Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Masa Lalu di Tengah Kebahagiaan


__ADS_3

Sebastian bergegas turun di lobby langsung menuju tempat praktek dokter Wanda di poli kebidanan


Kirana menolak pemeriksaan di ruang VVIP dengan alasan mood nya sedang jelek dan tidak ingin diperlakukan terlalu istimewa.


Sebastian bernafas lega saat melihat Kirana sedang tersenyum sambil berbincang dengan salah seorang ibu yang sudah hamil besar.


Perlahan ia duduk di samping Kirana dan tidak mau menganggu keasyikan istrinya yang sedang mengobrol.


Menyadari ada yang duduk di sampingnya, Kirana menoleh sekilas dan kembali menatap lawan bicaranya


“Perkenalkan ini suami saya, Mbak,” Kirana sedikit mundur agar ibu tadi bisa lebih mudah bertatapan dengan Sebastian.


“Bee, ini namanya Mbak Ira. Hamil anak kedua,” ujar Kirana seolah situasinya dengan Sebastian sedang baik-balik saja.


“Oh iya,” Sebastian mengangguk sekilas sambil tersenyum.


Tidak lama nama Kirana dipanggil. Ia sudah berpesan agar dipanggil dengan namanya sendiri, jangan menggunakan Nyonya Pratama. Kirana benar-benar tidak ingin mengundang perhatian dan diperlakukan terlalu istimewa.


Dokter Wanda ternyata adalah teman mommy Amelia dan sudah mengenal Sebastian sejak kecil.


“Wuuiihh ternyata bocahnya Amel sudah jago bikin bocah nih,” ledek dokter Wanda.


“Berkat bimbingan Tante,” sahut Sebastian sambil tertawa pelan.


“Sepertinya Nyonya Sebastiannya masih muda usianya,” dokter Wanda membuka data pribadi Kirana yang terekam dalam catatan pasien.


“Memang keren nih putranya Richard dan Amelia, langsung dapat lagi yang masih muda dan imut,” goda dokter Wanda sambil bangun dari kursinya.


Kirana sendiri sudah dibantu perawat yang ada di situ naik ke atas tempat tidur dan siap diperiksa oleh dokter Wanda.


“Apa tadi dokter Renata sudah sempat memeriksa ?” tanya dokter Wanda sambil mengoleskan gel pada transducer.


“Sudah dok,” sahut Kirana pelan.


“Hebat kamu, Bas. Sekali menembak langsung dapat dua,” dokter Wanda menunjuk dua titik kecil yang terihat di layar monitor.


“Kapan bisa tahu jenis kelaminnya, Tante ?” tanya Sebastian dengan wajah bahagia menatap ke arah monitor sambil menggenggam tangan Kirana.


“Masih cukup lama, Bas. Sabarlah sedikit. Lagipula kalian masih muda, tinggal produksi lagi kalau memang ingin lengkap laki perempuan,” ujar dokter Wanda meledek Sebastian yang langsung tertawa.


Kirana sendiri hanya tersenyum tipis. Mood nya sudah berantakan karena harus berdebat dengan para ulet bulu seperti Renata.


“Apa kamu mengalami morning sickness yang parah, sayang ?” tanya dokter Wanda sambil memberi isyarat pada perawat untuk membantu membersihkan sisa gel di perut Kirana


“Tidak dokter,” suara Kirana masih terdengar pelan meski bibirnya menyunggingkan senyuman.


Dokter Wanda mendongak menatap Sebastian dan Kirana yang sudah duduk di depannya. Dahinya sempat berkerut, menangkap ada sesuatu yang tidak beres di antara suami istri ini.


Biasanya pasangan baru yang pertama kali mengetahui kalau mereka akan menjadi orangtua pasti memasang wajah bahagia, tidak seperti pasangan di depannya, dimana istrinya juga berwajah sendu.


Memahami tatapan dokter Wanda yang penuh tanda tanya, Sebastian hanya tertawa pelan.

__ADS_1


“Tante Wanda, apa bisa kehamilan Kirana ditangani hanya oleh Tante sampai harinya nanti ?” tanya Sebastian seolah ingin menjawab tatapan penuh tanya dari dokter Wanda.


“Tentu saja Tante yang akan menanganinya langsung. Bisa-bisa Amelia mengomel panjang lebar kalau tante menolaknya,” ujar dokter Wanda sambil tertawa pelan.


“Kami belum memberitahu daddy dan mommy karena keduanya sedang berada di Singapura. Jadi tolong jangan bilang apa-apa dulu sama mommy. Rencananya malam ini kami akan video call dengan mereka, sekalian memberitahu juga orangtua Kirana.”


“Noted, Bas. Tante akan menutup mulut sampai Amelia yang menelepon dan berteriak kegirangan karena akhirnya akan menjadi oma juga. Apalagi kalau tahu langsung dapat dua sekaligus,” ujar dokter Wanda sambil tertawa pelan.


“Thankyou Tante,” sahut Sebastian.


“Dan kamu Kirana, karena ini kehamilan pertama dan usiamu masih cukup muda ditambah kehamilan kembar, harus lebih hati-hati dan jaga kesehatan. Terutama masalah pikiran. Terlalu stress mudah memancing kontraksi pada ibu-ibu hamil terutama di semester pertama.”


“Baik, Dok. Saya mengerti,” sahut Kirana halus sambil tersenyum.


“Panggil saya tante sama seperti Bastian memanggil juga tidak masalah. Dan sebaiknya kamu simpan nomor handphone Tante supaya bisa langsung tanya atau berkonsultasi kapanpun kamu memerlukannya. Selama tidak ada jadwal praktek atau proses kelahiran, tante pasti akan menjawab pertanyaanmu.”


Kirana mengeluarkan handphonenya dan mulai menuliskan nomor yang disebutkan oleh dokter Wanda. Setelah selesai, Kirana langsung melakukan panggilan telepon ke nomor dokter Wanda.


Selesai berkonsultasi, keduanya pun meninggalkan ruang praktek dokter Wanda. Meski Kirana tidak banyak bicara seperti biasanya, namun ia tidak menolak untuk digandeng oleh Sebastian.


Beberapa dokter yang mengenal Sebastian menganggukan kepala memberi hormat pada keponakan pemilik rumah sakit.


Sebastian menghela nafas menyadari kalau kondisi mereka tidak seharusnya seperti ini. Kabar gembira ini harusnya disambut dengan rasa bahagia dan hati yang berbunga-bunga.


“Mau makan apa ?” tanya Sebastian dengan hati-hati saat mereka sudah sampai di lobby.


“Aku mau pulang saja.”


”Tapi kamu harus makan, kan sudah ada tambahan…”


Sebastian kembali menghela nafas dan akhirnya mengalah dan meminta sopir mengantar mereka kembali ke apartemen.


“Nanti malam kita video call sama daddy, mommy, mama dan papa ya,” ujar Sebastian mencoba membuka percakapan di dalam mobil.


”Ya,” sahut Kirana dengan pandangan keluar jendela.


Akhirnya Sebastian memilih diam sampai mobil berhenti di lobby apartemen. Kirana sempat mengucapkan terima kasih pada Pak Tomo sebelum turun dari mobil.


Keduanya naik ke atas menuju unit mereka tanpa percakapan apapun. Bahkan Kirana juga memilih langsung masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Sebastian menghela nafas saat mencoba membuka pintu kamar mandi yang terkunci. Selama mereka tinggal di apartemen, hampir tidak pernah Kirana mengunci pintu kamar mandi.


Sebastian kembali dan duduk di pinggir ranjang. Bahkan pakaian ganti untuknya belum diisapkan oleh Kirana.


“Kamu mau pesan makan apa, Honey,” Sebastian yang sudah mengganti celana kerjanya dengan celana rumahan beranjak bangun dari tepi ranjang menghampiri Kirana yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Apa saja. Aku tidak ngidam apa-apa,” sahut Kirana menuju ke lemari, mengambilkan pakaian ganti untuk suaminya.


“Pesanlah makanan apapun yang kamu inginkan hari ini. Aku mandi dulu, ya,” Sebastian meraih pinggang Kirana dan mendekatkan wajahnya lalu sekilas mencium bibir Kirana sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak sampai tigapuluh menit Sebastian keluar kamar karena tidak mendapati istrinya di sana. Dilihatnya Kirana tertidur di sofa dengan handphone yang masih berada dalam genggamannya.

__ADS_1


Perlahan Sebastian mendekat dan berniat mengangkat tubuh istrinya untuk dipindahkan ke dalam kamar. Baru saja tangannya diselipkan di belakang leher Kirana, wanita itu menggeliat dan membuka matanya perlahan.


Sebastian langsung tersenyum, tangannya tetap mengangkat tubuh Kirana dan dipindahkan ke atas pangkuannya seperti biasa.


“Capek ya hari ini ?” Satu tangan Sebastian merapikan rambut yang terurai menutupi sebagian wajah Kirana.


Kirana hanya mengalungkan tangannya dan menyusupkan wajahnya di ceruk leher Sebastian.


“Bobo di kamar, ya ?” Bisik Sebastian. “Aku gendong.”


Kirana menggeleng dengan kepalanya masih di ceruk leher Sebastian membuat pria itu sedikit kegelian.


“Belum makan, kasihan kalau babies nanti kelaparan,” ujar Kirana pelan.


Sebastian tersenyum. Hatinya lebih tenang saat istrinya sekarang berubah menjadi seperti anak kecil yang manja.


“Kamu mau makan apa ?” tanya Sebastian sambil mengusap punggung Kirana.


“Mau masakan kamu,” sahut Kirana pelan.


Sebastian menautkan alisnya. Sejak mereka pacaran sampai menikah sepertinya Sebastian belum permah memasak untuk Kirana, dan kali ini tiba-tiba istrinya minta makanan hasil masakan Sebastian.


“Aku nggak bisa masak, bisanya menghabiskan masakan,” ujar Sebastian sambil terkekeh.


Kirana mengangkat wajahnya dan menatap Sebastian dengan kedua tangannya masih dikalungkan di leher suaminya.


Matanya mengerjap-ngerjap tanpa bicara tapi bisa membuat Sebastian tertawa dan menciumi wajah istrinya seperti biasa.


“Oke..oke… papi akan masak buat mami dan babies,”


Sebastian bangun sambil menggendong Kirana dan membawanya ke ruang makan yang menyatu dengan dapur.


“Mami duduk yang manis di sini, tunggu papi masak nasi goreng buat mami dan babies.”


Kirana tersenyum dan menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tatapannya tetap fokus pada Sebastian yang ternyata cukup trampil dalam masak memasak.


“Masakan spesial untuk wanita spesial. Ini adalah pertama kalinya aku memasak untuk seorang wanita. Sepertinya kurang meyakinkan, tapi semoga istri kesayanganku menyukainya.”


Sebastian menyodorkan sepiring nasi goreng yang baru matang di hadapan Kirana yang tersenyum.


“Memangnya ada berapa banyak wanita dalam hidup seorang Sebastian Pratama ?” tanya Kirana dengan tatapan menelisik.


Sebastian mengernyit, menatap Kirana dengan wajah tidak mengerti.


“Hanya Shera yang pernah menjadi mantanku dan semuanya sudah aku ceritakan padamu.”


“Lalu Renata dan adiknya Reina ? Apa kamu pernah mau membuat cerita hidup turun ranjang dengan kakak beradik itu ?” tanya Kirana sambil tersenyum tipis


“Mereka bukan siapa-siapa, Honey,” Sebastian mendekat dan berusaha memeluk istrinya namun Kirana menghindar.


“Lalu ini apa ?” Kirana mengambil handphonenya yang ada di atas meja dan memperlihatkan foto Renata dan Sebastian saat keduanya berada di Amerika.

__ADS_1


Sebastian menghela nafas. Ia bahkan tidak ingat kalau pernah berfoto dengan Renata saat gadis itu tiba-tiba datang dan berdiri di depan pintu apartemennya.


Sementara Kirana yang sejak sore terganggu dengan percakapannya dengan Renata merasa harus mencari kebenarannya dari Sebastian.


__ADS_2