
Sebastian menggeliat di sofa dengan badan yang terasa pegal. Matanya mengerjap dan tangannya meraih handphone di atas meja dekat sofa. Ia kangsung membelalak saat melihat waktu menunjukan pukul tujuh.
Perlahan Sebastian bangun dan merenggangkantubuhnya. Dahinya berkerut saat melihat suasana di sekelilingnya nampak sepi dan tidak ada tanda-tanda Kirana sudah bangun.
Sebastian bangun hendak bersiap mandi dan berangkat ke kantor. Semalam ia baru membaca pesan dari Bara yang meminta waktunya untuk bertemu hari ini.
Mata Sebastian menyipit saat tidak melihat Kirana di atas tempat tidur. Ia berpikir kalau istrinya masih terlelap makanya suasana rumah masih seperti semalam.
Jantungnya berdebar saat melihat sekeliling kamar yang juga belum berubah. Selimut yang dipakai Kirana masih terbentang di atas ranjang, belum dilipat. Selama menikah, bukan kebiasaan Kirana meninggalkan ranjang dalam keadaan berantakan seperti ini.
Sebastian menajamkan pendengarannya dan perlahan melangkah masuk ke dalam kamar menuju ke kamar mandi. Ia menempelkan telinganya, tidak terdengar suara apapun dari dalam.
Perlahan Sebastian mendorong pintu kamar mandi dan matanya langsung membelalak mendapatu istrinya sedang duduk lemas di samping kloset. Kirana masih dalam keadaan sadar, hanya badannya kehilangan tenaga, rupanya ia mulai muntah-muntah di pagi hari layaknya wanita hamil.
“Honey !” Pekik Sebastian sambil bergegas mendekati istrinya dan mengangkat tubuh Kirana yang sudah lemas.
“Bee,” panggil Kirana dengan suara lemah. Bahkan tangannya tidak sanggup merangkul leher Sebastian.
Sebastian membawa Kirana ke atas tempat tidur dan kembali menyelimutinya. Ia keluar kamar untuk membuat susu hamil sekalian mengambil baskom untuk membasuh wajah Kirana yang berantakan karena sembab habis menangis semalam dan muntah-muntah di kamar mandi.
“Honey,” Sebastian memanggil Kirana dengan lembut dan menunggu istrinya membuka mata.
Kirana mengerjap dan menoleh ke arah suaminya dengan mata yang baru setengah terbuka.
“Aku basuh wajah kamu dulu, ya. Habis itu minum susu biar perutmu tidak terlalu kosong.”
Kirana hanya mengerjap dan membiarkan Sebastian membantunya bangun lalu duduk di atas ranjang bersandarkan bantal.
Dengan penuh kasih sayang, Sebastian mengusap wajah Kirana dengan handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat.
“Bee, maaf,” lirih Kirana saat Sebastian sudah selesai membersihkan wajah dan merapikan rambut Kirana.
Sebastian hanya tersenyum dan beranjak bangun untuk membawa baskom dan handuk kecil ke kamar mandi.
“Honey,” Sebastian menghela nafas saat keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya kembali menangis.
“Maaf aku sudah egois, Bee,” lirih Kirana di sela isak tangisnya. Sebastian langsung membawa Kirana ke dalam pelukannya.
“‘Maaf juga karena semalam aku sudah membentakmu,” ujar Sebastian sambil mengusap punggung istrinya. “Jangan menangis terus, kasihan babies di dalam pasti ikut merasa sedih kalau maminya menangis.”
Sebastian mengambil tisu dan menghapus air mata yang membasahi wajah Kirana.
“Mau aku mandiin pagi ini ?” goda Sebastian sambil mengerling. Ia tidak ingin membuat Kirana merasa tertekan lagi.
“Kamu dulu aja, Bee, sudah siang,” ujar Kirana sambil melirik ke arah jam dinding. “Maaf aku tidak bisa menyiapkan sarapan pagi ini dan bangun kesiangan.”
“Aku tidak akan ke kantor hari ini,” ujar Sebastian yang malah memilih naik ke atas tempat tidur dan ikut duduk di samping Kirana.
“Bukannya ada hal penting yang ingin Pak Bara bicarakan denganmu ?”
Dahi Sebastian berkerut seolah bertanya darimana Kirana tahu soal pesan yang dikirim Bara.
__ADS_1
“Maaf aku tidak sengaja membaca notifikasi pesan yang masuk. Semalam handphonemu ketinggalan, aku memegangnya berharap kamu kembali ke apartemen dan mengambilnya sebelum pergi.”
Sebastian tertawa pelan, ia baru teringat kalau semalam Kirana menggenggam handphone miliknya saat Sebastian menggendongnya ke kamar.
“Biar nanti ketemu di resto atau cafe yang ada di mal. Hari ini tugasku menemani istri berbelanja. Jadi mau belanja atau bobo-bobo di rumah aja ?” Sebastian mengedipkan sebelah matanya.
Ada rasa penyesalan karena bersikap keras pada Kirana semalam. Ia sempat membaca beberapa artikel di internet seputar kehamilan pertama pada beberapa wanita. Perubahan bentuk tubuh yang semakin membesar membuat beberapa wanita hamil sering kehilangan rasa percaya dirinya.
Apalagi Kirana yang sejak awal sering merasa kurang percaya diri dengan keadaan fisiknya akan mudah goyah saat bersinggungan dengan wanita-wanita yang terlihat lebih dari dirinya sendiri. Padahal Sebastian sudah yakin memilih Kirana bukan karena fisik atau latar belakang ekonomi dan pendidikan wanita itu, melainkan rasa nyaman dan hidup yang terasa lebih berwarna saat bersama Kirana.
“Maafkan aku, Bee. Aku janji nggak akan dekat-dekat dengan Steven lagi kalau tidak sedang bersamamu.”
Kirana menyusupkan kepalanya pada dada bidang Sebastian yang memberikan tangannya menjadi bantalan Kirana.
“Aku benar-benar khawatir masalah Steven, Honey. Sebagai sesama pria, aku bisa menangkap gelagatnya yang masih menaruh hati padamu. Bukan tidak mungkin perasaan yang begitu kuat padamu bisa mendorong Steven untuk merebutmu dariku.”
“Aku hanya mencintaimu Sebastian Pratama,” ujar Kirana sambil memeluk tubuh Sebastian dan menghirup wangi tubuh suaminya.
Sebastian tertawa pelan sambil membalas pelukan Kirana. Diusapnya kembali punggung istrinya dengan lembut dan penuh cinta.
“Jangan lepaskan aku sekalipun Steven memaksa merebut aku darimu, Bee,” lirih Kirana dengan tetesan air mata yang kembali keluar.
Sebastian merenggangkan pelukannya dan membelai wajah istrinya. Wajahnya semakin mendekat untuk mencium Kirana, tapi Kirana malah makin menjauh dan menutup mulutnya.
“Aku habis muntah, Bee dan belum sempat sikat gigi, nggak pede,” tolak Kirana.
Sebastian tertawa dan beranjak bangun dari tempat tidur lalu langsung menggendong istrinya.
“Sudah lebih enak habis minum susu.”
Sebastian mengangguk dan membawa Kirana masuk kamar mandi lalu didudukan istrinya seperti biasa di atas meja dekat wastafel.
Ia menyiapkan sikat gigi untuk Kirana dan dirinya sendiri lalu keduanya mulai mengawali kegiatan pagi mereka bersama-sama.
Selesai meletakan kembali kedua sikat gigi di tempatnya, Sebastian langsung mengukung Kirana yang masih duduk di atas meja.
“Aku mungkin suami yang posesif dan pencemburu, tapi khusus untuk masalah Steven tolong menurut padaku dan percayalah dengan apa yang aku lihat.”
Kirana mengangguk dan mengalungkan tangannya di leher Sebastian.
“Satu lagi !” pintanya dengan wajah tegas. “Jangan biarkan Raven memanggilmu mama, apalagi kamu juga menyebut dirimu mama saat bicara dengan bocah itu. Kamu adalah istriku dan ibu dari calon anak-anakku. Tidak ada anak lain yang boleh memanggilmu mama apalagi itu menyangkut soal Steven. Aku benar-benar cemburu,” tegas Sebastian dengan wajah serius.
Kirana mengangguk sambil senyum-senyum dan matanya mengerjap seperti anak kecil yang menurut saat dinasehati orangtuanya.
“Jadi mandiin ?” tanya Kirana sambil tersenyum.
“Yakin sudah nggak lemas lagi ?” ledek Sebastian.
“Bukannya karena badanku lemas makanya kamu mau membantuku mandi ?” alis Kirana menaut dan sengaja pura-pura tidak tahu maksud omongan suaminya.
“Biaya memandikan ibu hamil ini sedikit mahal ongkosnya,” Sebastian tertawa sambil menoel hidung Kirana.
__ADS_1
“Tapi nggak boleh mandiin ibu hamil lainnya,” ujar Kirana dengan bibir mengerucut.
“Nggak ada niat dan nggak mau,” sahut Sebastian sambil tertawa.
Sebastian juga tertawa dalam hatinya. Ternyata biarpun lemas habis muntah-muntah pagi, Kirana masih semangat untuk memberikan kesempatan Sebastian menjenguk buah hati mereka.
Entah karena usia Kirana yang terbilang masih muda atau pengaruh hormon yang membuat hasrat Kirana makin meningkat, Sebastian tidak peduli.
Sebagai suami yang menyayangi istrinya, Sebastian dengan senang hati menuruti permintaan istrinya untuk masalah yang satu ini. Bagaimana mungkin menolak permintaan istri yang membuatnya malah keenakan ?
“Harus bayar sekarang ?” Kirana kembali mengerjap dan Sebastian mengangguk.
“Berarti sudah beneran nggak marah lagi ?”
“Kebanyakan tanyanya,” Sebastian langsung mencium bibir Kirana dan merengkuh tubuh istrinya supaya makin mendekat.
“Bee,” Kirana melepaskan ciumannya. “Aku belum mendengar jawaban dari mulutmu,” rengek Kirana.
“Apa kamu tidak dengar jawabannya dalam ciumanku barusan ?” Sebastian mengusap pipi Kirana.
“Jangan lepaskan aku, Bee,” Kirana pun balas membelai lembut pipi Sebastian yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Tidak akan pernah !” Sebastian pun kembali mencium bibir Kirana yang disambut penuh kerinduan oleh wanita itu
Hati Kirana kembali menghangat dan rasa mualnya hilang sejak dipeluk Sebastian. Rupanya calon anak-anak mereka memang tidak bisa jauh-jauh dari papinya dan ingin sering-sering dimanja.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Sebastian dan Kirana memulai aktivitas pagi mereka dengan ungkapan cinta yang membuat Sebastian kembali mengabaikan panggilan Dion yang sejak tadi menghubunginya.
”Kayaknya boss lagi main sengat-sengatan sama lebah betina seperti biasa,” ujar Dion di depan Bara, Samuel dan Evan yang menanti kabar dari Sebastian.
“Enaknya punya istri masih muda,” ujar Samuel. “Mau sehari dua tiga kali tidak masalah, beda tenaga beda semangatnya juga.”
“Ya udah, elo tinggal cari tuh anak baru lulus SMA,” ledek Evan sambil tertawa.
“Masalahnya apa ada anak SMA yang mau sama gue tapi nggak matere,” keluh Samuel memasang wajah sedih. “Nggak inget sama Haris yang sempat frustasi sambil nangis guling-guling gara-gara diporotin habis sama pacarnya yang baru kuliah ?”
“Itu sih nasib dia aja yang jelek dan ogeb juga !” cebik Bara. “Mau-mau aja diminta kartu kreditnya, belum lagi sok sok an mau sokong tuh anak dengan uang jajan yang bikin gelap mata.”
“Iya juga sih,” sahut Samuel sambil mengangguk.
“Kembali ke topik. Gimana Yon, udah berhasil menghubungi Bastian atau pesan elo udah dibalas ?” tanya Bara menatap ke arah Dion.
“Kayaknya beneran lagi saling menyengat, soalnya pesan aja belum dibaca, telepon sampai 10 missed call nggak dijawab-jawab,” keluh Dion dengan wajah kesal.
“Mari kita buktikan dengan berapa banyak sengatan di leher Bastian hari ini,” seloroh Evan sambil terkekeh.
“Eh bener juga Bro, mau taruhan berapa sengatan Kirana hari ini ?” tantang Samuel sambil menatap tiga pria di depannya.
“Boleh juga !” ketiganya menjawab dengan kompak sampai akhirnya tertawa bersama.
Kalau saja Sebastian yang saat ini sedang menikmati quality time-nya dengan Kirana tahu aksi asisten dan ketiga sahabatnya, bukan tidak mungkin wajahnya langsung berubah kejam dan matanya menatap tajam keempat pria yang menjadikan dirinya dan Kirana bahan taruhan. Bahkan mungkin keempatnya langsung ditugaskan kembali ke Kalimantan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
__ADS_1