
Kirana sedang menikmati segelas es cokelat di sebuah cafe sambil membuka-buka aplikasi handphonenya saat tangan mungil itu menepuk pahanya.
“Mama.. mama…”
Kirana terkejut karena sedang fokus membaca novel online hingga tidak sadar si bocah yang bertambah gembul itu mendekatinya.
“Raven,” seorang baysitter yang pernah bertemu di mal mendekati bocah itu yang langsung menyusup ke tengah-tengah kaki Kirana.
Wajah babysitter itu terlihat lega saat melihat anak asuhnya berada di tangan Kirana.
“Maaf Non, Raven lari begitu cepat.”
Kirana menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Dilihatnya bocah itu menyembunyikan wajah di atas paha Kirana yang sudah pasti akan terlihat. Kirana tertawa.
Diangkatnya bocah gemoy itu ke atas pangkuannya.
Raven melebarkan senyumnya, dan ia berdiri di atas paha Kirana lalu menciumi gadis itu dengan gemas. Air liurnya membasahi sebagian wajah Kirana, membuat Kirana tertawa kegelian.
“Mama.” Bocah itu masih merangkul leher Kirana dan seperti biasa memanggil Kirana dengan sebutan mama.
“Kamu kok tambah gembul aja, Ven,” gantian Kirana mencium pipi bocah itu dan sengaja melakukannya berkali-kali. Raven tertawa kegelian namun sekaligus senang.
“Saya titip Raven sebentar, Non. Mau bilang nyonya kalau Raven ada di sini.”
Kirana mengangguk dan kembali menciumi Raven dengan gemas.
“Kalau mau punya sendiri, tinggal bilang. Aku nggak keberatan bantu produksinya,” suara bariton Sebastian menghentikan ciuman Kirana di wajah Raven.
“Sudah selesai, Bee ?” Kirana mendongak sambil tersenyum. Sebastian mencium kening Kirana lalu duduk di seberang kekasihnya.
Sejak tadi Kirana memang sedang menunggu Sebastian yang sedang meeting di gedung perkantoran dekat situ. Sebastian sengaja meminta Kirana menunggunya di cafe sepulang dari kantor.
“Bisa kebetulan banget sih ketemu sama anak ini,” Sebastian dengan wajah kesal mulai mengomel.
Raven sendiri langsung terdiam dan bersembunyi di ceruk leher Kirana sambil memeluk erat gadis itu.
Tidak lama terlihat Tante Mira dan Om Herman datang menghampiri meja mereka.
“Sore Tante, Om,” Kirana menyapa sambil menganggukan kepalanya.
Sebastian pura-pura sibuk membaca buku menu dan mendongak setelah kakinya ditendang oleh Kirana. Sebastian menatap Kirana yang sedang melotot dan memberi isyarat pada Sebastian untuk menyapa kedua mantan mertuanya.
“Sore Om, Tante,” suara malas Sebastian terdengar menyapa dengan senyum yang terpaksa.
“Sore Bas, Kiran,” Om Herman langsung membalasnya.
“Maaf Raven selalu menganggumu,” ujar Tante Mira mendekati Raven yang masih memeluk Kirana.
“Raven sayang, kita pindah ke meja opa oma yuk. Pesanan kentang goreng Raven sudah ada. Nanti kalau habis, opa mau belikan es krim.”
“No.. No…” bocah itu menggeleng dan menyuruh opa omanya pergi dengan gerakan tangannya.
__ADS_1
Sebastian memperhatikan interaksi Raven dan Kirana. Ia sendiri bingung kenapa anak Shera begitu lekat dengan Kirana.
Melihat tatapan Sebastian yang kurang nyaman, Kirana pun berusaha membujuk bocah itu untuk menerima ajakan oma opanya, namun tidak mudah melepaskan Raven dari pelukan Kirana.
“Raven,” suara panggilan itu membuat bocah berusia hampir dua tahun itu menoleh.
Bukannya merentangkan tangan minta digendong oleh wanita yang berstatus ibu kandungnya itu, Raven malah kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kirana.
Kirana membisikan sesuatu di telinga bocah itu yang membuat Raven melerai pelukannya dan menatap Kirana sambil mengerjap.
Kirana mengangguk sambil tersenyum. Ia mengangkat jari kelingkingnya membuat Raven bingung. Kirana memberi isyarat supaya Raven membuka telapak tangannya dan Kirana mengaitkan jari kelilingny ke kelingking milik Raven.
“Begini sayang,” ucap Kirana sambil mengangkat kelingking mereka yang masih bertaut.
Mata bocah itu kembali mengerjap membuat Kirana gemas ingin menciumnya.
Tangan kanan Raven yang bebas memegang ujung telinganya dan seperti gerakan memilin, tangannya masih betah di sana. Kirana mengermyit. Kebiasaan yang familiar namun Kirana lupa siapa yang melakukannya.
Di saat Kirana masih berusaha membujuknya, kedua orangtua Shera terfokus pada Kirana dan Raven, sedangkan Shera langsung menarik kursi yang ada di sebelah Sebastian.
“Apa kabar, Bas ?”
Sebastian terkejut saat Shera menyapanya sambil meletakan tangannya di atas paha Sebastian. Bukan sekedar meletakan tangannya, tapi Shera juga mengusap paha Sebastian.
Kirana yang mulai mencuri-curi pandang sejak Shera menarik kursi, terlihat mengerutkan dahi melihat kelakuan Shera pada kekasihnya. Statusnya sekarang adalah mantan istri Sebastian, jadi tidak seharusnya ia menyapa mantan suaminya dengan cara seperti perempuan penggoda.
Sebastian segera menepis tangan Shera dan menggeser bangkunya, tetapi Shera malah jatuh ke dada kiri Sebastian. Shera pura-pura tidak siap karena tangannya yang masih berusaha memegang Sebastian terlepas saat pria itu menjauh.
Kirana menghela nafas. Nasehat mama Lia kembali terngiang di telinganya. Ia harus menjadi wanita kuat, bukannya lari dan bersembunyi seperti kemarin.
“Kamu kok geser nggak bilang-bilang, Bas.”
Shera masih melanjutkan dramanya dan pura-pura kesakitan sambil memegang bahunya.
“Siapa suruh kamu yang nempel-nempel,” sahut Sebastian dengan nada ketus.
Kedua orangtua Shera memperhatikan dengan ekspresi yang tidak nyaman.
Sebastian bangun dan membersihkan bagian celana dan kemejanya yang sempat ditempeli oleh tangan dan wajah Shera. Sebastian tidak mau hubungannya dengan Kirana yang baru membaik kembali menjadi renggang karena pihak ketiga yang berusaha merusaknya.
“Pipis,” ucap Raven menatap Kirana.
“Raven mau pipis ? Sama sus ya ?” Kirana berusaha membujuknya.
Raven menggeleng dan menunjuk pada Kirana. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
“Tapi janji habis ini, Raven mamam dulu sama oma dan mama ya ? Tante harus pergi sama om ganteng, ujar Kirana sambil melirik Sebastian yang sedang tersenyum menatapnya.
Raven mengangguk dan ditemani babysitternya mereka pergi ke toliet.
“Aku mau ke toilet juga,” Shera menatap mamanya yang mengangguk.
Om Herman dan Tante Mira yang masih berdiri dipersilakan duduk oleh Sebastian. Ketiganya terlihat canggung untuk membuka percakapan. Kelakuan Shera yang hingga detik ini tidak mau mengatakan siapa ayah kandung Raven, membuat hubungan baik antara Sebastian dan mantan mertua lakinya jadi terputus dan memburuk.
__ADS_1
Sementara itu Kirana membawa Raven masuk ke dalam toilet wanita. Bocah itu tetap manja pada Kirana dan tidak mau dibantu oleh babysitternya.
Selesai mengurus Raven dan mengajaknya cuci tangan, Kirana melihat Shera juga berdiri dekat wastafel dan mencuci tangan.
“Sudah siap rupanya jadi istri kedua Sebastian,” ejek Shera dengan nada sinis.
“Apa perlu persiapan khusus, Mbak Shera ?” sahut Kirana dengan santai. Gilirannya cuci tangan setelah Raven berpindah pada babysitter.
“Apa kamu yakin kalau Sebastian begitu mencintaimu dan tidak pernah main di luaran ?”
“Saya percaya calon suami saya Mbak Shera. Mungkin saya bukan yang pertama, tapi saya yakin akan menjadi yang terakhir.”
“Lelaki semua sama saja. Jangan terlalu naif. Mereka punya keburuhan yang berbeda dari kita,” wajah Shera terlihat licik membuat Kirana ingin muntah.
“Apalagi berada jauh darimu. Kalimantan ya kalau tidak salah ? Apa kamu tidak tahu kalau di sana banyak wanita-wanita cantik ?” Shera terkekeh dengan maksud menjatuhkan mental Kirana.
“Apakah kamu yakin tidak perlu make over supaya Sebastian tidak beralih darimu ?” Tatapannya terlihat memandang rendah pada Kirana.
“Apa perlu ? Bahkan Mbak Shera yang secantik ini saja dilepaskan hanya karena sebuah pengkhianatan,” Kirana tersenyum biasa. Mendengar ucapan Kirana membuat Shera mulai terpancing.
“Apa kamu tidak berpikir kalau Sebastian begitu mudah tergoda dengan sekretarisnya bahkan tanpa melihat penampilannya,” Shera menatap Kirana dari atas ke bawah. “Jadi bukan tidak mungkin ia juga mudah jatuh ke godaan sekretaris yang lebih cantik darimu. Dengan senang hati para sekretaris itu akan menjadi tempat bersandar Sebastian yang kelelahan dan jauh dari calon istrinya yang…” Shera kembali menatap Kirana dari atas ke bawah. “Sama sekali tidak ada istimewanya.”
Kirana mulai terpancing emosinya. Apalagi kondisi fisiknya yang memang jauh dari kata cantik dan istimew sering membuatnya tidak percaya diri berada dekat Sebastian.
“Apa Mbak pikir pekerjaan sekretaris itu hanya kedok seorang wanita penggoda ? Saya rasa mbak salah kaprah. Kalau memang bawaanya suka menggoda pria lain bahkan atasannya, menjadi staf hukum juga punya kesempatan yang sama.” Balas Kirana dengan emosi yang ditekannya rapat-rapat.
“Jangan terlalu percaya diri,” bisik Shera sambil melewati Kirana. “Semua kucing pasti akan tergiur jika dikasih ikan yang lebih harum baunya.” Seringai sinis terlihat di wajah Shera.
“Shera !”
Wanita yang baru sampai di pintu toilet itu mengerutkan dahi mendengar Kirana memanggil namanya tanpa embel-embel apapun.
“Kamu mungkin cantik dan pintar, tapi sayang membuang kesempatan baik yang sudah ada dalam genggamanmu. Dan bagi Sebastian…”
Kirana mendekati Shera dan berdiri di hadapannya dengan tatapan merendahkan Shera.
“Bagi Sebastian aku adalah masa depannya dsn kamu adalah masa lalunya. Bukan levelku untuk menunjukan betapa dalamnya cinta Sebastian, apalagi di depan wanita pengkhianat seperti dirimu.”
Kirana tertawa pelan dengan nada sinis meninggalkan Shera yang mengepalkan tangannya.
Sebastian yang sejak tadi menunggu Kirana karena tidak keluar bersama Raven dan babysitternya, langsung menyusul ke toilet dan bersembunyi di balik tembok dekat wastafel luar. Ia sempat memdengar beberapa percakapan Kirana dan Shera.
“Honey !” Sebastian memanggil Kirana yang baru saja melewatinya.
Kirana terkejut dan menoleh. Ia langsung tersenyum melihat Sebastian yang ia yakin sedang menyusulnya. Terlihat tas kerja Kirana sudah di tangan Sebastian. Diraihnya tas miliknya dari tangan Sebastian.
“Maaf agak lama.”
Sebastian menggeleng, dan menarik lengan Kirana menuju lorong yang ke arah toliet.
Direngkuhnya pinggang Kirana dan sebelah tangannya meraih tengkuk Kirana lalu ******* bibir kekasihnya dengan begitu mesra dsn intim.
Shera yang masih berdiri dekat situ terlihat terkejut sampai membelalakan matanya. Selama ia berpacaran dengan Sebastian, belum pernah pria itu menciumnya dengan mesra di tempat umum ! Dan sekarang Sebastian melakukannya tanpa malu-malu.
__ADS_1
“I love you,” bisik Sebastian setelah melepaskan ciumannya. Kirana hanya mengangguk dengan wajah tercengang karena tidak percaya dengan perlakuanSebastian yang semakin berani di tempat umum.
Kirana bahkan tidak memperhatikan lagi saat Sebastian melirik Shera dengan senyuman sinis. Kirana diam dan menurut saat Sebastian menggandengnya dan mengajaknya keluar dari cafe.