Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 55 Rencana yang Tertunda


__ADS_3

Rencana pernikahan Sebastian dan Kirana akan diadakan 3 bulan sejak pertunangan mereka. Sebagian besar keperluan seperti tempat dan makanan diurus oleh mommy Amelia. Masalah pakaian pengantin dan undangan sudah dipilih langsung oleh Sebastian dan Kirana.


Namun rencana itu harus diundur karena adanya masalah kerjasama dengan beberapa perusahaan di luar negeri yang membutuhkan penanganan lansung dari Sebastian dan Daddy Richard.


Untung saja undangan belum dicetak , karena pesta pernikahan mereka ditunda sampai satu bulan ke depan atau tepatnya 4 bulan setelah pertunangan.


“Sorry Honey, tugas kali ini nggak bisa didelegasikan sama orang lain,” ujar Sebastian.


Keduanya baru saja memeriksa draft kartu undangan yang dirubah sambil menikmati makan siang di ruang kerja Sebastian.


“Mau diminta menunggu sampai tahun depan pun aku tidak keberatan, Bee. Jangan sampai masalah kantor terabaikan karena banyak orang yang menggantungkan hidup mereka di sini.”


“I love you Kirana,” Sebastisn langsung meraih tengkuk Kirana dan menciumnya dengan mesra.


“Bee,” protes Kirana. “Mulutku masih bau rendang, belum sempat minum air putih. Bikin malu aja,” Kirana mersjuk sambil memukul bahu Sebastian.


“Tapi bibir kamu masih tetap manis, buat aku pengen cium terus,” Sebastian tertawa sambik membelai wajah Kirana yang mulai memerah.


Menu makan siang mereka hari ini nasi padang dengan lauk rendang kesukaan Sebastian.


“Terima kasih karena selalu mencintai aku sejak dulu dan mendukung aku selalu.”


“Bee, kamu terlalu banyak mengucapkan terima kasih,” Kirana terkekeh sambil mencubit kedua pipi Sebastian. “Bikin gemes aja.”


“Kasih bonus dong kalau gemes,” Sebastian sudah mengerucutkan bibirnya.


Kirana tertawa dan beranjak bangun membawa peralatan makan mereka.


“Bonusnya nanti kalau sudah sah jadi istri kamu.”


“Benar ya ! Aku akan tagih loh janji kamu itu.”


“Kalau ingat,” Kirana tertawa dan keluar dari ruangan Sebastian menuju pantri.


Sebastian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Beban pekerjaan cukup berat karena bebeberapa masalah perusahaan. Tapi dengan hadirnya Kirana, Sebastian merasa lebih bersemangat dan berwarna dalam hidupnya.


Apalagi sebentar lagi Kirana akan resmi menjadi istrinya. Bisa memandangnya setiap bangun pagi dan sebelum tidur membuat Sebastian ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan tidak sabar menunggu sampai 15 minggu lagi.


Tiga hari kemudian Sebastian berangkat ke Amerika bersama Daddy Richard dan Dion, sementara Amir tetap mengurus pekerjaan di Jakarta. Kedua asisten itu akan bergantian mendampingi kedua pemilik MegaCyber.


Malam sudah menggantikan siang dan Kirana sedang rebahan di atas kasurnya, saat pesan dari Sebastian masuk ke handphonenya.


Sebastian : Honey, aku baru saja mendarat di Taipei. Transit 3 jam. Kamu sudah di rumah ?


Kirana : Sudah di rumah sejak jam 7 tadi, Bee. Mumpung nggak ada boss, jadi bisa pulang cepat 😃😃😍


Kirana tertawa saat membaca ulang pesan yang ditulisnya sebagai balasan pada Sebastian.

__ADS_1


Kirana mulai menghitung dan yakin sebelum angka sepuluh disebutnya, Sebastian pasti akan menghubunginya.


Dan sesuai tebakannya, saat angka delapan terucap dari mulut Kirana, nama My Bee muncul handphonenya. Bukan sekedar panggilan biasa tapi video call.


“Lagi ngapain kamu, Kiran ?” Sebastian memicingkan matanya memperhatikan posisi Kirana yang sengaja menerima panggilan telepon sambil tiduran.


“Lagi teleponan sama calon suami,” Kirana terkekeh.


“Iya tapi kamu dimana ?”


“Di kamar aku, Bee. Belum di kamar kita,” Kirana kebali menggoda Sebatian sambil tertawa.


“Awas kamu nanti kalau sudah resmi jadi istriku. Kita lihat apa masih berani meledek aku seperti sekarang,” Sebastian tertawa dengan tatapan liciknya.


“Aawww takut doong,” Kirana menunjukan ekspresi ketakutan lalu tertawa.


“Mulai nakal, ya !” Sebastian mncebik. “Awas nakal sama cowok lain, langsung aku kirim orang buat kurung kamu sampai kita menikah.”


Kirana masih tertawa melihat wajah calon suaminya.


“Jangan dong Tuan Sebastian Pratama. Kalau dikurung, nanti aku stress dan jadi pengantin terjelek yang kamu nikahi.”


“Kirana,” suara Sebastian mendadak melow dan wajahnya berubah cemas.


“Jangan bilang kamu sangat merindukan aku, Bee,” Kirana masih menanggapinya dengan santai. Ia sudah bangun dan duduk di atas kasurnya.


“Aku juga akan kangen banget sama kamu, Bee,” Kirana tersenyum dan sedikit mengernyit melihat ekspresi muka Sebastian.


“Apa Steven menghuungimu akhir-akhir ini ?” Pertanyaan yang mengganjal akhirnya terucap juga dari mulut Sebastian.


“Nggak pernah,” Kirana menggeleng. “Terakhir bertemu dengan Steven saat kita tunangan. Kenapa Bee ? Kok kamu tiba-tiba tanya soal Steven ?”


“Nggak tahu, Honey,” Sebastian ganti menggeleng. “Pikiranku tiba-tiba teringat padanya. Dan ada perasaan khawatir tentang dia.”


“Bee,” Kirana mengusap layar handpohennya seolah sedang menyentuh wajah Sebastian. “Mungkin saja Steven sudah bisa menerima hubungan kita dan tidak akan mengganggu aku lagi. Berpikir yang positif aja, Bee.”


“Jangan coba-coba hubungi Steven selama aku nggak ada dekat kamu, ya !” Suara tegas Sebastian dengan bibir mengerucut membuat Kirana jadi tertawa.


“Kalau bukan Steven boleh ?” Kirana mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Mau aku minta mommy pingit kamu ?” Tatapan tajam dan galak Sebastian membuat Kirana kembali tergelak.


“Kelamaan kalau dipingitnya dari sekarang. Mana ada aturan pingit sampai 15 minggu,” Kirana mencibir. “Kalau dipingit berarti aku juga nggak boleh terima telepon apalagi video call sama kamu. Mau ?”


“Nggak masalah kalau memang itu lebih aman,” tegas Sebastian tanpa senyum


“Jangan pasang muka begitu,” omel Kirana. “Bikin aku jadi gemas tapi nggak bisa cubit-cubit kamu, Bee.”

__ADS_1


Kirana mengerjapkan matanya dan memasang tanpang sedih. Bukannya kasihan, Sebastian gantian malah menertawakan ekspresi Kirana.


“Kamu juga jangan lirik-lirik cewek ya di sana. Apalagi bule-bule yang seksi itu. Biar aku nggak secantik mantan istrimu, tapi cintaku nggak bisa dibandingkan sama siapapun,” Kirana memasang wajah galak dan sengaja mendekatkan mukanya ke kamera handphone.


“Jadi ceritanya cinta banget nih sama aku ? Bukan hanya aku yang cinta mati sama kamu ?”


“Haiss memangnya kamu nggak merasakan kalau aku juga cinta sama kamu, Bee ? Malah sejak aku masih piyik.”


Sebastian semakin tergelak melihat wajah Kirana.


“Jangan suka bawa-bawa mantan istri, sengaja ya mau ingetin kalau aku itu duda ?”


Kirana hanya mengangguk dengan wajah serius


“Kalau dipikir-pikir,” Sebastian memegang dagunya. “Memang kamu kurang cantik kalau dibandingkan dengan yang itu,” Sebastian sengaja mengarahkan kamera handphonenya ke beberapa wanita yang melintas di depannya dengan pakaian seragam pramugari. .


“Bee !” Pekik Kirana dengan wajah langsung ditekuk. “Masih bisa batal nih, apalagi undangan saja belum dicetak.”


Kirana mengerucutkan bibirnya sambil melipat sebelah tangannya di dada.


“Kan kamu tadi yang bilang kalau kamu nggak secantik mantan istriku,” Sebastian tergelak.


“Sebel aahh,” Kirana makin cemberut.


“Memang benar kata orang bijak kalau perempuan itu sering berkata-kata terbalik dengan keinginan hatinya,” ujar Sebastian di tengah tawanya.


“Di mataku kamu sangat cantik, Kirana sayang. Karena aku tidak melihatnya dengan mata biasa tapi mata hatiku.”


Sebastian tersenyum lebar dan membuat Kirana semakin merindukannya. Ingin rasanya langsung menghambur ke dalam pelukan Sebastian yang selalu membuatnya nyaman.


“Gombal !” Kirana mencebik.


Memang benar apa yang Sebastian ucapkan, kalau perempuan cenderung menunjukan sikap yang bertentangan dengan keinginnan hatinya.


Ingin dipeluk oleh Sebastian, Kirana malah menujukkan wajah kesalnya. Lagipula Kirana masih mode marah, gengsi kalau langsung meleleh dengan senyuman Sebastian.


“I love you my Kirana,” Sebastian menempelkan kedua jarinya di mulut kemudian berpindah ke layar handphone


“Bobo jangan malam-malam dan mimpikan aku selalu. Aku mau mandi dulu di lounge ya, soalnya perjalanan aku masih panjang sampai ke Amerika.”


Kirana akhirnya melunak dan memberikan senyumannya.


“I love you my Sebastian.” Kirana melakukan hal yang sama seperti Sebastian.


“Jaga kesehatan, Bee. Jangan sampai kurang tidur dan telat makan.”


Sebastian mengangguk sambil tersenyum lalu memutus video call mereka.

__ADS_1


Kirana mendekap handphonenya, meredam kerinduan yang mulai memenuhi hatinya. Terbiasa dengan perhatian Sebastian yang tidak ads habisnya, membayangkan jauh dari pria itu dalam beberapa minggu ke depan membuat Kirana tiba-tiba merasa berat menjalani hari-harinya


__ADS_2