
“Masih belum puas juga kalau belum dapat Bastian ?”
Renata menoleh ke arah sumber suara. Ia baru saja melakukan visit ke beberapa pasien dokter Wanda. Perawat yang mendampinginya baru meninggalkannya dan Renata sendiri berencana kembali ke ruang istirahat para dokter.
Saat ini statusnya memang masih asisten dokter Wanda dan belum diperbolehkan menangani proses melahirkan sendiri.
“Ngapain elo di sini ?” Renata balik bertanya dengan wajah ketus.
“Apa elo lupa kalau gue sahabatnya Bastian ?” Bara tersenyum sinis kepada Renata. “Dan elo nggak lupa kan kalau rumah sakit ini masih milik keluarganya Bastian ?”
Renata mendengus kesal dan berniat melewati Bara tanpa berminat melanjutkan perbincangan dengan pria di depannya.
Tangan Bara mencegahnya saat Renata persis berada di sampingnya.
“Kalau elo mau mencoba jadi pelakor, jangan harap gue akan membiarkan elo berbuat seperti waktu SMA dulu. Gue nggak akan biarkan siapapun yang mengganggu Kirana dan Sebastian,” tegas Bara di telinga Renata.
“Kenapa elo begitu peduli dengan perkawinan Bastian ? Jangan-jangan elo menaruh hati dengan istrinya Bastian, tapi sayangnya sama seperti dulu, para wanita itu lebih memilih Bastian daripada elo,” Renata tertawa dengan nada sinis.
“Karena Kirana sudah seperti adik buat gue, Samuel dan Evan. Dan hanya Kirana yang bisa membuat Sebastian bahagia tanpa menjadikannya alat pemuas keinginan wanita-wanita gila dan penuh ambisi kayak elo,” Bara tersenyum sinis.
“Ciihh… Rupanya bukan hanya Bastian yang dipengaruhi otaknya, tapi kalian bertiga sama bodohnya, mudah dipengaruhi,” Renata berdecih sambil tersenyum sinis.
“Dulu gue sempat kasihan saat elo nggak dianggap sama nyokap elo karena Reina. Ternyata buah memang nggak pernah jauh jatuh dari pohonnya. Semakin kemari, elo semakin mirip nyokap lo, penuh ambisi dan akan melakukan hal apapun untuk mendapatkan keinginan kalian.”
“Tentu aja elo harus tambah pintar. Apa nggak kapok karen gue sudah berhasil menjadikan elo pijakan untuk mendekati Bastian ?” Renata mencibir lalu tertawa dengan wajah puas.
“Cewek gila !” Bara geleng-geleng kepala.
Tanpa ingin memperpanjang percakapannya, Bara melangkah ke arah yang berlawanan dengan Renata.
“Oh iya,” Bara berhenti dan berbalik badan mendapati Renata yang baru saja hendak melangkah.
“Jangan berpikir dengan menjadi dokter di sini, elo akan lebih mudah mendekati Sebastian kembali. Tante Amelia dan om Richard tidak akan membiarkan elo begitu aja. Syukur-syukur elo masih bisa bernafas dengan baik kalau berani mengusik mereka lagi.”
Tanpa menunggu jawaban Renata, Bara langsung berbalik dan meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Renata mengepalkan kedua tangannya dan mata membelalak karena kesal dengan kelakukan Bara.
Bara meneruskan langkah menuju parkiran mobil. Tidak ada dalam jadwal kerjanya untuk mengunjungi rumah sakit Pratama yang merupakan klien utama MegaCyber. Beberapa hari lalu Aldo memberitahukan ada sedikit masalah dengan sistem data mereka. Sepertinya ada hacker yang mencoba masuk dan mencuri data pasien.
Dalam perjalanan pulang, Bara akhirnya memutuskan untuk mampir dan melihat langsung permasalahan yang dihadapi oleh bagian IT rumah sakit milik keluarga Pratama ini.
Siapa sangka kalau ia akan bertemu dengan Renata. Sebastian memang sudah bercerita soal Renata yang bekerja di rumah sakit milik Tuan Raymond dan berusaha mengusiknya dengan menceritakan kebohongan pada Kirana.
Perlahan Bara meninggalkan parkiran rumah sakit dan mengemudikan mobilnya menuju apartemen yang menjadi tempat tinggalnya.
Dari mereka berempat, hanya dirinya yang jauh dari keluarga. Bara merantau sejak SMA, ikut dengan adik laki-laki papanya sejak papa kandungnya meninggal tepat di saat Bara akan mengikuti ujian akhir SMP.
Pikirannya kembali melayang pada saat mereka masih SMA. Perkenalan pertamanya dengan gadis cantik bernama Renata terjadi saat ia kelas 11 dan Renata kelas 10.
Bara, sosok pria yang minder namun memiliki otak yang cerdas dan hobi dengan segala sesuatu yang berbau teknologi, mengenal Sebastian, Evan dan Samuel saat masuk SMA sebagai murid baru dari luar kota.
Ketiga pria yang cukup populer di sekolah sejak SMP ternyata anak-anak dari keluarga berkecukupan yang tidak membedakan dalam pertemanan. Sebastian yang paling menonjol dari antara mereka, karena bukan hanya anak dari keluarga kaya yang kekayaanya sudah turun temurun, tapi juga memiliki tampang paling ganteng di antara mereka.
Bara mengenal ketiganya saat diajak masuk menjadi anggota tim satu permainan game yang cukup populer di kalangan anak muda saat itu. Lama kelamaan bukan hanya menjadi anggota tim dalam game online, tapi juga dalam pertemanan, Bara menjadi bagian dari ketiganya.
Renata yang saat itu mulai diabaikan oleh Sebastian beralih mendekati Bara, pria yang paling cerdas di antara keempatnya. Dengan rengekan dan rayuan Renata yang tiada henti, akhirnya Bara menyerah dan bersedia menjadi tutor Renata setelah tiga bulan adik kelasnya itu terus memohon kepadanya.
Dengan dalih sebagai calon pacar Bara, Renata mulai ikut dalam acara kumpul-kumpul dengan Sebastian, Evan dan Samuel, dimana kadang-kadang Steven ikut datang juga.
Serasa dibawa terbang ke langit ketujuh. Renata yang memiliki banyak penggemar membuat Bara melayang dan lupa berpijak tanah. Sikap manis Renata benar-benar membuat Bara terlena dan yakin kalau gadis itu benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Sampai akhirnya saat Bara memasuki semester 2 di kelas 12, Renata yang merasa gagal mendekati Sebastian lewat Bara mulai mengeluarkan sifat aslinya. Menganggap Bara bodoh karena begitu mudah diperalat Renata untuk mendapatkan Sebastian.
“Apa elo sudah siap kalau jadi pacar gue ?” tanya Renata dengan tatapan merendahkan.
“Apakah perlu persiapan khusus untuk menjadi pacar lo ?” Bara balik bertanya dengan alis terangkat sebelah.
Renata berdecih dan terlihat senyum mengejek di wajahnya.
“Apa uang jajan elo bisa membelikan skin care gue setiap bulannya ?”
__ADS_1
Mata Bara membelalak ? Persyaratan aneh yang pernah didengarnya untuk menjadi pacar bagi seorang pelajar seperti Renata.
“Gue rasa pertanyaan itu lebih cocok buat cowok yang melamar elo untuk jadi istrinya, bukan jadi pacar,” Bara tertawa sambil geleng-geleng kepala. “Sejak kapan seorang pria wajib membelikan kebutuhan skin care pacarnya ?”
“Sesuai dugaan gue kalau elo bukan cowok yang peka dan cocok untuk gue. Dan gue yakin kalau kemampuan ekonomi elo tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan gue. Lagipula sejak awal gue memang lebih suka sama Bastian dan berharap bisa bersamanya karena sering ketemu,” Renata tertawa dengan wajah puas.
“Tapi biar bagaimana pun, gue tetap berterima kasih karena elo sudah membuka jalan lagi supaya gue bisa sering jalan bareng sama Bastian. Biar dia belum mau ngobrol lama sama gue, setidaknya dia masih merespon setiap kali gue ajak ngomong,”senyuman dan wajah puas Renata bagaikan tamparan buat Bara.
“Jadi elo hanya memanfaatkan gue supaya tetap bisa sama Bastian ?”
“Apa rasa percaya diri elo segitu tinggi sampai begitu yakin kalau gue suka sama elo apa adanya ? Jangan mimpi ketinggian, nanti sakit banget kalau jatuh,” Renata tertawa mengejek.
“Ternyata sifat elo nggak secantik wajah elo,” Bara tertawa sinis. “Dan gue tetap bersyukur karena bisa tahunya sekarang. Suatu saat nanti akan datang waktunya dimana kecantikan elo nggak akan bisa dipakai untuk menipu cowok. Di saat itulah hidup elo hanya akan dipenuhi penyesalan.”
Renata hanya tertawa dan menganggap ucapan Bara hanya sebagai omong kosong yang berusaha menakut-nakutinya.
“Dan gue harap di saat itu elo udah bisa move on,” ejek Renata sambil tertawa.
Bara menghela nafas dan tiba-tiba merasa jijik dengan perempuan di depannya yang begitu angkuh dan terlalu percaya diri.
Larut dalam lamunan masa lalunya membuat Bara tersentak saat mobilnya justru sampai di tepi jalan depan taman yang menyimpan banyak memori indahnya dengan Renata.
Bara menangkup wajahnya di atas setir. Entah perasaan cinta atau luka yang masih tersisa di hatinya. Renata memang sempat mengoyak mimpi dan rasa percaya diri Bara.
Ia kembali terkejut saat kaca mobilnya diketuk-ketuk. Bara menoleh dan matanya memicing saat didapatinya wajah seorang perempuan yang panik sedang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.
“Tolong ! Tolong saya !” dengan wajah memelas wanita itu menempelkan wajah ke kaca di sisi Bara.
Bara yang terkejut langsung memundurkan badannya. Namun sesaat kemudian matanya yang memicing mengenali sosok wanita yang masih menempelkan wajahnya di jendela.
“Shera ?” gumam Bara dengan dahi berkerut.
Bara langsung membuka kunci mobil dan wanita tadi langsung membuka pintu belakang.
“Tolong saya, Pak. Tolong.”
__ADS_1
Bara mengerutkan dahi, sepertinya Shera tidak mengenali dirinya karena terlalu panik.
Saat melihat ada tiga pria berjalan menuju ke arah mobilnya, Bara langsung menyalakan mesin mobil dan segera melajukan mobilnya dengan santai supaya tidak mengundang curiga.