Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 47 Usaha Sebastian


__ADS_3

Hai pembaca setia,


Mohon maaf sebelumnya kalau ada kesalahan penulisan nama anak Shera.


Di awal perkenalan tokoh disebutkan nama bocah lelaki itu Raven, tetapi di beberapa bagian berganti menjadi Revan.


Yang betul adalah RAVEN.


Mohon maaf dan semoga tidak membuat para pembaca bingung dan salah fokus 😊😊


Terima kasih karena selalu setia membaca novel saya 😊😊🙏🙏


🍀🍀🍀


Hari ini Kirana sudah kembali bekerja di MegaCyber. Drama kemarin berlanjut di rumah karena sudah cukup papa dan mama dibuat kaget masalah kecelakaan Kendra.


Kirana terpaksa bersikap biasa saja pada Sebastian dan langsung dimanfaatkan oleh pemain drama dadakan itu Meski dalam hati ingin memaki Sebastian, namun demi ketenangan di rumah, Kirana tidak kuasa menolak saat Sebastian bersikap “sok romantis” padanya.


“Ki, udah masuk aja,” Dion yang baru saja sampai langsung menyapanya.


Dion tahu bahwa urusan boss dan rekan sekretarisnya itu belum tuntas sampai ke akar-akarmya.


“Aldo masih aja melacak keberadaanku, Yon ?” Dengan wajah cemberut, Kirana menghampiri meja Dion dan duduk di depannya.


“Selama perintah belum dicabut, mana berani Aldo menolak tugas,” sahut Dion sambil terkekeh.


“Jadi sepanjang hari aku dimata-matai sama Aldo ?”


“Bukan kamu saja Ki, di handphone Pak Bas juga ada pelacaknya, jaga-jaga kalau ada niat tidak baik sama Pak Bas. Maklum kan keluarga Pak Bas termasuk crazy rich,” lagi-lagi Dion terkekeh.


“Jadi anak-anak lantai 16 selalu tahu dimanapun aku berada ? Termasuk saat aku bolos kemarin ini ?”


“Kalau yang masalah 5 hari kemarin, bahkan Aldo tidak berhasil melacakmu, Ki. Pak Bas sendiri yang tahu kalau kamu ada di rumah. Satelit cinta Pak Bas yang bekerja, makanya kamu ketahuan ngumpet di rumah.”


“Iihh siapa yang ngumpet. Memang lagi nggak enak badan,” gerutu Kirana.


“Sakit hati kan, Ki,” Dion tergelak. “Tapi beneran selama di Kalimantan, Pak Bas full konsentrasi sama kerjaan. Nggak tahu bagaimana bisa kecolongan.”


“Males banget membahas itu lagi.” Kirana bangun dari kursinya. Dia sempat menendang meja Dion, membuat rekannya kaget.


Kirana ikut kaget karena saat berbalik, Sebastian sudah berdiri di belakangnya.


“Bapak ngapain di sini ?” Omelnya dengan muka cemberut. Sudah mood nya lagi jelek, ditambah kaget karena melihat Sebastian berdiri sambil nyengir kuda.


“Loh, ini kan masih kantor saya. Memangnya ruangan saya sudah dipindahkan ?” Sebastian sengaja pura-pura bingung dengan wajah serius tanpa senyum.


“Dramanya sudah tamat dari kemarin, Pak.” Kirana mencebik.


Sebastian langsung menarik pergelangan tangan Kirana sementara gadis itu masih berusaha melawan.


Sebastian mendorong pelan bahu Kirana untuk masuk duluan.


“Jangan ganggu dan tolak semua telepon kecuali dari daddy,” ujar Sebastian sebelum masuk ke ruangannya dan terdengar pintu dikunci.


Dion tertawa sambil geleng-geleng kepala. Kelakukan Sebastian kenapa jadi kayak anak ABG yang sedang jatuh cinta dan membujuk pacarnya yang lagi ngambek.


“Kiran,” Sebastian menggandeng Kirana dan mengajaknya duduk di sofa. “Mau duduk sendiri atau dipangku ?”


Kirana mendengus kesal dan langsung mendudukan dirinya di sofa.


“Jangan ngambek dong, Honey,” rayu Sebastian yang sekarang sudah berlutut di depannya.


“Ngapain Bapak berlutut di situ !” Omel Kirana.


“Mau melamar pacar kesayangan untuk jadi istrinya,” Sebastian mengedipkan sebelah matanya. Kirana mencebik lalu menggerakan mulutnya seperti mau muntah.


“Kiran, Honey… Tolong percaya sama aku kalau aku nggak pernah sengaja tidur di ruangan Indra apalagi sampai bersender di bahu sekretarisnya.”

__ADS_1


“Jadi nggak sengaja ? Khilaf ?” Mata Kirana menyipit.


“Bukan khilaf, tapi…”


“Sadar ? Pak Bas dalam keadaan sadar kan ? Kecapean makanya sampai ketiduran terus kancing kemeja lupa dirapiin lagi ?” Ucapan Kirana bertambah sinis.


Sebastian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjelaskan pada Kirana dengan kalimat seperti apa.


“Pak Bas tahu darimana saya ada di rumah ?” Tanpa bermaksud mengalihkan pembicaraan, Kirana menanyakan hal yang membuat hatinya penasaran.


“Mau tahu atau mau tahu banget ?” Sebastian mengerling, merasa memiliki informasi yang bisa ditukarnya dengan kata maaf dari Kirana.


“Nggak usah lebay,” cebik Kirana. “Bapak kasih tahu atau nggak, bukan hal penting buat saya. Lagian mimpi apaan sampai bisa buka kancing orang lain sampai segitu banyak.”


“Kamu cemburu ?” Tanya Sebastian dengan wajah sumringah, kenapa rasanya malah bahagia dicemburui Kirana seperti ini.


“Memangnya nggak boleh ? Kalau begitu besok-besok saya juga mau buka-bukaan kancing sama Steven. Aman lagi di ruang prakteknya. Siapa… Mmmpohh…”


Bibir Sebastian sudah membungkam mulut Kirana. Meski Kirana memukul-mukul dada Sebastian, pria itu malah menahan tengkuk Kirana dan memperdalam ciumannya.


Kirana langsung ngos-ngosan saat Sebastian melepaskan ciumannya. Ia mengambil tissue dan melapnya dengan kasar.


“Kirana,” panggil Sebastian dengan suara lirih. “Apa ciumanku menjijikan bagimu ?”


“Bekas orang lain,” sahut Kirana ketus.


Sebastian menjauh dan duduk di sofa lain. Wajahnya terlihat sendu. Kirana tidak peduli, ia beranjak bangun ingin mencuci mulutnya di wastafel. Entah kenapa pagi ini mood nya lebih buruk dari kemarin. Namun ia tahu kalau tidak biaa keluar sari ruangan Sebastian karena pintunya terkunci Akhirnya Kirana duduk lagi di sofa.


“Kalau kamu perlu ke kamar mandi, di sana saja,” Sebastian menunjuk pintu menuju ruangan pribadinya. Kirana hanya terdiam. Gerakan tangannya menghapus jejak ciuman Sebastian sudah berhenti.


“Apa tidak cukup 5 hari menjauh dariku ?” Suara Sebastian masih terdengar lirih dan wajahnya sendu.


“Di mata Pak Bas mungkin kekesalan saya terlalu over dan lebay. Tapi kenyataannya hati saya memang sulit menerimanya. Saya baru sadar kalau kehidupan Pak Bas jauh dari bayangan saya, dan saya tidak yakin kalau bisa mengikuti arusnya dengan sikap biasa saja. Jadi saya…”


“Tidak ! Tidak akan ada kata putus. Aku akan membuktikan kalau semua itu disengaja. Ada orang lain yang berusaha merusak hubungan kita !” Suara Sebastian meninggi dan dengan kasar ia mengambil jas-nya yang tadi diletakkan di sofa dekat Kirana, lalu mengeluarkan kunci dari saku celananya.


“Pak Bas !” Kirana menahan lengan pria itu. “Maaf, sejak awal sepertinya kesalahan ada di pihak saya.”


Kirana terkejut mendengar bentakan Sebastian, reflek tangannya terlepas dari lengan Sebastian.


Sebastian melempar jasnya dengan kasar ke sembarang arah. Dalam posisi membelakangi Kirana, ia menjambak rembutnya dengan kesal.


“Aku nggak tahu bagaimana bisa bersender di bahu Esti dan tanganku ada di atas pahanya, Kiran. Namun aku belum amnesia, aku ingat betul kalau aku hanya tinggal sendiri di ruangan itu. Bagaimana Esti bisa masuk, aku sendiri tidak tahu.”


“Memangnya Pak Bas…”


“Sudah aku bilang Kiran, jangan panggil aku begitu !” Geram Sebastian sambil mengepalkan kedua tangannya.


Kirana menghela nafasnya. Meski Kirana mencoba menyangkal, namun ucapan Steven kemarin sempat menyentil pikirannya. Bagaimana kalau Sebastian sesekali akan jatuh dalam godaan para wanita yang menginginkannya meski hanya untuk hubungan satu malam ?


Kirana menggeleng, ia mengingat ucapan mama Lia. Apa yang terlihat seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Dan akan selalu ada orang yang mencoba merusak hubungan mereka. Perlu rasa saling percaya dan komunikasi yang baik.


“Bee..” panggil Kirana dengan suara pelan mirip gumaman. Tapi Sebastian mendengarnya. Dia berbalik dan langsung memeluk Kirana.


“Sudah aku pernah katakan bagaimana aku merasakan sakitnya pengkhianatan. Aku tidak akan membiarkan cintaku merasakan hal yang sama, Kiran. Bahkan aku tidak akan melakukan hal semacam itu pada wanita yang bisa aku bayar.”


Sebastian mengeratkan pelukannya. Dengan perasaan yang masih ragu, Kirana perlahan balas memeluk pinggang Sebastian.


“Maafkan aku yang terlalu egois,” Sebastian meletakan kepalanya di atas kepala Kirana. “Aku begitu kesal masalah Steven bertemu denganmu di Mal, meski aku tahu kalau kalian tidak sengaja bertemu.


Aku egois karena malah mendiamkanmu dan mengabaikan semua telepon dan pesanmu. Maafkan aku, Ki. Maaf aku telah bersikap kekanak-kanakan. Aku belum pernah merasa sangat cemburu seperti waktu itu.”


Kirana melerai pelukannya dan mendongak menatap Sebastian. Pria itu mengelus pipi Kirana sambil tersenyum.


“Kenapa kamu tidur di ruangan Pak Indra dan bukan di kantormu sendiri ?”


Sebastian membawa Kirana kembali ke sofa. Seperti biasa, ia senang memangku Kirana daripada membiarkannya duduk sendiri di sofa.

__ADS_1


“Kami habis meeting siang itu, bukan hanya dengan tim yang ada di lokasi proyek, tapi juga dengan Pak Alex lewat zoom. Aku sendiri tidak memperhatikan apakah Esti ikut meeting siang itu. Selesai zoom meet, mereka berencana melakukan survey di beberapa titik lokasi proyek. Mereka terbagi atas 3 tim. Tapi aku ingat Dion tidak termasuk dalam tim survey. Aku lupa Dion kemana, nanti kita tanyakan lagi.”


Sebastian tersenyum dan kembali membelai pipi Kirana. Sebelah tangannya merangkul pinggang gadis itu supaya tetap seimbang di atas pangkuannya.


Wajah Kirana memerah dan tersipu dipandang seperti itu oleh Sebastian.


“Apa aku boleh menciummu ?” Tanya Sebastian.


Kirana menggeleng membuat Sebastian mengerutkan dahinya.


“Selesaikan dulu ceritamu, Bee.”


Sebastian tertawa dan mencubit gemas pipi Kiran, membuat gadis itu meringis.


“Aku ingat kalau kepalaku sangat sakit sejak pagi. Mungkin karena hatiku masih dipenuhi emosi masalah Steven. Selesai zoom, aku minta obat sakit kepala pada Dion, dan ia memberikan langsung dari tasnya, bukan dari Esti atau siapapun. Sepertinya efek obat dan kurang tidur, aku langsung terlelap sambil menunggu tim yang sedang survey. Terlalu lelap sampai dimanfaatkan orang lain.”


“Dan kamu juga memanfaatkan waktu tidurku dengan menyusup di atas ranjang dan memelukku,” omel Kirana.


Sebastiam tertawa. “Kira-kira seperti itu. Tapi sepertinya kamu lebih berbahaya, Honey. Kamu malah membalas memelukku, bukan hanya tanganmu, tapi kakimu juga menjepitku.”


“Karena aku sudah hafal bau tubuhmu ?” Jawab Kirana dengan wajah cemberut.


“Ooo jadi kamu melakukannya dengan sadar ? Biar lagi ngumpet, tapi begitu mencium bau tubuhku langsung nempel ? Kangen ya ?”


Kirana tersipu. Dia merasa kelepasan dengan ucapannya sendiri. Saat itu ia bermimpi bertemu Sebastian dan memeluknya sambil menciumi bau tubuh kekasihnya. Tapi saat matanya terbuka, ternyata bukan mimpi, Sebastian benar-benar ada di sebelahnya.


“Aku nggak sadar, tapi memang lagi mimpi dipeluk kamu,” sahut Kirana dengan wajah merona menahan malu.


Sebastian mencubit kedua pipi Kirana dan melepaskan tangannya di pinggang gadis itu membuat Kirana hampir saja kehilangan keseimbangan. Dengan sigap tangan kanannya merangkul leher Sebastian.


“Setelah semuanya jelas dan kutemukan biang keladinya, aku akan meminta daddy dan mommy melamarmu. Biar nggak cuma dalam mimpi, kamu bisa memelukku dan mencium bau tubuhku dari bangun pagi sampai malam hari, bahkan setelah kita olahraga bareng,” Sebastian mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa.


“Iissshh aku nggak suka angkat berat, nanti tanganku berotot. Badan pendek begini, badan berotot,


bukin tambah jelek aja..” Kirana menggeleng, membayangkan Sebastian akan menyuruhnya olahraga beban seperti yang dilakukan pria itu selama ini.


“Bukan olahraga yang itu, Honey,” Sebastisn menoel hidung Kirana.


Kirana mengerutkan dahi, tidak mengerti ucapan Sebastian.


“Kamu tuh beneran polos apa pura-pura polos ?” Sebastian menyentil kening Kirana. “Olahraga bikin dedek, Honey. Hufftt” Sebastian berbisik sambil meniup telinga Kirana membuat gadis itu menggeliat kegelian.


Wajah Kirana kembali merona saat Sebastian membahas soal dedek bayi. Tidak terpikir kalau Kirana akan menikah di usia kurang dari 25, apalagi berpikir punya anak !


“Atau mau aku cicil sekarang biar Steven nggak berani lagi minta kamu jadi pacarnya ?“


Sebastian sudah siap-siap berdiri dan membawa Kirana yang masih di pangkuannya ke dalam ruang pribadinya.


“Bee !” Kirana melotot sambil memukul bahu Sebastian. “Kamu mau kejadian Shera terulang lagi dalam hidupmu ? Hamil duluan sebelum nikah ?”


“Ya beda dong, Kiran. Kalau kamu hamil kan aku juga yang bikin kamu melendung, jadi wajar kalau aku yang bertanggungjawab. Nah kalau Shera kan, hamilnya sama siapa, minta tanggungjawabmya dengan siapa.”


“Terus kamu tahu darimana kalau Steven minta aku jadi kekasihnya ?”


“Dari mulut Steven sendiri, pas aku cariin kamu.”


“Terus kamu tahu darimana kalau aku ada di rumah,”


Sebastian menggigit bibirnya menahan gemas. Pertamyaan Kirana tidak ada habis-habisnya. Kalau tidak dijawab, entah nanti sore, besok atau lusa, Kirana tidak akan bosan mengulang pertanyaannya.


“Kirana Gunawan, mana ada orangtua yang tahu kalau anaknya menghilang anteng-anteng saja. Pas aku balik dari Kalimantan dan langsung bertemu mamamu, beliau memang terlihat kaget. Tapi aku yakin rasa kagetnya karena aku tiba-tiba datang. Aku janji akan mencarimu. Tapi selama 3 hari ke depan, tidak ada satupun dari keluargamu yang menanyakan perkembangan pencarian kamu. Mana ada orangtua yang begitu santai kalau anaknya menghilang tanpa kabar berita. Bahkan papamu masih pergi ke kantor biasa dan mamamu belanja ke pasar tanpa rasa kehilangan.”


“Jadi kamu mengawasi rumahku ?”


“Tentu saja aku suruh Dion menempatkan orang untuk mengawasimu. Kalau sewaktu-waktu kamu pulang, kan aku bisa langsung tahu.”


Kirana mengomel dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


“Gimana tawaran cicilan dulu, Honey ?” Bisik Sebastian dengan kedipan mata. Dia sudah beranjak bangun sambil menggendong Kirana.


“Bee !” Pekik Kirana dengan wajah galak dan mulut mengerucut. Sebastian makin tergelak melihat ketakutan Kirana.


__ADS_2