
Dengan wajah sumringah, Steven mengajak Kirana memasuki sebuah restoran yang cukup mewah. Kirana hanya diam dan mengikuti semua kemauan Steven demi menyenangkan hatinya sesuai dengan permintaan daddy Richard.
Tempat yang dipilih oleh dokter muda itu terlihat sangat romantis, tapi tidak mempengaruhi hati Kirana yang lebih merindukan Sebastian daripada makan malam seperti ini.
“Bagaimana, Na ? Kamu suka dengan tempat ini ?” tanya Steven dengan wajah antusias.
“Lumayan,” jawab Kirana sambil tersenyum tipis.
“Aku bisa sering-sering mengajakmu kemari kalau kamu suka dengan suasana dan makanannya.”
“Akan lebih menyenangkan lagi kalau kamu membawa kekasihmu kemari dan aku membawa calon suamiku, Steve. Doubel date,” ujar Kirana kalem.
Ekspresi Steven yang tadinya berbinar-binar berubah datar dan senyuman pun hilang dari wajahnya. Terlihat ia menghela nafas dan menoleh ke arah lain.
Pembicaraan mereka terputus saat pelayan mengantarkan pesanan makanan dan minuman mereka. Steven terlihat lebih banyak diam dan wajahnya berubah datar, tidak seperti pertama mereka masuk.
“Bagaimana pekerjaanmu sebagai dokter, Steve ?” tanya Kirana di sela-sela makan mereka.
“Seperti biasa, tidak ada yang istimewa,” sahut Steve dengan wajah malas. Ia tidak menatap Kirana saat menjawab pertanyaan gadis itu.
“Boleh aku tahu kenapa kamu memilih mengambil spesialis anak ? Bukan spesialis lainnya yang mungkin dari segi materi lebih menggiurkan penghasilannya ?”
“Apakah kamu memandang profesi dokter hanya dari segi materinya, Nana ? Itu sebabnya kamu lebih memilih Sebastian daripada aku ?” raut wajah Steven yang berubah tiba-tiba menjadi galak dan suaranya meninggi, membuat Kirana terkejut.
“Bukan maksudku begitu Steve. Bukan karena materi. Tapi aku tidak menyangka kalau seorang Steven yang aku kenal akan memilih spesialis anak. Padahal papamu sendiri kalau tidak salah adalah seorang dokter spesialis jantung.”
“Kamu sungguh-rungguh ingin tahu kenapa aku memilih spesialis anak ?” Steven menatap Kirana dengan lebih lembut, tidak semarah tadi. “Itu semua karena kamu.”
“Apa hubungannya denganku ?” Kirana menautkan kedua alisnya.
“Karena kamu suka dengan anak-anak. Aku sering memperhatikan bagaimana dulu kamu membantu menjaga Kendra, membantu mamamu mendampingi anak-anak kelas 1, dan semua yang kamu lakukan terekam baik dalam ingatanku. Aku berharap duniaku akan sama dengan duniamu, dan membuat kita akan sering bersama. Bahkan aku sangat mengharapkan memiliki banyak anak denganmu.”
Steven mencoba meraih jemari Kirana yang ada di atas meja, namun sebelum tersentuh oleh pria itu, Kirana memindahkannya ke bawah meja.
“Kamu tetap bisa mewujudkan mimpimu memiliki keluarga dengan banyak anak, Steve, sekalipun bukan denganku. Aku yakin kalau orang sebaik dirimu akan mendapatkan seorang istri yang baik dan mencintaimu dengan sangat.”
Steven hanya terdiam dan menghela nafas berat. Ia menggeser piring makannya yang sudah kosong. Seorang pelayan mendekat dan mengangkat piring kosong milik Steven dan Kirana.
__ADS_1
“Aku boleh bertanya sesuatu, Steve ?”
Steven hanya mengangguk sebagai jawaban. Tangannya memainkan ujung telinga kanannya. Kirana tersenyum, kebiasaan Steven tidak berubah dan karena kebiasaan itulah yang membuat pikiran Kirana justru terbuka.
“Sebetulnya bagaimana hubunganmu dengan Shera ?”
Steve mendongak dan menatap Kirana sambil mengernyit.
“Apa maksud pertanyaanmu, Nana ? Apakah Shera yang membuat kamu menolak menerima cintaku ?”
“Bukan Steve,” Kirana tersenyum. “Masalah Shera tidak ada hubungannya dengan perasaan kita berdua. Tapi semuanya berkaitan dengan Raven.”
“Raven ?” Steven semakin bingung dengan dahi masih berkerut. “Apa hubungan anak Shera denganku ?”
“Itu yang ingin kutanyakan padamu malam ini,” ujar Kirana sambil tertawa pelan.
“Maksudmu anak Shera adalah anakku juga ?” terdengar nada tidak suka dalam ucapan Steven.
“Apa tidak mungkin ?’ Kirana menaikkan kedua alisnya.
“Tidak mungkin !” protes Steven dengan nada keras. “Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun, bahkan wanita bayaran sekalipun. Aku ingin memberikan diriku seutuhnya hanya untukmu, Kirana Gunawan.”
“Terima kasih atas segala niatmu itu Steve. Tapi takdir manusia tidak ada yang tahu. Beberapa hari ini aku baru teringat saat pertama kali bertemu dengan Raven. Kebiasaannya mengusap-usap ujung telinga bila sedang gelisah sama seperti yang kamu lakukan barusan. Kebiasaan yang tidak mungkin ditiru oleh anak kecil yang belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Dan mata Raven mirip sekali dengan mata kalian, anak lelaki keluarga Pratama.
Semula aku pernah terpikir kalau Raven mungkin saja anak Sebastian, tapi dari hasil tes DNA membuktikan kalau janin yang dikandung Shera bukan darah daging Sebastian. Dan di keluarga Pratama, masih ada lelaki lain yang memang memiliki hubungan dengan Shera.”
“Tidak mungkin Nana !” Rahang Steven mulai mengeras. Meski kalimatnya diucapkan dengan nada pelan, namun Steven benar-benar menegaskan setiap katanya.
“Aku tidak akan mempercayainya sampai kamu bersedia melakukan tes DNA, Steve,” tantang Kirana dengan senyuman tipis. “Selama itu pula aku akan tetap dengan pendirianku kalau Raven adalah adalah anakmu dan Shera.”
“Lalu bagaimana jika aku bisa membuktikan kalau Raven bukan anakku ?” tanya Steven dengan seringai di wajahnya.
“Berarti aku akan membuang pikiranku tentang status Raven sebagai anakmu,” jawab Kirana santai sambil tertawa pelan.
“Hanya itu ?” Steven memicingkan matanya.
“Memangnya apalagi yang kamu inginkan ? Selama bukan memintaku meninggalkan Sebastian dan membatalkan pernikahan kami, permintaanmu bisa aku pertimbangkan.”
“Kamu yakin Sebastian akan membantumu memenuhi permintaanku kalau sampai terbukti Raven itu bukan anakku ?”
__ADS_1
“Yakin. Aku sangat yakin kalau Sebastian akan menyetujui permintaanku selama bukan dua hal yang sudah aku sebutkan tadi. Lagipula, kami sudah saling menyayangi, jadi selama untuk kebaikan kami berdua, Sebastian pasti akan mendukungku, begitu juga sebaliknya.”
“Akan aku pikirkan,” sahut Steven sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Pikirkan dengan baik-baik Steve. Kasihan kalau sampai benar Raven adalah anak kandungmu. Selama ini aku lihat Shera kurang memberikan perhatian pada anak itu. Mungkin karena ia merasa kesal karena ayah biologisnya tidak mau bertanggungjawab,” ujar Kirana sambil menatap Steven dengan wajah serius.
“Jangan memandangku seperti itu. Aku yakin kalau Raven bukan anakku. Supaya kamu tahu Nana,” Steven menempelkan tubuhnya ke meja dan memajukan wajahnya hingga semakin dekat dengan Kirana.
“Aku tidak pernah melakukan hubungan badan dengan wanita manapun, sekalipun dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri,” ujar Steven dengan senyum penuh keyakinan.
“Semoga tidak ada yang menjebakmu hingga membuat kamu memiliki anak dari Shera,” sahut Kirana sambil tertawa pelan.
“Lagipula masalah Raven yang tidak memiliki papa bukanlah urusanku. Semua itu salah Shera yang tidak mau berterus terang siapa yang menghamilinya,” terlihat senyuman sinis di wajah Steven.
Kirana hanya tersenyum. Memang benar yang dikatakan Steven. Seandainya Shera mau berbicara terus terang mengenai lelaki yang menanamkan benih di rahimnya, mungkin tidak akan drama pembatalan pernikahan dengan Sebastian dan sekarang Raven akan tumbuh menjadi anak yang berbahagia karena memiliki orangtua lengkap.
Tapi bila Steven begitu yakin tidak pernah menanamkan benihnya pada Shera, bagaimana bocah dua tahun itu bisa memiliki mata seorang Pratama dan kebiasaan yang dimiliki Steven yang dilakukan juga oleh Raven.
Baik Steven mapun Kirana lebih banyak diam sampai akhirnya mobi Steven sampai di depan rumah Kirana.
“Terima kasih atas traktirannya malam ini, Steve. Aku berharap mendapat jawaban yang positif setelah kamu memikirkannya kembali,” ujar Kirana sebelum turun dari mobil.
“Aku tidak akan menundanya seandainya kamu mengiyakan permintaanku, Nana. Kalau hasil tes DNA terbukti Raven bukan anakku, kamu bersedia menjadi istriku.”
Kirana hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
“Selamat malam Steven,” ucapnya setelah berada di luar mobil dan membungkukkan badannya hingga wajahnya berada tepat di luar jendela. “Hati-hati di jalan.”
Steven hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia tidak menunggu Kirana masuk seperti biasanya. Hatinya sedikit kacau dengan ucapan Kirana mengenai jebakan yang membuat ia sampai menanamkan benihnya dalam rahim Shera.
Ingatan Steven sempat melayang ke acara pertemuan dengan teman-teman SMA nya sekitar tiga tahun yang lalu. Shera hadir juga malam itu.
Paginya memang Steven terbangun di kamar hotel namun ia masih mengenakan celana panjang, meski kemeja dan kaosnya sudah tidak lagi melekat di tubuhnya. Saat ia tanyakan pada beberapa teman pria yang hadir malam itu, mereka bilang kalau Steven mabuk berat. Shera dan Gaby, teman SMA mereka, membawa Steven pulang. Tapi dibawa kemana mereka juga tidak tahu.
Steven sendiri lupa menanyakannya pada Shera karena kesibukan jadwal koasnya di rumah sakit dan Shera sendiri sibuk dengan persiapan pernikahannya dengan Sebastian.
Dan kalau ditarik kembali dengan kehamilan dan usia Raven saat ini, semuanya sangat mungkin. Tapi bukankah saat itu Shera sudah menerima lamaran Sebastian dan mereka sedang mempersiapkan hari bahagia itu ?
Steven memukul setirnya sambil berteriak di dalam mobil. Ia berharap hatinya lebih tenang karena bisa menghabiskan waktu dengan Kirana. Namun malam ini, pikirannya justru bertambah kacau dengan permintaan Kirana.
__ADS_1