjaannya beres. Dia harus berhadapan dengan mommy kalau sampai membuat kamu bersedih lagi.”
Kirana tersipu malu mendengar kalimat terakhir calon ayah mertuanya. Terkadang Kirana merasa tidak enak hati karena sering melibatkan kedua calon mertuanya.
“Maaf Dad, Kiran tidak bermaksud memantau semua pekerjaan Sebastian,” ujar Kirana sambil menunduk karena merasa malu.
“Terima kasih, Dad,” Kirana mendongak dan tersenyum pada Daddy Richard.
“Sekarang kamu pergilah dengan Steven. Tadi dia sudah ijin ingin mengajakmu makan malam sekarang. Daddy sudah memberikan ijin dan akan bicara dengan Sebastian kalau sampai anak itu memarahimu,” ujar Daddy Richard sambil beranjak bangun dari sofanya.
Kirana ikut bangun juga dari sofa namun memandang Daddy Richard dengan alis menaut.
“Tapi Kiran…. “
“Temani saja keponakan Daddy itu,” Daddy Richard langsung merangkul bahu Kirana penuh kasih sayang layaknya seorang ayah kepada putrinya.
“Sepertinya dia perlu teman ngobrol saat ini. Pusing masalah profesi dan tanggungjawabnya sebagai penerus Uncle Raymond,” ujar Daddy Richard kembali sambil membawa Kirana keluar dari ruangannya.
Posisi Daddy Richard yang merangkul bahu Kirana keluar dari ruangan membuat Echi, Marsha dan Amir yang baru saja masuk, senyum-senyum sendiri. Mereka bisa melihat bagaimana Kirana begitu dicintai bukan hanya oleh Sebastian tapi juga kedua calon mertuanya.
__ADS_1
Sebelumnya mereka sempat melihat bagaimana mommy Amelia memperlakukan Kirana seperti putrinya sendiri. Sangat berbeda situasinya dengan Shera.
“Kirana akan menemanimu makan malam hari ini,” Daddy Richard melepaskan rangkulannya saat sudah berdiri dekat Steven.
“Tapi ingat !” Daddy Richard mengangkat telunjuknya ke dekat wajah Steven. “Kirana adalah calon istri kakak sepupumu. Perlakukan dia baik-baik, jangan sampai Uncle berubah pikiran padamu.”
Steven tertawa sambil menganggukan kepalanya.
“Beres Uncle,” Steven mengangkat jempolnya. “Aku pinjam Kirana sebentar hanya untuk teman ngobrol dan tidak lebih. Calon menantu Uncle akan sampai kembali ke rumah tanpa kurang suatu apapun.”
Kirana hanya bisa menghela nafas melihat Steven memanfaatkan hubungannya dengan Daddy Richard untuk memaksanya menerima ajakan pria itu. Ternyata memang ada seribu satu jalan yang Steven punya untuk mendekati Kirana.
Karena merasa tidak enak untuk menolak permintaan calon ayah mertuanya, akhirnya Kirana menerima ajakan Steven. Mereka pun turun bersama ke lobby menggunakan lift khusus. Kirana lebih banyak diam dan mendengarkan obrolan Daddy Richard dengan Steven yang terlihat lebih semangat sore ini.
Di ruang sekretariat, Echi, Marsha dan Amir menertawakan wajah Kirana yang terlihat masam dan terpaksa pergi keluar makan dengan Steven karena permintaan calon mertuanya.
“Sepertinya aku harus minta resep sama Kirana supaya bisa mendapatkan calon suami idaman untuk masa depan,” ujar Marsha sambil menopang wajahnya di atas meja.
“Mandi kembang dari makam, Sha,” ledek Amir sambil tertawa.
“Iihh Mas Amir ! Tega benar suruh Sha mandi air kembang begitu. Mau juga cariin gitu kenalan Mas Amir yang ganteng-ganteng dan mapan,” sahut Marsha dengan wajah cemberut.
“Makanya jadi perempuan jangan terlalu jutek dan galak,” ujar Echi menimpali sambil tertawa pelan. “Belum apa-apa, cowok udah takut duluan dekati kamu.”
“Iihh Mbak Echi juga nih. Kapan juga Marsha jutek dan galak ? Bukannya galak tapi tegas,” sahut Marsha dengan bibir mengerucut.
“Sebelas duabelas itu namanya, Sha,” ledek Amir sambil tertawa.
Marsha melempar Amir dengan pena yang ada di tangannya namun ditangkis oleh asisten Tuan Richard itu sambil tertawa. Echi hanya geleng-geleng kepala. Memang asisten sekretarisnya itu belum menemukan pria yang cocok dengannya.
Di mata Echi, Marsha adalah seorang gadis cantik yang sedikit pemilih, galak dan terlalu mandiri. Beberapa kali hubungannya dengan pria hanya bertahan dua sampai tiga bulan karena Marsha tidak mau kelihatan sebagai wanita manja yang bergantung pada kekasihnya. Padahal sesekali cowok juga akan berbahagia jika mereka merasa dibutuhkan untuk membantu atau melindungi kekasihnya.
Sementara di lobby, Daddy Richard sudah meninggalkan gedung MegaCyber dengan Pak Tomo dan Kirana pergi dengan Steven untuk makan malam di luar.
__ADS_1