
Bukan hanya Sebastian yang lagi bahagia-bahagianya, tapi Bara juga merasakan hal yang sama. Sesuai tebakan Kirana kalau sekarang Renata memang mengejar Bara, mengharapkan bantuan pria itu untuk membereskan masalahnya di rumah sakit.
Renata tidak tahu saja kalau itu semua adalah skenario yang disusun oleh Bara dan sudah mendapat persetujuan dari Sebastian selaku pimpinan MegaCyber yang menangani kasusnya.
Sudah seminggu ini Renata terus menghubunginya lewat pesan atau bahkan telepon langsung. Hanya hitungan sebelah jari Bara menanggapi panggilan telepon Renata, itu pun hanya dalam waktu singkat saja.
Hingga akhirnya siang ini, Bara menerima ajakan Renata untuk bertemu di salah satu café yang letaknya tidak jauh dari kantor yang sedang dikunjungi oleh Bara.
“Ada keperluan apa sampai kamu memaksa bertemu seperti ini ?” tanya Bara tanpa basa basi saat keduanya sudah duduk berhadapan dengan segelas minuman di depan mereka.
“Aku mau minta tolong,” ujar Renata dengan wajah memelas. Dia sudah tidak lagi merubah panggilannya bukan lagi gue elo.
“Kalau soal kasus di rumah sakit, aku tidak bisa,” tanpa sadar Bara juga sudah merubah sebutan dirinya bukan lagi anda dan saya. “Masalah penyelesaian kasus secara internal adalah kuasa rumah sakit, perusahaan Sebastian hanyalah pihak kedua yang ditunjuk untuk mengelola sistemnya.”
“Tolong bilang kalau kamu adalah pacarku, kalau perlu calon suamiku. Please, Bara,” Renata menangkup kedua tangannya dan memohon pada Bara.
Bara menghela nafas. Sebetulnya ada sedikit rasa kasihan di hatinya dan ingin mengurangi sedikit kekhawatiran Renata, tapi mendengar ucapannya barusan, hati Bara yang sempat terluka oleh perlakuan Renata saat mereka SMA kembali terusik dan merasa kecewa.
“Ternyata kamu belum berubah,” sinis Bara. “Sejak dulu sukanya memanfaatkan perasaan orang demi kepentingan diri sendiri.”
Renata terkejut mendengar nada suara Bara dan langsung sadar kalau ia sudah salah bicara.
“Bukan maksudku ingin memanfaatkanmu, Bara,” Renata menggelengkan kepalanya. “Maaf kalau permintaanku menyinggung perasaanmu.”
“Aku sudah bukan lagi Bara yang dulu, yang begitu mudah percaya dengan segala ucapan mulut manismu dan akhirnya malah menghinaku seperti sampah yang layaknya dibuang jauh-jauh. Betambahnya umur tidak menjadikanmu lebih dewasa dan pengalaman buruk tidak membuatmu sadar dan ingin berubah.”
Bara hendak beranjak dari kursinya, namun tangan Renata menahannya membuat Bara langsung menatap tajam ke arah wanita itu.
“Aku mohon jangan pergi sekarang, Bara, please,” pinta Renata kembali.
__ADS_1
Bara melirik jam tangannya, seolah-olah ia datang ke tempat ini tidak untuk berlama-lama dengan Renata.
“Hanya limabelas menit, Bara. Aku minta waktumu limabelas menit lagi. Aku janji,” Renata kembali menangkup kedua tangannya memohon pada Bara.
Bara pun memposisikan duduknya supaya nyaman kembali berhadapan dengan Renata. Matanya menatap tajam ke arah Renata namun tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulutnya.
“Aku pernah menyukai salah satu staf IT yang ada di rumah sakit. Aku terus mengejarnya meski sudah dua kali aku ditolaknya. Membayangkan seperti di novel-novel, hanya butuh kesabaran untuk mendapatkan cinta pria itu, bahkan aku sampai nekad masuk ke dalam ruangan IT yang memiliki akses terbatas. Aksiku tertangkap CCTV makanya aku masih dicurigai sebagai salah satu komplotan pembobol data rumah sakit.
Aku sudah meminta tolong pada Ardi, nama pria itu, untuk menjelaskan kepada tim penyidik kalau kedatanganku ke situ hanya untuk menemuinya, tidak lebih. Tapi seperti mendapat angin untuk menjauhkan aku darinya, Ardi membiarkan aku dan pura-pura tidak tahu dengan perbuatanku selama ini.
Terpikir olehku kalau kamu bisa membantuku Bara. Maaf kalau terpikir olehku dengan pengakuanmu kalau aku adalah seorang yang spesial untukmu mereka tidak akan mencurigaiku lagi. Aku melihat kalau posisimu memiliki pengaruh di sana dan cukup disegani, jadi aku yakin pernyataanmu akan dipercaya dan membuat aku bisa lepas dari masalah ini.”
“Apa itu bukan memanfaatkan perasaanku seperti di masa lalu ?” sinis Bara .
“Ya mungkin begitu, Bara. Maaf atas ucapanku tadi,” lirih Renata.
“Atau jangan-jangan memang ternyata kamu justru memanfaatkan Ardi demi mencapai tujuanmu untuk merusak data rumah sakit ? Bukankah keluargamu pernah dibuat susah oleh keluarga Sebastian ? Bukan tidak mungkin kalau kalian sakit hati dan memanfaatkan posisimu sebagai dokter untuk membalas Sebastian ?”
“Tapi kenyataannya kamu dan tante Miranda masih berusaha mengintimidasi Kirana sebagai istri Sebastian. Kamu sudah berusaha menjadi pelakor di dalam hubungan mereka.”
“Aku akui begitu iri melihat Kirana menjadi istri Sebastian. Berbeda dengan Shera yang memang wanita anggun, cantik dan memiliki pekerjaan sebagai pengacara yang cukup populer, Kirana hanyalah gadis biasa saja yang hanya menang masih muda. Aku tidak melihat kelebihan Kirana yang sepertinya pantas untuk dijadikan saingan bagiku. Aku berpikir bisa saja Kirana menggunakan ilmu hitam untuk mendapatkan Sebastian.”
“Pakai dukun maksudmu ?” sindir Bara dengan senyuman sinis. “Kirana bukan wanita seperti itu. Dia lebih terhormat daripada Shera dan dirimu sendiri.”
Renata tersenyum getir dan menatap Bara dengan wajah sendu. Sakit hati pria di depannya ini pasti begitu dalam hingga tidak pernah ada nada ramah yang Renata dengar selama mereka bertemu kembali setelah sekian tahun lamanya.
“Ya, Kirana memang memiliki kelebihan yang tidak pernah aku atau Shera punya. Ketulusan dan kebaikan hati. Aku sempat melihatnya beberapa kali, entah dia sedang sendirian atau bersama dengan Sebastian. Meski posisinya sekarang adalah seorang nyonya muda Pratama, namun aku bisa melihat dia masih begitu sederhana dan rendah hati. Ramah pada orang-orang di rumah sakit ini hingga banyak karywan di sini yang mengenalnya sebagai nyonya muda yang baik hati.
Dari sana aku menyadari kalau kelebihan itulah yang selama ini Sebastian cari, bukan wanita-wanita cantik yang begitu mudah ia dapatkan. Bahkan saat kulihat tante Amelia begitu menyayanginya dan membelanya dengan cara yang tidak biasa, aku tetap melihat Kirana tidak berubah menjadi nyonya muda yang sombong. Aku kalah dalam hal itu. Dan sekarang aku sadar kalau aku tidak akan pernah bisa bersaing dengan seorang Kirana untuk merebut kembali Sebastian.”
__ADS_1
“Bagus kalau hatimu masih bisa melihat kelebihan orang lain,” ejek Bara dengan senyuman sinisnya. “Kirana tidak akan pernah bisa dibandingkan denganmu.”
“Apa jangan-jangan kamu juga pernah menyukai Kirana ?” ledek Renata sambil tertawa pelan, mencoba membuka percakapan dengan Bara tanpa nada sinisnya.
“Kirana sudah kuanggap seperti adikku yang selama ini selalu tinggal jauh dariku. Kirana layak mendapatkan tempat khusus dan kasih sayang di hati banyak orang,” tegas Bara tanpa senyuman sedikit pun.
“Ya, ucapanmu benar. Dan sekarang giliran aku minta maaf padamu, Bara. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Pengalamanku dengan Ardi seolah membuat aku berada di posisimu saat kita masih SMA dulu. Maaf kalau aku begitu menyakitimu terlalu dalam,” ujar Renata dengan tatapan yang tulus, namun Bara hanya berdecih sambil tersenyum sinis.
“Meminta maaf dan memberi maaf mungkin hal yang mudah, tapi melupakan sesuatu yang melukai hati tidaklah mudah. Apalagi luka itu sampai meninggalkan bekas, sekalipun sembuh namun bekasnya masih terlihat membuat korbannya akan kembali teringat dengan kejadian penyebab bekas luka itu.”
Renata hanya tersenyum getir dan mengaduk-aduk minuman lime squash di hadapannya. Lagi-lagi hanya ada penyesalan dalam hati Renata.
Renata mengangkat wajahnya dan menatap Bara yang juga sedang memandangnya dengan wajah penuh luka dan kebencian. Luka yang pernah ditorehkan oleh Renata bertahun-tahun silam seolah kembali terkoyak dan perih di hati pria itu.
Saat SMA dulu, sebetulnya Renata sempat suka dengan Bara. Pria itu tampan dan penuh misteri meski tidak setampan Sebastian. Sikap diamnya dan tertutup membuat Bara sulit didekati ditambah lagi kondisi ekonominya yang termasuk dalam kelas bawah di sekolah, membuat teman-teman perempuannya kurang memandang Bara yang pintar dan tampan itu. Mereka hanya baik karena ingin memanfaatkan kepintaran Bara.
Saat dekat dengan Bara, Renata sering merasakan debar-debar halus di hatinya. Ia tahu kalau dirinya mulai tertarik dengan Bara, tapi mengingat kondisi ekonomi keluarga Bara yang berbanding jauh dengan keluarganya hingga Renata takut kalau sampai hidupnya susah, dengan sengaja Renata menyakitinya dan mengusir jauh-jauh Bara dari kehidupannya. Renata tidak ingin terjebak dalam perasaannya. Sementara dengan Sebastian ? Rasanya pria itu hanya sekedar obsesi untuk Renata. Setelah mengenal Bara ternyata pria itu sama menyenangkannya seperti Sebastian, malah terasa lebih ramah dan dewasa.
“Sudah lebih limabelas menit waktu yang aku berikan untukmu,” Bara beranjak dari kursinya.
“Bara,” Renata kembali menahan lengan pria itu membuat Bara memandangnya dengan dahi berkerut dan wajah tidak suka.
“Dengan setulus hati aku benar-benar minta maaf atas semua perbuatanku di masa lalu dan maaf lagi kalau hari ini ucapanku kembali menyakitimu karena kesannya aku ingin memanfaatkanmu. Tapi sungguh, hari ini bukan maksudku seperti itu. Aku benar-benar belajar dari pengalaman Ardi dan Kirana. Keduanya membuat aku membuka mata atas kelakuanku sejak dulu hingga saat ini. Maafkan aku, Bara,” Renata tersenyum dengan tulus.
Bara sedikit tercengang dengan pemandangan di depannya. Hatinya sedikit berdebar saat ia merasakan kalau ucapan dan senyuman yang diberikan oleh Renata begitu tulus, sama seperti saat gadis itu memintanya untuk menjadi mentor untuk pertama kalinya.
“Aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit kalau memang diperbolehkan atau paling tidak sampai aku bisa membuktikan kalau aku bukanlah bagian dari kelompok yang mencoba membobol data rumah sakit. Terima kasih atas waktumu hari Ini, Bara.”
__ADS_1
Renata melepaskan tangan Bara dan kembali tersenyum dengan sepenuh hatinya. Ia tidak ingin terlalu lama memegang pria itu yang ternyata kembali menghidupkan debar di hatinya. Debar yang selama ini selalu disangkalnya hanya karena menganggap Bara bukanlah laki-laki yang pantas untuknya.