Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 54 Dugaan yang Terbukti


__ADS_3

Sore ini Kirana diantar Pak Tomo ke salah satu cafe yang cukup jauh dari MegaCyber. Sebastian meminta tunangannya itu menunggu di cafe sampai jadwal meetingnya selesai. Mereka akan mengurus beberapa keperluan pernikahan.


Kirana memilih tempat duduk yang bisa melihat ke arah pintu masuk. Setelah memesan segelas cokelat dingin dengan ekstra whipped cream, Kirana mulai menyibukkan diri dengan handphonenya.


Beberapa kali ia memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dan berharap Sebastian menjadi salah satunya.


Mata Kirana memicing saat pandangan matanya menangkap seseorang yang terlihat familiar. Ia semakin menyipitkan matanya dan menunggu wanita itu menatap ke arahnya hingga ia bisa melihat wajahnya dengan sempurna.


Seorang pelayan mengantarkan pesanan minumannya dan diletakan di atas meja di depannya. Kirana beranjak bangun dari kursinya dan memastikan tombol perekam di handphonenya dalam keadaan aktif sebelum memasukan benda pipih itu ke dalam kantong blazernya.


“Esti ?” Sapanya dari jarak yang cukup jauh.


Wanita yang sejak tadi ditatapnya menoleh ke arah suara dan mengernyit saat melihat Kirana yang melambaikan tangan kepadanya.


“Hai Esti,” sapa Kirana saat ia berdiri di belakang wanita yang duduk berhadapan dengan perempuan yang dipanggil Esti itu.


“Maaf, siapa ya ? Saya lupa,” Esti nampak tersenyum kikuk karena melupakan nama lawan bicaranya.


Wanita yang duduk di seberang Esti akhirnya menoleh dan mendongak ke arah Kirana. Matanya langsung membelalak saat melihat tunangan Sebastian berdiri di belakangnya.


“Selamat sore Shera,” sapa Kirana sambil tersenyum. “Senang bisa bertemu dengan anda di sini. Apalagi anda membawa Esti, orang yang sudah lama saya cari.”


“Mau apa kamu di sini ? Sengaja memata-matai aku ?” Shera terlihat sangat marah, sedangkan Kirana tertawa pelan.


“Apa saya kurang kerjaan sampai harus repot memata-matai anda ? Bukankah calon suami saya bisa membayar orang kalau hanya sekedar membuntuti anda.”


Esti yang duduk di seberang Shera terlihat mulai gelisah, apalagi melihat wajah Shera yang berubah kesal.


“Bangganya mendapatkan barang bekasku,” ejek Shera dengan senyuman sinis.


Kirana hanya tertawa dan memanggil pelayan yang kebetulan melewatinya, meminta bantuan pelayan itu memindahkan pesanan minumannya ke meja Shera dan Esti.


Tanpa meminta ijin, Kirana menarik kursi yang masih kosong di situ.


“Siapa yang menyuruhmu duduk di situ ?”tanya Shera masih dalam mode emosi tinggi.


“Apa ada larangan tertulis di cafe ini tidak boleh duduk bareng dengan orang yang dikenal ? Bukan begitu Esti ?”


Esti terlihat ragu-ragu namun akhirnya mengangguk. Dahinya masih berkerut mencoba mengingat-ingat siapa Kirana.


Pelayan yang tadi dimintai tolong membawakan minuman pesanan Kirana.


“Terima kasih,” Kirana mengangguk sambil tersenyum.


“Jadi sekarang kamu ingin pamer kalau berhasil menundukan Sebastian ? Suka dengan barang bekas ?”


“Sebastian ?” Esti mendesis.


Kirana tertawa dan tidak menanggapi ucapan Shera tapi menatap Esti dengan senyuman yang justru membuat gadis itu bertambah cemas.


“Berapa banyak Ibu Shera membayar kamu untuk melakukan foto dengan Pak Bastian dan mengirimkannya pada saya ?”


Esti terkejut dan membelalakan matanya. Tangannya saling meremas dan terasa dingin.


“Jangan asal bicara, fitnah namanya. Aku bisa menuntutmu karena memberikan tuduhan palsu dan pencemaran nama baik.” Ujar Shera dengan sombongnya.


“Apakah yang baru saya katakan padamu adalah tuduhan palsu, Esti ?”


Posisi Kirana tetap memandang Esti meski ia menanggapi ucapan Shera.

__ADS_1


“Atau perlu aku laporkan pada polisi pemilik nomor yang mengirimkan foto Sebastian padaku ? Apa dia ibumu atau nenekmu ?”


“Jangan laporkan nenek saya,” sahut Esti dengan cepat. “Saya akan katakan yang sebenarnya. Tolong jangan laporkan nenek saya ke polisi, Nona Kirana.”


Esti mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya dengan nada memohon pada Kirana.


“Jadi benar semua itu kamu lakukan atas perintah seseorang ? Dan orang itu ada bersama kita saat ini ?”


Esti terdiam, memandang Kirana dan Shera bergantian. Jawaban apapun yang ia berikan membuatnya dalam bahaya.


“Minta maaflah pada Pak Sebastian agar ia tidak lagi diliputi rasa menyesal karena telah membiarkan dirinya dipermalukan olehmu.”


“Hei wanita penggoda !” Bentak Shera dengan suara yang cukup keras, hingga menarik perhatian pengunjung yang ada di dekat situ. Posisinya pun sekarang berdiri di depan kursinya.


“Tidak cukupkah kamu mendapatkan Sebastian setelah ia meninggalkan aku ?”


Kirana menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan Shera yang sengaja membuat para pengunjung salah paham padanya. Mereka pasti berpikir kalau Kirana adalah pelakor hubungan Shera dengan Sebastian.


Bukannya malu atau cemas mendengar ucapan Shera, Kirana malah tertawa pelan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Nona pengacara yang terhormat,” Kiran berkata dengan suara normal tanpa memperlihatkan emosi yang berlebihan.


“Sudah pasti anda sangat mengerti soal hukum dan kepintaran anda jauh melebihi saya. Tapi saya yakin kalau anda juga tahu kalau tidak akan ada seorang pria yang mau menerima kenyataan kalau istrinya hamil dari pria lain.”


Bahkan tidak ada nada mengejek dalam ucapan Kirana. namun Shera malah bertambah berang.


“Kamu…” Shera sudah mengangkat tangannya hendsk menampar wajah Kirana, namun tertahan oleh tangan Sebastian.


“Jangan coba-coba menyentuh calon istriku dengan cara seperti ini,” geram Sebastian dengan wajah memerah. “Akan aku pastikan untuk menyelesaikannya lewat jalur hukum kalau sampai terjadi.”


Sebastian menghempaskan tangan Shera dengan kasar membuat wanita itu meringis kesakitan.


Shera mengambil tasnya dengan kasar dan bergegas hendak meninggalkan meja, namun tangan Kirana menahannya.


Shera menghela nafas dan menghentakkan tangannya dengan kasar hingga terlepas.


Kirana hanya tertawa pelan sementara Sebastian memberi isyarat pada Dion untuk mengikuti Shera sampai di parkiran.


“Esti,” gumam Sebastian saat melihat wanita yang dicarinya duduk di depan matanya.


“Duduklah Bee, supaya kita bisa meluruskan kesalahpahaman ini,” Kirana mengusap lengan Sebastian dan menganggukan kepalanya sambil tersenyum saat Sebastian menatapnya.


Pria itu menurut dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Shera.


“Bee, kamu tentu sudah mengenal Esti,” Kirana menyentuh lengan Sebastian mengusapnya perlahan.


Esti tampak semakin cemas saat berhadapan dengan Sebastian langsung apalagi ditatap dengan wajah galak Sebastian.


“Esti,” Kirana memiringkan kursinya ke arah Esti. “Saya tidak mau berbasa basi lagi. Berapa bayaran yang kamu terima dari Ibu Shera untuk melakukan tindakan tercela pada calon suami saya ?”


Sebastian tersenyum dalam hati. Emosi yang sedari tadi membakar hatinya perlahan mulai padam dengan kata calon suami yang diucapkan Kirana.


“Maafkan saya Tuan Sebastian, Nona Kirana, saya sungguh-sungguh minta maaf. Saya memang sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan anak saya di kampung. Saya tergiur dengan tawaran Ibu Shera.” Esti mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan menggerakannya beberapa kali.


“Kamu tahu apa akibat perbuatanmu ? Berapa uang yang kamu terima sampai nekat melakukan hal memalukan itu ?”


“Sepuluh juta, Nona.”


“Apa sudah kamu terima seluruh pembayarannya ?”

__ADS_1


Esti terdiam sesaat. Terlihat Sebastian mulai tidak sabaran, namun Kirana menyentuh kembali telapak tangan Sebastian dan menggeleng.


“Esti,” panggil Kirana kembali.


“Baru lima juta, Nona. Dan Ibu Shera tidak akan membayar sisanya sesuai kesepakatan karena menganggap saya gagal.”


“Bisa tolong masukan nomor handphone kamu ?” Kirana menyodorkan handphonenya yang sudah tidak terkunci. Proses merekam yang tadi diaktifkan juga sudah dihentikan.


Esti menatap Kirana dengan wajah ketakutan dan sangat cemas.


“Saya akan mencarikan pekerjaan tambahan untuk pengobatan anak kamu dengan cara yang halal. Kali ini kami tidak akan memperpanjang masalah ini sampai ke jalur hukum, tapi tidak akan ada lagi toleransi kalau sampai terulang atau berlanjut.”


Terlihat Esti mulai mengetikan nomornya di handphone Kirana. Setelah dikembalikan, Kirana langsung menghubungi nomor Esti untuk memastikannya. Ternyata panggilan Kirana langsung tersambung ke handphone Esti yang ada di meja.


“Simpanlah nomor saya, jadi kamu akan tahu pada saat saya menelepon atau mengirimkan pesan.”


“Terima kasih, Nona, Tuan.” Esti kembali mengatupkan kedua tangannya dengan wajah tidak setegang tadi.


“Kami tinggal dulu, Esti,” Kirana bangun dari kursinya dan diikuti oleh Sebastian. Tanpa berbasa-basi keduanya meninggalkan Esti yang masih terpaku.


Sebastian menggandeng Kirana menuju mobil, dimana sudah ada Dion menunggu di sana.


Sebastian langsung memeluk Kirana saat mereka sudah duduk di dalam mobil, tanpa mempedulikan Dion yang menyetir.


“Bee,” tegur Kirana pelan saat bersitatap dengan Dion yang meliriknya dari spion tengah sambil tersenyum.


“Terima kasih, Honey, calon istriku,” Sebastian senyum-senyum sambil tetap memeluk Kirana.


“Terima kasih karena kamu sudah menyelesaikan masalah kita dengan baik.” Sebastian melerai pelukannya, ia langsung memberikan jempol pada Kirana. “Kamu kelihatan keren banget saat menghadapi Shera dan sangat elegan menyelesaikan masalah dengan Esti.”


“Sudah semakin pantas jadi istrinya Sebastian Pratama ?” Goda Kirana sambil mengedipkan mata.


“Memangnya kalau tidak pantas, kamu mau membatalkan pertunangan kalian, Ki ?” Dion yang menyahut dengan nada meledek sambil terkekeh.


“Dion !” Wajah sangar Sebastian terlihat menyeramkan membuat Dion hanya bisa tersenyum meringis.


“Maaf Boss.”


“Bee,” Kirana menyentuh jemari Sebastian. “Jangan terlalu galak sama Dion. Kamu mau dia jadi Shera kedua yang menjebakmu ?” Kirana tertawa.


“Kalau dia berani, langsung aku buat merana seumur hidup dan tidak akan bisa bekerja dimanapun,” sahut Sebastian dengan nada galak.


“Ampun, Boss.. ampun…” Dion mulai memasang wajah serius meski akhirnya senyum tipis mengembang di bibirnyaz


“Mulai lagi bas bos bas bos,” gerutu Sebastian.


“Jangan gampang emosi dong, Bee,” Kirana mengusap pipi pria itu. “Nanti kamu semakin terlihat lebih tua dari aku. Jangan-jangan orang akan menyangka kalau aku ini sugar baby dan kamu sugar daddyku.”


“Honey !” Sebastian memandang Kirana dengan wajah kesal. Apalagi gadis itu tertawa dan membuat Dion ikut tertawa pelan.


“Daripada kesal sama Dion, lebih baik kamu pikirkan apa yang akan mantan istrimu itu lakukan untuk membalas rasa malunya karena ketahuan,” lanjut Kirana sambil mengusap kembali pipi Sebastian.


“Kamu sudah tahu sebelumnya kalau Shera ada di balik semua ini ?” Sebastian meraih jemari Kirana yang ada di pipinya, menciumnya sekelas dan meletakkan di atas pahanya sambil menggenggamnya.


“Hanya dugaan, Bee. Saat membaca dokumen perjanjian kerjasama proyek di Kalimantan, aku menemukan nama Shera sebagai tim penasehat hukum. Tapi aku belum berani memastikan keterlibatannya. Namun ternyata Tuhan membukakan pintu jawaban untukku saat melihat Esti di cafe tadi. Bahkan sebelum Shera menoleh, aku sudah yakin kalau yang ditemui Esti adalah Shera.”


“Entah apa yang dia inginkan saat ini,” ujar Sebastian sambil menghela nafas. “Selama hampir dua tahun ia menghilang dan membuat hidupku tenang. Kenapa justru sekarang muncul di saat aku mulai menjalin hubungan denganmu ?”


Kirana tersenyum, mengeratkan genggaman tangan mereka dan menyenderkan kepalanya di pundak Sebastian.

__ADS_1


“Entahlah, Bee. Tapi seperti ucapanmu kalau kita akan menghadapinya bersama. Lebih baik berdua daripada sendiri-sendiri.”


Sebastian tersenyum dan mencium kening Kirana yang masih bersandar di bahunya. Dion kembali tersenyum saat melihat emosi Sebastian lebih mudah terkendali sejak bersama Kirana.


__ADS_2