
Kirana menunggu Sebastian di cafe rumah sakit Pratama. Hari ini suaminya penuh dengan jadwal meeting di luar kantor bertepatan dengan jadwal Kirana memeriksakan kandungannya yang memasuki minggu ke-26.
“Sepertinya Sebastian terlalu sibuk untuk memperhatikan istrinya yang sedang hamil.”
Kirana mendongak dan mendapatkan Renata sedang berdiri di depannya sambil memegang gelas minuman.
“Kenapa kamu yang jadi kepo ? Aku aja sebagai istrinya biasa-biasa aja dan tanpa prasangka buruk selalu mendukung suamiku,” sahut Kirana sambil tersenyum tipis.
“Sudah aku bilang kalau kamu hanya mengenal Sebastian sebatas kulit luarnya saja.”
Kirana menghela nafas lalu tersenyum dengan wajah biasa saja, tidak terpancing emosi.
“Sekarang aku mengerti kenapa suamiku menendang kamu jauh-jauh dari kehidupannya, bahkan diliriknya untuk menjadi pacar aja nggak. Ternyata kamu adalah wanita nyinyir yang sukanya mencampuri urusan orang lain. Daripada memprovokasi istri orang, lebih baik pakai waktumu untuk cari jodoh. Apa nggak takut tambah berat jodoh di umur kamu yang akan mencapai tigapuluh ?” Kirana terkekeh.
“Memangnya kayak kamu kegatelan, masih kecil udah mau aja dikawinin,” nada bicara Renata mulai naik satu oktaf.
”Apa nggak pernah dengar istilah kecil-kecil cabe rawit ? Biar kecil tetap legit dan menggigit.” Kirana tertawa pelan apalagi saat melirik Renata, terlihat kalau ulat bulu yang satu ini makin emosi.
Renata mendengus kesal. Ternyata kali ini istri Sebastian tidak mudah dijatuhkan seperti mereka pertama kali bertemu. Saat itu Renata sempat merasa di atas angin karena bisa membuat Kirana marah gara-gara Sebastian begitu terpaku melihat kehadirannya.
“Honey,” panggilan merdu di telinga Kirana membuat senyum lebar mengembang di wajahnya.
Bukan hanya Kirana yang menoleh, tapi juga Renata yang masih dalam posisi berdiri.
“Bas,” sapa Renata sambil tersenyum manis. “Es Americano kesukaanmu, masih baru, aku belum meminumnya sedikit pun. Tapi kalau pun sudah bukankah sejak dulu tidak masalah buatmu ?” Renata menyodorkan gelas yang sejak tadi dipegangnya.
Sebastian hanya melirik sekilas lalu mendekati istrinya. Tanpa sungkan Sebastian langsung mencium kening istrinya dan meraih gelas minuman yang berisi jus milik Kirana.
Wajah Renata berubah kesal dan wajahnya langsung ditekuk membuat Kirana yang sempat meliriknya dari balik tubuh Sebastian tersenyum penuh kemenangan.
”Kita ke dokter sekarang ?” Sebastian mengusap kepala Kirana. “Kamu sudah daftar, kan ?”
Cilla mengangguk dan meraih gelas yang tadi sempat diminum Sebastian dan menghabiskan isi minumannya.
Sebastian langsung menggandeng istrinya keluar cafe dan mengabaikan keberadaan Renata yang sejak tadi jadi penonton kemesraan suami istri itu.
Di tempatnya berdiri, Renata mengepalkan sebelah tangannya dan menggigit bibirnya menahan kesal.
“Bagianmu,” bisik Sebastian sambil menepuk bahu Bara yang termyata datang bersamanya.
“Semoga berjalan lancar, Pak Bara,” ledek Kirana. “Sudah tidak sabar mengajukan permintaan.”
“Dasar cewek matere !” gerutu Bara dengan wajah kesal.
__ADS_1
Sebastian langsung menoleh, melotot dan mendekatkan wajahnya ke Bara.
“Istriku bukan matere karena uang yang aku berikan tidak akan habis sekalipun dihambutkan dalam satu malam. Istriku sudah mengikuti jejakku dan mulai pintar menjadi pebisnis.”
Bara mencebik sambil geleng-geleng kepala. Makin hari suami istri ini semakin kompak dan saling melengkapi bahkan saat menindas orang lain.
“Ingat Bee, jangan sampai wajah jutek Bara menular pada anak kita,” Kirana menarik lengan suaminya sambil cekikikan.
“Amit-amit, Sayang,” Sebastian langsung mengusap-usap istrinya yang mulai terlihat besar.
“Selamat berjuang Om Bara,” Kirana mengepalkan tangannya ke udara dan memberi tanda semangat pada sahabat suaminya yang langsung mendengus kesal.
**
Bara menahan lengan Renata saat gadis itu hampir melewatinya di depan cafe.
“Mau ngapain lagi ? Belum puas dengan yang kamu terima pas SMA ?” Cebik Renata sambil tersenyum sinis.
“Seperti kata orang bijak, hidup manusia ibarat roda yang berputar. Bisa ada di bawah dan juga di atas. Berapa lama bertahan di posisinya tergantung sifat manusia itu sendiri karena ada hukum lain yang berlaku di dunia ini yaitu hukum tabur tuai,” sahut Bara dengan wajah datar dan senyuman tipis.
“Baguslah kalau semakin tua elo semakin bijaksana dan mampu hidup dalam petuah-petuah yang baik. Setidaknya jadi elo nggak mudah ditipu orang,” Renata kembali tertawa dengan nada sinis.
“Begitu juga denganmu, dokter Renata,” ujar Bara dengan nada sopan. “Kali ini aku yang akan membuatmu menyesal dengan perbuatanmu.”
“Apa maksud elo ?” Renata masih menahan suaranya agar tidak berteriak.
Tatapannya melirik ke kiri kanan dan mendapati beberapa orang yang ada di dekat situ melirik ke arah.mereka. Apalagi kondisi Renata saat ini masih memakai snelli dan nametag rumah sakit Pratama masih terpasang di saku jas nya.
“Sebaiknya elo ikut gue ke ruangan IT.”
Tanpa menunggu persetujuan Renata, Bara langsung menarik lengan gadis itu.
“Gila lo Bar ! Gue ada jam praktek sebentar lagi?” omel Renata. “Dan bukan tugas gue membereskan isu-isu yang ada di rumah sakit ini.”
Bara menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya. Matanya menatap Renata dengan tajam sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
“Saya akan tunggu sampai anda selesai praktek,” ujar Bara dengan nada formal.
“Nggak ada urusan sampai elo harus nunggu gue selesai praktek.”
Renata mengabaikan Bara dan mulai berjalan menuju ruangan poliklinik. Dan dengan santai Bara mengikutinya dari belakang membuat Renata jengah dan wajahnya terlihat kesal.
Sampai di depan ruang prakteknya, Renata berhenti dengan satu tangan memegang handel pintu.
__ADS_1
“Jangan bikin gue mengulang kembali perbuatan gue waktu di SMA,” ancam Renata dengan suara penih penekanan.
“Saya tidak takut dengan ancaman anda, Dokter Renata. Dan kehadiran saya tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi kita, tapi sangat erat kaitannya dengan masalah yang sedang dihadapi oleh rumah sakit.”
“‘Maksud elo apa ?” Masih dengan wajah kesalnya Renata menatap Bara dengan alis menaut.
Bara mengedarkan pandangannya sekilas melihat beberapa pasien cukup ramai sedang duduk di kursi tunggu. Bahkan Bara sempat melihat ada Sebastian dan Kirana menunggu di depan pintu ruang praktek lainnya.
“Lebih baik kita bicara sebentar di dalam,” ujar Bara. “Jangan sampai reputasi anda rusak kalau sampai ada pasien yang mendengar masalah dokternya.”
Renata menghela nafas panjang namun membenarkan ucapan Bara. Saat ini saja beberapa pasien yang berbaur duduk di kursi tunggu sesekali melirik ke arah mereka.
“Jangan bertele-tele !” Renata berdiri dekat meja praktek sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Anda masuk dalam daftar orang yang dicurigai sebagai komplotan yang berusah membobol data pasien,” ujar Bara dengan nada yang dibuat setegas mungkin.
Renata langsung membelalak sampai kedua tangannya terlepas.
“Jangan asal menuduh !” Protesnya dengan keras.
“Saya hanya bilang kalau sementara ini anda masuk daftar orang yang dicurgai bukan dituduh sebagai pelaku. Jadi kalau memang anda bisa memberikan bukti atas tuduhan yang diberikan, kenapa harus panik ?”
“Tentu saja gue protes, Bara. Gue nggak tahu sedikitpun soal pembobolan data atau apapun,” Renata mengerutkan dahi dengan wajah kesal.
“Sekarang anda selesaikan praktek dulu, saya akan tunggu di luar. Masalah bagaimana penjelasannya, nanti bisa anda beberkan di depan tim.”
Bara langsung melangkah keluar dan membuka pintiu ruang praktek Renata sambil tersenyum senang. Ternyata apa yang Kirana bilang mulai terlihat kebenarannya. Renata memang selalu pasang kuda-kuda dengan sikap arogan dan galaknya, tapi saat mendapat tekanan sedikit saja, sikapnya berubah panik dan tidak karuan.
Sampai di depan, Bara menghampiri Sebastian dan Kirana yang masih menunggu antrian. Seperti biasa, Kirana tidak mau mendapat perlakuan khusus dengan melakukan pemeriksaan di kamar VVIP.
“Sepertinya omongan kamu ada benarnya, Kiran,” Bara memberikan jempolnya. “Sementara ini Renata tidak bisa menghindar.”
“Jadi elo bakal nunggu sampai dia selesai praktek ?” tanya Sebastian.
“Udah jalan, Bro. Masa belum seratus meter gue harus putar balik ?”
“Semoga dapat jodoh yang terbaik,” ucap Sebastian sambil tertawa pelan.
“Semangat Om Bara !” Cilla kembali mengangkat kepalan tangannya ke udara memberi tanda semangat.
“Kalau bukan demi misi sama Renata, nggak bakal rela aku dipanggil Om sama kamu, Ki,” gerutu Bara.
Sebastian dan Kirana hanya tertawa. Setelahnya keduanya dipanggil karena sudah giliran untuk menemui dokter Wanda.
__ADS_1
“Jangan tanggung-tanggung, Bro,” bisik Sebastian sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya.