Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 39 Pesan yang Menyakitkan


__ADS_3

Sebastian masih belum juga membalas pesan Kirana yang terakhir, meskipun sudah terbaca. Bahkan ucapan “I Love You, Honey” pun tidak pernah lagi diterima Kirana setiap bangun tidur.


Sudah lima hari sejak kejadian di mal itu, suasana hati Kirana tidak baik-baik saja. Selera makannya hilang dan niat kerjanya pun menurun. Selain kesepian di lantai 15 hanya sendirian, Kirana masih setia menunggu kabar dari Sebastian.


“Ki, makanan kok diaduk-aduk doang ?”


Marsha dan Echi yang sedang duduk menikmati makan siang bersama sudah sejak tadi memperhatikan tingkah Kirana yang baru 4 kali memasukan makanan ke dalam mulut.


“Kenyang, Mbak.”


“Jangan sampai loyo apalagi sakit. Kamu mau Pak Bas melihatmu tidak terawat selama ditinggal. Bisa iilfeel nanti kekasih gantengmu itu.” Ledek Echi sambil terkekeh.


“Iya Ki, jaga badanmu biar makin seksi dong. Kalau perlu weekend besok jadwal kita ke salon untuk perawatan,” timpal Marsha.


Akhirnya Kirana ikut tertawa dan perlahan menghabiskan makanannya.


Sampai di kantor, suasana kembali sepi memhuat hati Kirana mencelos. Bahkan Mansyur sementara dipindahkan ke lantai 16 karena Tuan Richard setiap hari datang ke kantor


Rasanya Kirana benar-benar memerlukan minimal suara Sebastian untuk saat ini. Bukan hanya karena rindu, tapi beberapa kali Steven menghubunginya entah lewat telepon atau pesan. Isinya tetap sama, Steven meminta kesempatan untuk menjadi kelasih Kirana. Dasar sinting ! Dipikirnya perasaan orang seperti makanan yang bisa dicoba-coba. Kalau tidak sesuai selera, tinggal ganti menu. Kirana berdecak kesal kalau ingat permintaan Steven.


Kirana melihat handphonenya yang sengaja berada dalam mode aktif karena tidak akan mengangganggu siapapun.


Matanya langsung terbelalak saat membuka kiriman foto dari nomor yang tidak dikenal. Hatinya langsung bertambah sakit. Apa mungkin Sebastian tidak lagi menganggapnya karena sudah ada yang lebih cantik di lokasi proyek. Apa lima hari terakhir memang Sebastian gunakan untuk wanita lain.


Dengan tangan gemetar, Kirana menyentuh foto yang terpampang di depannya supaya bisa fokus dan diperbesar.


Matanya tidak salah lihat kalau yang tertidur di sofa dengan bersandar pada bahu seorang wanita berkulit putih adalah Sebastian !


Kirana mencoba mencari celah untuk melihat wajah asli si perempuan. Bagian matanya sengaja dibuat garis hitam hingga Kirana tidak bisa melihat seperti apa wanita yang menjadi sandaran Sebastian.


Sekuat hati ia terus mencari tahu tentang foto itu apakah memang asli atau hasil editan. Kirana menggigit bibirnya sampai tidak sadar kalau bibirnya berdarah. Ia meringis dan mengambil tissue.


Hatinya juga amat sangat sakit meski tidak berdarah. Sebastian bukan hanya menyenderkan kepalanya, namun sebelah tangannya bertumpu di atas paha perempuan yang mengenakan rok di atas lutut itu.


Belum lagi blazer yang terlepas asal diduduki gadis itu dan 3 kancing kemejanya juga terlepas. Wajah gadis itu menempel pada kepala Sebastian yang bersender di bahunya.


Seluruh tubuhnya bergetar hebat hingga handphone nya terlepas dari genggaman. Kirana sudah memastikan kalau foto itu memang hasil jepretan bukan editan.


Ia mengambil air minum dan meneguknya sampai habis. Menarik nafas lalu membuangnya berkali-kali supaya hatinya bisa tenang, namun sebagian tubuhnya masih gemetar.


Kirana memejamkan mata sejenak dan meraih kembali handphonenya. Dicopy nya no pengirim dan sekali ia coba hubungi namun langsung tersambung dengan kotak suara.

__ADS_1


Otaknya sedikit mulai berpikir. Kirana mengirimkan pesan pada Dion, menanyakan apakah Dion mengenal nomor handphone yang baru saja mengirim foto yang menyakitkan itu.


Pesan terkirim untuk Dion namun hingga 10 menit tidak juga terbaca. Rasa sakit, penasaran, cemas, marah dan perasaan lainnya bercampur mengaduk-aduk hatinya dan memacu jantungnya berdetak lebih cepat.


Kirana memutuskan untuk menghubungi Dion langsung. Rasanya seluruh tubuhnya ingin meledak menahan emosi yang tidak mampu dihilangkannya.


Hingga akhirnya di panggilan ke-10, Dion yang sedang meeting dengan Sebastian dan kliennya beringsut keluar ruangan. Sebastian sempat melirik dan mengerutkan dahi melihat Dion bergegas keluar. Bukan kebiasaan asistennya keluar di tengah-tengah meeting kecuali panggilan telepon itu dari Daddry Richard.


“Ki, kami lagi meeting,” sahutan Dion terdengar pelan seperti berbisik. “Nanti aku..”


“Tolong jangan diputus, Yon. Penting banget !” kirana menjeda karena suaranya terbata habis menangis.


“Aku cuma mau minta tolong lihat pesan yang aku kirim dan balas secepatnya setelah kamu sempat.”


Kirana langsung menutup panggilannya tanpa menunggu Dion menjawab karena tidak ingin lebih lama mengganggu. Ia pun menarik nafas sedikit lega saat tanda centang di pesannya berubah menjadi warna biru.


Dion : sebentar aku periksa dan aku kasih kabar begitu dapat info.


Kirana : Thankyou Yon


Kirana akhirnya pergi ke toilet dan membasuh wJahnya. Jangan sampai ada yang melihatnya dalam kondisi seperti sekarang ini, terlebih Echi dan Marsha yang selama ini begitu memperhatikannya.


Baru saja Kirana kembali ke ruangan, kakinya baru memasuki pintu, deringan panggilan handphonenya berbunyi. Kirana justru berharap bukan Sebastian yang menghubunginya.


“Ki,” panggil Dion dan menunggu hingga gadis itu menjawab.


“Ya Dion.”


Kirana diam sejenak saat merasa suaranya masih terdengar sedikit sengau, layaknya orang habis menangis.


“Kamu balik-baik aja kan ?”


“Hmmm..”


“Ki, aku nanya kok cuma dijawab hmm doang !”


Kirana sengaja terbatuk dan merubah suaranya seolah memang ia sedang sakit batuk.


“Leher aku lagi nggak enak, Yon. Jawab aja wa-ku.”


Dion sempat terdiam dan Kirana pun menunggu kalimat Dion selanjutnya.

__ADS_1


“Aku nggak kenal, Ki. Nggak ada nomor itu dalam daftar panggilanku. Memangnya nomor itu menghubungi kamu ? Atau mengirim pesan aneh sama kamu ?”


Kirana kembali pura-pura terbatuk, lalu langsung menutup panggilan Dion. Kirana tahu kalau oembicaraan itu bukan hanya antara dirinya dengan Dion. Pasti Sebastian ada di situ dan ikut mendengarkan dengan memasang pengeras.


Kirana pun mulai mengetik di aplikasi pesan berwarna hijau di handphonenya.


Kirana. : Yon, wa aja ya, leher aku tambah gatal kalau kebanyakan bicara.


Dion : coba kamu kirim ke aku pesan yang dikirim sama nomor itu.


Kirana : nggak ada Yon. Tadi ada panggulan tidsk terjawab aja. Aku pikir itu nomor salah satu tim kalian. Takutnya penting. Ya udah, nggak apa-apa, thankyou ya Yon.


Dion : Nggak mau teleponan sama Pak Bas munpung agak senggang 😊


Kirana : No


Sesuai perkiraan Kirana kalau Sebastian ikut mendengarkan pembicaraannya dengan Dion. Tindakan Dion di ruang meeting menarik perhatiannya hingga Sebastian menanyakan panggilan siapa yang membuat Dion beranjak keluar.


“Ada apa dengan nomor yang ditanyakan Kirana, Yon ?” Sebastian yang duduk di sofa memijit pelipisnya.


Mendengar suara Kirana yang terbata sehabis menangis membuat Sebastian kalau kekasihnya sedang dalam masalah.


“Kirana tidak mau menjelaskan detailnya Pak, hanya menanyakan apakah saya kenal nomor panggilan yang dikirimnya. Saya sudah minta Aldo untuk mengecek, dan ternyata nomor itu sudah tidak aktif. Terdaftar atas nama Supiah, seorang nenek di Boyolali dan tidak mungkin nenek itu melakukan sesuatu yang membuat Kirana sekacau tadi.”


“Apa data dari handphone Kirana sudah coba ditarik ?”


Dion tersenyum, “Mana berani Aldo masuk ranah pribadi Kirana tanpa seijin Bapak. Lagipula bukannya Pak Bas sendiri yang memasang doubel proteksi di handphone Kirana. Aldo hanya bisa mngecek lokasi keberadaan handphone itu.”


Sebastian menarik nafas panjang dan menghelanya dengan kasar. Ia lupa kalau melarang para staf khusus di MegaCyber untuk mencoba membobol data miliknya, Daddy Richard, dan nama Kirana yang baru saja ditambahkan olehnya. Sebastian tidak mau para ahli itu menelusuri kehidupan pribadinya dengan Kirana.


“Lebih baik Pak Bas hubungi Kirana sekarang. Kirana pasti membutuhkan seseorang untuk mengeluarkan kegusaran hatinya. Jangan sampai…”


“Steven maksudmu !” Potong Sebastian dengan nada kesal. Rahangnya langsung mengeras menahan marah.


“Kirim orang untuk mengikuti Kirana tapi jangan sampai ia tahu. Dan urus tiket ke Jakarta secepatnya.”


“Apa saya ikut pulang juga, Pak ?”


“Kamu pikir saya anak kecil yang perlu ditemani naik pesawat hanya dari Pontianak ke Jakarta !” Mata Sebastian yang melotot tidak membuat Dion menciut.


Dion sudah biasa menghadapi sikap bossnya kalau sedang naik level emosinya.

__ADS_1


Meski di mulut berkata tidak perlu, Dion tetap memesan 2 tiket ke Jakart untuk Sebastian dan dirinya. Lebih pusing lagi kalau Sebastian menyuruhnya ini dan itu sementara posisi mereka terpisah jauh.


__ADS_2