Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bumil yang Berubah-ubah


__ADS_3

Kirana menggeliat di atas tempat tidur. Cahaya matahari yang mengintip dari balik tirai kamar apartemen membuat matanya mengerjap, menyadari kalau malam sudah berlalu.


 


Kirana agak kaget ketika mendapati Sebastian sedang menatapnya dengan senyuman. Wajah suaminya ditopang dengan sebelah tangan dan badannya miring ke arah Kirana.


 


“Pagi Honey, senang akhirnya bisa melihatmu tidur tenang,” ujar Sebastian sambil merapikan rambut Kirana yang tergerai di wajahnya.


 


Kirana menarik selimut hingga batas atas bibirnya dan kembali mengerjap untuk  menyempurnakan pandangan matanya. Tidak lama dirasakan bibir Sebastian sudah menyentuh keningnya dan menciumnya cukup lama.


 


“Gimana kabar babies pagi ini ?” Sebastian menyentuh bagian perut Kirana yang masih ditutup selimut.


 


“Apa aku membuatmu tidak bisa tidur semalaman ?” tanya Kirana pelan.


 


“Boleh peluk ?” Sebastian tidak menjawab pertanyaan Kirana malah merebahkan kepalanya di atas bantal dengan tubuh tetap miring ke arah Kirana.


 


Meski Kirana belum lupa dengan masalah Renata, tapi kepalanya tidak bisa diajak kompromi untuk menggeleng. Kirana malah mengangguk dan menurunkan selimutnya yang tadi menutupi sampai dekat hidung.


 


Sebastian tersenyum dan langsung menggeser posisi badannya mendekati Kirana. Tangannya dijadikan bantalan kepala Kirana dan tangan lainnya memeluk tubuh istrinya yang masih terlihat mungil.


 


“Maafkan aku sampai membuatmu tidak bisa tidur tenang semalam,” Sebastian memeluk Kirana dengan erat. “Jangan kamu pendam perasaan kesalmu, aku tidak masalah kalau memang kamu ingin memakiku.”


 


Kirana hanya diam, tangannya tidak membalas pelukan Sebastian, hanya menempel di dada suaminya itu. Kirana baru sadar ternyata Sebastian tidur tanpa memakai kaos.


 


“Kamu kok nggak pakai baju ? “ tanya Kirana sambil merenggangkan sedikit pelukan Sebastian.


 


‘Semalam tidurmu sangat gelisah. Apa mimpi buruk mengganggumu ? Jadi aku memutuskan untuk memelukmu tanpa baiu, biar kamu lebih tenang karena langsung menempel dengan kulitku dan mencium aroma tubuhku,” ujar Sebastian sambil mengusap wajah istrinya.


“Memangnya aku bayi yang perlu dipeluk skin to skin saat sedang tidak nyaman ?” gerutu Kirana sementara Sebastian hanya tertawa pelan.


“Tanpa membuka kaosmu, aku tetap bisa mencium harum tubuhmu,” Kirana masih menggerutu.


“Tapi terbukti Honey, begitu aku melepas kaos sambil memeukmu, tidurmu lebih tenang dan wajahmu langsung menempel di dadaku,” aahut Sebastian sambil terkekeh.


 


Kirana menghela nafas, ia memundurkan badannya untuk merenggakan pelukan Sebastian, lalu perlahan bergerak hendak bangun.


 


“Mau kemana ?” Sebastian menahan lengannya.


 


“Mau ke kamar mandi dulu, sekalian sikat gigi. Nggak enak ngobrol belum sikat gigi dan minum air putih.”


 


Sebastian hanya tertawa dan melepaskan tangan Kirana yang masih berwajah sendu. Sekitar sepuluh menit Kirana keluar dari kamar mandi, Sebastian tampak baru masuk kembali ke kamar dengan segelas susu.


 


“Minumlah,” Sebastian menghampiri Kirana yang di tepi ranjang.


 


“Ini susu apa ?” Kirana menerima gelas berisi susu cokelat yang disodorkan oleh suaminya.


 


“Susu khusus untuk ibu hamil. Aku membelinya sendiri kemarin dalam perjalanan dari kantor ke rumah sakit.”


 


Kirana hanya mengerjapkan matanya dan meneguk perlahan susu hangat yang sudah disediakan oleh suaminya. Rasanya tidak seenak susu cokelat yang biasa Kirana pesan di café, tapi ia tahu kalau semua ini demi kebaikan janin yang ada dalam kandungannya.


 


Sebastian mengambil tisu dan menghapus sisa susu cokelat yang menempel di sekitar bibir Kirana lalu ganti memberi istrinya segelas air putih.


 


Selesai semuanya, Sebastian langsung mengangkat Kirana dan memindahkannya ke atas pangkuannya di pinggir ranjang.


 


“Apa Renata menyakitimu ?” tanya Sebastian sambil merangkul pinggang Kirana sementara sebelah tangan Kirana mengalung di leher Sebastian.


 


“Apa dia anaknya Tante Miranda ?” tanya Kirana dengan suara pelan.


 


“Ya, Renata adalah kakak dari Reina dan keduanya adalah anak Tante Miranda.”


 


“Dan kamu pernah bertunangan dengan Renata atau Reina ?”

__ADS_1


 


Kirana mengerutkan dahinya saat melihat Sebastian menggeleng tanpa merasa ragu.


 


“Tidak pernah ada permintaan apapun dariku untuk menjadikan salah satu dari mereka sebagai istriku. Apa yang kamu lihat di foto itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Kedua kakak beradik itu sama-sama wanita ambisius seperti mamanya.”


 


Kirana masih merangkul leher Sebastian dengan sebelah tangannya dan menatap suaminya, menunggu kelanjutan cerita dari pria itu.


 


“Boleh ceritanya di meja makan ? Aku lapar banget. Baru ingat kalau semalam aku melewati makan malam karena terlalu sedih melihat istriku yang sedang bad mood.”


 


Kirana mengangguk dan membiarkan Sebastian menggendongnya ke arah dapur merangkap ruang makan.


 


Apartemen yang mereka tempati bukanlah apartemen besar sampai dua lantai. Sebastian memang berencana mengajak Kirana menempati rumah yang sedang dipersiapkannya. Sebelumnya Sebastian sudah memiliki rumah yang akan ditempatinya dengan Shera saat mereka menikah, tapi akhirnya rumah itu dijual karena Sebastian tidak ingin Kirana hidup dalam bayangan Shera dan dihina kembali oleh mantannya karena design dan perabot rumah itu dipilih langsung oleh Shera.


 


“Mau roti  atau nasi goreng lagi ?” tanya Sebastian setelah mendudukan istrinya di kursi meja makan.


 


“Mau bubur kacang hijau yang ada dekat kantor. Biasa aku suka beli sebelum masuk kerja.”


 


“Oke, kalau begitu nanti mau ikut aku ke kantor ? Aku sarapan dulu, nanti kita siap-siap berangkat ke kantor. Tapi apa kamu tidak lapar ?”


 


Kirana hanya menggeleng dan mulai tersenyum tipis. Entah mengapa suasana hatinya sedikit lebih baik karena tetap diperlakukan penuh cinta oleh Sebastian.


 


Kirana beranjak bangun dan menyiapkan kopi untuk Sebastian seperti rutinitasnya setiap hari saat mereka sarapan.


 


“Biar aku buat sendiri pagi ini, Honey,” Sebastian mendekat saat melihat istrinya mulai mempersiapkan cangkir dan kopi untuknya.


 


“Tidak apa-apa. Aku hanya hamil bukan sakit parah,” ujar Kirana dan tangannya tetap bekerja mempersiapkan kopi untuk Sebastian.


 


“I love you. Always,” Sebastian memeluknya dari belakang dan menyenderkan kepalanya di bahu Kirana yang tingginya hanya sebatas bahunya. Tidak lupa ia memberikan ciuman di pipi Kirana.


 


 


Tapi pagi ini Kirana hanya tersenyum tipis. Meski begitu, Sebastian masih bersyukur karena Kirana tidak menolak dipeluk dan dicium olehnya.


 


Kirana kembali menopang wajah dengan kedua tangannya sambil menatap Sebastian yang sedang menikmati sarapannya. Mengerti akan makna tatapan istrinya, Sebastian meletakan cangkir kopi setelah meneguknya sedikit.


 


“Renata adalah adik kelas sejak SMP sampai SMA. Aku sendiri tidak mengingat kapan pertama kali kami mulai terlibat dalam pembicaraan karena pada dasarnya aku bukanlah orang yang mudah bergaul. Kalau soal banyak yang mendekati jangan ditanya,” Sebastian  menaik turunkan alisnya sambil senyum-senyum.


 


Wajah Kirana langsung cemberut sambil mencibir ke arah Sebastian membuat pria itu tertawa.


 


“Itu sebabnya aku sengaja memakai kacamata supaya terlihat culun, seperti yang pernah kamu lihat saat aku sedang di rumah tante Rosa.”


 


“Terus bagaimana caranya Renata bisa sampai menyusulmu ke Amerika ?”


 


“Mau cerita yang detail atau langsung sudah di Amerika,” goda Sebastian yang kembali direspons oleh Kirana dengan cibiran. “Lebih baik aku ceritakan detailnya dari sisiiku, jadi kalau kamu sampai ketemu dengan tante Miranda lagi, setidaknya kamu sudah pernah mendengarnya versi aku.”


 


Kirana meraih gelas air putih yang ada di depan Sebastian dan meneguknya. Sebastian ingin tertawa melihat ekspresi Kirana yang saat ini terlihat sedang cemburu, bukan karena perasaan galau karena kehamilannya.


 


“Rupanya Renata menggunakan segala cara untuk mendapatkan kesempatan dekat denganku. Dan ujung-ujungnya tante Miranda menemui mommy untuk memintaku mengajarkan Renata bidang studi IPA. Aku sempat menolak dan menyuruhnya untuk mengambil les privat. Uang bukan masalah untuk mereka, jadi aku yakin Renata bisa mendapatkan guru privat terbaik sekalipun harus membayar mahal.”


 


Sebastian menggeser piring rotinya yang sudah kosong, begitu juga dengan cangkir kopinya yang masih ada sisa setengah.


 


“Kenapa kopinya nggak habis ? Buatan aku nggak seenak buatan Renata ?” omel Kirana dengan nada sinis. Sebastian bukannya kesal malah beranjak bangun dan mendekati istrinya. Tanpa permisi, ia langsung menggendong Kirana dan membawanya ke dalam kamar.


 


“Ceritanya belum selesai,” protes Kirana namun tidak memberontak dalam pelukan Sebastian.


 


Kalau sedang dalam mode jutek seperti ini, Sebastian melihat sisi lain Kirana yang manja dan menggemaskan.


 

__ADS_1


“Nanti setelah memandikan istriku yang lagi bad mood ini,” sahut Sebastian dengan senyuman smirknya.


 


“Eh siapa yang minta dimandiin. Aku nggak mau. Masih bisa mandi  sendiri,”


 


“Tapi akunya mau,” sahut Sebastian dengan wajah tanpa penolakan.


 


“Kalau kamu yang mandiin, pasti nggak bisa sebentar. Belum lagi ada tambahan lainnya,” gerutu Kirana.


 


“Tambahan apa ?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum menggoda.


 


“Aku lagi hamil muda, belum boleh…”


 


“Siapa yang bilang ?” Sebastian mendekatkan wajahnya. “Kemarin aku sempat tanya sama tante Wanda. Boleh-boleh saja selama kamu tidak ada gangguan dan dilakukan dengan pelan. Kalau semua suami harus puasa selama istrinya hamil sampai masa nifas berakhir, bisa-bisa para suami kehilangan gairah atau jajan di luar.”


 


“Jadi sudah ada niat jajan di luar ?” mata Kirana langsung melotot.


 


“Nggak ada. Yang di rumah lebih menggoda,” sahut Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya.


 


Didudukannya Kirana di atas meja wastafel, lalu Sebastian mengambilkan sikat gigi untuk Kirana.


 


“Aku sudah sikat gigi. Kamu lupa ? Atau nafasku seperti orang belum sikat gigi berhari-hari ?” wajah Kirana langsung cemberut dengan bibir mengerucut.


 


“Lupa Honey. Kamu nggak sikat gigi pagi juga masih wangi, kecuali memang berhari-hari nggak sikat gigi. Itu jorok namanya,” Sebastian mencubit pelan kedua pipi Kirana.


 


“Terus kamu jadi kasih les sama Renata ?’ tiba-tiba Kirana menanyakan kembali soal Renata karena cerita Sebastian belum selesai.


 


“Sekali-sekali saja. Awalnya saat Renata akan menghadapi ulangan, lama-lama PR pun dibuat alasan untuk datang ke rumah dan minta diajari. Aku sampai ngumpet dan nggak mau turun. Pernah suatu hari mommy lagi nggak ada di rumah dan pembantu sudah bilang kalau aku sedang keluar. Tahu-tahu dia melewati pembantu dan lari ke kamarku. Untung saja kamar aku kunci dan tidak ada musik yang kupasang seperti biasanya. Gilanya dia menunggu di depan kamarku sampai 2 jam, dan akhirnya pulang setelah mommy kembali dan menyuruhnya pulang.”


 


Kirana melipat kedua tangannya di depan dada dan memperhatikan Sebasatian yang beralih menyikat giginya. Sebetulnya hatinya tidak benar-benar kesal pada Sebastian, karena ia sadar kalau pria seperti suaminya ini sering menjadi incaran para wanita.


 


Sebastian memang tampan, meski bukan orang yang ramah, tapi juga bukan pria yang kejam Sebastian cenderung pasif dan tidak mudah bergaul terutama dengan para wanita. Sikapnya itulah yang sepertinya justru menjadi pesona tersendiri dan menggoda para wanita untuk menundukannya. Belum lagi statusnya sebagai pewaris tunggal sebuah perusahaan multinasional dan keluarga Pratama  termasuk dalam jajaran orang terkaya.


 


Kirana sendiri langsung terpesona saat pertama kali bertemu dengan Sebastian saat menjadi sekretaris pengganti Mbak Widya. Meski belum langsung jatuh cinta, tapi daya tarik Sebastian memang sulit membuat mata ini berpaling dan seolah-olah tidak melihat kehadirannya.


 


Setelah pacaran ternyata Kirana mendapatkan kalau Sebastian adalah sosok yang hangat dan penuh perhatian. Bahkan sikap kakunya tidak lagi terlihat saat mereka sudah berdua.Cenderung posesif, entah karena pengalaman buruknya dengan Shera atau memang sudah pembawaannya.


 


“Sudah selesai terpesona sama suaminya ?” Sebastian berdiri  sambil mengukung Kirana yang masih duduk di atas meja wastafel.


 


“Kamu benar-benar nggak ada hubungan apa-apa sama Renata atau Reina, kan ?”


 


Sebastian mengangguk dan membentuk huruf V dengan jarinya.


 


“Aku masih mau dengar cerita lanjutannya dan nggak boleh ada yang ditutupi. Kalau sampai ada versi lain yang bisa dibuktikan oleh ulet keket itu, bukan hanya puasa sampai aku melahirkan, tapi tidak boleh dekat-dekat denganku dan babies.”


 


“Honey, jangan kasih aku hukuman begitu, dong. Bisa-bisa milikku turun mesin karena nggak pernah dikasih pelumas,” ujar Sebastian sambil memasang wajah sedih.


 


“Tinggal kamu bawa ke bengkel resmi  dan minta ganti parts yang original. Jangan beli yang KW supaya mesinnya bsia lancar lagi,” sahut Kirana sambil mencibir.


 


“Kamu kira milkku mesin mobil ?” sahut Sebastian sambil tergelak.


 


“Tadi kan kamu bilang perlu pelumas, jadinya…”


 


Kirana tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Sebastian langsung ******* bibir Kirana dengan lembut namun susah ditolak.


 


Sekarang mood Kirana berubah lagi. Ia merasa ikut bergairah dengan sentuhan Sebastian yang memang selalu bisa memanjakannya. Kirana mengalungkan kedua tangannya di leher Sebastian dan mengabaikan hatinya yang sempat menolak saat Sebastian membawanya ke dalam kamar mandi.


 

__ADS_1


__ADS_2