Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 52 Tak Tergoyahkan


__ADS_3

Acara lamaran Sebastian dan Kirana disepakati diadakan pada Sabtu jam 10 pagi. Sebastian sudah memesan juga restoran untuk menjadi tempat makan siang mereka.


“Kiran,” mama Lia melongok ke dalam kamar setelah mengetuk pintu.


“Baru selesai mandi ?” Mama Lia mendekati putrinya yang sedang mengeringkan rambutnya.


“Maaf kalau Kiran belum sempat bantu Mama. Dandan ekspress nih, Ma.” Senyum terus mengembang di wajah Kirana membuat mama Lia ikut tersenyum dan mengusap punggung putrinya.


“Kamu sudah mantap dengan keputusan untuk menikah dengan Sebastian kan, sayang ?”


Kirana menghentikan aktivitasnya dan menatap mama Lia dari pantulan cermin sambil mengerutkan dahinya.


“Apa mama keberatan ?”


Mama Lia buru-buru menggeleng dan tersenyum. Kirana bangun dan langsung memeluk mama Lia.


“Terima kasih karena sudah membesarkan Kiran dan memberikan kepercayaan untuk memilih teman hidup Kirana, Ma.”


Mama Lia membelai lembut pipi putrinya dan menghapus cairan bening yang keluar dari kedua sudut putrinya.


“Mama bahagia karena Sebastian yang menjadi pilihan kamu. Tapi… “ mama Lia terihat ragu meneruskan kalimatnya. Kirana kembali mengerutkan dahinya.


“Apa masih ada masalah yang belum terselesaikan antara kamu dan Steven ?”


Kirana menggeleng sambil mengernyit.


“Steven ada di bawah dan memaksa ingin menemuimu. Temuilah dia,” ujar mama Lia.


Kirana menghela nafas dengan raut wajah terlihat kesal.


“Malas, Ma. Berkali-kali sudah aku katakan sama Steven kalau perasaanku sejak dulu sampai sekarang tetap sama. Steven hanya seorang teman bagiku. Tapi dia tetap bersikeras, Ma. Bahkan menyuruh aku meninggalkan Sebastian dan menjadi kekasihnya.”


“Kamu sudah dewasa, Ki. Sebentar lagi akan jadi istri Sebastian. Hadapi masalahmu dan selesaikan sebelum kalian menikah. Bukankah kamu pernah bilang kalau mereka itu sepupuan ? Berarti ke depannya kalian akan menjadi keluarga.”


Kirana ingin menolak lagi dan meminta tolong mama Lia yang menemui Steven. Tapi apa yang diucapkan mamanya betul, sekarang atau nanti masalah Steven harus dihadapinya.


Akhirnya Kirana menunda acara persiapannya dan memilih turun menemui Steven.


Kirana melihat Steven duduk di ruang tamu dengan wajah yang terlihat letih. Sepertinya pria itu kurang tidur.


“Nana,” Steven langsung berdiri begitu melihat Kirana masuk ke ruang tamu.


“Ada apa, Steve. Maaf aku tidak bisa lama-lama.” Kirana melirik jam dinding yang ada dekat situ. Ia masih ingin bersiap sebelum Sebastian dan keluarganya datang.


Kirana mempersilakan Steven duduk kembali sementara ia sendiri duduk di seberangnya. Meja sudah dipenuhi dengan suguhan aneka kue kering.


“Batalkan rencana pertunanganmu hari ini dengan Sebastian !” Ujar Steven tegas dan rahang yang mengeras.

__ADS_1


“Kamu benar-benar gila, Steve !” Mata Kirana yang penuh rasa marah menatap Steven dengan tajam. “Apa hakmu mengatur hidupku ?”


Steven beranjak dari sofa dan hendak duduk di sebelah Kirana, namun gadis itu ikutan bangun juga dari sofa.


“Jangan mendekat Steve. Kita akan jadi keluarga sebentar lagi dan aku tidak ingin membuat keributan denganmu apalagi membuat Sebastian salah paham.”


“Tunda petunanganmu dan berikan aku kesempatan untuk membuktikan perasaan kita. Bahwa hatimu juga merasakan hal yang sama denganku. Kamu menolakku pasti karena rasa sakit hatimu pada mama.”


Kirana menggeleng. “Aku tidak pernah berpikiran untuk membalas dendam padamu, Steve. Aku sunguh-sungguh mencintai Sebastian, bahkan sejak lama. Kenapa begitu sulit kamu menerimanya ?”


“Sebastian tidak mencintaimu. Hanya aku yang mencintaimu dengan sepenuh hati,” suara Steven yang setengah berteriak membuat Kirana bertembah kesal.


“Steven Pratama ! Kamu adalah seorang dokter yang pasti pernah mempelajari tentang kejiwaan manusia. Dan sekarang sadarlah dengan dirimu sendiri. Apa yang kau rasakan padaku bukanlah cinta tapi obsesi. Kalau kamu sungguh-sungguh mencintai aku, kamu akan membiarkan aku bahagia dengan pilihanku, bukan memaksakan perasaanmu sendiri.”


Steven menyugar rambutnya dengan perasaan marah.


“Kenapa harus Sebastian yang menjadi pilihanmu ?”


“Tidak ada yang pernah tahu persis dengan siapa mereka berjodoh, Steve. Aku sendiri tidak menyangka akan sampai pada titik ini dengan pria yang sudah lama aku kagumi diam-diam.”


“Nana, berikan aku waktu 3 bulan, hanya 3 bulan. Jika hubungan kita memang tidak berhasil, aku akan mengalah dan menerima semuanya.”


Kirana menggeleng. “Maaf aku tidak bisa Steve. Aku tidak ingin dipermaikan dan mempermainkan cinta. Keputusanku memilih Sebastian karena aku benar-benar mencintainya. Sekarang atau 3 bulan kemudian tidak akan berubah. Maaf Steve.”


Kirana memandang ekpresi wajah Steven yang terlihat lesu, bukan hanya karena kelelahan fisik namun juga batinnya.


Kirana mengangkat kedua jempolnya dan tersenyum lebar menatap Steven.


Steven terdiam dan kembali duduk di sofa. Wajahnya menunduk lesu.


“Maaf. Steve, aku harus tinggal ke dalam. Sebentar lagi Sebastian dan keluarganya akan datang. Aku harus bersiap-siap.”


Steven hanya menggangguk dan masih terdiam dengan wajah tertunduk.


“Kamu mau pulang atau ?” Kirana terlihat tidak sabar melihat Steven hanya duduk terdiam di sofa.


“Aku akan minta Kendra menemanimu “ ujar Kirana.


Tanpa menunggu jawaban, Kirana kembali masuk ke dalam dan memanggil adiknya yang ternyata sudah berada di dapur.


“Tolong temani Steve dulu, Ken. Kakak mau siap-siap, sebentar lagi Kak Bas akan datang.”


Kendra hanya mengangguk dengan mulut penuh kue. Mama Lia sendiri sedang menyiapkan penganan untuk para tamu yang akan datang.


Kirana bergegas kembali ke kamarnya di lantai atas karena waktu sudah mendekati jam 9.


Kirana baru saja selesai berpakaian dan wajahnya sudah dipoles make up tipis, saat pintu kamarnya diketuk.

__ADS_1


Diliriknya jam weker di meja nakas. Masih jam 9.40. Apa mungkin keluarga Sebastian sudah datang ?


Kirana merapikan dress nya lalu berjalan membuka pintu


“Bee !” Wajahnya langsung tercengang saat melihat Sebastian berdiri di depan pintu kamarnya.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya tampak sudah rapi dengan kemeja yang mereka beli di mal beberapa hari yang lalu.


Sebastian langsung menerobos masuk membuat Kirana tedorong ke dalam kamar. Sebastian langsung menutupnya bahkan menguncinya.


“Bee,” Kirana mengerutkan dahinya saat Sebastian langsung memeluknya sangat erat hingga Kirana merasa sesak. Ia memukul bahu Sebastian supaya melonggarkan pelukannya.


Sebastian melerai pelukannya dan menangkup wajah Kirsna.


“Terima kasih, Kirana. Teirma kasih karena memiliki rasa cinta yang begitu besar padaku. Namun aku pastikan bahwa cintaku lebih besar dari cintamu. Kamu bukan hanya separuh hidupku, tapi seluruh nafasku, Kirana.”


Kirana mengangkat sebelah alisnya dan menatap Sebastian dengan wajah bingung.


“Aku ikut mendengarkan semua kalimat yang kau ucapkan pada Steven.”


“Kamu menguping ?” Kirana mengernyit.


“Iya,” Sebastian mengangguk. “Entah mengapa perasaanku sempat tidak enak tadi pagi dan aku langsung menghubungimu. Karena lama tidak diangkat, aku menghubungi Kendra. Dari adikmu, aku tahu kalau Steven datang menemuimu. Kendra menawarksn memanggilmu, namun aku melarangnya. Aku minta tolong Kendra untuk berdiri sedekat mungkin dengan kalian, supaya aku bisa ikut mendengarkan.”


“Curang !” Kirana memukul bahu Sebastian dengan bibir mengerucut. “Kamu selalu punya cara untuk memata-matai aku.”


Sebastian tertawa dan mencubit kedua pipi Kirana dengan gemas lalu mencium sekilas bibir Kirana yang masih mengeruxut.


“Tapi kamu nggak melakukan tindakan bodoh pada Steven, kan ?” Kirana menelisik tatapan Sebastian yang mengangkat kedua bahunya.


“Jadi kamu mengkhawatirkan Steven ?” Wajah Sebastian berubah pura-pura kesal.


“Bukan mengkhawatirkan Steven, tapi emosi Bapak Sebastian yang suka tidak lihat-lihat tempat.”


Sebastian mencebik dan masih memasang wajah kesal.


“Udah keren begini, baju couple juga sama calon istrinya, masa harus jadi lecek hanya karena mementingkan emosi,” Kirana mencibir sambil mengusap-usap bagian atas kemeja Sebastian.


Sebastian tertawa dan kembali mencubit kedua pipi Kirana lalu kembali mencium bibirnya , lebih lama dan dalam dari sebelumnya.


“Aku akan menuruti permintaan mommy untuk mempercepat pernikahan dan langsung membuat cucu untuk orangtua kita,” bisik Sebastian dengan suara mesra di telinga Kirana.


Bulu kuduk Kirana meremang dan bahunya bergidik mendengar ucapan Sebastian.


“Jadi sampai kita menikah, hanya ciuman di sini saja,” Sebastian meletakan telunjuknya di bibir Kirana.


“Tunggu tanggal mainnya,” seringai licik terlihat di wajah Sebastian membuat Kirana mencibir.

__ADS_1


“Dasar duda !” Kirana memukul bahu Sebastian yang malah tertawa melihat ekspresi Kirana.


__ADS_2