
Kirana mulai terbangun dari tidur lelapnya. Alisnya bertaut dengan mata masih terpejam, mencoba menajamkan apa yang ia rasakan saat ini.
Tubuhnya terasa hangat dan ada hembusan hawa panas di dekat keningnya. Perlahan Kirana membuka matanya dan merasakan ada sesuatu yang berat di pinggangnya. Hidungnya langsung mencium aroma khas yang sudah dihafalnya.
Spontan mata Kirana langsung terbuka sempurna dan terkejut karena ia berada dalam pelukan Sebastian bahkan tangannya juga memeluk tubuh pria itu.
Kirana berusaha menjauh namun pelukan di pinggangnya cukup kuat hingga perlahan Kirana memindahkan lengan kekar itu supaya terlepas dari pinggangnya.
Posisinya sudah tidak lagi menempel di tubuh Sebastian. Perasan rindunya susah ditahan hingga pandangannya tetap mengarah pada wajah Sebastian yang masih tertidur pulas. Disentuhnya wajah pria itu yang lama tidak ditemuinya. Hampir dua minggu. Bulu-bulu halus mulai tumbuh di sekitar bibir hingga rahangnya. Saat tangan Kirana hampir menyentuh bibir Sebastian, pikirannya kembali mengingat tentang foto yang diterimanya dari pengirim anonim.
Mood Kirana mendadak menjadi buruk. Wajahnya langsung ditekuk sambil mendengus kesal. Kirana memutuskan untuk mandi biar lebih segar, lgipula sebentar lagi waktunya makan malam.
Namun belum sempat Kirana beranjak, lengan kekar itu menariknya hingga Kirana jatuh ke dalam pelukan Sebastian.
“Mau kemana anak nakal ?” Bisik Sebastian masih dengan mata terpejam.
Kirana hanya diam. Matanya ikut memejam berusaha menghalau bayangan foto itu.
Mendapati tidak ada reaksi apapun dari Kirana, Sebastian melerai pelukannya. Ditatapnya Kirana yang masih memejamkan mata.
“Aku sangat merindukanmu, apa kamu tidak kangen padaku, Kiran ?” Sebastian mengusap pelan pipi Kirana dan dengan kasar Kirana menepis tangan Sebastian. Pria itu terkejut dan tidak percaya diperlakukan Kirana seperti itu.
Kirana menghentakan tubuhnya hingga terlepas dari pelukan Sebastian. Ia langsung bangun dan turun dari tempat tidur.
Sebastian duduk di atas ranjang, kepalanya terasa sedikit pusing. Entah karena beban pekerjaan akhir-akhir ini atau karena pikirannya penuh dengan Kirana yang menghilang.
Sebastian memijat pelipisnya sambil mengerrnyit. Matanya melirik ke arah Kirana yang sedang menganbil pakaian ganti. Setelah terasa lebih enak, Sebastian turun dari ranjang dan berjalan mendekati Kirana.
Kirana cepat-cepat menutup lemarinya dan berbalik ingin keluar dari kamar, tetapi lengan Sebastian menahannya dan membawa gadis itu kembali ke dalam pelukannya.
“Apa yang membuat hatimu kesal, Kiran ? Apa ada perbuatanku yang menyakiti hatimu ? Maaf kalau aku seperti mengabaikanmu karena sibuk dengan pekerjaan. Namun aku sungguh-sungguh selalu merindukanmu. Terlalu sering mendengar celotehmu membuat aku semakin ingin cepat pulang, sementara pekerjaan di sana belum bisa aku tinggal.”
Kiran tidak memberontak atau membalas pelukan Sebastian. Rengkuhan tangan kekar pria itu memang mengurangi rasa rindunya, tapi lagi-lagi bayangan foto itu menjadi dinding penghalang di hati Kirana.
Merasakan kalau Kirana hanya diam saja, Sebastian melerai pelukannya dan memegang kedua bahu Kirana. Diangkatnya wajah Kirana yang menunduk.
“Kiran, jangan diam seperti ini- Makilah aku jika memang aku membuatmu kesal. Maaf, maafkan aku Kiran. Aku akan belajar untuk mengurangi egoku dan lebih berani menghadapi rasa rinduku.”
Kedua tangan Sebastian menangkup wajah Kirana yang sengaja didongakan supaya bisa ditatapnya. Namun mata Kirana tetap terpejam dan tidak mau menatap Sebastian.
Sebastian tersenyum getir. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kirana hendak menciumnya tapi Kirana langsung membuang muka meski tangan Sebastian masih menangkupnya.
Sebastian melepaskan tangannya dan berdiri dalam diam di hadapan Kirana.
__ADS_1
Gadis itu membuka matanya dan tanpa berbicara apa-apa melewati Sebastian dengan baju ganti di tangannya.
Kirana berhenti sejenak sebelum keluar kamar.
“Aku sama sekali tidak merindukanmu dan tidak ingin bertemu denganmu. Tolong tinggalkan rumah ini. Toh kamu sudah melihat kalau aku baik-baik saja. Tolong jangan menggangguku.”
Tanpa menunggu jawaban, Kirana keluar dan kembali menutup pintu kamarnya.
Sebastian masih terpaku di tempatnya. Tarikan nafas berat dan helaan nafas kasar terdengar seolah memenuhi kamar Kirana yang tidak terlalu besar.
Sebastian melangkah menuju nakas dan duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih handphone Kirana yang sudah menyala kembali. Sebastian mencoba menebak angka yang digunakan untuk membuka handphone yang terkunci. Namun sudah dua kali gagal. Tidak ingin handphone Kirana terblokir, Sebastian mengambil handphonenya sendiri dan menghubungi Aldo.
“Do, apa kamu bisa membuka handphone Kirana dan mencari tahu pesan yang diterimanya ?”
“Bisa Pak, asal fisiknya ada pada saya.”
“Ok kalau begitu, besok kita bertemu di kantor.”
Tanoa bicara panjang lebar lagi, Sebastian mencabut handphone Kirana dan langsung menyimpannya di saku celana panjangnya. Ia akan mencari tahu sendiri apa yang menyebabkan Kirana menghindarinya.
Sebastian memutuskan untuk turun menemui keluarga Kirana. Memaksa Kirana untuk bicara saat ini terlihat sulit dan malah menambah kekesalan gadis itu. Lebih baik berusaha mencari tahu sendiri dulu lewat handphone Kirana.
Sebastian ikut makan malam dengan keluarga Kirana malam itu. Mereka berempat sempat berbincang santai tanpa menyinggung masalah menghilangnya Kirana, sementara Kirana sendiri memilih diam dan tidak terlibat sedikitpun dalam perbincangan.
Selesai makan malam, Sebastian sempat berbincang dengan papa Heru dan Kendra sambil nonton TV, sementara Kirana membantu mama Lia membereskan bekas makan malam.
Kirana sendiri sedang mencuci peralatan makan dsn gelas kotor.
“Pasti ada niat tidak baik dari si pengirim. Buktinya siapapun juga, dia tidak berani membuka identitasnya bahkan langsung mematikan nomornya saat kamu mencoba menghubungi kembali.”
“Tapi foto itu bukan editan, Ma.” Sahut Kirana dengan nada kesal.
“Mau editan atau bukan, terkadang apa yang terlihat tidak sesuai dengan kenyataan.”
“Tapi aku tetap kesal, Ma. Sebastian begitu marahnya saat aku tidak sengaja bertemu dengan Steven di Mal, padahal di sana dia malah…. Aarrgghh pokoknya aku kesal, Ma.”
Mama mendekati Kirana dan mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Sebastian itu bukan lelaki sembarangan. Dia pemimpin perusahan yang cukup terkenal dan disegani. Banyak orang memuja sekaligus iri padanya hingga berusaha menjatuhkannya. Jadi kamu harus kuat mental kalau ingin meneruskan hubungan kalian. Akan banyak orang yang mencoba mengganggunya dan kamu adalah salah satu titik lemah Sebastian yang bisa membuatnya tidak berdaya.”
Kirana mengambil kain lap untuk mengeringkan tangannya. Ucapan mama Lia memang patut dicerna dan dipikirkannya dengan baik.
“Lalu aku harus bagaimana, Ma ?”
__ADS_1
“Bicarakan dengan Bastian baik-baik, tanyakan masalah foto itu dan dengarkan penjelasannya. Menurut mama dan papa, tidak terlihat hubungan yang sangat intim dalam foto itu. Bisa jadi Sebastian memang tertidur pulas di sofa sampai tidak menyadari ada seseorang yang duduk di sebelahnya.”
Kirana kembali terdiam. Ia ingat kejadian sore ini di kamarnya. Bahkan Kirana tidak sadar kalau Sebastian sudah ada di sebelahnya dan memeluknya saat tidur, bahkan Kirana ikut membalas pelukan kekasihnya itu.
Selesai dengan urusan dapur, mama mengajak Kirana untuk ikut bergabung dengan papa Heru, Sebastian dan Kendra menonton TV, tapi Kirana menolaknya.
Ia memilih tetap tinggal di ruang makan dan menikmati segelas teh tawar hangat yang baru saja dibuatnya.
Mama Lia yang memahami sakit hati putrinya karena ini adalah pengalaman pertamanya berpacaran. Mama membiarkan Kirana memilih menjauhi Sebastian dulu tanpa memaksanya.
Sebastian menautkan alisnya saat mendapati hanya mama Lia yang datang dan bergabung dengan mereka. Namun mama Lia pura-pura tidak melihat tatapan Sebastian yang seolah menanyakan keberadaan Kirana.
Kirana memilih kembali ke kamar tanpa menemui Sebastian dan keluarganya yang masih berbincang sambil menonton televisi. Ia mengunci pintu kamarnya, berjaga-jaga supaya Sebastian tidak bisa masuk seperti tadi sore.
Diliriknya rangkaian bunga mawar kuning yang ada di meja riasnya. Sejak Kirana selesai mandi, ia sudah melihat rangkaian bunga itu diletakan di sana, namun sedikitpun tidak ada niat untuk menyentuhnya.
Kirana mendekati meja riasnya dan mengambil rangkaian bunga itu dan menciumnya. Harum. Namun aroma tubuh Sebastian masih lebih menenangkan hati Kirana. Sebuah kartu terjatuh dari dalamnya.
“I LOVE YOU, HONEY… ALWAYS ❤️”
Kirana membawa rangkian mawar itu dan meletakannya di atas meja nakas. Pikirannya kembali dipenuhi dengan nasehat mama.
Apa yang mama Lia katakan sangat benar. Sebastian adalah seorang pengusaha muda yang tampan dsn cukup berhasil di usia mudanya. Banyak wanita yang mengincar Sebastian untuk dijadikan calon suami. Belum lagi para pebisnis yang ingin menjadikan Sebastian sebagai partner kerja atau malah menganggapnya musuh dan berniat menjatuhkannya.
Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Kirana. Tangannya ragu membuka pintu saat mendengar suara dari luar yang memanggil namanya. Tapi akhirnya Kirana memilih membuka pintu.
Sebastian masih berdiri dalam balutan kemeja kerjanya. Raut wajahnya terlihat letih.
“Aku pulang dulu Kiran. Kalau besok kamu belum bisa masuk kantor, tidak masalah.”
Sebastian hanya bicara tanpa berusaha mendekat pada Kirana apalagi memeluknya.
“Tapi jangan biarkan aku tidak boleh menemuimu. Rasa rinduku tidak mampu kutahan sampai membuat kepalaku pusing tiba-tiba. Istirahatlah malam ini, dan terima kasih karena aku boleh menemanimu tidur sore tadi.”
Sebastian tersenyum. Ia menahan dirinya untuk tidak menyentuh wajah Kirana apalagi memeluknya. Selesai bicara yang tidak mendapat respon apapun dari Kirana, Sebastian berbalik badan hendak meninggalkan Kirana.
“Tapi aku tidak merindukanmu,” ujar Kirana pelan mirip gumaman. Namun Sebastian mendengarnya dan berbalik dengan senyumam.
“Tidak apa-apa kamu tidak merindukanku, asal jangan larang aku untuk merindukanmu.”
Sesudahnya Sebastian benar-benar menghilang dari hadapan Kirana dan pamit pulang pada keluarga kekasihnya.
Pak Tomo sudah menunggu di depan rumah Kirana atas permintaan Sebastian yang menghubunginya sejak ia berpindah ke ruang tamu dengan papa Heru dan Kendra.
__ADS_1
Sebastian ingin mengistirahatkan fisik dan mentalnya supaya bisa menghadapi Kirana dengan kepala dingin. Kalau hanya mengutamakan emosi, bukannya bertambah baik malah persoalan mereka bisa semakin menjauhkan Kirana dari Sebastian.
Bukankah dalam suatu hubungan cinta dibutuhkan pengertian selain keterbukaan ? Jika satu pihak sedang diselimuti oleh emosi, maka pihak lainnya harus mengalah dan bisa menjadi pendengar yang baik.