Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Berita Bahagia


__ADS_3

Dengan wajah sumringah, Kirana mengikuti langkah Sebastian yang menggandengnya memasuki gedung MegaCyber.


Setelah beberapa bulan meninggalkan tempat pertamanya bertemu dengan Sebastian, Kirana merasa bahagia boleh menginjakkan kakinya kembali di tempat penuh kenangan ini.


“Bee, apa tidak ada lowongan untukku di sini ?”tanya Kirana sambil bergelayut manja pada suaminya.


“Ada,” sahut Sebastian sambil tersenyum smirk. Keduanya sudah berada dalam lift khusus menuju lantai 15.


“Menemani pemilik MegaCyber agar selalu semangat bekerja,” lanjut Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Itu bukan pekerjaan namanya, tapi kewajiban istri menyenangkan suami,” sahut Kirana dengan bibir mengerucut.


Sebastian tertawa dan mencubit pipi Kirana dengan gemas. Tidak lama keduanya sampai di lantai 15.


“Bee, kamu kenapa ?” Kirana terlihat panik saat melihat Sebastian mendadak bersender di tembok sambil memegang pelipisnya.


“Kepalaku pusing, Kiran,” terlihat wajah Sebastian mulai pucat dan matanya memejam sambil memegang kepalanya.


“Dion !” pekik Kirana memanggil asisten Sebastian itu.


Bukan hanya Dion yang muncul dari ruangan tapi juga Widya ikut keluar mendengar teriakan Kirana. Mansyur sendiri sedang keluar membelikan makan siang.


“Pak Bas kenapa, Ki ?” tanya Widya saat mereka sudah berdiri dekat Kirana dan Sebastian.


Dion sudah mengalungkan satu tangan Sebastian di pundaknya dan membantu pria itu melangkah menuju ruangannya.


“Aku juga nggak tahu, Mbak. Tadi kondisinya baik-baik saja saat di rumah bahkan saat naik kemari. Keluar dari lift mendadak Mas Bas mengeluh pusing.”


Wajah Kirana terlihat panik, ia bantu memapah Sebastian di sisi yang lain.


Sampai di ruangan, Sebastian langsung direbahkan di sofa. Dion mengambil handphonenya dan menghubungi dokter keluarga Pratama.


Tidak lama Widya kembali masuk ke dalam ruangan Sebastian sambil membawakan secangkir teh manis hangat.


“Apa Pak Bas sudah makan, Ki ?” tanya Widya sambil meletakan gelas di atas meja sofa.


“Sudah Mbak, tadi sekitar jam 10 kami makan di rumah,” sahut Kirana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Widya melirik jam tangannya, baru jam 11.45. Tidak mungkin Sebastian pusing karena perut kosong kalau mereka baru saja makan sekitar jam 10.


Tidak lama Widya keluar ruangan untuk memberikan privasi pada Sebastian dan Kirana.


Kirana sendiri langsung pindah duduk di sofa yang sama dengan Sebastian dan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk suaminya.


Kirana mengelus penuh cinta rambut Sebastian, sementara suaminya masih memejamkan mata dengan dahi berkerut.


Sekitar limabelas menit kemudian, seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan ditemani oleh Dion.


Dokter Dharma langsung memeriksa Sebastian dan terlihat mengernyitkan alisnya.


“Apa mungkin Pak Sebastian dibawa ke rumah sakit ? Saya perlu memastikan sesuatu,” ujar dokter Dharma sambil menatap Dion dan Kirana bergantian.


Kirana semakin bertambah cemas mendengar penuturan dokter Dharma. Ia pun langsung mengangguk dan Dion segera keluar memanggil OB, Aldo dan Milan untuk membantu membawa Sebastian ke mobil.


“Bee, kita ke rumah sakit ya,” Kirana yang sudah tidak dapat menahan tangisnya mengusap wajah Sebastian yang masih terpejam.


Perlahan Sebastian membuka matanya dan tampak terkejut saat melihat sudah ada 4 pria berdiri di dekatnya.


“Kalian mau ngapain ?” Sebastian perlahan bangun dan duduk di bersandar di sofa.


“Kami mau membantu Pak Bas ke mobil,” sahut Dion dengan wajah khawatir.


Selama bekerja sebagai asisten Sebastian, belum pernah Dion melihat boss nya ini dalam keadaan hampir pingsan karena sakit.


“Saya masih bisa jalan sendiri,” omel Sebastian.


Sebastian memberi isyarat pada Kirana untuk bangun dari sofa dan membantunya turun kembali ke lobby.


“Bee, mereka tidak perlu memapahmu, tapi biarkan Dion, Aldo dan Milan menemani kita sampai ke bawah,” pinta Kirana.


Mulanya Sebastian ingin menolak, tapi saat melihat tatapan Kirana yang terlihat begitu galak, akhirnya Sebastian mengangguk.


Dion, Aldo dan Milan yang mengikuti mereka terlihat saling melempar senyum. Ternyata sekarang Kirana bisa membuat bos galak seperti Sebastian menurut padanya.


Ternyata begitu berada dalam lift, kepala Sebastian kembali pusing dan perutnya terasa mual sampai akhirnya Kirana harus memeluknya dan mengusap punggung suaminya di depan tiga karyawan dan dokter Dharma.

__ADS_1


Wajah Kirana mulai memerah saat dilihatnya Dion sedang meledeknya sementara Sebastian memejamkan matanya.


Akhirnya Sebastian berhasil mencapai mobil yang sudah siap di lobby tanpa harus dipapah oleh tiga pria yang sudah mengantarnya. Berdua dengan Kirana dan diantar sopir, mereka beriringan dengan mobil rumah sakit yang membawa dokter Dharma.


Kirana menggenggam tangan Sebastian untuk menyalurkan rasa khawatirnya saat dokter Dharma membawa mereka ke ruangan VVIP di rumah sakit Pratama.


Pikiran buruk langsung memenuhi otaknya dan rasa khawatir terus menyeruak membuat tangan Kirana bertambah dingin.


“Bee, kenapa mereka harus membawa kita ke sini ? Bukankah cukup ke poli saja dan memeriksamu di sana ?”


“Honey, “Sebastian menepuk-nepuk tangan Kirana yang digenggamnya. “Apa kamu lupa kalau rumah sakit ini masih milik keluarga Pratama ? Tentu saja mereka akan memberikan pelayanan khusus untuk anggota keluarga Pratama.”


Kirana menelan salivanya saat lift berhenti di lantai 7. Terlihat beberapa perawat sudah bersiap menunggu mereka.


Kirana berdecak kagum saat memasuki kamar khusus untuk keluarga Pratama in. Ruangannya tertata tdak seperti kamar rumah sakit, melainkan suite room hotel bintang lima. Hanya ranjang pasien yang ada di tengah-tengah ruangan membuat siapapun akan ingat kalau mereka berada di ruang rawat inap dan bukan hotel.


Setelah menunggu sekitar limabelas menit, terlihat dokter Dharma masuk bersama seorang dokter wanita muda yang menurut Kirana umurnya tidak berbeda jauh dengan Sebastian dan Steven.


“Selamat siang Tuan Sebastian, perkenalkan ini…”


“Renata !” ujar Sebastian dengan wajah tercengang saat ia berbaik badan dan mendapati dokter wanita yang berdiri di sebelah dokter Dharma.


“Bas !” dokter wanita itu sama terkejutnya saat melihat Sebastian berdiri di depannya.


Keduanya sempat mematung dan saling menatap membuat Kirana menghela nafas dan memperhatikan dokter wanita yang terlihat cantik dengan tubuh yang sangat ideal.


“Tuan Sebastian,” panggil dokter Dharma hingga membuat Sebastian tersadar dari lamunannya.


Bibirnya langsung mengenbangkan senyum dan ia pun menoleh ke arah dokter Dharma.


“Bagaimana dokter ?” tanya Sebastian.


“Saya sudah meminta dokter Wanda datang ke rumah sakit. Dokter Wanda masih dalam perjalanan dan akan tiba sebentar lagi. Sambil menunggu, dokter Wanda sudah meminta dokter Renata untuk melakukan pemeriksaan awal pada istri anda.”


“Saya, dok ?” Kirana mengernyit sambil menunjuk pada dirinya sendiri. “Suami saya yang sakit, kenapa jadi saya yang diperiksa. ?”


“Akan lebih baik kalau anda segera naik ke atas tempat tidur dan kita akan pastikan kalau diagnosa saya betul adanya.”


Kirana masih dengan wajah bingung menatap Sebastian yang tersenyum dan mengangguk. Ada sedikit kesal dalam hati Kirana karena Sebastian tidak menuntunnya sampai ke tempat tidur, dan hanya senyum-senyum sendiri sambil sesekali melirik ke arah dokter wanita itu.


“Sepertinya dugaan dokter Dharma betul,” ujar dokter Renata sambil menoleh ke arah Sebastian, sementara tangannya masih menggerakkan transduser di atas perut Kirana.


“Istrimu sedang hamil, Bas,” lanjut dokter Renata sambil tersenyum.


Sebastian tampak terkejut mendengar ucapan Renata dan baru mendekati Kirana yang juga tidak percaya mendengar berita kalau saat ini dia sedang mengandung.


Sebastian langsung menggenggam lengan istrinya dengan wajah bahagia.


“Sepertinya kembar,” dokter Renata menunjuk tampilan gambar di monitor. “Ada dua kantong terlihat di sana, dan usia kandungannya kurang lebih 9 minggu.”


Tanpa malu-malu Sebastian langsung menciumi seluruh wajah Kirana dengan perasaan bahagia.


“Bee,” seru Kirana saat ia mulai kegelian karena Sebastian masih menciumi wajahnya.


Terlihat dokter Renata tersenyum tipis melihat kemesraan suami istri itu sementara dokter Dharma dan beberapa perawat tersenyum melihat kebahagiaan salah satu pewaris Pratama itu.


“Apa sudah bisa dilihat jenis kelaminnya ?” tanya Sebastian dengan wajah sumringah.


“Masih terlalu kecil, Bas. Tunggu beberapa minggu lagi,” sahut dokter Renata.


“Tuan Sebastian, dokter Renata,” tegur dokter Dharma.


“Eh iya..maaf. Maksud saya Tuan Sebastian,” ujar Renata sambil tersenyum malu-malu.


“Santai saja, Ren. Tidak masalah bagiku apapun panggilan darimu,” ujar Sebastian menghalau rasa sungkan yang terlihat di wajah dokter muda itu saat ditegur oleh dokter Dharma.


Kirana menghela nafas dan hatinya mulai terasa panas. Apalagi melihat Sebastian sangat peduli dan sejak tadi memperhatikan dokter Renata.


“Dokter Dharma,” panggil Kirana.


”Ya, nyonya,” dokter Dharma dengan sikap sopannya menatap Kirana sambil tersenyum.


“Lalu apa hubungannya dengan sakit kepala yang diderita suami saya ?”


“Kehamilan simpatik,” sahut dokter Renata cepat sebelum dokter Dharma membuka mulutnya. “Bastian mengalami kehamilan simpatik karena istrinya sedang mengandung. Jadi gejala seperti mual, pusing dan gangguan lain di semeter pertama kehamilan istrinya, justru dialami oleh Bastian.”

__ADS_1


“Apa namamu sudah berubah jadi dokter Dharma ?” tanya Kirana dengan wajah ketus.


“Eh iya… maaf Nona,” dokter Renata kembali merasa tidak enak karena ditegur oleh Kirana.


Dokter Dharma menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata dokter Renata memang lupa diri kalau ia sedang berhadapan dengan keluarga pemilik rumah sakit, bukan hanya Sebastian sebagai temannya.


“Honey, dokter Renata menerangkan sebagai dokter obgyn. Tentu saja sudah kewajibannya…”


“Apa ada pemeriksaan lainnya yang perlu saya jalani, dokter Dharma ?” Kirana memotong ucapan suaminya dan bergerak hingga posisinya sudah duduk di pinggir ranjang pasien.


“Sepertinya semua sudah cukup, Nyonya,”


“Panggil saya Kirana saja, dokter Dharma, dan jangan terlalu formal seperti itu. Bagaimana mungkin seorang dokter muda bisa memanggil suami saya hanya dengan namanya saja, sementara dokter yang lebih senior harus memanggil kami tuan dan nyonya,” ujar Kirana panjang lebar dengan nada ketus.


Dokter Dharma tersenyum dan mengangguk.


“Baiklah Nona Kirana,” sahut dokter Dharma dengan kalem. “Sepertinya pemeriksaan sudah selesai dan dokter Wanda akan menemui anda di sini secepatnya.”


Dokter Dharma pun memberi isyarat pada dokter Renata dan para perawat untuk ikut keluar bersamanya. Langkahnya terhenti di pintu saat Kirana memanggilnya.


“Dokter Dharma,” Kirana turun dari ranjang pasien dengan tergesa. Tangan Sebastian yang mencoba menahannya ditepisnya dengan sedikit kasar.


Kirana bergegas mendekati dokter Dharma yang sudah berdiri di depan pintu.


“Apa dokter Steven ada di rumah sakit saat ini ?” tanya Kirana.


“Honey !” tegur Sebastian dari pinggir ranjang. Pria itu berjalan mendekati istrinya.


“Sepertinya dokter Steven sedang praktek, Nyonya,” sahut salah seorang perawat.


“Kalau begitu saya ingin menemuinya sekarang,” ujar Kirana dengan senyuman bahagia.


“Tidak boleh !” cegah Sebastian.


“Kenapa ?” Kirana menoleh ke arah suaminya dengan wajah kesal.


Sebastian tidak menjawab dan memberi isyarat pada dokter Dharma dan timnya untuk meninggalkan ruangan.


Ia pun menarik Kirana yang ingin ikut keluar dan dipeluknya istri kesayangannya itu sampai dokter Dharma, dokter Renata dan semua perawat keluar.


Begitu mendengar pintu tertutup, Kirana mendorong Sebastian kuat-kuat sampai pelukannya terlepas.


“Honey !” Sebastian menautkan kedua alisnya menatap Kirana yang terlihat kesal.


“Jangan bilang kalau Shera adalah satu-satunya wanita yang pernah kamu pacari. Dari tatapan kalian saja aku tahu kalau dokter tadi adalah salah satu mantan pacarmu !” ujar Kirana dengan nada tinggi.


“Bukan begitu, Honey… Aku dan Renata hanya berteman…”


“Bohong !” teriak Kirana. Nafasnya mulai memburu menahan emosi.


“Honey, jaga emosinlmu, ingat sekarang sudah ada anak kita dalam kandunganmu.”


Kirana terdiam dan menatap Sebastian dengan wajah marah. Tidak lama ia pun berbalik ke arah pintu.


“Kirana, mau kemana ?” Sebastian berusaha menahan tangan istrinya.


Satu tangan Kirana sudah memegang handle pintu sementara tangan lainnya dipegang oleh Sebastian. Tanpa menoleh ke arah suaminya, Kirana memutuskan untuk keluar.


“Suasana hatiku sedang buruk saat ini. Dan aku membutuhkan orang yang mampu menenangkan. Sayangnya orang itu bukan suamiku sendiri,” ujar Kirana pelan.


“Honey,” Sebastian berjalan mendekat dan tangannya menyentuh bahu Kirana.


“Aku benar-benar ingin bertemu dengan Steven,” ujar Kirana sambil menepiskan tangan Sebastian di bahunya.


“Bersamamu dalam ruangan ini malah membuat mood ku bertambah buruk !” Kirana bergegas membuka pintu lalu meninggalkan Sebastian.


Pria itu berusaha mengejar Kirana yang berjalan menuju ke arah lift.


“Aku akan menemanimu bertemu dengan Steven,” ujar Sebastian dengan nada pelan.


Sebastian teringat dengan cerita beberapa temannya yang sudah lebih dulu memiliki anak, bagaimana para suami harus lebih sabar menghadapi istri mereka yang sedang hamil, karena emosi para wanita hamil sering naik turun.


“Tidak usah ! Bukankah lebih menyenangkan bernostalgia dengan mantan pacarmu itu ? Lagipula aku hanya ingin berduaan dengan Steven,” sahut Kirana dengan ketus.


Sebastian mengusap tengkuknya karena bingung harus bersikap bagaimana. Ia hanya bisa memandangi Kirana yang akhirnya menghilang di balik pintu lift.

__ADS_1


Sebastian menghela nafas. Menyesali kebodohannya sendiri karena begitu terkejut melihat kehadiran Renata sampai akhirnya ia sempat mengabaikan Kirana dan membuat istrinya itu cemburu.


__ADS_2