Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 60 Pertemuan Sosialita


__ADS_3

Keesokan harinya Kirana sudah bersiap-siap sejak pukul sepuluh pagi. Selesai membawa Raven berjemur di taman dan memandikan bocah itu lalu menyuapinya sarapan, gantian Kirana yang mandi dan bersiap-siap. Kirana tidak mau saat Pak Tomo menjemputnya, ia belum apa-apa.


 


Om Herman dan Tante Mira juga sudah datang sejak pukul 8.30 pagi dan bertemu dengan Steven yang kembali memeriksa Raven. Sebagai dokter yang bertanggungjawab atas Raven, Steven sudah memastikan kalau kondisi bocah itu sudah sehat kembali dan diperbolehkan pulang.


 


Sementara Shera, hingga hari kedua anaknya di rumah sakit, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya. Jangankan cepat pulang dan menemani anaknya di rumah sakit, bahkan melakukan panggilan telepon atau video call untuk menghibur anaknya, tidak dilakukan oleh Shera.


 


“Kirana,” Tante Mira mendekat dan meraih jemari Kirana, “Om dan Tante sangat berterima kasih atas kesediaanmu menemani Raven dalam dua hari ini. Maaf karena kami sudah merepotkanmu.”


 


“Tidak masalah Tante, saya juga senang  bisa  menjaga Raven, Jangan terlalu sungkan sama saya,” Kirana balas memegang jemari Tante Mira sambil tersenyum.


 


“Om dan Tante minta maaf atas perlakuan Shera kepadamu dan Sebastian. Kami merasa malu kepada kedua mertuamu, terutama mommy Amelia-mu. Kami akan terus menasehati Shera untuk tidak lagi mengusik Sebastian dengan mengganggumu,”


 


“Terima kasih, Tante.”


 


Seperti tahu kalau ia akan berpisah dengan Kirana, Raven terus menempel pada gadis itu sejak pagi dan kembali merengek saat Kirana sudah bersiap selesai mandi.


 


Kirana memberi pengertian kepada bocah yang merindukan kasih sayang ibunya itu, dan untungnya Raven termasuk anak yang pintar dan masih menerima bila diajak bicara baik-baik,


 


Sesuai dugaan Kirana, jam 10.30, Pak Tomo sudah menghubungi handphonen Kirana, mengabarkan kalau ia sudah menunggu di lobby rumah sakit.


Kirana pun berpamitan kepada Om Herman dan Tante Mira serta Raven yang melepasnya dengan linangan air mata dan tatapan tidak rela.


 


Hati kecil Kirana tersentuh dengan keadaan Raven, namun ia sadar dengan posisinya sekarang ini dan siapa ibu dari Raven. Tidak mungkin ia berkeras bertahan memperhatikan Raven, sementara Shera sendiri tidak beritikad baik padanya.


 


Tidak lama mobil sudah memasuki rumah keluarga Richard Pratama. Bik Sum yang menjadi pelayan terlama dan juga orang kepercayaan mommy Amelia menyambut Kirana yang baru sampai di teras.


 


“Tambah cantik aja, Non Kirana,” Bik Sum tersenyum menyambut calon nona mudanya itu.


 


“Bik Sum juga awet tua,” Kirana tertawa diikuti oleh Bik Sum.


 


“Mommy masih dikamar. Bik ?”


 


“Iya dan nyonya meminta saya untuk membantu nona ganti baju dengan yang sudah disiapkan oleh nyonya.”


 


Kirana tertawa pelan dan mengangguk. Ia mengikuti langkah Bik Sum menuju kamar tamu yang pernah dipakainya saat pertama kali datang kemari waktu ulangtahun mommy Amelia. Kirana tersenyum sendiri, ia tidak pernah kepikiran kalau sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga ini.


 


“Silakan Nona,” Bik Sum membukakan pintu kamar dan mempersilakan Kirana masuk duluan.


 


“Saya bisa sendiri, Bik. Kalau ada apa-apa saya pasti akan cari Bik Sum,” Kirana tersenyum sambil merangkul bahu wanita baya itu.

__ADS_1


 


Bik Sum tersenyum dan mengangguk. Ia merasa bahagia kalau tuan muda yang diasuhnya sejak kecil ini akhirnya akan menikah kembali. Selain itu wanita yang dipilih menjadi calon istrinya meskipun masih muda dari segi usia, namun lebih dewasa dan perempuan ramah yang sederhana. Berbeda dengan Shera yang sering menganggap dirinya tinggi.


 


Kirana hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk bersiap. Selain karena Kirana  tidak berdandan yang aneh-aneh, ia tidak ingin mommy Amelia yang menunggunya. Kali ini Kirana menunggu di ruang keluarga, bukan ruang tamu seperti sebelumnya. Ia memeriksa handphonenya, tidak ada satu pesan pun yang dikirimkan oleh Sebastian, bahkan pesan yang dikirimnya juga tidak terbaca apalagi dibalas.


 


Kirana menghela nafas panjang. Meskipun tahu kalau Sebastian di dalam pengawasan daddy Richard dan Dion, ada kesedihan di hatinya karena merasa Sebastian terlalu memprioritaskan pekerjaannya, sampai sekedar menyapanya 5 menit saja begitu sulit.


 


Mommy Amelia menepuk pelan bahu Kirana yang masih melamun sambil memandangi handphonenya.


 


“Sudah siap ?” Kirana menoleh lalu bangun dari duduknya sambil tersenyum.


 


“Mommy cantik banget. Keren.” Kirana mengacungkan jempolnya sambil tertawa pelan.


 


“Sama, menantu mommy juga sudah cantik,” mommy Amelia mengusap pipi Kirana yang tersipu malu.


 


Keduanya pun berangkat diantar ke Pak Tomo ke salah satu club house di selatan Jakarta. Kirana sempat canggung berjalan di sebelah mommy Amelia. Rasa percaya dirinya belum cukup tinggi untuk membuat dirinya merasa pantas berada di sisi mommy Amelia.


 


Ternyata pertemuan ini semacam arisan para sosialita paruh baya. Lebih dari sepuluh orang teman-teman mommy Amelia sudah duduk dan bercengkrama di sana.


Tanpa ragu, mommy Amelia menggandeng tangan Kirana dan membawanya mendekati teman-teman arisannya.


 


 


Mommy Kirana memberi isyarat supaya Kirana menyapa dan memperkenalkan diri pada ibu-ibu yang ada di situ.


 


“Selamat siang Tante semua, senang bertemu di sini. Salam kenal, saya dengan Kirana Gunawan,” Kirana membungkukan sedikit badannya dan menyalami satu persatu teman-teman mommy Amelia yang ternyata berjumlah 17  orang.


 


“Ayu ne Jeng Amel. Sepertinya masih muda,” komentar salah satu ibu.


 


“iya baru 21 tahun,” jawab mommy Amelia dengan bangga.


 


Perkenalan masih berlanjut sambil menikmati makan siang yang sudah disiapkan. Ternyata acara makan siang hari ini dibiayai oleh mommy Amelia yang mendapat arisan bulan lalu. Tidak semua yang hadir menerima Kirana dengan baik. Sempat terdengar juga bisik-bisik tentang dirinya yang mau menerima Sebastian karena masalah harta.


 


Bahkan ada yang berkomentar tidak langsung kalau selera Sebastian menurun, apalagi setelah tahu kalau pendidikan dan pekerjaan Kirana hanya sebagai sekretaris. Hal-hal semacam ini yang sering membuat Kirana kehilangan rasa percaya dirinya. Tapi mommy Amelia yang mendengar semuanya tidak menanggapi dengan emosi. Ia memberikan contoh bagaimana seorang istr pengusahai seperti daddy Richard dan Sebastian harus bersikap menghadapi komentar-komentar miring.


 


Kirana baru saja keluar dari toilet menuju wastafel untuk cuci tangan saat bertemu dengan salah satu ibu yang sejak tadi memang bersikap sinis padanya.


 


“Jadi benar perkataan orang kalau seorang sekretaris muda memang diajar untuk menggoda bos-bos mereka terutama yang kesepian,” sindirnya dengan nada sombong.


 


Kirana yang tahu kalau kalimat itu ditujukan kepadanya, pura-pura tidak mendengar. Kirana menganggap kalau ibu itu tidak berbicara kepadanya karena tidak menyebutkan namanya atau memanggilnya secara personal.

__ADS_1


 


“Jadi kamu benar menggoda Sebastian dengan…” dia melirik dengan tatapan merendahkan tubuh Kirana dari ujung kepala sampai ujung kaki.


 


Kirana masih berusaha meredam emosinya dan berpikir jawaban apa yang akan diberikannya supaya mengena tapi tidak memalukan mommy Amelia.


 


“Tante berbicara dengan saya ?”


 


Wanita itu berdecih dan tersenyum sinis. “Memangnya ada orang lain di sini yang pekerjaannya sekretaris dan sekarang sudah dalam posisi berhasil menggoda bossnya ?”


 


“Maaf saya tidak merasa begitu,” Kirana tertawa pelan. “ Makanya saya tidak yakin kalau Tante sedang berbicara dengan saya.”


 


“Kamu pikir dirimu cukup hebat sampai bisa diperkenalkan Amelia pada kami sebagai calon istri kedua Sebastian ? Bahkan dibandingkan dengan istri pertamanya, kamu sama sekali tidak ada apa-apanya. Saya yakin kalau kamu menggunakan cara-cara yang tidak benar.”


 


“Apakah Tante punya bukti kalau saya melakukan cara kasar untuk mendapatkan Mas Bastian ? Dukun maksud Tante ?” Kirana kembali tertawa pelan.


 


“Apakah Tante sudah pengalaman menggunakan magic atau ilmu hitam, makanya bisa membedakan mana yang pakai dan tidak ?”


 


“Kamu !” Ibu tadi mendelik dengan tatapan penuh kemarahan. “Kita lihat saja sampai berapa lama kamu bisa bertahan hidup dalam kebohongan di balik topengmu. Saya tidak yakin kalau kamu benar-benar mencintai Sebastian kalau bukan karena hartanya,” senyum sinis dan tatapannya terlihat merendahkan Kirana


 


“Dengan senang hati saya akan menunggu pembuktian ucapan Tante barusan. Masalah cinta saya dengan Mas Bastian adalah privasi kami berdua, bukan untuk dikonsumsi umum. Tapi saya sangat berterima kasih karena Tante begitu perhatian terhadap kehidupan saya dan Mas Bastian. Maaf kalau karena kehadiran saya membuat anak Tante tidak bisa punya kesempatan mendapatkan Mas Bastian lagi.”


 


“Darimana kamu tahu soal Reina ?” Tanyanya dengan mata mendelik.


 


“Kemarahan Tante yang merasa saya tidak pantas untuk menjadi menantu mommy Amelia bukan karena kepedulian Tante terhadap Mas Bastian, tapi karena merasa kalau anak Tante yang lebih baik dari Shera akhirnya justru terkalahkan oleh saya, perempuan biasa yang hanya sekolah dan bekerja sebagai sekretairis.”


 


“Dasar wanita licik dan sombong !” makinya kembali.


 


Kirana hanya tersenyum tanpa menunjukkan emosinya.


 


“Maaf saya harus kembali sekarang. Mommy Amelia pasti mulai khawatir karena saya terlalu lama pamit ke kamar kecil. Jangan sampai mertua saya tahu kalau Tante yang menahan saya terlalu lama di sini. Saya permisi.”


 


Ibu tadi mengepalkan kedua tangannya sambil menatap kepergian Kirana. Apa yang Kirana ucapkan betul. Beberapa kali Ibu Miranda, nama teman arisan mommy Amelia itu, berusaha menjodohkan anaknya dengan Sebastian. Reina, nama anak Tante Miranda, memang menaruh hati juga pada Sebastian, namun sayangnya mommy Amelia tidak mendukung dan Sebastian sendiri tidak terlalu tertarik.


 


Mommy Amelia mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat Tante Miranda berajalan dari arah kamar kecil dengan wajah kesal, dan sebelum temannya itu terlihat, mommy Amelia sudah melihat kalau Kirana keluar lebih dulu dengan wajah penuh kemenangan.


 


Mommy Amelia sengaja mengajak Kirana ke acara semacam ini untuk mengajarkan bagaimana sikap seorang wanita Pratama menghadapi orang-orang semacam Tante Miranda. Dan dari wajah kesal Tante Miranda, mommy Amelia yakin kalau ia tidak perlu bekerja keras untuk menguatkan mental Kirana dalam menghadapi para wanita sombong yang mencoba merendahkan harga diri Kirana.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2