
Steven bergegas menuju lantai 3 dimana ruangan papa Raymond berada. Hasil tes DNA sudah ada di tangannya. Kalau menuruti pengakuan Shera, maka hasil tes DNA yang masih tersegel rapi ini sudah pasti akan meuliskan kata COCOK.
Steven sempat merngernyit karena tidak mendapati Edi di mejanya. Steven melirik jam tangannya, belum waktunya jam makan siang. Belum sempat menemukan jawaban dimana Edi, Steven melihat ruangan papa Raymond agak terbuka dan terdengar ada perbincangan dari dalam. Semula Steven berpikir kalau pasti Edi yang berada di dalam ruangan papa Raymond, tapi semakin dekat, yang terdengar adalah suara wanita dan sepertinya cukup familiar di telinga Steven.
Steven mengernyit saat melihat Auntie Amelia sedang duduk di depan meja kerja papa Raymond. Ia urung masuk, hanya berdiri di pintu sambil mendengarkan percakapan yang terdengar serius.
“Sebentar lagi Kirana akan resmi menyandang sebagai istri Sebastian. Tolong bilang pada Rosa agar jangan lagi mengusik menantu kami itu,” ujar Auntie Amelia dengan tegas.
“Jangan samakan Kirana dengan dirinya tigapuluh tahun yang lalu. Kirana tidak bertindak sebagai penggoda Sebastian apalagi penggoda anakmu. Bahkan sejak lama anakmu yang terus memaksakan cintanya pada Kirana. Sama dengan Rosa, sukanya memaksakan cinta pada orang lain,” sindir Auntie Amelia sambil berdecih sinis.
“Aku pastikan kalau Rosa tidak akan mengganggu menantumu lagi,” sahut papa Raymond sambil tersenyum.
“Dan tolong jaga baik-baik kelakuan calon menantumu juga !”
“Menantuku ? Shera maksudmu ? Bagaimana bisa diakui sebagai menantu karena hasil tes DNA saja baru keluar hari ini,” sahut papa Raymond sambil mengernyit.
Auntie Amelia menatap papa Raymond sambil tersenyum sinis.
“Shera sudah mengakui kalau ia telah membuat Steven menidurinya sampai hamil. Bukankah kejadiannya sama persis dengan kelakuan istrimu ? Hanya saja sekarang korbannya adalah anak kalian sendiri. Seperti de javu dan kali ini Rosa akan merasakan lebih hancur lagi karena anak kandungnya yang dibuat seperti dirimu. Aku kasihan dengan Steven. Bukan sekedar jadi korban ambisi Shera tapi juga sikap congkak mamanya sendiri. Kalau saja Rosa tidak terlalu membenci Kirana, mungkin keadaan bisa berbeda. Tapi siapa peduli ? Aku sangat bersyukur kalau akhirnya Kirana malah berjodoh dengan Sebastian.”
“Apa kamu mendengar sendiri pengakuan Shera ?” Tanya papa Raymond sambil menggerakan pena di tangannya.
“Tidak,” auntie Amelia menggeleng. “Tapi Sebastian dan Kirana mendengarnya langsung saat mereka bertemu berempat. Dan dua hari lalu, Shera kembali menjebak Steven tetapi dengan Kirana sebagai target korbannya. Namun lagi-lagi Tuhan selalu melindungi orang-orang baik seperti Kirana. Aku berhasil mengetahuinya dan mencegah semua itu terjadi.”
Papa Raymond mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat beban kesedihan terpancar di matanya.
“Bukan tidak mungkin kalau kamu akan segera mendapat cucu lagi,” auntie Amelia tertawa sambil beranjak dari kursinya. Papa Raymond hanya membalasnya dengan getir.
“Aku harap Rosa akan sadar melihat kekecewaan Steven dengan kenyataan hidupnya. Dan jangan lupa, aturlah istrimu untuk tidak mencampuri urusan orang lain lagi. Aku sudah merelakan kelakuannya padaku. Lagipula aku bersyukur karena pada akhirnya aku menikahi Richard. Dia bukan hanya adik yang baik untukmu, tapi suami yang luar biasa. Cintanya tidak akan pernah membuat mulutku berhenti bersyukur. Dan mungkin saatnya aku berterima kasih pada kalian yang telah mengkhianatiku. Karena perbuatan kalian, aku justru diberikan ganti seorang pria yang luar biasa. Aku pamit dulu Ray. Jangan lupa ingatkan Rosa untuk berhenti menjadikan Steven korban sifatnya.”
Auntie Amelia tersenyum sambil menganggukan kepala sekilas dan berjalan keluar ruangan papa Raymond. Sampai di pintu, ia berpapasan dengan Steven yang berdiri terpaku sambil memegang amplop.
“Apa kabar Steven ?” sapa auntie Amelia dengan senyuman ramah.
__ADS_1
“Ngg…. Baik Auntie,” sahut Steven terbata. “Apa….”
“Bicarakanlah langsung dengan papamu. Bukan hak auntie untuk menceritakannya padamu,” ujar aunite Amelia yang melihat wajah penuh tanda tanya Steven.
“Auntie permisi dulu karena masih harus mengurus acara Sebastian dan Kirana. Semoga semuanya bisa teratasi dengan baik,” auntie Amelia menepuk-nepuk bahu Steven sebelum berlalu.
Steven masih terpaku sampai akhirnya ia menghela nafas panjang dan memutuskan untuk bicara langsung dengan papa Raymond.
“Pa,” sapa Steven menatap papanya yang terlihat sedang melamun. “Hasil tes DNA sudah keluar, tapi aku belum membukanya.”
“Kenapa ? Kamu takut kalau hasilnya ternyata benar Raven itu anakmu ?” tanya papa Raymond sambil tersenyum terpaksa.
Hatinya merasa tercubit saat mendengar ucapan auntie Amelia beberapa saat yang lalu. Dipandanginya Steven yang duduk di kursi depan meja kerjanya.
“Apa maksud ucapan auntie Amelia, pa ?”
“Kamu mendengarnya ?” tanya papa Raymond sambil tersenyum getir.
“Apa papa dan auntie Amelia….” Steven tidak sanggup melanjutkan ucapannya, hanya memandang wajah papa Raymond yang terlihat penuh beban
“Mungkin sudah saatnya kamu mendengarkan cerita yang sebetulnya ingin papa simpan sebagai catatan masa lalu yang menyakitkan. Tapi seperti kata auntie-mu tadi, melihat perbuatan Shera padamu, papa seperti kembali ke masa lalu, pada hidup papa sendiri.”
Papa Raymond menarik nafas berat dan mengambil gelas dan meneguknya sebelum memulai ceritanya pada Steven.
“Apa benar hasil tes menunjukkan kalau kamu adalah ayah biologisnya Raven ?”
Steven menggeleng, lalu merobek amplop yang berisi hasil tes DNA. Ia menghela nafas sebelum membuka lembaran yang terlipat. Dan benar sesuai pengakuan Shera, kalau hasil akhir tes DNA menyatakan 99,9% COCOK.
Papa Raymond tidak perlu menegaskan apa yang tertulis dalam laporan hasil tes itu, karena raut wajah Steven sudah menjawab semuanya.
“Papa juga pernah ada di posisimu, Steve, hanya bedanya papa tidak bisa melakukan tes DNA karena janin yang ada di dalam kandungan mamamu meninggal sebelum lahir. Pada masa itu, belum ada teknologi yang bisa melakukan tes DNA pada janin yang masih ada dalam kandungan,” papa Raymond kembali menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Apakah aku juga bukan anak papa ?” tanya Steven dengan wajah cemas. Papa Raymond tersenyum sambil menggeleng.
“Auntie Amelia adalah kekasih papa yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit ini pada awalnya. Seperti yang kamu tahu bagaimana oma sangat ketat mengatur orang-orang yang pantas atau tidak bergaul dengan kita, terlebih lagi masalah perjodohan. Hubungan kami berdua tidak direstui. Lalu datanglah mamamu sebagai anak pengusaha kenalan opa yang secara terang-terangan minta dijodohkan dengan papa. Tapi seberapapun mama berusaha menarik perhatian papa, hati papa sudah terlanjur mencintai auntie Amelia. Sampai akhirnya mamamu melakukan hal nekat dalam hidupnya. Ia datang ke rumah saat opa dan oma sedang tidak ada dan papa sedang libur hari itu. Tanpa papa ketahui, mamamu memasukkan obat ke dalam makanan atau minuman papa siang itu, sampai akhirnya terjadi hubungan yang tidak seharusnya. Namun dengan sengaja, diam-diam mamamu mengatur dengan staf rumah sakit dan menyuruh auntie Amelia datang ke rumah oma siang itu juga. Bukan hanya auntie Amelia, mama juga mengatur agar oma dan opa pulang dan menyaksikan kejadian itu.” Papa Raymond menjeda sejenak sambil meneguk air minumnya lagi.
“Pintu kamar sengaja tidak dikunci dan mama sengaja mengeluarkan suara-suara yang menarik perhatian. Auntie Amelia sampai lebih dulu dari opa dan oma. Atas perintah mama, pembantu membawanya langsung naik ke kamar papa. Mungkin karena mendengar suara-suara yang tidak wajar itu, Auntie langsung membuka kamar dan menyaksikan kejadian siang itu. Tidak lama oma dan opa yang baru saja pulang langsung naik ke atas saat mendengar teriakan auntie. Akhirnya papa dipaksa menikah dengan mama oleh opa dan oma karena dianggap telah menodai mamamu dengan paksa.”
“Lalu kenapa papa merasa perlu melakukan tes DNA pada janin yang ada di dalam kandungan mama ?” tanya Steven sambil menautkan kedua alisnya.
“Belum lama kami menikah, mama dinyatakan hamil. Saat itu papa masih menjalankan masa internship. Namun yang membuat papa terkejut adalah laporan hasil pemeriksaan kehamilan mamamu. Ternyata usia kandungannya melebihi perhitungan hubungan kami berdua. Papa yang saat itu belum bisa mengontrol emosi, menanyakan langsung pada mama di depan kedua orangtua kami. Mama sempat panik dan memberi jawaban yang berbelit-belit. Entah apa yang membuat opa dan omamu lebih percaya dengan ucapan menantunya, malah dokter obgyn di menangani mama diberhentikan dari rumah sakit dan langsung pindah bekerja di luar Jakarta. Sejak saat itu pula papa membangun dinding pemisah dengan mama. Apalagi saat memghadapi kenyataan kalau akhirnya auntie Amelia menikah dengan uncle Richard. Papa semakin terpuruk. Uncle Richard dengan berani menentang penolakan opa dan oma dan memilih keluar dari perusahaan Hotel Pratama yang memang diwariskan untuknya. Uncle Richard mendirikan MegaCyber atas usahanya sendiri, bukan karena warisan opa seperti yang kalian dengar selama ini. Papa kagum akan keberanian adik papa itu. Meskipun rasanya sakit menyaksikan pernikahan auntie dan uncle-mu, tapi papa juga bersyukur kalau akhirnya auntie mendapatkan suami sebaik uncle Richard.”
“Lalu bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan mama, Pa ? Berarti dia kakakku ?”
“Karena panik melihat sikap papa yang semakin acuh pada mama dan berniat ingin melakukan tes DNA saat anak itu lahir, akhirnya mama nekat melakukan banyak cara untuk menghindari hal itu terjadi. Di usia kandungan yang kelima, janin itu harus dikeluarkan karena meninggal di dalam kandungan. Oma tidak mengijinkan papa untuk melakukan tes DNA pada janin yang akhirnya dikeluarkan dengan paksa itu. Hubungan papa dan mama semakin renggang, bahkan kami sempat tinggal terpisah. Hati papa benar-benar hancur karena merasa telah dibohongi oleh mamamu. Papa pun akhirnya memilih meninggalkan rumah sakit milik opa dan mencari pekerjaan di luar rumah sakit ini setelah menyelesaikan masa internship. Lalu tanpa sengaja, papa dipertemukan kembali dengan auntie Amelia yang sedang menunggu uncle Richard untuk memeriksakan kandungan mereka. Sedih rasanya harus menerima kenyataan seperti itu, tapi papa merasa perasaan auntie Amelia lebih hancur lagi saat melihat papa sedang meniduri mamamu.”
“Lalu aku sendiri benar anak kandung papa ? Atau anak orang lain ?” wajah Steven kembali cemas.
“Tentu saja kamu anak kandung papa,” sahut papa Raymond dengan senyum bahagia. “Papa butuh waktu untuk menerima semua perbuatan mama dalam hidup papa. Dan atas nasehat auntie Amelia dan dukungan uncle Richard, akhirnya papa berusaha dengan lapang dada menerima kenyataan hidup papa sendiri. Lalu akhirnya mama hamil dari benih papa sendiri dan lahirlah kamu Steven.”
“Terima kasih karena sudah menjadi seorang papa yang baik untukku biarpun mama sudah sangat menyakiti papa,” ujar Steven sambil tersenyum.
“Maafkan aku, Pa. Maaf karena harus mengulang kejadian yang papa alami di masa lalu. Maaf karena aku tidak akan pernah bisa setegar dan sebaik papa yang mau menerima kembali mama dengan lapang dada. Aku akan mengesahkan Raven secara hukum sebagai anak kandungku, tapi aku sudah bersumpah tidak akan mengakui Shera sebagai istriku sekalipun harus menikah dengannya demi menjaga nama baik keluarga.”
Tatapan Steven yang penuh kekecewaan sekaligus kemaran membuat papa Raymond hanya bisa menarik nafas panjang dan memberi waktu sejenak untuk putranya menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan impiannya.
Papa Raymond sangat-sangat mengerti akan perasaan putranya saat ini dan ia akan mendukung apapun keputusan yang Steven ambil. Papa Raymond tidak ingin putranya memiliki perasaan menyesal yang seringkali masih suka singgah di hatinya. Menyesal dan berharap waktu bisa diulang kembali.
“Lakukanlah apa yang baik menurutmu, Steven. Papa akan selalu mendukungmu,” ujar Papa Raymond sambil tersenyum arif.
“Terima kasih, Pa,” Steven pun tersenyum dan merasa agak lega karena papa Raymond tidak bertindak keras seperti perkiraan Steven.
__ADS_1