
Sudah lewat tiga hari lagi sejak Kirana bertemu dengan WO di hotel dan berakhir dengan makan malam di rumah keluarga Sebastian, dan dalam tiga hari terakhir ini Sebastian justru tidak pernah mengirimkan pesan apalagi menelpon Kirana. Padahal dua hari kemarin adalah akhir pekan. Apa mungkin Sebastian tetap bekerja di hari Sabtu dan Minggu ?
Sudah lebih dari 10 pesan Kirana kirimkan pada Sebastian namun tidak ada satu pun yang terbaca, bahkan teleponnya juga tidak diangkat. Kirana yakin kalau secara fisik Sebastian baik-baik saja karena tidak ada kabar berita apapun baik dari daddy Richard maupun perusahaan Aleandro.
Kirana mencoba mengirim pesan pada Dion bahkan terakhir pada Aleandro, namun kondisinya sama saja. Tidak ada satupun yang membaca pesannya. Sempat terpikir dalam benak Kirana kalau ini semua kerjaan Sebastian yang sengaja mau membuatnya gelisah.
Sejak mendengar ucapan Pingkan yang bagaikan rangkaian puzzle memenuhi pikirannya, Kirana bermaksud menemui Steven untuk mendapatkan informasi lain yang mungkin bisa menambah potongan-potongan puzzle yang sedang disusun olehnya. Namun Kirana tidak ingin bertindak gegabah, ia akan menemui Steven setelah mendapatkan ijin dari Sebastian.
Siang ini karena merasa jenuh dengan berbagai pikiran dan pekerjaan, Kirana menyempatkan diri pergi ke café dekat kantor untuk membeli es cokelat. Ia berharap selain tenaganya pulih kembali, mood nya yang sedikit jelek karena tidak berhasil menghubungi satu orang pun yang sedang pergi dengan Sebastian, bisa lebih baik lagi.
“Nana !” Kirana sedikit kaget mendengar panggilan itu. Dirinya sedang duduk di salah satu kursi sambil memainkan handphone menunggu pesanannya.
Pria yang sedang memenuhi otaknya berkaitan dengan masalah Shera dan ingin ditemuinya, sekarang berada tepat di depannya.
“Hai Steve,” sapa Kirana dengan senyumannya. “Tumben kamu lagi ada di dekat sini ?”
“Habis janjian ketemu teman kuliahku,” sahut Steven. “Tidak sengaja aku melihatmu sedang antri. Sendiri saja ?”
“Iya lagi beli minuman aja, makanya nggak ajak siapa-siapa.”
“Biar aku ambilkan,” Steven mendahului Kirana menuju meja kasir untuk mengambil pesanan gadis itu.
“Terima kasih,” ujar Kirana saat Steven memberikan gelas es cokelat padanya.
“Mau aku temani minum di sini ?” Namun Kirana malah menggeleng.
“Maaf Steve, aku harus balik ke kantor, sedang tidak ada orang di ruangan,” Kirana mulai melangkah pelan menuju pintu café.
“Mau aku temani kamu di kantor biar nggak sendirian ? Bukannya Sebastian sedang ke Amerika dengan Shera ?” tanya Steven sambil tergelak.
“Apa kamu kekasihnya Shera ?” tanya Kirana sambil menghela nafas. “Sampai semua kegiatannya harus dilaporkan padamu ?”
Steven mendadak terdiam sambil mengikuti langkah Kirana kembali ke kantor.
__ADS_1
“Kamu ngapain ikutin aku, Steve ?” Kirana mengerutkan dahi saat melihat sahabatnya itu mengikutinya berjalan beriringan.
“Kenapa ? Takut ada yang melapor pada Sebastian kalau kamu berjalan denganku ?” ledek Steven sambil tertawa.
“Sebastian tidak berpikiran sepicik itu. Dia tidak akan masalah sekalipun aku berjalan sejauh dua kilometer denganmu, selama itu dilakukan di tempat terbuka,” sahut Kirana dengan wajah cemberut.
“Kamu yakin Nana ?” ledek Steven kembali sambi mendahului Kirana dan berbalik badan hingga posisinya berjalan mundur.
“Seribu persen !” sahutnya dengan nada ketus. Steven makin tergelak membuat beberapa orang yang ada di dekat mereka menoleh dan memperhatikan mereka sekilas.
“Jangan mengundang perhatian orang !”omel Kirana masih dengan wajah cemberut.
“Aku memang orang yang senang diperhatikan,” sahut Steven sambil mengedipkan sebelah matanya. “Tapi diperhatikan olehmu.” Steven menghentikan langkahnya membuat Kirana juga menghentikan langkahnya. Wajah Steven dimajukan ke depan hingga semakin dekat dengan Kirana.
“Cukup kamu beri seperdelapan perhatianmu, aku akan sangat-sangat bahagia,” ujar Steven dengan suara sedikit berbisik di depan wajah Kirana.
Kirana mendorong bahu Steven supaya bergeser dan tidak menghalangi langkahnya. Dokter muda itu kembali tertawa dan berjalan di sebelah Kirana.
“Mobil aku parkir di halaman gedung MegaCber, Nana,” tegas Steven. “ Apa kamu sesenang itu aku temani sampai balik ke kantor ?” ledeknya sambil terkekeh.
“Kalau saja kamu tidak terlalu besar kepala menganggap setiap kebaikanku padamu sebagai bentuk cinta seorang perempuan pada laki-laki, aku tidak keberatan punya teman seperti kamu, Steve. Tapi sepertinya hatimu berbeda dengan hatiku.”
“Jadi kalau aku bisa bersikap seperti dulu sebelum kita berpisah, kamu mau tetap berteman denganku ?”
“Tidak juga !” tolak Kirana cepat. “Karena aku yakin tidak akan mudah merubah perasaan dan obsesimu itu. Carilah pacar yang setara denganmu. Buka mata dan hatimu, pasti dengan mudah kamu mendapatkan perempuan cantik yang sepadan denganmu,”
“Tapi mereka tidak setomboi Kirana, tidak sebawel dan galak serperti Kirana, tidak ….”
“Stop !” Kirana meletakkan telapak tangannya di depan wajah Steven. “Lebay,” Kirana mencebik.
Mereka sudah memasuki pintu gerbang gedung MegaCyber. Dan sesuai dugaan Steven kalau para pegawai di situ memberikan perhatian khusus dengan kedatangan mereka berdua. Mungkin sebentar lagi ada yang mengambil foto mereka dan diam-diam mengirimkannya pada Sebastian.
__ADS_1
“Parkiran di sebelah sana,” Kirana menunjuk ke arah kanan dari mereka berdiri. “ Kenapa kamu masih mengikuti aku ?” tanyanya dengan ketus.
“Aku mau bertemu Uncle Richard, sebetulnya aku sudah bikin janji dengan beliau jam 4 sore ini,” Steven melirik jam tangannya. “Masih ada waktu 30 menit untukku menemanimu,” ujar Steven sambil mengerling.
Kirana melotot dan menggeleng. “Aku tidak perlu teman,” ucapnya dengan tegas dan wajah galak.
“Bukankah tidak sopan membiarkan tamu menunggu sendirian ?” ledek Steven.
“Tidak berlaku untuk di kantor,” sahut Kirana. “Sudah biasa orang menunggu kalau mau bertemu dengan orang penting di kantor.”
Kirana ingin menolak Steven yang mengikutinya masuk ke dalam lift, namun tidak ada alasan yang kuat untuk mengusirya. Kirana sendiri sengaja memilih lift umum, bukan lift khusus direksi yang biasa digunakan oleh Sebastian atau daddy Richard dan kadang-kadang sekretaris atau staf khusus lantai 16.
“Kenapa berdiri jauh-jauh begitu ?” ledek Steven saat melihat Kirana berdiri di sudut yang lain, jauh darinya. “Kamu nggak yakin kalau Sebastian tidak memantau semua CCTV di sini selama dia pergi ? Mengawasi calon istrinya yang mungkin diam-diam punya gebetan baru,” lanjut Steven sambil tergelak.
“Aku tidak khawatir dengan Sebastian, dia bukan tipe pria semacam itu. Tapi aku tidak nyaman berada dekat lelaki yang baperan,” sahut Kirana dengan nada ketus.
Steven hanya tertawa dan mendekati Kirana yang kembali menjauh ke sisi lainnya.
Saat lift berhenti di lantai 15, Steven yang sudah memegang pintu lift agar tidak tertutup memberi isyarat dengan gerakan kepalanya menyuruh Kirana keluar terlebih dahulu. Namun gadis itu menggeleng.
“Aku ingin bertemu dengan Amir di lantai 16, jadi sekalian saja,” ujar Kirana sambil meminum es cokelatnya yang sudah tidak terlalu dingin.
Steven tertawa sambil menggelengkan kepalanya dan berhenti mengganggu Kirana sampai mereka tiba di lantai 16.
Kirana langsung berjalan ke meja Amir yang letaknya berdekatan dengan meja Echi. Kedua sekretaris daddy Richard sendiri sedang sibuk di depan komputer mereka masing-masing dan hanya melirik Kirana yang berjalan menuju tempat mereka.
Steven sendiri menghampiri Echi dan menyampaikan kalau ia sudah ada janji dengan daddy Richard. Hanya menunggu beberapa menit, Steven sudah dipersilakan masuk oleh Echi ke ruangan daddy Richard.
Kirana pun bergegas turun kembali ke ruangannya. Echi, Marsha dan Amir hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakukan Kirana.
__ADS_1