
Kirana tersenyum dengan sikap biasa saja pada Shera dan Steven yang mendekati mereka.
Raut tidak suka terpancar di wajah Shera, dan tanpa basa basi, ia langsung menarik tubuh mungil Raven dari gendongan Kirana.
Sontak bocah itu langsung kaget dan menangis. Tangannya menggapai-gapai ingin kembali ke dalam gendongan Kirana.
Echi yang melihat wajah bingung Kirana, menarik lengan gadis itu untuk menjauh. Marsha yang melihat, ikut perlahan menjauh dari Shera, Steven dan Tante Mira yang masih berusaha membujuk Raven.
“Nana !” panggilan Steven membuat Kirana berhenti dsn menoleh ke tangannya yang ditahan oleh Steven.
“Jangan pergi dulu, kasihan kalau Raven tidak mau berhenti menangis,” pinta Steven dengan wajah memelas.
“Kan sudah ada mama kandungnya, Pak Steven.” Bukan Kirana yang menjawab melainkan Marsha.
Marsha berusaha menarik lengan Kirana dan memberi isyarat supaya Steven melepaskan cengkramannya. Wajah Kirana makin terlihat tidak tega menatap Raven yang masih menangis dan memandang ke arahnya sambil mengulurkan kedua tangan mungilnya.
“Bapak kan dokter anak, pasti lebih pintar membujuk anak-anak,” tutur Marsha kembali.
“Steve,” panggil Kirana dan melirik ke tangan pria itu yang masih menahan lengannya. “Tolong kamu saja yang menenangkan.”
Steven menarik nafas panjang dan akhirnya melepaskan pegangannya. Marsha buru-buru menarik lengan Kirana untuk semakin menjauh, Echi yang mendukung mengikuti langkah keduanya.
“Jangan menoleh, Ki,” tegur Echi saat membaca pergeakan kepala Kirana yang hendak menoleh saat posisi mereka sudah lumayan jauh tapi masih bisa terlihat.
“Anak kecil lebih tahu gimana hatimu,” lanjut Echi.
Kirana pun menurut dan mengikuti kedua seniornya yang mengajak turun ke lantai 2.
“Pantas saja anaknya ngakuin Kirana jadi mamanya, lah Shera sebagai mama kandungnya begitu kasar memperlakukan anaknya,” Marsha mengomel saat mereka berjalan beriringan di lantai 2.
“Iya Mbak Sha, aku juga kaget banget pas Shera mengambil paksa Raven dengan kasar,” sahut Kirana.
“Ooo jadi nama anaknya Shera itu Raven, Ki ?” Gantian Echi yang bertanya.
“Iya Mbak, aku pertama kali bertemu di rumah sakit, nggak sengaja juga seperti sekarang. Waktu pas aku ijin pulang karena mamaku jatuh, Mbak.”
“Ki,” Marsha ganti memanggilnya. Namun ada keraguan di wajahnya saat ingin melanjutkan kalimat.
“Ki, sorry kalau aku salah omong. Tapi kok melihat wajah anaknya Shera, sekilas ada mirip-miripnya…”
“Sama Pak Bas ?” Sambung Kirana cepat.
Echi dan Marsha menoleh menatap Kirana bersamaan. Kirana malah terkekeh melihat reaksi keduanya.
“Aku juga sempat melihat begitu, Mbak. Mirip apanya aku juga nggak bisa bilang.”
“Tapi nggak mungkin kan kalau Pak Bas menanam sedikit saham sama Raven,” ujar Marsha terdengar asal.
Echi langsung memukul bahunya. “Sembarangan banget kamu ngomong, Sha.”
__ADS_1
“Nah soal itu aku sempat kepikiran, Mbak,” Kirana malah menimpali dengan nada santai. “Tapi Pak Bas meyakinkan kalau tidak ada titipan saham Pak Bas.”
Marsha dan Kirana tertawa bersama sementara Echi hanya geleng-geleng kepala.
“Kan sudah terbukti kalau memang tidak ada saham Pak Bas di kandungannya Shera. Sudah ada tes DNA-nya juga,” ujar Echi.
“Ki,” Marsha menyenggol bahu Kirana. “Gimana kalau sekarang Shera melakukan tes DNA lagi dan ternyata ada saham Pak Bas di sana ?”
Kirana agak kaget dengan pertanyaan Marsha. Sebetulnya keraguan di hatinya memang memgarah ke sana.
“Aku tadi sempat lihat tatapan Shera sama kamu. Kayaknya ada hawa-hawa kebencian di sana.”
Echi kembali mengulurkan tangan dan memukul bahu asistennya.
“Jangan meracuni pikiran Kirana !” Matanya ikut melotot sambil mengomel. “Mau ada atau tidak saham Pak Bas, status mereka kan sudah bukan suami istri lagi, sudah bercerai.”
Marsha meringis dan mengusap bahunya yang dipukul Echi.
“Lebay ! Pukulan aku aja nggak kuat, pakai acara meringis kesakitan,” Echi mencibir pada Marsha.
Ketiganya masuk ke toko sepatu. Kirana memang berniat membeli sepatu yang lebih nyaman meskipun harganya lebih mahal dari merk yang biasa Kirana beli.
Bukan karena sekarang sering naik turun mobil dan jalan dengan Sebastian, hingga menjadi kewajiban membeli sepatu bermerk di mal. Tapj yang dicari Kirana adalah kenyamanan, karena seringkali tugasnya sebagai sekretaris menuntut Kirana harus bolak balik dan naik turun ke beberapa divisi di kantor.
“Kamu sih, Sha. Kirana pasti jadi kepikiran,” Echi berbisik sambil menyenggol bahu Marsha dan memberi isyarat untuk melihat Kirana yang mendadak lebih banyak diam.
“Iihh Mbak, aku kan orang yang kalau ngomong itu apa adanya. Apalagi tadi melihat tatapan Shera kayak aktor pembunuh berdarah dingin di film hollywoos. Lagipula biar Kirana siap-siap juga, namanya mau menikah sama mantan duda, berarti kan ada mantan istri.”
“Istri kurang dari 24 jam,” Echi terkekeh.
Mendengar alasan Marsha, pikiran Echi jadi terbuka dan setuju dengan pandangan Marsha. Ia sendiri melihat bagaimana Shera menatap Kirana dengan raut tidak suka. Mungkin karena rasa kesalnya itu juga, anaknya diambil paksa dengan cara yang kasar dari Kirana.
“Ki, sudah ketemu ?” Echi menghampiri Kirana.
“Ada yang aku suka, Mbak, tapi mau lihat-lihat yang lain dulu. Mbak Echi buru-buru nggak ?”
“Kita baru 30 menit, Ki,” Echi tertawa pelan. “Anak-anakku juga bisa ngamuk kalau diajak pulang sekarang. Tenang aja,” Echi menepuk bahu Kirana.
Kirana pun mengangguk dan tersenyum. Ketiganya kembali berkeliling mal sambil mengobrol.
“Semoga kita nggak ketemu sama Marsha lagi, ya,” ujar Marsha saat mereka sudah ada di lantai 1.
“Iya jangan sampai anaknya nggak mau lepas lagi dari kamu, Ki,” timpal Echi.
Ketiganya kembali memasuki toko sepatu ternama dengan budget yang sesuai dengan Kirana. Dan setelah mempertimbangkan model, harga dan kenyamanan, Kirana memutuskan untuk membeli sepatu di toko yang pertama kali mereka datangi.
Echi dan Marsha sendiri sudah membawa kantong belanjaan berupa pakaian dan tas. Kirana tidak berminat membeli pakaian karena merasa masih cukup, apalagi Tante Amelia membelikannya cukup banyak waktu itu.
Baru saja ketiganya keluar dari toko sepatu, selesai menemani Kirana berbelanja, suara panggilan masuk berbunyi di handphone Kirana.
__ADS_1
Matanya terbelalak saat melihat nama Sebastian di sana. Antara cemas karena belum pamit dan senang karena akhirnya Sebastian menghubunginya.
Echi dan Marsha memberi kode supaya Kirana mengangkat telepon boss sekaligus kekasihnya itu. Mereka yakin kalau Sebastian tidak akan marah karena Kirana pergi ke mal dengan Echi dan Marsha.
“Halo, Bee,” sapa Kirana setelah menekan tombol hijau di handphonenya.
“Kamu lagi dimana ?” Sebastian langsung bertanya seolah-olah tahu kalau Kirana tidak di rumah.
“Lagi di mal, Bee. Pergi sama Mbak Echi dan Mbak Marsha,” sahut Kirana dengan nada sedikit ragu.
“Yakin dengan Echi dan Marsha ?”
Kirana menarik nafas, namun ia tersenyum juga.
“Iya bener, kamu sendiri lagi dimana ?”
“Kalimantan.”
Kirana langsung memberenggut mendengar jawaban Sebastian.
“Iya aku tahu kamu kan memang pergi ke sana, tapi kan Kalimantan itu luas, banyak kota-kotanya,” gerutu Kirana dengan nada yang terdengar kesal, Sebastian malah tertawa mendengarnya.
“Jangan ngambek, memang nggak kangen ?”
“Nggak !” Jawab Kirana dengan ketus. “Jempol sampai tebal nulis pesan sama kamu, selalu dijawabnya cuma dengan satu kalimat.”
“Kan kalimat itu menggambarkan semua yang ada di hatiku, Honey,” gombal Sebastian sambil tergelak.
“Haiiss gombal banget, sih !”
Seperti biasa, tanpa bilang apa-apa, Sebastian merubah panggilan teleponnya menjadi vc. Kirana pun memencet tombol accept.
“Aku kangen loh, Kiran.”
“Nana !”
Baru saja wajah Sebastian bertatapan dengan Kirana di layar handphone saat panggilan itu terdengar dan sosok yang memanggilnya berdiri di belakang Kirana, masuk ke dalam satu frame di handphone.
Tubuh Kirana langsung menegang, apalagi dilihatnya raut wajah Sebastian langsung berubah. Wajah pria itu langsung berkerut dengan kedua alis menaut.
“Kamu bilang perginya dengan Echi dan Marsha ?” Terdengar nada marah dan tidak percaya dalam ucapan Sebastian.
“Iya aku memang pergi dengan Mbak Echi dan Mbak Marsha, Bee.”
Kirana dengan panik mengedarkan pandangan mencari keberadaan Echi dan Marsha. Keduanya memang sengaja membiarkan Kirana sendiri supaya lebih leluasa bicara dengan Sebastian.
“Halo sepupu !” Steven malah semakin dekat berdiri di belakang Kirana sambil tersenyum manis.
Tubuh Kirana menegang kembali, apalagi melihat raut wajah Sebastian semakin tidak bersahabat dan pandangannya tidak menemukan Echi ataupun Marsha .
__ADS_1