Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 78 Tes DNA


__ADS_3

Sesuai dengan undangan daddy Richard, jam sembilan pagi sudah berkumpul Uncle Raymond dan Auntie Rosa, Tante Mira dan Om Herman membawa Raven dan babysitternya , dan tentu saja keluarga Richard Pratama.


Tidak terduga, hari ini Steven tidak datang sendirian, tetapi juga membawa Kirana yang semula menolak keras untuk ikut hadir karena merasa tidak diundang oleh daddy Richard.


Tentu saja kehadirannya pagi ini sudah mendapat persetujuan dari Sebastian yang bersikap seolah-olah tidak mempedulikan kehadiran Kirana. Daddy Richard dan mommy Amelia sempat terkejut melihat Steven masuk ke dalam ruang meeting sambil membawa Kirana. Lain lagi dengan Auntie Rosa yang bukan hanya terkejut tapi juga kesal melihat anaknya membawa gadis yang dibencinya.


Shera yang sudah diminta hadir oleh Tante Mira ternyata memilih tidak ikut, apalagi ia sudah tahu kalau pertemuan pagi itu ingin membahas masalah permintaan tes DNA Steven dan Raven.


Meskipun ia adalah jawaban dari pertanyaan semua orang yang sudah hadir pagi ini, namun Shera membiarkan saja mereka mendapatkan jawaban dari tes DNA.


Shera sempat tersenyum miris saat Steven memilih mengajak Kirana dan bukan dirinya yang secara sah adalah ibu kandung dari Raven. Ingin rasanya ia mencegah orangtuanya membawa anaknya itu ke pertemuan pagi ini, namun rasa sakit hatinya lebih besar daripada cintanya kepada Raven, hingga ia membiarkan bocah berusia dua tahun lebih itu menemukan siapa ayah biologisnya.


Tanpa berbasa basi, daddy Richard menyuruh pengasuh Raven untuk keluar  dan meminta Kirana membantu menjaga Raven yang memang menurut padanya.


Uncle Raymond sempat mengerutkan dahi saat daddy Richard mendatangkan dua pengacara keluarga Pratama yang biasa mengurus permasalahan hukum di MegaCyber dan Rumah Sakit Pratama.


“Tanpa berlama-lama, pagi ini saya sengaja mengumpulkan anda semua untuk membahas satu masalah yang bisa dibilang cukup penting dan berkaitan dengan status Raven yang sampai saat ini tidak diketahui siapa ayah biologisnya. Semuanya itu memang terletak pada Shera sendiri. Tapi karena sampai saat ini, Shera tidak mau mengungkapkan siapa ayah kandung putranya, maka kami, saya dan Sebastian, mengambil inisiatif untuk mencari tahu lewat tes DNA,” ujar daddy Richard sambil memandang satu persatu yang hadir di sana.


“Lalu apa hubungannya dengan anak kami ?” tanya Auntie Rosa dengan nada ketus.


“Ada beberapa dugaaan yang menghubungkan Steven dengan Raven, jadi kami sepakat  dan atas kesediaan Steven sendiri, untuk melakukan tes DNA dari sampel Steven dan Raven.”


“Tidak bisa !” Auntie Rosa berdiri sambil menggebrak meja. “Tidak mungkin Steven melakukan hal sekotor itu pada calon istri sepupunya. Seharusnya kalian semua bisa menghadirkan Shera saat ini juga, dan mendengar langsung pengakuan darinya.”


“Tapi Shera tetap tidak mau memberitahu siapa ayah biologis Steven, Nyonya,” sahut Om Herman dengan suara pelan. “Bahkan kami sudah membujuk dan menasehatinya untuk ikut hadir pagi ini dan berbicara terus terang di hadapan Tuan dan Nyonya semua.”


“Kalau begitu Shera pasti yakin kalau Steven bukan yang menghamilinya,” sahut Auntie Rosa dengan wajah memerah karena menahan marah.


“Tidak ada ruginya melakukan tes DNA, Rosa,” ujar daddy Richard. “Bukankah akan lebih baik lagi jika Steven bisa membuktikannya secara hukum tentang kebenarannya.”


Uncle Raymond yang baru tahu topik permasalahan yang dibahas hari ini terlihat beberapa kali menghela nafas, apalagi melihat reaksi istrinya yang penuh emosi.


“Saya setuju dengan usulan dari Richard dan Sebastian,” Uncle Raymond akhirnya ikut buka suara. “Dan kamu Steven,” ia menoleh menatap putranya. “Tidak ada alasan bagimu untuk menolaknya. Apapun hasil tes DNA tidak akan merugikanmu.”


“Kenapa harus menyetujui permintaan gila itu, Pa !” protes Auntie Rosa sambil menatap suaminya dengan dahi berkerut.


Uncle Raymond diam saja dan masih menatap tajam ke arah Steven.


“Saya tidak keberatan, Pa. Uncle Richard. Namun sesuai pembicaraan saya dengan Kirana, saya akan mengajukan persyaratan sebelum menjalankan tes DNA ini,” ujar Steven sambil tersenyum sinis menatap Sebastian.


Calon suami Kirana itu masih  menunjukkan sikap santainya meskipun hatinya bergemuruh melihat sikap pongah yang ditunjukkan oleh Steven. Apalagi saat ini, Kirana sengaja didudukkan di sebelah Steven dalam posisi yang cukup dekat. Meskipun Kirana bersikap biasa saja sambil mengajak Raven main, namun Sebastian tidak mampu menahan diri untuk tidak cemburu.


“Kalau sampai terbukti Raven bukan anak saya, maka saya akan menikahi Kirana,” ujar  Steven dengan senyuman.


“Mama tidak setuju !” protes Auntie Rosa yang masih berdiri di sebelah Uncle Raymond. “Sampai kapan pun Mama tidak akan menyetujui pernikahanmu dengan perempuan itu !”

__ADS_1


Sebastian mengepalkan kedua tangannya di bawah meja melihat keangkuhan Auntie Rosa yang enggan menyebutkan nama Kirana dengan mulutnya.


Mommy Amelia pun sama emosinya, tapi ia masih berusaha menahannya supaya semuanya bisa terselesaikan dengan bailk.


“Dengan atau tanpa persetujuan Mama, aku akan menikahi Kirana,” sahut Steven sambil tertawa pelan.


“Dan itu artinya Sebastian harus melepaskan Kirana untuk menjadi istriku. Bukankah begitu Bas ?” tanya Steven dengan senyuman mengejek menatap sepupunya.


Sebastian hanya membalasnya dengan senyuman sinis.


“Dengan atau tanpa persetujuanku kalian tetap berhubungan selama ini, kan ? Bahkan semakin intens saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku ?” sahut Sebastian dengan wajah sinis sambil menatap Steven dan Kirana bergantian.


Meskipun tahu kalau semua ini adalah sandiwara , namun Kirana tidak dapat membohongi dirinya yang merasa sakit karena harus berada dalam kondisi seperti ini.


Tante Mira dan Om Herman lebih banyak diam mendengarkan percakapan di depan mereka, begitu juga dengan daddy Rcihard dan mommy Amelia yang sejak tadi hanya menjadi penonton sekaligus pengamat.


“Lalu bagaimana jika hasil tes DNA membuktikan kalau Raven adalah anakmu ?” tanya Uncle Raymond sambil menatap Steven.


Hatinya sedikit tercubit melihat keangkuhan yang diperlihatkan oleh Steven saat ini. Ia menyesal terlalu sibuk dengan urusan rumah sakit dan pekerjaannya sebagai dokter, hingga kurang meluangkan waktu untuk mendampingi Steven. Akibatnya, Uncle Raymond melihat begitu banyak sifat Steven yang mirip dengan istrinya.


“Aku akan mengesahkan status Raven sebagai anakku tetapi tidak menikahi Shera sebagai istriku,” jawab Steven dengan mantap.


“Aku tetap akan menikahi Kirana dan hanya dia yang akan menjadi istriku,” lanjut Steven sambil menatap sinis ke arah Sebastian .


Mommy Amelia tampak tercengang mendengar ucapan keponakannya itu.


Daddy Richard menyentuh jemari istrinya untuk menenangkan dan mengusap-usap punggung mommy Amelia supaya lebih tenang.


“Sepertinya Auntie langsung menangkap maksud saya ,” ujar Steven dengan senyuman congkaknya.


“Tapi saya tidak mau !” Kirana membuka suara dengan nada biasa namun penuh ketegasan. “Apapun hasil tes DNA nantinya, saya tidak akan bersedia menikahi Steven.”


Tante Mira langsung mengambil alih Raven untuk pindah ke pangkuannya supaya Kirana bisa lebih leluasa berbicara.


“Tidak bisa Nana, kamu sudah berjanji !” protes Steven dengan nada penuh emosi.


“Aku tidak pernah mengucapkan janji apapun padamu, Steve. Semua itu hanya ucapanmu sebagai syarat mengabulkan permintaanku tentang tes DNA,” Kirana tersenyum memandang Steven yang semakin emosi.


Steven mengeluarkan handphone dari kantong celananya membuat Kirana tertawa pelan sambil menggeleng.


“Jangan permalukan dirimu sendiri di depan banyak orang, Steve. Aku adalah orang yang selalu belajar dari pengalaman dan kesalahan yang lalu. Jadi bukan hanya kamu yang memiliki rekaman, tapi aku juga sama. Dan di sini Tuan Richard sudah mendatangkan dua ahli hukum, bahkan ada Om Herman juga.  Kalau kamu mau, kita bisa sama-sama  memberikan bukti.”


“Kalau begitu aku tidak akan melakukan tes DNA,” geram Steve sambil mengepalkan kedua tangannya. “Aku bersedia melakukan semua ini untukmu Kirana. UNTUKMU !” bentak Steven sambil menunjuk Kirana.


Sebastian yang sudah tidak mampu menahan emosinya berjalan memutar meja dan mendekati Steven. Dicengkramnya kedua kerah kemeja Steven.

__ADS_1


“Meskipun saat ini aku sedang mempertimbangkan hubunganku dengan Kirana, bukan berarti kamu bisa seenaknya memperlakukannya. Karena selama belum adanya kesepakatan keluarga kami berdua untuk membatalkan pernikahan ini, Kirana masih tetap calon istriku. MENGERTI !” Sebastian membalas dengan bentakan di depan wajah Steven pada akhir ucapannya.


Sebastian melepaskan cengkramannya dan mendekati Kirana. Ia menarik lengan gadis itu sampai Kirana terbangun dan sedikit terhuyung, namun dengan sigap Sebastian menahannya. Dibawanya Kirana pindah tempat duduk berseberangan dengan Steven dan di sebelah mommy Amelia.


“Kalau begitu pertemuan hari ini tidak ada gunanya,”  ucap Steven dengan senyuman sinis.


“Aku tidak akan menjalankan tes apapun dan tidak akan mengakui anak ini,” Steven menunjuk Raven yang terlihat ketakutan memeluk Tante Mira. “Aku tidak akan sudi mengakui anak ini sebagai darah dagingku.”


Tanpa siapapun duga, uncle Raymond bangun dan menggebrak meja dengan sangat keras. Bahkan wajah dokter spesialis jantung itu terlihat memerah dan menatap Steven dengan tatapan penuh kemarahan.


Steven sempat terkejut melihat reaksi papanya. Selama duapuluh lima tahun menjadi anak papa Raymond, belum pernah sekalipun ia melihat papanya marah dengan kondisi seperti ini.


“Dengan atau tanpa persetujuanmu, kamu harus melakukan tes DNA dengan anak itu,” Uncle Raymond menatap Raven sekilas. “Ini perintah bukan lagi pilihan !”


“Tapi Pa…” protes Auntie Rosa, sementara Steven masih bergeming di tempatnya.


“Kalau kamu menolaknya, silakan keluar dari rumah sakit ini bahkan dari rumah orangtuamu. Papa akan meminta supaya ijin praktek spesialismu dicabut dan usahalah dengan kemampuanmu sendiri.”


“Kenapa seolah ini semua kesalahan Steven, Pa ?” protes Steven namun tidak lagi dengan suara tinggi.


“Kamu adalah seorang dokter spesialis anak, yang hidupnya dekat dengan anak-anak. Bagaimana bisa kamu menjalankan profesi semacam itu sementara kamu menolak mengakui seorang anak yang mungkin saja anak kandungmu dan mangkir dari  tanggungjawabmu sebagai seorang ayah ?”


Steven terduduk lemas di bangkunya sambil menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Lakukan semua prosedur yang seharusnya dilakukan, Chard,” ujar Uncle Raymond sambil menatap adik kandungnya yang duduk persis di seberangnya.


Daddy Richard mengangguk  dan berbicara dengan kedua pengacara yang memang sengaja dihadirkan di situ.


Auntie Rosa terlihat duduk lesu di kursinya dengan wajah sedih. Selama pernikahan mereka, baru kali ini juga Auntie Rosa melihat Uncle Raymond marah seperti tadi. Bahkan di awal pernikahan mereka dulu, Uncle Raymond tidak pernah berlaku seperti ini.


“Tunggu,” ucapan mommy Amelia menghentikan daddy Richard yang sedang berbicara dengan Uncle Raymond dan kedua pengacara.


“Selama menunggu hasil tes DNA keluar, supaya adil, baik Sebastian atau Steven tidak boleh mendekati Kirana,” ujar mommy Amelia.


“Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan kami, Mom ?” protes Sebastian.


“Tidak perlu Amelia,” sahut Uncle Raymond. “Apapun hasil tes DNA Steven dan Raven, tidak akan mengubah keadaan kalau Kirana adalah calon istri Sebastian. Teruskan saja persiapan pernikahan mereka kalau memang sudah diputuskan oleh keluarga.”


“Tapi Pa..” protes Steven.


“Kali ini papa yang mengambil keputusan Steven. Masalah ini masih menjadi tanggungjawab papa sebagai orangtua yang seharusnya bisa mendidikmu lebih baik lagi.”


Uncle Raymond memberi isyarat pada adiknya untuk melanjutkan proses tes DNA.


Steven terlihat lesu duduk di kursinya dengan wajah menunduk. Sebastian menarik nafas lega sambil menggenggam jemari Kirana di bawah meja.

__ADS_1


Keduanya saling bertatapan dengan senyum mengembang dan wajah yang terlihat lega karena masalah Steven bisa terselesaikan.


__ADS_2