Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 50 Rencana Lamaran


__ADS_3

Tuan dan Nyonya Richard menatap Sebastian yang terus senyum-senyum sendiri di meja makan. Saat ini mereka sedang duduk menikmati sarapan.


Wajah Sebastian nampak berbinar dan mereka yakin bukan karena sekedar Kirana sudah ditemukan dan kembali bekerja.


“Kamu baik-baik aja kan, Bas ?” Tanya Mommy Amelia sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Baik banget, Mom,” Sebastian menjawab pertanyaan mommy-nya dengan senyum mengembang.


“Anakmu lagi kena virus cinta, sayang,” Daddy Richard menimpali sambil tertawa.


“Mau minta daddy dan mommy segera melamar Kirana.” Sebastian memandang kedua orangtuanya bergantian.


“Jadi Kirana sudah mau menikah dengan duda ?” Ledek Daddy Richard sambil tertawa.


“Biar duda anak kita masih cocok dapat daun muda, sayang,” Mommy Amelia ikut menggoda sambil tertawa.


“Duda rasa perjaka, mom,” Sebastian terkekeh.


“Jadi kapan keluarga Kirana siap menerima kedatangan kita ? Mommy ingin cepat-cepat punya cucu, biar bisa pamer juga sama teman-teman arisan.”


“Mom !” Sebastian membelalakan matanya. “Menikah saja belum, mommy sudah mau punya cucu. Memangnya mau aku dp dulu baru menikah ?”


“Kasihan Kirananya kalau kamu dp dulu, Bas,” sahut daddy Richard tertawa pelan.


“Nggak perlu pakai dp, Bas,” ujar mommy Amelia. “Dari lamaran ke pernikahannya tidak usah pakai lama-lama, terus kamu langsung tancap gas, produksi jalan, jangan ditunda-tunda.”


Sebastian senyum-senyum mendengar ucapan mommy-nya. Ada rasa bahagia karena kali ini daddy dan mommy-nya sangat mendukung tanpa memberikan syarat apa-apa. Tidak seperti saat Sebastian mengungkapkan ingin menikahi Shera.


Daddy Richard tertawa mendengar ucapan istrinya yang begitu semangat dengan rencana pernikahan kedua putra mereka. Sepertinya bukan hanya Sebastian yang sudah jatuh hati pada Kirana, tapi mommy Amelia juga terlanjur sayang dengan kekasih putranya..


Meskipun sebagian orang menganggap Kirana tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Shera, namun di mata mommy Amelia, Kirana adalah calon menantu idaman hatinya. Berbeda dengan Shera yang kurang disukainya. Biarpun cantik, pintar dan dari keluarga terpandang, namun perilakunya agak sombong di mata mommy Amelia.


“Aku akan membahasnya dengan Kirana hari ini dan kalau perlu nanti sore langsung menemui orsngtua Kirana untuk membicarakannya.”


“Mommy bahagia akhirnya kamu bisa menemukan cinta kembali, Bas. Mommy yakin kalau pilihan kamu kali ini lebih tepat dari yang lalu.”


Sebastian tersenyum. “Berkat doa mommy juga. Dan sepertinya kami memang berjodoh sejak dulu.”


“Maksudmu ?” Tanya Daddy Richard sambil menautkan kedua alisnya.


Sebastian pun menceritakan masalah Kirana yang tidak sengaja melukainya dengan ketapel dan melihatnya pertama kali di rumah Tante Rosa. Mommy Amelia mengingat kejadian itu. Sebastian dititipkan di rumah Tante Rosa karena kedua orangtuanya bersama Uncle Raymond harus mengurus opa yang perlu dibawa berobat ke Singapura.


Saat itu Sebastian sedang libur semesteran dan memilih pulang ke Indonesia. Ia memastikan kalau dirinya tidak masalah sendirian di rumah selama kepergian orangtuanya. Namun dengan alasan menemani Steven yang saat itu masih SMA, akhirnya Sebastian menurut dan menginap 3 hari di rumah Uncle Raymond.


Dan ternyata justru di sanalah ia dipertemukan dengan Kirana meski tidak saling mengenal apalagi menyapa.


“Kabari Mommy kalau sudah ada kepastian dari Kirana,” ujar Mommy Amelia saat mengantar kedua pria kebanggaannya ke mobil.


“Secepatnya akan aku kabari Mommy,” sahut Sebastian sambil mencium kedua pipi mommy Amelia.


Sebastian sengaja tidak menghubungi Kirana pagi ini seperti biasanya. Ia ingin memberi kejutan tentang persetujuan daddy dan mommy nya untuk melamar Kirana. Perasaan bahagia dan tidak sabar ingin menyampaikan berita baik pada Kirana, membuat Sebastian bergegas naik ke lantai 15, setelah Pak Tomo menurunkannya di lobby gedung MegaCyber.

__ADS_1


Matanya membelalak melihat Dion mendekatkan wajahnya pada Kirana sementara kekasihnya sendiri terlihat kaget.


“Jadi benar ?” Pertanyaan Dion masih dibiarkan oleh Sebastian yang perlahan berdiri di belakang asistennya.


“Iya benar, kamu mau saya pindahkan ke pedalaman Kalimantan.”


Dion tersentak mendengar suara Sebastian yang menjawab. Perlahan ia menegakkan badannya dan berbalik menghadap Sebastian yang sudah bertolak pinggang.


“He..he…he… maaf Pak,” Dion mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.


“Apanya yang benar ?” Tatapan Sebastian seperti singa yang disodorkan daging segar.


“Itu Kirana… Kirana sekarang sudah jadi calon istri Pak Bas beneran.”


“Memangnya selama ini saya bohongan sama Kirana ?” Sebastian semakin membelalakan matanya.


Kirana hanya cekikikan. Sejak melihat Kirana memakai cincin di jari manisnya, Dion terus menggodanya dan saat Sebastian datang, seperti seorang polisi, Dion menanyakan detail cara Sebastian melamarnya.


“Nggak Pak Bas, bapak serius kok sama Kirana. Malah tadi saya bilang sama Kirana kalau Pak Bas sudah cinta mati sama Kirana.”


Sebastian mendengus kesal dan meninggalkan Dion menuju ruangannya. Hatinya yang berbunga-bunga mendadak jadi keruh kayak sungai Ciliwung saat mendapati posisi Dion begitu dekat dengan wajah Kirana.


Keduanya terkejut saat mendengar bantingan pintu ruangan Sebastian. Dion sampai mengusap dadanya, karena bukan saja terkejut mendengar bantingan pintu tapi suara menggelagar Sebastian saat ia berbincang dengan Kirana.


“Ki, masuk dulu dan tenangkan hati calon suami, dong. Kalau saya yang masuk bisa langsung dikasih SP sama Pak Bas.”


Kirana terkikik. Ia bangun dari kursinya dan menyiapkan dokumen yang akan ditandatangani Sebastian.


“Bee,” sengaja Kirana memanggil dengan nama kesayangannya biar wajah Sebastian yang menekuk jadi licin lagi.


“Hmmm” hanya gumaman yang keluar dari mulut Sebastian tanpa menoleh ke arah Kirana.


Maju mundur mempertimbangkan tindakan yang akan ia lakukan, akhirnya Kirana meletakan dokumen di atas meja Sebastian dan mendekati kekasihnya itu.


“Bee,” panggilnya dengan lembut penuh rayuan.


Lagi-lagi Sebastian hanya menjawab dengan gumaman, membuat akhirnya Kirana nekat mendorong kursi Sebastian sedikit menjauh dari mejanya dan langsung duduk di pangkuan pria itu. Sebastian sempat kaget dengan tindakan Kirana, namun ia engaja tetap mengabaikannya.


Kirana langsung merangkul leher Sebastian dengan sebelah tangannya. Wajahnya memerah karena malu melakukan hal seperti ini. Biasanya Sebastian yang menarik Kirana untuk duduk di pangkuannya.


“Baru semalam minta aku jadi istrimu, masa pagi-pagi sudah dikasih wajah jelek begini ?” Kirana tersenyum meski Sebastian masih membuang mukanya.


”Mama dan papa bilang cincnnya cantik, kayak yang pakai.”


Sebastian mulai tergoda untuk menjawab ucapan Kirana, namun demi gengsi dia masih berusaha bersikap dingin.


“Marahnya kan sama Dion, kok aku juga kena imbasnya ?” Kirana sengaja mengerucutkan bibirnya, tapi Sebastian tetap tidak mau menatapnya.


Akhirnya karena merasa malu bukan kepalang karena diabaikan Sebastian, Kirana melepaskan rangkulannya dan bersiap bangun.


“Mau kemana ?” Tangan Sebastian sudah menahan pinggang Kirana dan wajahnya begitu dekat menatap Kirana.

__ADS_1


“Mau keluar aja, masih banyak kerjaan, “ jawab Kirana dengan sedikit ketus.


Sebastian menarik tengkuk Kirana dan mulai memberi ciuman mesra pada bibirnya.


“Morning kiss dan hukuman karena sudah membiarkan Dion mendekatimu seperti tadi,” Sebastian tersenyum dan mengusap bibir Kirana.


“Aku juga kaget, Bee. Lagi periksa dokumen, pas aku dongak tahu-tahu wajah Dion udah dekat di mukaku,” Kirana masih dengan wajah cemberut menjelaskan pada Sebastian.


“Mulai sekarang nggak ada yang boleh terlalu dekat sama kamu, calon istri.”


Kirana menarik kedua ujung bibirnya, memeluk Sebastian dan menyenderkan kepalanya di bahu pris itu. Sebastian tertawa dan mengusap punggung Kirana.


“Nanti sore aku akan menemui papa dan mama untuk membicarakan rencana kedatangan mommy dan daddy untuk melamarmu.”


Kirana melerai pelukannya dan menatap Sebastian sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Kamu sudah bicara dengan Tu… eh maaf… om dan tante ?” Sebastian mengangguk. Tangannya mengusap pipi Kirana.


“Sudah, dan mereka siap kapan saja. Mommy malah berpesan kalau perlu langsung lanjut dengan pernikahan.”


“Beneran ?”


“Mommy juga minta segera diberikan cucu yang banyak,” bisik Sebastian membuat bulu kuduk Kirana meremang.


“Jangan asal deh, Bee.”


“Mau aku sambungkan sama mommy ?” Sebastian hendak mengambil handphonenya di atas meja, tapi tangan Kirana menahannya dan kepalanya menggeleng.


“Aku percaya, Bee.” Kirana tersenyum. “Kok jantungku jadi berdebar kayak habis lari marathon ya ?” Kirana memegang dadanya


“Mau aku bantu tenangin ?” Sebastian tertawa dan mengangkat tangannya hendak menyentuh dada Kirana.


“Bee !” Pekik Kirana sambil melotot. “Berani pegang sebelum sah, batal semuanya,” omelnya dengan wajah galak.


Sebastian masih tertawa lalu menciumi wajah Kirana dengan gemas, membuat gadis itu berteriak minta dilepaskan.


“Calon istri siapa sih menggemaskan kayak begini,” Sebastian mencubit pipi Kirana yang terasa semalin chubby.


Kirana tersenyum dalam hati . Kebahagiaan membuncah dalam hatinya melihat mood Sebastian sudah kembali normal, mendapat berita persetujuan Tuan dan Nyonya Richard untuk menjadikan Kirana menantu mereka dan rencana pernikahan.


“Honey !” Sebastian terpekik saat Kirana mencium pipinya dan langsung bangun dari pangkuan Sebastian sebelum pria itu sempat menahannya.


“Tandatangani dokumennya Pak Sebastian, biar pekerjaannya cepat beres dan bertemu calon mertua.”


Kirana yang sudah berdiri di depan meja Sebastian menyodorkan dokumen yang dibawanya mendekat ke Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Dasar anak nakal,” Sebastian menggerakan jari telunjuknya ke arah Kirana sambil tertawa.


“Berani bersikap genit sama cowok lain seperti ini, akan aku beri hukuman yang buat kamu tidak bisa lari dariku.”


Kirana hanya tertawa dan kembali mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


__ADS_2