Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 67 Sekelebat Fakta


__ADS_3

Sudah 3 hari Sebastian berangkat ke Amerika dengan Dion, Aldo, Aleandro dan Shera. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Sebastian lumayan sering mengirim pesan dan sekali menghubungi Kirana lewat video call.


Entah karena dirinya yang ingin berubah atau karena paksaan Aleandro, bagi Kirana yang terpenting usaha Sebastian untuk menjadi lebih baik.


 


Selain disibukkan dengan pekerjaan kantor karena tidak adanya Dion yang membantunya, Kirana juga mulai sibuk dengan persiapan pernikahan yang akhirnya diputuskan oleh daddy Richard akan diadakan 14 minggu terhitung Senin lalu. Selesai atau tidaknya urusan pekerjaan, sesuai permintaan Sebastian, tanggal pelaksanaan pernikahannya dengan Kirana akhirnya diputuskan tanpa berubah lagi.


 


Jam 3 sore Kirana ijin pulang cepat atas permintaan mommy Amelia yang menyuruhnya datang ke salah satu hotel untuk bertemu dengan wedding organizer yang akan mengurus pernikahan Sebastian dan Kirana.


 


Sekitar tigapuluh menit menempuh perjalanan, Pak Tomo menurunkan Kirana di lobby hotel dan gadis itu segera turun menuju restoran yang ada di hotel. Kirana yang sedang mencari handphone di tasnya kurang memperhatikan jalan hingga tanpa sengaja menabrak seseorang.


 


“Maaf,” ujarnya sambil menunduk sekilas dan mendongak menatap wajah perempuan yang ditabraknya.


 


“Kirana !” seru perempuan itu.


 


“Kak Pingkan ?” Kirana dengan wajah terkejut menatap perempuan yang berdiri di depannya.


 


“Ngapain kamu di sini ?” tanya Pingkan dengan nada ketus.


 


“Ngg… ada keperluan. Kak Pingkan apa kabarnya ?” Kirana masih mencoba bersikap ramah dengan perempuan yang bernama Pingkan itu.


 


Kirana sendiri merasa waktunya terbuang untuk mengurusi perempuan culas yang selalu mengajaknya ribut sejak mereka masih satu sekolah.


Pingkan adalah murid satu angkatan Aleandro yang masuk dalam klub penggemar Steven. Para fans club Steven ini selalu menjadikan Kirana target kekesalan mereka karena merasa diabaikan oleh Steven yang selalu memperhatikan Kirana.


 


“Rupanya kamu masih suka bermulut manis,” sindir Pingkan dengan senyuman sinis.


 


“Maaf saya tidak sempat mendengarkan curahan hati Kak Pingkan sekarang, mungkin kapan-kapan kalau ada waktu kita bisa janjian,” sahut Kirana dengan nada sopan dan senyuman tipis.


 


“Masih suka mengejar-ngejar pria-pria yang lebih tua,” ejeknya tanpa mempedulikan Kirana yang terlihat terburu-buru.


 


“Saya rasa bagaimana hidup saya, bukan urusan kakak,” sahut Kirana dengan wajah agak sinis.


 


“Sepertinya hidupmu lebih baik sekarang,” Pingkan menelisik penampilan Kirana mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, tidak luput dari pengamatannya tas tangan yang dibawa oleh Kirana.


 


“Makanya kamu terlihat sombong,” desis Pingkan dengan nada mengejek.


 


“Bukankah bagus kalau saya bisa hidup lebih baik ?” sahut Kirana dengan nada mengejek. “Apa kakak merasa masih sama saja seperti saat sekolah ?”

__ADS_1


 


“Setidaknya aku bersyukur karena Steven tidak memilihmu tapi menjadikan Shera satu-satunya wanita yang mendapatkan diri Steven seutuhnya.”


 


“Maksud kakak ?” Kirana mengerutkan dahinya.


 


“Ya, supaya kamu tahu kalau Shera sekarang sudah menjadi bagian hidup Steven dan sebentar lagi mereka akan menikah. Kenapa ? Kamu iri ? Tentu saja kalau dibandingkan dengan dirimu, Steven akan lebih memilih Shera yang jauh lebih baik darimu dalam hal apapun.”


 


Pingkan yang tidak pernah lepas dari senyuman sinisnya memandang rendah ke arah Kirana yang sempat terdiam saja. Kirana sedang mencerna baik-baik perkataan Pingkan tentang hubungan Shera dengan Steven.


 


“Saya rasa Kak Pingkan sangat cocok jadi wartawan majalah gosip,” Kirana berujar sambil tertawa pelan. Meski tidak ada nada sinis dalam ucapannya , namun Pingkan merasa terpancing emosinya.


 


“Jadi kamu pikir aku ini biang gosip ? Tanyakan langsung pada Shera, seorang pengacara sukes keluarga Pratama,” sahut Pingkan dengan gaya arogan.


 


Hampir saja Kirana terbahak mendengar ucapan Pingkan yang jauh dari kebenaran. Apakah memang itu yang Shera katakan di luaran.


 


“Saya tidak terlalu mengenal Shera. Apa dia anak sekolah kita juga, Kak ?” tanya Kirana sambil memasang wajah polosnya. “Dan apa yang menyebabkan Kak Shera itu bisa memastikan kalau dia sudah menjadi bagian hidup Steven ?”


 


“Bahkan sekarang kamu tidak bisa menunjukkan kesombonganmu Kirana Gunawan,” ejek Pingkan, “Tentu saja Shera anak sekolah kita dan sekarang sudah berhasil menjadi seorang pengacara kondang. Dia sendiri yang bilang pada kami kalau Steven dan dirinya sudah mengikat satu sama lain dan sebentar lagi akan meresmikannya dalam pernikahan.”


 


 


“Aku akan pastikan Shera mengundangmu datang untuk menyaksikan kebahagiaan Steven yang sesungguhnya, dan sudah pasti kalau itu bukan dirimu,” ujar Pingkan dengan nada sombong. Tangannya mencekal lengan Kirana dan wajahnya mendekat ke arah Kirana.


 


“Dan saya akan memastikan akan datang kalau memang Steven memang mengundang saya,” sahut Kirana dengan senyumannya.


 


“Sekarang tolong lepaskan tangan kakak dari lengan saya. Saya harus menemui orang penting di sini,” ujar Kirana sambil melirik ke tangan Pingkan yang berada di lengannya.


 


“Lalu bagaimana caranya mereka mengundangmu kalau tidak tahu keberadaanmu ?” tanya Pingkan sambil menautkan alisnya.


 


“Steven dan Aleandro punya nomor handphone saya. Kapan pun Kak Shera akan mengundang ke pernikahannya dengan Steven, saya pastikan akan datang.”


 


Kirana sedikit kasar mengibaskan tangan  Pingkan dan meninggalkan perempuan itu tanpa menunggu jawaban atau perkataan lain keluar dari mulut Pingkan.


 


Sepanjang perjalanan menuju restoran, otak Kirana langsung bekerja memikirkan ucapan Pingkan. Kenapa tidak ada nama Sebastian disebut dalam kalimat Pingkan ? Hanya nama Steven dan Steven ? Bukankah acara pernikahan Sebastian dan Shera digelar secara besar-besaran dan mewah ? Tapi mengapa tidak sekalipun Pingkan menyebut Shera sebagai wanita hebat yang sudah bisa mendapatkan dua pewaris keluarga Pratama ? Apa tidak ada satupun teman SMA Shera yang diundang dalam pesta pernikahannya dengan Sebastian ?


 


Sampai di restoran, seorang pelayan yang menyapa Kirana dan langsung mengantarnya ke meja mommy Amelia saat Kirana menyebutkan kalau ia sudah ditunggu oleh mommy-nya.

__ADS_1


 


Kirana pun diperkenalkan dengan tiga orang perwakilan dari wedding organizer yang dipilih oleh mommy Amelia. Awalnya Sebastian ingin menggunakan WO yang sama dengan pernikahannya dengan Shera, namun dengan tegas mommy Amelia menolaknya dan mencarikan WO lainnya yang cukup populer.


 


Perbincangan membahas seputar pesta pernikahan yang diinginkan oleh Kirana dan Sebastian berlangsung hingga jam setengah enam sore. Membaca penawaran biaya yang diajukan oleh pihak WO membuat Kirana bukan hanya berdecak tapi juga sedikit pusing. Maklum baginya, biaya sebesar itu bisa  dipergunakan untuk banyak hal termasuk membayar sebagian biaya kuliah Kendra.


 


Tapi tidak mungkin juga mengadakan pesta sederhana untuk keluarga Richard Pratama yang akhirnya akan menikahkan putra tunggal mereka dalam satu perhelatan besar dan meriah.


 


Kirana lebih banyak diam karena masih memikirkan ucapan Pingkan, sementara mommy Amelia yang memperhatikannya sejak tadi, berpikir kalau sikap Kirana dikarenakan rasa rindunya pada Sebastian.  Memang sewajarnya kalau urusan dengan WO ditangani langsung oleh calon mempelai, namun kondisi Sebastian sangat tidak memungkinkan untuk saat ini.


 


“Kamu tidak apa-apa, Kiran ?” tanya mommy Amelia saat mereka sudah berada dalam mobil menuju rumah keluarga Sebastian.


 


“Tidak apa-apa, Mom. Hanya memikirkan sedikit pekerjaan yang belum selesai hari ini,” jawab Kirana berbohong.


 


Tidak mungkin menceritakan masalah yang didengarnya pada mommy Amelia. Kirana khawatir kalau mommy Amelia akan mengambil tindakan tegas kembali, sementara ia sendiri seperti sedang bermain puzzle. Potongan-potongan yang didapatnya akan membentuk seperti apa gambar yang sebenarnya.


 


“jangan terlalu memkirkan pekerjaan sendirian. Minta bantuan pada Echi atau Marsha, kamu kan juga belum lama bekerja di perusahaan,” ujar mommy Amelia sambil menepuk bahu Kirana. Gadis itu pun tersenyum pada mami mertuanya.


 


“Iya Mom, selama ini Echi dan Marsha memang sangat membantu, lagipula masih ada Amir yang mengambil alih beberapa tanggungjawab yang  dipegang Dion.”


 


“Kalau memang terlalu membuatmu pusing, jangan sungkan untuk berbicara dan diskusi dengan daddy. Sejak pertunangan kamu dengan Sebastian,  kamu sudah kami anggap sebagai anak sendiri.”


 


“Terima kasih, Mom,” Kirana kembali tersenyum pada mommy Amelia.


 


Sampai di rumah keluarga Sebastian, Kirana diminta untuk makan malam dulu dengan daddy Richard dan mommy Amelia. Mereka sempat mengobrol mengenai persiapan pernikahan dan beberapa hal lainnya, namun baik daddy Richard maupun Kirana tidak menyinggung apapun soal pekerjaan.


 


Jam 8 Kirana pamit pulang diantar oleh Pak Tomo. Pikirannya kembali mengingat ucapan Pingkan.


 


Apakah maksud perkataan Shera yang mengatakan kalau ia adalah satu-satunya wanita yang mendapatkan diri Steven seutuhnya ? Apa mungkin… ?


 


Dahi Kirana berkerut dan pikirannya langsung tertuju pada Raven. Apa mungkin kalau Raven adalah anak dari Shera dan Steven ? Mengingat namanya, Kirana mengambil kesimpulan kalau nama yang tidak biasa itu merupakan singkatan dari SheRA dan SteVEN.


 


Lalu kenapa Steven tidak mengetahui kalau Shera hamil olehnya ? Apa Steven tidak pernah merasa kalau mereka telah melakukan hubungan suami istri yang membuat Shera sampai hamil ? Lalu kenapa Shera tidak menuntut Steven bertanggungjawab malah menikahi Sebastian dan berusaha memasang jebakan agar anak yang dikandungnya justru diakui sebagai anak Sebastian ?


 


Kirana semakin pusing memikirkannya, namun dia juga bahagia karena menemukan sedikit titik terang mengenai ayah biologis  dari  Raven. Tinggal membuktikannya dengan tes DNA, namun Kirana sadar kalau bukanlah hal yang mudah meminta Steven melakukan tes DNA dengan Raven.


 

__ADS_1


 


__ADS_2