
Atas seijin Sebastian, Kirana bertemu dengan Aleandro di salah satu café hari Minggu sore. Sebastian yang mengantarnya sendiri, tapi rencananya ia langsung pergi lagi menemani daddy Richard menemui salah satu rekan bisnis dari Jepang yang akan kembali Senin pagi setelah kunjungan 3 hari di Jakarta.
Mobil Sebastian sudah berhenti di dekat parkiran depan café yang dimaksud oleh Aleandro sekitar jam 6 sore.
“Awas sampai CLBK sama Aleandro, ya !” ancam Sebastian sebelum Kirana turun dari mobil.
“CLBK darimana ? Jatuh cinta pertamanya sama cowok ganteng di bawah pohon mangga, bukan cowok-cowok populer di sekolah,” Kirana mengerucutkan bibirnya.
Sebastian tertawa dan langsung mencium bibir Kirana sambil memegang tengkuknya. Keduanya sempat hanyut dalam ciuman panjang yang penuh cinta.
“Jangan tebar pesona !” pesan Sebastian sambil mengusap bibir Kirana yang basah.
“Iya…iya.. Sebastian sayang. Punya satu calon suami yang selalu jadi incaran banyak wanita aja sudah bikin pusing dan hidup kayak sakit jantung. Lagipula cintanya udah nggak ada sisa untuk dibagi-bagi,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Dasar tukang gombal amatir,” Sebastian mencubit sebelah pipi Kirana.
“Jangan lupa nanti jemput, ya,” pinta Kirana saat ia sudah turun dari mobil dan melongok lewat jendela samping penumpang.
“Memangnya kamu maunya diantar Aleandro ?” tanya Sebastian dengan wajah galak.
“Kalau calon suamiku nggak jemput, tawaran baik dari orang lain nggak boleh ditolak,” sahut Kirana sambil tertawa.
“Awas kalau berani coba-coba !” ancam Sebastian. Kirana hanya tertawa dan melambaikan tangan, memberi isyarat supaya Sebastian melanjutkan perjalanannya, tapi Sebastian malah menyuruh Kirana masuk ke dalam café terlebih dahulu.
Setelah dilihatnya calon istrinya sudah aman di dalam café, Sebastian baru membawa mobilnya meninggalkan parkiran.
Aleandro datang 15 menit kemudian. Kirana melambaikan tangannya pada Aleandro yang baru saja terlihat di pintu café.
“Maaf aku terlambat,” ujarnya sambil menarik kursi di seberang Kirana.
“No probs Al, aku juga baru 15 menit yang lalu diantar Sebastian.”
“Nggak sangka juga kalau calon suamimu itu mengijinkan kamu bertemu denganku,” Aleandro tertawa pelan.
“Sebastian memang cukup pengertian, kok. Kecuali pada Steven dan Shera,” sahut Kirana sambil terkekeh.
Aleandro pun memesan minuman dan cemilan untuk teman ngobrolnya bersama Kirana, sementara Kirana sendiri sudah memesan strawberry smoothies kesukaannya.
“Memangnya kenapa dengan Steven dan Shera ?”
“Al, sebetulnya aku sedikit malu membicarakan orang lain padamu, apalagi setelah sekian lama kita tidak bertemu dan keduanya sama-sama teman SMA kamu. Tapi mengingat Shera terlibat dalam proyek pekerjaan kalian, aku berharap kamu bisa membantuku.”
__ADS_1
“Ki, obrolan kita sekarang bukan untuk menjatuhkan teman-teman sendiri. Kalau memang kita dapat saling membantu untuk mencegah mereka melakukan tindakan buruk, tidak ada salahnya kita berbagi cerita. Apalagi saat makan malam itu, aku melihat sisi lain Shera yang tidak pernah aku duga sebelumnya.”
Kirana mengangguk dan menghela nafas. Tangannya meraih gelas smoothies dan membiarkan pelayan meletakkan pesanan Aleandro di meja.
“Ki” panggil Aleandro setelah meneguk sedikit coffe lattenya. “Apakah Shera bertemu dengan Sebastian karena Steven ?”
“Bukan,” Kirana menggeleng. “Menurut Sebastian, mereka berkenalan pertama kali di acara perkenalan Sebastian sebagai penerus di MegaCyber. Papanya Shera adalah salah satu orang kepercayaan di MegaCyber yang tergabung di divisi hukum.”
Aleandro mengangguk-anggukan kepalanya.
“Karena setahu aku Shera sudah lama menyukai Steven, tidak lama setelah dia masuk SMA sebagai anak pindahan. Tapi sejauh yang aku tahu kalau Steven justru menyukaimu, Ki.”
“Aku saja baru tahu dari Sebastian kalau Shera satu SMA dengan kalian. Seingatku, Steven tidak pernah memperkenalkan Shera sebagai teman mainnya. Malah ia lebih dekat denganmu, adik kelasnya.”
“Itu yang membuat aku sedikit terkejut saat mendengar kalau Shera adalah mantan istri Sebastian dan sekarang Sebastian adalah calon suamimu.”
Kirana pun menceritakan secara singkat mengenai pernikahan Sebastian dan Shera yang berlangsung tidak sampai 24 jam dan alasan yang membuat Sebastian memutuskan untuk membatalkan pernikahannya.
“Lalu kamu sendiri bagaimana bisa bertemu dan kenal dengan Sebastian ?”
“Aku bekerja sebagai sekretaris Sebastian. Itu pun aku masuk ke MegaCyber atas referensi sekretaris sebelumnya yang pindah keluar kota. Mbak Wid, mantan sekretaris Sebastian, adalah tetanggaku.”
“Beberapa kali saja, Al. Bukan karena Sebastian melarangku, tapi karena Steven meminta aku meninggalkan Sebastian dan menjadi kekasihnya bahkan istrinya. Dan aku tidak suka dengan perbuatannya. Aku mencintai Sebastian bukan karena melarikan diri darinya.”
Aleandro tergelak. “Cintanya padamu tidak pernah berubah, Ki.”
“Bukan cinta namanya, Al,” sahut Kirana dengan wajah cemberut. “Tapi obsesi. Sudah aku katakan berkali-kali kalau sejak dulu sampai sekarang aku hanya menganggapnya sahabat, sama seperti kepadamu Al.”
“Kata pepatah, seorang pria memang susah melupakan cinta pertamanya,” ujar Aleandro sambil terkekeh. Kirana membalas dengan cibiran, lalu ia kembali meneguk smootihiesnya,
“Lalu kenapa sekarang Shera berbuat seperti itu padamu ? Bukankah sudah 2 tahun ini dia benar-benar pergi dari kehidupan Sebastian ?”
“Aku juga tidak tahu, Al. Beberapa hari yang lalu, ia meminta aku melepaskan Sebastian karena ia ingin kembali padanya. Memulai semuanya dari awal dan membesarkan Raven, anak Shera, bersama dengan Sebastian.”
“Dasar gila,” omel Aleandro sambil tertawa. “Mana mungkin juga pria seperti Sebastian mau kembali dibodohi oleh wanita seperti Shera. Apalagi calon istrinya yang sekarang lebih muda dan masih gadis pula.” Aleandro mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa .
“Dasar pria mesum, maunya dapat yang masih segelan terus. Padahal sendiri sudah diobral,” cebik Kirana tapi tidak menghentikan tawa Aleandro.
“Memangnya kamu tahu darimana kalau aku pria mesum ? Kamu stalking aku ya, Ki ?” Aleandro memajukan sedikit wajahnya menatap Kirana sambil senyum-senyum.
__ADS_1
“Hadeuh Bang Ge-er, nggak ada untungnya juga stalking seorang Aleandro. Anda terlalu pe-de, Tuan,” sahut Kirana sambil mencibir.
“Kamu harus baik-baik padaku, Ki, biar bisa menjadi penjaga yang baik untuk suamimu,” ledek Aleandro sambil tertawa.
“Kamu sendiri kenapa pilih Shera jadi tangan kananmu ?” Kirana menatap Aleandro dengan wajah serius. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi, menyeruput kopinya sedikit dan meletakkan kembali gelasnya,
“Shera itu adalah salah satu orang kepercayaan papa. Aku sendiri sempat terkejut saat bertemunya kembali. Dalam ingatanku, Shera adalah idola sekolah saat baru masuk SMA sebagai anak pindahan di kelas 11. Tapi sepertinya semua harus mundur karena Shera terang-terangan menunjukkan kalau ia menyukai Steven, anak pemilik sekolah.”
“Aku bahkan tidak mengenalnya,” sahut Kirana sambil terkekeh.
“Itu karena kamu masih kecil,” ledek Aleandro. “Dan terlalu tomboi untuk mengerti bagaimana perasaan yang jatuh cinta.”
“Sok dewasa,” Kirana mencebik.
“Tapi jujur, aku kurang menyukai Shera karena sifatnya sedikit sombong dan over percaya diri dengan fisiknya. Untungnya Steven juga tidak terlalu mempedulikannya, jadi buatku Shera bukan apa-apa.”
Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Kirana bercerita sedikit tentang apa yang sudah Shera lakukan untuk merusak hubungannya dengan Sebastian. Kirana pun bicara terus terang mengenai kekhawatiran dirinya tentang niat-niat lain Shera yang tidak bisa terbaca olehnya saat ini
“Ki, saat ini mungkin aku partner kerja Sebastian, tapi di luar itu aku adalah sahabatmu. Nggak bakal aku lupain omelan seorang Kirana yang justru bisa membuka mata dan pikiran saat aku menjadi manusia yang suka menindas orang lain. Aku pasti akan membantumu masalah Shera, apalagi di satu sisi dia adalah karyawan di perusahaan papa.”
“Thankyou Al, senang rasanya bertemu dengan orang yang mengerti bagaimana Shera sesungguhnya. Semoga dia nggak sampai bertindak lebih jauh lagi.”
“Siap-siap minta Sebastian kasih bonus buat perusahaan Alexander, Ki,” ujar Aleandro sambil tertawa.
Keduanya pun melanjutkan obrolan lain seputar kesibukan mereka selepas Aleandro lulus SMA dan Kirana masih menyelesaikan sekolah. Kirana pun sempat bercerita sedikit tentang perbuatan adik Tante Rosa yang menyebabkan mamanya berhenti menjadi guru, saat Aleandro menanyakan perihal mama Lia yang sempat mengajarnya saat masih di SD.
Jam 8.45 Sebastian mengirim pesan pada Kirana kalau ia akan dijemput oleh Pak Tomo, karena setelah makan malam, Sebastian dan daddy Richard masih lanjut mengobrol di hotel tempat tamu itu menginap.
Aleandro sempat menggoda Kirana yang ternyata dijaga ketat oleh Sebastian, padahal ia tidak keberatan jika harus mengantar Kirana pulang.
“Jangan sampai proyek kalian dibatalkan,” ujar Kirana saat ia sudah duduk di dalam mobil dan diantar Aleandro sampai ke parkiran. Keduanya tertawa bersama.
“Thankyou sudah meluangkan waktumu malam ini. Tidur yang tenang, jangan terbebani masalah Shera,” ujar Aleandro dari luar mobil.
“Terima kasih juga traktirannya Tuan Aleandro,” sahut Kirana sambil memberikan jempolnya.
Keduanya melambaikan tangan dan Aleandro menunggu sampai mobil yang dibawa Pak Tomo meninggalkan parkiran café.
Ia menghela nafas panjang. Ternyata pengalaman hidup tidak membuat Shera berubah, masih seperti dulu. Semua keinginannya harus terpenuhi, entah bagaimana caranya, dan kalau perlu menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya.
__ADS_1
Aleandro berjalan ke arah mobilnya dan berharap Kirana akan mendapatkan kebahagiaannya bersama Sebastian.