Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 64 Ajakan Makan Malam


__ADS_3

Sebastian terlihat gelisah saat mengikuti meeting sore ini. Beberapa kali Dion melirik bossnya yang sedang bolak balik menatap handphonenya. Dion yakin kalau kegelisahan Sebastian ada kaitannya dengan Kirana.


 


“Jadi bagaimana Tuan Sebastian ? Apa tim di Amerika sudah siap dengan kedatangan kita hari Selasa depan ?” tanya Aleandro, putra Tuan Alexander yang dipercaya untuk menjadi pimpro pusat proyek kerjasamanya dengan MegaCyber.


 


Dion menyenggol Sebastian yang ternyata tidak fokus dengan pembahasan meeting mereka.


 


“Pak Bas,” bisik Dion sambil menyenggol bahu Sebastian.


 


Pria itu menoleh ke arah Dion yang langsung memberi kode ke arah Tuan Aleandro. Sebastian mengalihkan pandangannya ke arah Aleandro dan hanya menggangguk.


 


“Dion sudah mengatur semuanya,” jawaban singkat yang Sebastian berikan ternyata cukup membuat Tuan Aleandro puas.


 


Sejak tadi ia sudah memperhatikan kalau Sebastian kurang fokus dengan pembahasan meeting mereka sore ini. Tapi ternyata Sebastian masih menyimaknya. Padahal kalau mau jujur, Sebastian tidak mendengar pertanyaan Aleandro terakhir. Jawaban paling aman yang ada di pikirannya hanya itu, karena ia yakin kalau Dion memang sudah mengatur pekerjaan mereka bahkan soal masalah persiapan.


 


Meeting sore ini diakhiri dengan acara makan malam bersama di salah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari perusahaan Alexaander . Namun tidak semua peserta rapat diminta ikut lanjut makan malam.  


 


Dari MegaCyber sendiri hanya Sebastian, Dion dan Aldo, sementara dari perusahaan Alexander ada Aleandro, Shera dan Andika, salah satu staf IT mereka.


 


“Kenapa Shera ikut berangkat, Yon ?” Tanya Sebastian saat mereka ada di dalam mobil dan berangkat menuju restoran yang sudah dipesan oleh Aleandro.


 


“Kalau tidak salah Tuan Alexander langsung yang menunjuk Shera untuk mendampingi Aleandro yang masih dalam proses belajar untuk meneruskan usaha papanya. Jadi bisa dibilang, Shera merangkap sebagai asisten Tuan Aleandro juga.”


 


Sebastian terdiam dan menopang wajahnya dengan tangan yang disenderkan ke pintu dan  pandangan ke jalan di samping mereka. Aldo duduk di depan bersama dengan Dion,


 


“Apa Kirana masih belum membalas pesan Pak Bas ?” Dion melirik dari spion tengah dan menebak kegundahan hati bossnya.


 


“Hanya centang satu,” sahut Sebastian tanpa menoleh.


 


“Apa mau meminta Kirana menyusul ke restoran ?” tanya Dion kembali.


 


“Sepertinya tidak akan keburu, Yon. Kecuali kamu menghubunginya saat kita masih meeting tadi. Paling cepat satu jam lagi Kirana baru bisa menyusul kita.”


 


“Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ?” Dion tersenyum sambil melirik Sebastian dari spion.


 

__ADS_1


Sebastian hanya diam saja. Kalau sudah begini, artinya Sebastian menyerahkan sepenuhnya pada Dion.Asisten Sebastian itu langsung memasang earphone bluetoothnya dan menekan nomor mama Lia yang tidak lama kemudian mengangkat teleponnya. Dion meminta bantuan calon mertua bossnya untuk meyampaikan pada Kirana supaya ia mengaktifkan kembali handphonenya. Meskipun Dion tidak tahu bagaimana kondisi handphone Kirana, paling tidak mama Lia akan membantu mempercepat panggilannya untuk Kirana.


 


Selesai menghubungi mama Lia, Dion lanjut menghubungi Pak Tomo yang memang tinggal di rumah daddy Richard dan siap kapan pun dibutuhkan. Dion memintanya untuk menjemput Kirana dan mengantar calon istri Sebastian itu ke restoran yang akan menjadi tempat makan malam mereka.


 


Dengan berbagai bujukan Dion, akhirnya Kirana bersedia menuruti permintaan Dion untuk menyusul Sebastian makan malam dengan rekan kerjanya.


 


Dion yang meminta bantuan Aldo menjadi juru ketik pesan yang dikirmnya untuk Kirana menyampaikan kalau gadis itu harus datang menemui Sebastian karena ada ulat keket yang ikut dalam jadwal makan malam mereka.


 


 


Mobil yang disetiri Dion memasuki salah satu restoran cukup mewah di selatan Jakarta. Ketiganya bersiap turun saat mobil sudah terparkir rapi.


 


“Apa yang kamu katakan pada Kirana sampai dia mau menyusul kemari ?’  tanya Sebastian saat mereka baru sja keluar dari mobil dan masih beriri di sampingnya.


 


“Apalagi kalau bukan menyebutkan nama Ibu Shera yang juga ikut makan malam ini,” Dion tertawa. “Mana mungkin hati wanita begitu mudah melupakan perbuatan wanita lain yang sudah berusaha merusak hubungannya dengan Pak Bas.”


 


“Maksud kamu masalah Esti ?” Sebastian mengerutkan dahinya. Dion mengangguk.


 


“Sifat Kirana itu masih mudah terbaca dan selalu apa adanya, Pak Bas. Saya yakin kalau Pak Bas pasti lebih bisa melihatnya. Maklum masih muda dan kurang pengalaman,” jelas Dion sambil terkekeh.


 


 


Aldo yang berjalan di belakang mereka ikut tertawa. Ia sendiri mengingat masalah menghilangnya Kirana gara-gara masalah foto Sebastian yang sempat menggegerkan staf lantai 16.


 


“Dan mulai sekarang kalian harus belajar memanggilnya jangan hanya dengan nama saja,” Sebastian menatap Dion dan Aldo yang ada di belakangnya. “Sebentar lagi Kirana akan menjadi Nyonya Sebastian.”


 


“Tunggu sampai janur kuning melengkung, Pak,” ledek Aldo di belakangnya. “Agak susah mengubah kebiasaan memanggil Kirana dengan nama, soalnya calon istri Bapak cukup muda dibandingkan dengan kami,”


 


Dion menggangguk dan ikut tertawa. Ia sempat membalikan badan dan melakukan tos dengan Aldo.


 


“Baiklah, aku akan berbaik hati mengijinkan kalian memanggil Kirana hanya dengan sebutan nama. Tapi setelah menikah tidak ada toleransi apalagi negosiasi.” Tegas Sebastian dengan wajah galaknya.


 


Bukannya merasa takut dengan ancaman boss mereka, Dion dan Aldo malah tertawa. Apalagi melihat wajah Sebatian yang sedikit merenggut. Terlihat seperti anak abege yang sedang jatuh cinta.


 


“Bapak juga harus hati-hati dengan ular keket yang akan ikut berangkat. Saya tidak terlalu yakin kalau Ibu Shera tidak punya rencana cadangan setelah gagal mengganggu Kirana dengan masalah Esti.”


 

__ADS_1


“Aku tidak peduli dengan ulet keket, ulet daun bahkan dengan ular kobra sekalipun,  karena aku yakin pasti bisa mengatasinya. Yang membuat aku khawatir justru dokter setengah gila itu, yang tidak bisa diberi pengertian untuk berhenti mengejar Kirana,” sungut Sebastian dengan wajah kesal.


 


Dion tertawa sementara Aldo mengerutkan dahinya karena tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Sebastian.


 


“Dokter Steven,” sahut Dion yang melirik ke arah Aldo dan melihat wajah temannya itu seperti berpikir.


 


“Bukannya sepupu Bapak itu seorang dokter anak yang hebat ?” goda Dion.


 


“Tapi sepertinya ia membutuhkan seorang psikiater, Yon. Supaya bisa membuang jauh-jauh rasa obsesinya.”


 


Ketiganya sudah dibukakan pintu oleh pelayan dan diantar oleh pelayan lainnya menuju ruangan yang sudah dipesan oleh Aleandro. Ternyata rekan bisnis mereka itu belum sampai. Sekitar sepuluh menit kemudian, ketiganya menyusul masuk ke dalam ruangan.


 


Dion mengirimkan pesan pada Kirana untuk menanyakan keberadaannya. Sebastian sendiri mulai berbincang denga Aleandro yang lebih muda 4 tahun darinya. Perbincangan yang tidak hanya membahas soal bisnis itu masih terus berlangsung sambil menunggu makanan disajikan dengan menu makanan Jepang.


Tidak lama makanan pun disajikan. Semuanya sudah dipesan oleh sekretaris Tuan Alexander sehari sebelumnya. Mereka pun mulai menikmati hidangan.


 


Sekitar 20 menit kemudian, Kirana mengirim pesan pada Dion memberitahukan kalau ia sudah sampai di depan restoran. Dion memberitahu supaya Kirana langsung masuk dan minta diantar ke ruangan atas nama Tuan Aleandro.


 


Seorang pelayan membukakan pintu untuk Kirana dan membuat orang-orang  yang ada di dalamnya menoleh.


 


Sebastian langsung bangun dari kursinya dengan wajah sumringah. Ia berjalan menghampiri Kirana yang mengenakan baju dress polos berwarna soft pink dengan panjang di bawah lutut.


 


Sebastian langsung menggandeng Kirana mendekati meja dan mengabaikan tatapan Shera yang terlihat kesal.


 


Namun belum sempat Sebastian memperkenalkan calon istrinya itu kepada rekan bisnisnya, suara panggilan keduanya membuat Sebastian terkejut.


 


“Ale !”


 


“Kirana ?”


 


Kirana dan Aleandro saling tercengang dan menatap dengan ekspresi tidak percaya.


Sebastian yang masih menggandeng tangan Kirana mengerutkan dahinya sambil memandang Aleandro dan Kirana bergantian.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2