Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Tentang Renata dan Reina


__ADS_3

Kirana lebih dulu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan hati yang lebih tenang karena Sebastian sudah menceritakan perihal tante Miranda dan kedua anaknya.


Kirana yang sudah selesai berpakaian menunggu suaminya di sofa depan TV. Ia bersandar pada sofa dan mengingat kembali percakapannya dengan Sebastian saat di kamar mandi.


 


Sebastian sangat memanjakannya. Sambil berendam di bathup dengan air hangat dan busa sabun yang wangi, Sebastian bercerita sambil memberikan pijatan untuk membuat tubuh Kirana lebih rileks.


 


“Mommy melihat kalau Renata punya maksud yang tidak baik saat menemuinya sedang menungguku di depan kamar. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap mommy terhadap perempuan yang terlalu agresif seperti itu. Akhirnya mommy malah membantuku membatasi kedatangan Renata ke rumah. Di sekolah pun sebisa mungkin aku menghindari Renata. Sampai akhirnya saat Reina kelas 8, Renata kelas 10 dan aku sendiri kelas 11, kami bertemu dalam satu acara ulangtahun sekolah. Reina ternyata lebih gila lagi dari kakaknya. Dia memaksa tante Miranda untuk menjauhkan Renata dariku sampai akhirnya terjadi pertengkaran antar mereka sendiri. Saat aku hampir lulus dari kelas 12, tanpa sungkan tante Miranda dan om Toni, suaminya, datang menemui mommy dan daddy untuk menyampaikan niat mereka menjodohkan Reina denganku. Renata harus mengalah dari adiknya yang dianggap lebih berprestasi dan mampu membawa nama baik keluarga. Tanpa basa basi mommy dan daddy menolaknya, apalagi mommy. Reina sempat mengancam akan bunuh diri kalau aku tidak mau menerimanya menjadi calon istri. Tapi mommy dan daddy tidak gentar. Mommy malah menemui Reina dan akan membawanya ke psikiater dan kalau perlu dirawat di rumah sakit khusus dengan biaya yang akan ditanggung oleh mommy dan daddy. Mommy bilang itu semua demi kebaikan Reina sendiri agar gadis itu mampu menyadari kalau perasaannya padaku bukan cinta tapi lebih kepada rasa iri dan obsesi ingin memiliki apa yang Renata suka. Tante Miranda dan om Toni sempat marah besar karena menganggap mommy dan daddy telah menuduh anak mereka gila. Tapi mommy dan daddy bergeming dengan keputusan mereka dan sepertinya daddy langsung menarik sahamnya di perusahaan om Toni, hingga akhirnya mereka memilih mundur dan meminta kedua putri mereka menjauhiku.


Setahun setelah aku kuliah di Amerika, Renata yang saat itu baru saja lulus SMA nekat datang menemuiku di sana. Aku sendiri tidak tahu bagaimana ia tahu alamat apartemenku. Padahal aku baru saja pindah karena saat tahun pertama aku memilih tinggal di dorm*.Sepertinya selama setahun itu Renata tetap mencari tahu banyak hal tentang aku.”


 


“Pantas saja tante Miranda terlihat begitu tidak menyukai aku saat pertama kali kami bertemu di acara arisan mommy. Apa kamu mengijinkan Renata masuk ke apartemenmu ?” Kirana menjeda cerita Sebastian.


 


“Tentu saja tidak aku ijinkan. Sekalipun Renata datang dengan membawa koper, aku menemuinya di luar apartemen. Pikiranku masih waras dan tidak akan melupakan kenekatan kedua anak tante Miranda yang akan melakukan apapun demi mendapatkan keingingan mereka. Aku menghubungi Luki, teman satu kampusku yang berasal dari Indonesia juga. Luki mengajak kekasihnya yang bernama Helena datang menjemput Renata dan aku minta tolong pada mereka untuk mencarikan hotel untuk Renata. Ternyata gadis gila itu datang dengan uang yang minim dan tiket pun sekali jalan. Aku langsung menghubungi daddy setelah Luki dan Helena membawa pergi Renata yang akhirnya diajak tinggal di  apartemen mereka untuk sementara waktu. Aku menceritakan semuanya pada daddy yang langsung meminta tolong pada kenalannya untuk membantu mengurus kepulangan Renata. Hanya tiga hari Renata di sana dan tidak sekalipun tinggal dalam satu atap denganku. Kejadian foto itu diambil saat aku menemuinya dan menjelaskan semua yang sudah disiapkan daddy untuk membawanya pulang ke Indoensia. Aku tidak sendirian malam itu, ada Luki dan Helena juga di sana. Rupanya ia sudah meminta pelayan untuk bersiap-siap mengambil foto kami saat aku sendiri sedang sibuk berbincang dengan uncle Smith yang mengurus kepulangan Renata. Masalah cincin itu, aku tidak memasangkan untuknya, melainkan membantunya melepaskan cincin yang ternyata terlalu pas di jarinya. Saat aku sedang fokus melepaskan cincinnya, Renata memanggilku dan otomatis aku mendongak, dan ternyata ia sudah bersiap untuk menciumku. Jadi yang terlihat adalah aku sudah memasangkan cincin karena sedang memegang jemarinya lalu mencium Renata.”


 


“Jadi perempuan yang memberikanmu ciuman pertama adalah Renata ?” tanya Kirana dengan nada cemburu. Posisi tubuhnya yang berada di depan Sebastian membuat Kirana tidak bisa melihat suaminya yang senyum-senyum karena merasa senang melihat wajah istrinya yang cemberut karena cemburu.


 


“Bukan Renata,” sahut Sebastian sambil senyum-senyum.


 


“Lalu siapa ?” Kirana menegakan duduknya dan berbalik menghadap Sebastian hingga sebagian air dalam bathup meluber keluar.


 


“Namanya Cicilia, itu pun juga karena gadis itu sengaja memancing aku hingga tidak sengaja bibir kami bertemu. Saat itu aku masih kelas 10.”


 


Bibir Kirana mengerucut dengan wajah cemberut membuat Sebastian akhirnya tertawa.


 


“Berapa banyak perempuan yang pernah mencium bibirmu dan jatuh dalam pelukanmu ? Aku yakin kamu juga senang karena dimanfaatkan oleh para penggemarmu itu.”


 


Sebastian tertawa dan menegakkan juga posisinya hingga berhadapan dengan Kirana yang masih menekuk wajahnya.


 


“Jumlahnya tidak sampai lima jari,” sahut Sebastian terkekeh. “Tapi yang pasti Kirana Gunawan lah pertama dan satu-satunya perempuan yang memiliki tubuhku.”


 


“Bohong !” Kirana mencebik. “Mana bisa aku membuktikan kalau kamu masih perjaka atau tidak ? Tidak seperti perempuan yang bisa dibuktikan soal perawan atau tidaknya, memangnya dengan cara apa laki-laki bisa dibuktikan apakah dia masih perjaka atau tidak.”


 


Kirana hendak berbalik badan lagi tapi Sebastian menahannya bahkan membawanya mendekat dan kembali ******* bibir istrinya dengan lembut.


 


“Aku akan jadi pria impoten kalau sampai berbohong masalah itu padamu,” ujar Sebastian perlahan setelah melepaskan ciumannya.


 


“Bee !” mata Kirana langsung membelalak dan tangannya memukul bahu suaminya. “Jangan bicara sembarangan.”


 


“Aku berani bilang begitu karena aku tidak membohongimu,” ujar Sebastian dengan wajah serius.


“Jangan bicara seperti itu lagi, karena kata orang ucapan adalah doa. Aku percaya padamu, Bee,” ujar Kirana sambil menggeleng dan dahi yang berkerut.

__ADS_1


 


“Jangan pernah meragukan cintaku padamu, Kirana. Aku tidak pernah berpikir mencari istri yang menjadi gambaran ideal banyak orang tapi aku menginginkan wanita yang luar biasa hanya di mataku. Aku pria yang posesif dan pencemburu, Honey. Kalau aku lebih memilih wanita cantik yang menjadi idola banyak orang, sudah pasti aku menderita. Memangnya kebahagiaan hati diukur dari berapa banyak fans yang dimiliki oleh pasangan hidup kita ?”


 


“Jangan lupa ucapanku padamu, Bee. Selama kamu bisa menjaga hati dan tidak mengkhianati aku, selama itu pula aku akan berdiri di sampingmu dalam keadaan apapun,” ujar Kirana dengan tatapan sendu.


 


“Akan kucatat dalam hati dan pikiranku setiap hari, Honey.”


 


Sebastian kembali memberikan ciuman hangat untuk istrinya yang membalasnya dengan penuh semangat, namun tidak lama Sebastian melepaskan ciumannya dengan alis menaut.


 


“Sepertinya babies di dalam perutmu sudah teriak kelaparan,” ujar Sebastian tertawa pelan saat mendengar bunyi dari perut Kirana.


 


“Iya sepertinya begitu. Apalagi mereka sudah mendengar penjelasan papi-nya tentang para ulet keket yang sukanya menempel pada papi mereka.”


 


Sebastian tertawa dan ikut memegang jemari Kirana yang sedang mengelus perutnya.


 


“Kamu tetap di sini dulu sampai aku selesai mengeringkan air yang tumpah. Aku tidak ingin kamu terpeleset. Setelahnya aku akan membantumu membilas tubuhmu.”


 


Kirana mengangguk dan menoleh ke arah lain dengan wajah merona. Meski bukan yang pertama kali, Kirana masih merasa malu menatap suaminya tanpa busana.


 


Sebastian yang sudah selesai mengeringkan lantai tertawa pelan melihat istrinya menoleh ke arah lain dengan wajah memerah. Ia mengulurkan tangan dan membantu Kirana berjalan menuju shower tanpa niat menggodanya. Sebastian tidak ingin membuat suasana hati Kirana yang sedang naik turun itu jadi buruk kembali.


 


“Melamun apa ?’ tegur Sebastian saat melihat istrinya termenung di sofa ruang depan.


 


“Mau mengulang yang di kamar mandi ?” ledeknya sambil mengedipkan sebelah mata.


 


“Itu maunya kamu,” cebik Kirana. “Nggak kasihan babies udah kelaparan mau sarapan ?”


 


Sebastian tertawa dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Kirana bangun. Keduanya berjalan menuju lift meninggalkan apartemen.


 


“Mulai sekarang harus kuat hati dan tutup telinga kalau mendengar wanita-wanita yang mengaku pernah punya hubungan denganku,” ujar Sebastian saat keduanya menunggu kedatangan lift.


 


“Apa masih ada ulet keket yang lain ?” mata Kirana menyipit menatap Sebastian.


 


“Ada satu lagi ulat yang akan mengganggu kita di kantor, dan ia masih saudara sepupu Aleandro. Namanya Deana. Mungkin kamu bisa bicara dengan Aleandro untuk menghalau Deana jauh-jauh dari kita. Apalagi wanita itu menggunakan Tuan Alexander untuk memaksa menjalin kerjasama dengan MegaCyber.”


 


Kirana menautkan dahinya. Pikirannya langsung bekerja mengolah ucapan Sebastian. Kirana sempat menghela nafas beberapa kali. Entah berapa banyak lagi orang-orang yang akan mengganggu ketentraman hidupnya dengan Sebastian.


 


Keduanya memasuki lift yang ternyata kosong. Belum sampai turun 3 lantai, kepala Sebastian mendadak kembali pusing dan perutnya terasa mual. Perlahan tubuh Sebastian bersandar pada dinding lift dan melorot sampai posisi berjongkok.

__ADS_1


 


‘Bee !” wajah Kirana langsung panik saat mendapati suaminya meremas rambutnya dengan kedua tangannya dan wajah meringis.


 


“Bee, kamu kenapa ? Apa pusingnya kambuh lagi ?”


 


Sebastian tidak menjawab hanya mengangguk. Kirana yang semakin panik tidak mampu menahan air matanya. Ia pun memeluk Sebastian sambil sesunggukan.


 


Sebastian yang mendengar tangisan Kirana menjadi tidak tega dan sekuat tenaga menahan pusingnya lalu memeluk tubuh istrinya. Keduanya saling bertatapan dan tangan Sebastian perlahan menghapus tetesan air mata yang membasahi pipi Kirana.


 


Entah siapa yang memulainya, keduanya menyatukan bibir dan begitu kehangatan menjalar di antara keduanya, mendadak pusing Sebastian hilang. Bibir keduanya masih saling menaut hingga lift berhenti di lantai dasar dan pintu terbuka secara otomatis.


 


“Pak Bas,” panggil Pak Tomo yang rupanya sudah menunggu majikannya di depan pintu lift.


 


Ciuman keduanya pun terlepas dan bergegas berdiri dari posisi mereka yang hampir duduk di dalam lift.


 


Sebastian menggandeng tangan Kirana yang tersipu malu karena tertangkap basah sedang berciuman dengan suaminya di dalam lift. Sebastian tertawa pelan mendapati istrinya menyembunyikan wajahnya di balik lengan kokoh suaminya.


 


“Jangan malu, Honey. Kita kan sudah suami istri, masih terhitung pengantin baru juga. Aku akan minta Dion supaya menghubungi pihak keamanan apartemen dan menghapus rekaman adegan mesra kita di lift tadi.”


 


Kirana hanya mengangguk dengan wajah masih memerah. Pak Tomo sendiri bersikap biasa saja meskipun ia menyaksikan kemesraan Kirana dan Sebastian.


 


Keduanya memasuki mobil yang akan mengantar mereka ke gedung MegaCyber.


 


“Masih mau bubur kacang hijau ?” tanya Sebastian saat mobil perlahan mulai meninggalkan lobby apartemen. Kirana menggeleng.


 


“Tapi kamu belum sarapan,  Honey.”


 


“Aku akan memikirkan lagi makanan apa yang ingin aku bagi dengan babies,” ujar Kirana pelan dengan wajah masih merona.


 


Sebastian kembali tertawa dan merangkul Kirana untuk dibawa ke dalam pelukannya.


 


“Jangan terlalu malu begitu, kamu kan bukan sedang selingkuh dengan suami orang. Lagipula biarkan Tomo terbiasa melihat kemesraan kita,” bisik Sebastian sambil mencium pelipis Kirana.


 


“Bee !” Kirana makin tersipu dan memukul pelan paha  suaminya. Sebastian hanya tergelak.


 


Istrinya ini benar-benar dalam mode mood swing, layaknya ibu hamil. Semalam begitu ketus dan enggan disentuh, tadi pagi masih kaku namun sudah mau disentuh dan sekarang malah terlihat manja dan menggemaskan.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2