Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 62 Melepas Rindu


__ADS_3

Kirana terlonjak kaget dan duduk di atas ranjang saat mendengar ketukan pintu kamar. Kepalanya langsung terasa pusing.


Diliriknya Sebastian masih tertidur di sampingnya. Kirana merasa malu karena tanpa sengaja tidur seranjang dengan Sebastian padahal mereka belum resmi menikah. Selain itu kejadiannya di rumah calon mertuanya pula.


Perlahan Kirana turun dari ranjang saat mendengar pintu kembali diketuk. Jalannya sedikit sempoyongan karena bangun tiba-tiba. Dilihatnya Bik Sum berdiri di depan kamar dengan satu kantong kertas di tangannya.


“Non, ini dari nyonya. Peralatan mandi dan pakaian ganti untuk Nona. Biasanya tuan dan nyonya sudah di meja makan jam setengah tujuh. Tapi nyonya pesan kalau makan malam hari ini baru jam tujuh.”


“Terima kasih, Bik,” Kirana menerima kantong yang diberikan oleh Bik Sum sambil tersenyum.


“Saya akan turun sebelum jam tujuh, Bik.”


Bik Sum mengangguk sambil tersenyum dan meniggalkan Kirana.


Kirana masih berdiri bersandar ke pintu sambil memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.


Sebastian yang sudah bangun melihat Kirana segera turun dari ranjang dan menghampirinya.


“Kenapa, Honey ?” Sebastisn menyentuh kedua bahu Kirsna.


“Agak pusing, tadi sedikit kaget waktu terbangun. Nggak apa-apa, sebentaran juga hilang.”


Sebastian langsung menggendong Kirana dan mambawanya ke sofa. Seperti biasa Kirana duduk di pangkuannya dan Kirana bersandar di bahu Sebastian sambil merangkul leher calon suaminya.


“Minum dulu,” Sebastian menyodorkan sebotol air mineral baru yang sudah dibukanya.


“Lain kali jangan langsung lompat saat bangun tidur. Tidak ada yang mengejarmu juga,” Sebastian tersenyum sambil menyentuh hidung Kirana.


“Aku ingat masih di kamarmu, Bee. Nggak enak malah ketiduran di sini.”


“Bukannya mommy memang menyuruhmu istirshat di kamarku ?”


“Kok kamu tahu ?” Kirana mengangkat kepalanya menatap Sebastian. Alisnya terangkat sebelah dan tangannya masih merangkul leher Sebastian.


“Semua ini ide mommy yang ingin memberi calon menantunya kejutan. Sengaja aku dilarang memberitahumu. Lagipula mana mungkin pelayan di sini terutama Bik Sum salah meletakkan barang mommy di kamarku,” ujar Sebastian sambil terkekeh.


“Iya juga, ya,” Kirana menggangguk-angguk lalu wajahnya berubah cemberut.


“Mommy pasti tahu betapa kesalnya aku sama calon suamiku ini yang hampir dua minggu tidak memberi kabar sama sekali.”


“Maaf soal itu. Aku memang belum terbiasa. Lupa kalau calon istri kecilku ini masih bocah manja yang sukanya diperhatikan,” Sebastian tertawa sambil mencubit satu pipi Kirana.


“Apa sikapku membuat kamu terganggu, Bee ?” tanya Kirana dengan wajah serius.


Sebastian mengangkat sebelah alisnya dan menggeleng.


“Justru aku senang diperlakukan seperti sekarang ini,” Sebastian mencium bibir Kirana sekilas. “Tapi memang sedikit merepotkan.”


Kirana memicing sambil mengerutkan dahinya.


“Repot soalnya kangen terus, kalau lagi kerja inginnya cepat-cepat pulang dan gangguin kamu.”

__ADS_1


“Iihh Bee, diajak ngomong serius,” gerutu Kirana.


“Aku juga serius, lagi kerja bisa tiba-tiba kangen kamu. Makanya sengaja aku nggak buka-buka handphone, semakin membaca pesan kamu apalagi dengar suara bawel kamu, konsentrasiku langsung hilang. Pengennya langsung pulang aja.”


Sebastian kembali menciumi pipi Kirana berkali-kali membuat gadis itu tertawa.


“Memangnya waktu dengan Shera, kamu nggak merasa begitu ?”


Sebastian mengernyit sambil tersenyum penuh misteri.


“Yakin mau dengar pengakuan aku ? Nanti malah cemburu,” ledeknya sambil mencubit hidung Kirana.


“Yakin ! Aku juga mau dengar gaya pacaran kamu sama Shera. Jangan sampai mantan istri kamu yang cerita, aku jamin pasti ditambahin bumbu-bumbu penyedap.”


”Memangnya masakan pakai bumbu penyedap ?” Sebastian terkekeh.


“Sudah aku pernah ceritakan padamu bagaimana kami bertemu. Saat itu adalah waktu aku dan Shera sama-sama merintis karir karena baru saja memulai pekerjaan kami. Aku dengan tugas sebagai penerusdaddy dan Shera memang berambisi untuk menjadi pengacara sukses. Setelah berpacaran, justru kami jarang bertemu bahkan jarang mengirimkan pesan sekedar memberi kabar atau menanyakan keadaan satu sama lain. Meski begitu, kami sama-sama sepakat wajib bertemu seminggu sekali, terutama di hari Minggu. Hanya di hari itu kami sama-sama tidak akan diganggu oleh pekerjaan.


Itulah sebabnya bersama denganmu, sering memberi kabar entah lewat pesan atau telepon, menjadi yang pertama bagiku. Perlu waktu untuk membiasakan diri.”


“Memangnya kamu nggak suka kangen sama Shera pas lagi kerja gitu, Bee ? Seperti yang kamu rasakan sama aku sekarang ini ?”


“Pernah, tapi nggak sering. Selain karena saat awal masuk di MegaCyber aku cukup disibukkan untuk belajar tentang bisnis, Shera sendiri jarang mengirimkan pesan untukku. Ia juga beralasan harus fokus dengan pekerjaan magangnya.”


Kirana tersenyum lebar lalu mencium pipi Sebastian.


“Mulai sekarang jangan suka mengabaikan pesanku, apalagi didiamkan berhari-hari. Lama-lama aku cari calon suami baru,” Kirana terkekeh.


“Mumpung masih belum resmi, dan statusku masih gadis ting ting,” Kirana tertawa menggoda Sebastian.


“Kalau begitu aku buat statusmu bukan gadis lagi, biar nggak sembarangan cari calon suami pengganti.”


Sebastian langsung mengangkat tubuh Kirana dan membawanya ke ranjang.


“Eh Bee mana ada begitu. Lepasin aku nggak ! Aku teriak nih biar mommy dan daddy datang kemari.”


“Teriak aja, kamarku sudah dipasang peredam, jadi nggak akan gampang mereka mendengar teriakanmu,” sahut Sebastian dengan seringai liciknya.


“Iya ampun, Bee,” Kirana melepaskan rangkulannya dan mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya. “Aku nggak akan coba-coba cari suami lain. Cintaku udah mentok sama Sebastian Pratama.”


Sebastian tidak menggubris ucapan Kirana. Direbahkan tubuh Kirana di atas ranjang dan langsung mengukungnya hingga Kirana merasa sedikit takut sambil memikirkan cara melepaskan diri


Sebastian tidak peduli dengan ekspresi Kirana dengan tatapan memohon. Ia mendekati wajah Kirana yang memejamkan mata sambil mengernyit.


“Tidak akan kulepaskan dirimu untuk siapapun. Kamu hanya milikku dan akan selalu jadi milikku.” bisik Sebastian di telinga Kirana dan digigitnya ujung telinga gadis itu. Kirana menggeliat kegelian.


Sebastian langsung mencium bibir Kirana begitu dalam dan penuh cinta. Kirana yang semula menahan dada Sebastian akhirnya melemah dan membiarkan Sebastian mengeksplor mulutnya.


Tidak lama Sebastian melepaskan ciumannya dan menatap Kirana dengan penuh cinta.


“Aku sudah tidak sabar untuk melakukan yang lebih dari ini denganmu, my Kirana.”

__ADS_1


Sebastian mengecup kening Kirana dan bangun dari atas tubuh gadis itu.


“Mandi duluan, sebentar lagi kita harus turun untuk makan malam.”


Kirana yang masih terkesima hanya menggangguk. Semakin lama, ciuman Sebastian membuatnya melayang dan sulit berkata-kata.


“Mau aku mandiin ?” Ledek Sebastian sambil mengerling.


“Ogah !” sahut Kirana sambil cepat-cepat masuk ke kamar mandi sambil membawa kantong kertas yang diberikan oleh Bik Sum. Sebastian tergelak melihat Kirana yang masih ketakutan.


Jam tujuh kurang limabelas menit, keduanya turun menuju ruang makan. Baik Kirana maupun Sebastian sudah mandi dan terlihat segar.


Keduanya tampak mesra dan banyak bercanda. Para pelayan ikut tersenyum melihatnya. Mereka senang karena Sebastian, putra majikan mereka sudah menemukan pengganti Shera yang menurut mereka lebih baik dari sisi kepribadiannya. Sebastian pun sekarang terlihat lebih bersemangat dan wajahnya lebih cerah, tidak terlalu serius bila di rumah.


Sebelum jam tujuh, daddy dan mommy sudah masuk ke ruang makan. Keduanya tersenyum saat melihat Sebastian sedang menjahili Kirana membuat gadis itu cemberut.


“Malam Mom, Dad,” Kirana buru-buru beranjak bangun dan membungkukkan badannya sedikit.


“Hei, jangan bersikap seperti kedatangan tamu di kantor. Kebiasaan !”omel Sebastian saat melihat sikap Kirana.


Gadis itu menoleh sambil mengernyit.


“Sapa mommy dan daddy tidak perlu seperti menyambut tamu di kantor,” ujar Sebastian.


Daddy Richard dan momny Amelia hanya tertawa melihat kebingungan Kirana. Tidak lama keempatnya duduk berhadapaan.


“Gimana sudah ketemu paket mommy di kamar Sebastian ?” Tanya mommy Amelia sambil mengerling, di saat mereka sudah mulai menyantap makan malam.


“Sudah Mom,” Kirana menjawab dengan sedikit tersipu. “Paketnya terlalu besar dan berat, Kiran nggak bisa bawa turun sendirian.”


“Hei, Kirana, masa calon suamimu ini disamakan dengan barang,” protes Sebastian.


“Barang antik, Bee,” Kirana tersenyum sambil menuentuh tangan Sebastian.


Sebastian mendengus kesal lalu memasukan suapan nasinya kembali. Daddy Richard dan mommy Amelia hanya memperhatikan keduanya sambil senyum-senyum.


“Masalah persiapan perkawinan kalian bagaimana ?”


tanya daddy Richard.


“Hanya tinggal undangan yang masih perlu revisi, Dad. Masalah tempat sudah oke, pakaian kami dan untuk orangtua juga tinggal fitting terakhir. Kalau untuk menu makanannya, kami percayakan pada pilihan mommy,” sahut Kirana.


“Minggu depan akan ada test food, sayang,” ujar mommy Amelia menyambung penjelasan Kirana.


“Untuk sementara, tanggal resepsinya dibuat dua pilihan, karena masalah pekerjaan harus segera diselesaikan lebih dulu dan secepatnya. Kemungkinan minggu depan Bastian harus berangkat ke Inggris. Kalau semua bisa cepat diatasi, paling lambat seminggu sudah kembali.”


Kirana sedikit terkejut mendengar ucapan daddy Richard. Bukan masalah tertundanya pernikahan mereka yang membuat Kirana sedih, tapi ditinggal Sebastian ke tempat yang cukup jauh dan waktu yang cukup lama.


Mengetahui kegundahan calon menantunya, mommy Amelia mengalihkan pembicaraan ke masalah lainnya. Bahkan masalah Tante Miranda diceritakan pula pada Sebastian dan daddy Richard.


Kirana tersenyum sambil melap mulutnya dengan tissue. Piringnya sudah bersih. Tanpa malu-malu beberapa kali Sebastian menggenggam jemarinya dan mencium pipi Kirana di depan orangtuanya, terlebih saat mommy Amelia menceritakan bagaimana kesalnya wajah Tante Miranda saat keluar dari toilet setelah berbincang dengan Kirana.

__ADS_1


Kirana sering tersenyum, merasakan kehangatan di keluarga calon suaminya. Mereka cukup terbuka satu dengan yang lainnya, hingga kemungkinan kecil terjadi keributan karena kesalahpahaman.


__ADS_2