Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Mengusir Ulat Bulu


__ADS_3

Kirana memutuskan untuk ikut Sebastian ke kantor. Entah mengapa hatinya sedang ingin dekat-dekat dengan suaminya, padahal Sebastian sudah tidak lagi membutuhkannya untuk naik lift ke lantai 15.


Namun di usia kandungan yang memasuki minggu ke-16, Kirana justru semakin ingin sering berdekatan dengan suaminya.


 


“Kamu mau tunggu di sini atau mau cari makan di luar ?” tanya Sebastian saat mereka sudah berada di ruangannya. Ia melirik jam tangannya, hanya tersisa waktu 15 menit sebelum rapat internal dimulai.


 


“Sepertinya aku hanya ingin di kantor saja, Bee. Lagi rindu dengan suasana kantor dan inginnya kerja lagi,” sahut Kirana sambil tersenyum. “Tapi sepertinya juga tidak mungkin karena tidak lama lagi aku lebih memilih mengurus si kembar,” Kirana mengelus perutnya yang semakin terlihat membesar.


 


“Cukup jadi sekretaris pribadi aku aja di rumah dan jadi ibu anak-anak kita. Biar aku yang mencari nafkah untuk kebahagiaan istri dan anak-anakku.”


 


Sebastian memeluk Kirana yang masih berdiri tidak jauh dari pintu. Dikecupnya pucuk kepala Kirana berkali-kali. Kirana sendiri menyusupkan wajahnya sambil memeluk pinggang Sebastian dan merasakan wangi tubuh Sebastian yang membuat hatinya selalu merasa tenang.


 


“Apa Renata masih mengganggumu ?” tanya Sebastian tiba-tiba karena sempat memikirkan keingingan Kirana beberapa hari ini yang ingin menempel terus dengannya.


 


Bukan tidak bahagia bisa sering-sering bersama Kirana dan ditemani kemana-mana, tapi sempat terlintas kalau sikap manja Kirana disebabkan oleh perasaan tidak nyaman dan aman karena diganggu oleh wanita-wanita penggemar Sebastian.


 


“Sejauh ini belum menghubungi aku lagi sih, Bee,” sahut Kirana sambil melerai pelukannya. “Kok kamu tiba-tiba nanyain soal Renata ? Apa dia malah yang menghubungi kamu ?”


 


“Sudah aku blokir nomornya,” sahut Sebastian sambil tertawa.


 


Tidak lama pintu ruangan Sebastian diketuk dan setelah tiga kali, wajah Dion langsung muncul dari balik pintu.


 


“Sepertinya sudah waktunya rapat, Pak Bas,” Dion nyengir kuda dan melihat adegan pelukan bossnya dengan istrinya. Untung saja bukan adegan ciuman yang sudah cukup sering dilihatnya.


 


“Kamu itu memang hobinya merusak kesenangan orang,” gerutu Kirana.


 


“Bisa disambung nanti, Kirana… eh maaf Bu Bas,” Dion yang mendapat pelototan dari Sebastian langsung meralat panggilannya pada mantan teman kerjanya.


 


“Bee,” Kirana yang masih dirangkul oleh Sebastian mendongak sambil mengerjap. “Rasanya aneh mendengar Dion memanggil aku Ibu Bas,” bisiknya karena tidak ingin Dion mendengarnya.


 


“Biar lidahnya biasa,” sahut Sebastian dengan berbisik juga. “Bisa repot kalau karyawan lain mendengar Dion tetap memanggil kamu hanya dengan nama.”


 


Kirana mengangguk dan membiarkan Sebastian mencium keningnya sebelum akhirnya bersama Dion meninggalkan Kirana di ruangan Sebastian. Rupanya hari ini Widya mendadak ijin tidak masuk karena anak bungsunya sedang sakit, hingga akhirnya Kirana harus sendirian di lantai 15.


 


Kirana memainkan handphonenya di sofa dan membuka beberapa aplikasi media sosial. Dari posisi duduk, akhirnya berubah menjadi posisi rebahan di sofa. Sedang asyiknya berselancar di dunia maya, pintu ruangan Sebastian mendadak dibuka tanpa ketukan bahkan dengan sedikit kasar.

__ADS_1


 


Spontan Kirana langsung duduk dan menoleh ke arah pintu. Matanya membelalak saat melihat ulat bulu yang mengganggunya di supermarket sudah berdiri di sana dengan penampilan yang membuat Kirana ingin muntah. Baju ketat meski warna hitam, namun terlihat jelas kalau wanita ini ingin menggoda mata pria dengan penampilannya.


 


“Ngapain kamu di sini ?” Deana menatap Kirana dengan galak sambil bertolak pinggang.


 


“Nggak salah pertanyaannya, mbak ?” ejek Kirana sambil tertawa.


 


“Hei seenaknya panggil-panggil mbak ! Apa matamu perlu kacamata untuk melihatku dan memanggilku dengan benar ?”


 


Kirana yang masih duduk di sofa hanya tersenyum sinis. Hatinya sudah bertekad untuk tidak melow dan gentar menghadapi para ulat bulu yang ingin menempel pada suaminya. Apalagi Widya, Echi dan Marsha selalu memberikan semangat dan dukungan sepenuhnya pada Kirana.



Sayangnya hari ini Widya sedang absen, makanya ulat bulu ini bisa seenaknya masuk ke ruangan Sebastian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


 


“Situ ada keperluan apa kemari ?” tanya Kirana dengan tatapan merendahkan Deana.


 


“Sita situ, sita situ, apa kamu tidak lulus sekolah sampai tidak tahu harus memberikan panggilan ke orang yang lebih tua dan posisinya lebih tinggi dengan sopan ?” ujar Deana dengan kesal. Kirana hanya tersenyum tipis.


 


“Ah iya,” wajah Deana berubah cerah. “Lupa aku kalau kamu adalah sekretaris yang dididik untuk mengambil hati boss sampai rela menikahi kamu dalam waktu kurang dari satu tahun.”


 


 


“Setidaknya aku tidak perlu mengemis pada bossku supaya menikahiku. Berbeda denganmu yang sampai rela menggoda suamiku dengan tubuhmu, tapi sayangnya jangankan tergoda, melirik pun suamiku rasanya malas,” sahut Kirana dengan suara datar, hampir tanpa menunjukan emosi.


 


“Jangan menyebarkan fitnah !” Deana mulai terpancing emosinya.


 


“Aku tidak pernah melakukan fitnah dan menggangap cerita suamiku hanya omong kosong belaka. Mendekati laki-laki dengan cara mabuk supaya lebih berani adalah tindakan yang justru menunjukan kalau hatimu itu hanya seujung jari,” Kirana tertawa pelan.


 


“Kamu…” tangan Deana sudah melayang di udara namun tanpa gentar, Kirana menahannya. Tidak sudi wajahnya disentuh oleh tangan ulat bulu.


 


“Jangan coba-coba melakukan tindakan yang melewati batas, aku bisa melaporkannya pada polisi dan membuatmu ditahan,” ujar Kirana sambil tersenyum sinis. “Lagipula tempat ini milik suamiku dan aku adalah istri sahnya. Sementara kamu bukan siapa-siapa. Hanya wanita kaya yang berpenampilan menggelikan dan berusaha jadi pelakor. Untung saja anak-anak Sebastian tidak membuatku ingin muntah bertemu denganmu.”


 


“Kamu pikir Sebastian laki-laki sempurna yang tidak punya masa lalu ?” ejek Deana dengan senyuman sinis.


 


“Semua orang punya masa lalu entah yang baik atau buruk. Aku tidak bisa membersihkan masa lalu Sebastian, tapi aku bisa membuat masa depannya lebih baik,” sahut Kirana dengan senyuman manisnya. “Dan tidak akan kubiarkan ulat-ulat bulu seperti anda menempel pada suamiku, karena bukan hanya mengganggu pemandangan tapi juga membuat badan gatal-gatal. Jadi sebelum menempel, segala cara akan aku lakukan untuk membuangnya jauh-jauh.”


 


“Rupanya rasa percaya dirimu terlalu tinggi hanya karena sudah menyandang status nyonya Sebastian,” sinis Deana.

__ADS_1


 


“Tentu saja aku harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena sebagai istri pria sehebat Sebastian, bagaimana aku bisa menjadi pendamping hidupnya kalau aku tidak percaya pada diri sendiri ? Apalagi ulat-ulat bulu seperti kalian selalu berkeliaran dimana-mana dan mencari celah untuk membuat gatal suamiku. Dan rasa percaya diri itu sudah pasti aku punya karena suamikulah yang membuat diriku begitu berharga dalam hidupnya.”


 


Deana mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak menduga kalau akan bertemu dengan perempuan muda yang sekarang sudah berstatus sebagai istri Sebastian di kantor ini. Padahal dia sengaja datang mendadak tanpa membuat janji karena ingin memberikan kejutan untuk Sebastian hingga pria itu tidak bisa menghindar.


 


Pembawaan Kirana sangat berbeda dengan sosok wanita yang sempat berhadapan dengan Deana di supermarket beberapa waktu yang lalu.


Saat itu Kirana lebih terlihat sebagai sosok perempuan yang mudah dikalahkan dan disingkirkan. Sangat berbeda dengan pembawaan Kirana saat ini.


 


Ternyata diam-diam Dion sudah meminta Milan untuk memantau CCTV yang berada di ruangan Widya karena adanya Nyonya Sebastian di dalam ruangan suaminya, sementara Widya sedang tidak bekerja.


Khawatir sesuatu terjadi pada istri kesayangan Pak Bas dan akhirnya Dion yang akan menjadi penanggungjawabnya, sebelum meeting, Dion mengirimkan pesan pada Aldo supaya Milan fokus memantau situasi di luar ruangan Sebastian.


 


Sebastian sendiri diam-diam sudah memasang CCTV di dalam ruangannya. Sejak masalah dengan Renata dan Deana mulai bermunculan, sebagai tindak pencegahan, Sebastian sengaja memasang CCTV dalam ruangannya yang tentu saja hanya bisa diakses olehnya. Bahkan Aldo tidak diberikan celah untuk membobol keamanan rekamannya.


 


Bukan tidak mungkin kalau Sebastian melakukan ke-uwuan dengan istri kesayangannya di dalam ruangan. Bisa jadi berita terpanas dan menghebohkan kalau Aldo bisa mengakses rekaman CCTV nya.


 


“Apa masih ada keperluan lain di tempat ini ?” tanya Kirana dengan sopan, namun di mata Deana pertanyaan itu adalah sebuah ejekan.


 


“Kalau memang ada keperluan yang mendesak, silakan hubungi Dion, asisten suami saya. Saya yakin anda sudah mengenalnya.” Kirana sengaja merubah penyebutan dirinya menjadi supaya supaya terlihat lebih formal.


 


“Jangan berpikir kalau kamu sudah menang kali ini, wanita licik,” desis Deana dengan wajah sangar. “Aku yakin kalau saat ini Sebastian peduli padamu karena kamu sedang mengandung anaknya. Atau jangan-jangan anak dari pria yang bersamamu di supermarket waktu itu ?”


 


“Silakan anda berasumsi apapun yang anda inginkan, tidak penting buat saya dan suami saya. Toh akan ada waktunya anda lelah sendiri. Lagipula dimana-mana, posisi pelakor tetaplah salah, entah di mata masyarakat atau secara hukum. Hati-hati dengan ancaman anda, siapa tahu suami saya tidak senang dengan ucapan anda dan melaporkannya kepada polisi dengan bukti yang ada.”


 


Deana yang sadar dengan ucapan Kirana langsung melirik ke sudut ruangan yang ada di sisi kanan dari tempatnya berdiri. Memang terlihat ada kamera CCTV terpasang di sana,tepat di atas meja Dion.


 


Tanpa berpamitan, Deana menghentakan kakinya dan meninggalkan Kirana yang tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.


 


Milan berteriak dari mejanya membuat para rekannya langsung menoleh. Seperti penonton bola yang melihat jagoannya berhasil memasukan bola ke kandang lawan, hati Milan ikut bersorak saat melihat wanita calon pelakor bossnya akhirnya pergi dengan wajah kesal karena tidak berhasil mengintimidasi Kirana yang semakin berani.


 


Sebastian yang sekilas sempat melihat wajah Deana yang pergi meninggalkan ruangan Widya pun ikut tersenyum. Ia tetap memantau situasi istrinya karena hatinya tidak tenang meningglakan Kirana sendirian.


Sebastian bernafas lega karena kekhawatirannya tidak terbukti karena istrinya benar-benar belajar menjadi wanita yang semakin tangguh.


Sebastian yang tanpa sadar makin melebarkan senyumannya membuat beberapa kepala divisi yang ikut hadir dalam rapat bulanan mengerutkan dahinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2