
Kirana sedang menemani kedua buah hatinya yang baru saja selesai mandi saat handphonenya nunyi berkali-kali tanda pesan masuk. Bahkan terakhir suara panggilan telepon dan terlihat nama My Bee di sana.
“Pagi-pagi sudah kangen, Bee ?” ledek Kirana saat menjawab panggilan telepon Sebastian.
“Kamu lagi apa ?” tanya Sebastian dengan nada serius membuat Kirana mengerutkan dahinya.
“Lagi sama twins, mereka baru saja selesai mandi.”
“Kamu sendiri sudah mandi ?”
“Sudah. Ada apa, Bee ? Suara kamu bikin aku jadi deg deg kan.”
“Shera kecelakaan subuh tadi di daerah Puncak. Sekarang sudah ada di rumah sakit Pratama. Kamu bisa hubungi mama dulu dan minta tolong datang ke rumah menemani twins ? Aku akan minta sopir kantor menjemput mama. Pak Tomo akan menjemputmu sebentar lagi.”
Kirana tercengang, seakan tidak percaya mendengar berita yang disampaikan oleh Sebastian. Baru dua hari yang lalu mereka bertemu dalam acara makan malam di rumah keluarga uncle Raymond.
Terlintas langsung dalam benak Kirana kalau kecelakaan ini ada hubungannya dengan Romi, lelaki yang memaksa Shera untuk menjadi simpanannya.
“Kirana ! Kirana ! Kamu nggak pingsan, kan ?” panggilan Sebastian yang semakin kencang membuyarkan lamunan Kirana.
“Aku akan hubungi mama sekarang dan bersiap-siap, Bee.”
**
**
Sebastian sudah menunggu Kirana di lobby Rumah Sakit Pratama. Kirana bergegas turun saat mobil yang dibawa Pak Tomo sudah behenti sempurna di depan lobby.
Kirana menghampiri Sebastian yang masih berbicara di handphone, tidak kelihatan ada Dion yang mendampinginya. Begitu mendapati istrinya sudah merangkul lengannya, Sebastian menyudahi pembicaraannya.
“Apa kondisinya parah, Bee ?” tanya Kirana dengan khawatir.
“Shera ingin bertemu denganmu,” ujar Sebastian sambil menggenggam tangan Kirana yang masih merangkul lengannya.
Kirana mengernyit saat Sebastian membawanya ke lantai 3, bukan ke lantai 7 dimana kamar VVIP berada.
“Bee, kenapa lantai 3 ?” Kirana menatap Sebastian dengan dahi berkerut namun hanya genggaman tangan Sebastian di jemarinya.
“Apa kondisinya separah ini, Bee ?” tanya Kirana kembali saat Sebastian membawanya ke arah pintu ICU.
“Akan aku temani,” ujar Sebastian saat mereka sampai di depan pintu ruangan namun bukan ruang ICU.
Sudah ada Om Herman dan Tante Mira berdiri di depan ruangan, sementara Steven masih memakai snellinya duduk memangku Raven dan mengajak bocah itu berbincang, di sebelah mereka duduk juga Auntie Rosa. Tidak terlihat Uncle Raymond di situ.
“Kirana.” Tante Mira segera menghampiri Kirana dan memeluknya. Kirana menghela nafas mengurangi rasa khawatirnya, tangannya membalas pelukan Tante Mira dan mengusapnya perlahan.
“Kita doakan yang terbaik untuk Shera, Tante,” ujar Kirana untuk menenangkan Tante Mira yang menangis sambil memeluknya.
“Kita masuk dulu, Sayang,” Sebastian mendekat dan mengajak Kirana masuk ke dalam ruangan.
Om Herman pun mendekat dan merangkul istrinya yang masih sangat terpukul.
Sebastian mengernyit melihat Steven sudah berdiri di belakangnya saat ia membukakan pintu untuk Kirana.Tatapannya seolah bertanya pada Steven kenapa ikut masuk bersama Sebastian dan Kirana, tapi sepupunya itu mengabaikan tatapan Sebastian, malah langsung menyelip di belakang Kirana yang masuk terlebih dulu.
Sebastian hanya bisa mendengus kesal. Bukan waktunya ia mengomeli Steven yang kesannya masih ingin menempel pada Kirana.
__ADS_1
Kirana menggenggam erat jemari Sebastian untuk menguatkan dirinya yang begitu sedih melihat kondisi Shera saat ini.
Bukan hanya selang infus dan oksigen yang terpasang saat ini, lehernya pun diberi penyangga dan wajahnya luka-luka. Kirana juga bisa melihat kalau kaki Shera juga dibalut perban.
“Shera sedang hamil 4 minggu,” ujar Steven pelan. “Dan aku yakin kalau anak yang ada di kandungannya bukanlah anakku karena aku tidak pernah menyentuhnya sejak kami resmi menikah. Hubungan terakhir di hotel tidak akan membuat Shera hamil karena aku langsung memberikan obat padanya.”
Sebastian tercengang mendengar penjelasan Steven. Ingatan akan kejadian yang pernah menimpanya seolah terulang kembali dan kali ini Steven lah yang menempati posisinya.
Kirana mendekati Shera dengan mata yang mulai berembun. Sekuat tenaga Kirana menahan diri untuk tidak menangis di depan Shera, tapi melihat keadaannya dan cerita Steven, ada sedikit rasa sesal dalam hatinya karena tidak bisa memberikan pertolongan apa-apa.
Perlahan Kirana menyentuh lengan Shera. Ada beberapa luka kecil ke lengan kirinya, seperti terkena pecahan kaca. Tidak disangka mata wanita itu terbuka dan sempat mengerjap beberapa kali. Cairan bening mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
Seakan paham dengan tatapan Shera, Kirana menoleh ke arah Steven.
“Bisakah masker oksigen ini dilepas sebentar saja ? Sepertinya ada yang ingin disampaikan oleh Shera.”
Steven mendekati ranjang Shera sementara Sebastian masih berdiri di sebelah Kirana memperhatikan Steven yang mulai membuka penutup oksigen di wajah Shera.
“Maaf.” Kedua sudut mata Shera masih mengeluarkan air mata dan satu kata itu diucapkannya tanpa suara bahkan tidak menoleh karena kepalanya tertahan oleh penyangga leher.
“Semua sudah memaafkanmu. Cepatlah sembuh dan berjuanglah untuk Raven,” ujar Kirana di sela-sela derai air matanya.
Shera hanya tersenyum tipis dan kembali membuka tutup matanya. Dan sekali lagi ia menggerakan bibirnya mengucapkan kata maaf tanpa suara.
Hanya sampai di situ perjuangan Shera karena setelahnya, matanya kembali memejam dan tidak membuka kembali diriingi suara panjang alat pendeteksi jantung yang membuat Kirana langsung menangis.
Steven membunyikan panggilan emergency, Sebastian mengajak Kirana menjauh supaya Steven lebih leluasa melakukan tindakan yang dibutuhkan.
Shera yang dinyatakan dokter sedang hamil 4 minggu itu pun meninggal dunia. Shera mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Puncak sekitar jam 2 subuh. Mobil yang ternyata dikemudikan oleh Romi masuk jurang dan baru ditemukan oleh warga sekitar jam 4 pagi tadi.
Saat ditemukan, Romi sudah meninggal dan Shera sempat dibawa ke rumah sakit di Bogor lalu dipindahkan ke rumah sakit Pratama atas perintah Uncle Raymond.
Kirana masih menangis dalam pelukan Sebastian saat dokter menyatakan waktu kematian Shera sementara Steven hanya berdiri dalam diam memandangi wanita yang berstatus istrinya itu sudah terbujur kaku dan tidak bernyawa, membawa rahasia yang tidak pernah Steven ketahui.
Tante Mira langsung pingsan saat mendengar pernyataan dokter kalau putri tunggalnya itu meninggal dunia.
Steven bergegas keluar, mencari Raven lalu menggendongnya dan memberikan pelukan hangat untuk putranya. Tidak ada rasa sedih seorang suami yang kehilangan istrinya, apalagi saat mendapat berita kalau Shera sedang hamil dan wanita itu tidak sendirian di mobil.
Sebastian mengajak Kirana keluar. Istri kesayangannya itu masih terus menangis dalam pelukannya. Entah terbuat dari apa hati Kirana, menangisi wanita yang pernah mencoba menggagalkan pernikahannya dengan Sebastian dengan cara yang sungguh tercela.
“Mama,” Raven melepaskan diri dari gendongan Steven dan bergegas mendekati Kirana yang menangis.
“Apa Uncle jahat sama Mama ?” Raven mengusap tangan Kirana dan menatap galak ke arah Sebastian yang langsung menggerutu.
Kirana melepaskan pelukan Sebastian dan berlutut, mensejajarkan posisinya dengan tubuh mungil Raven.
“Nggak, Uncle Bas nggak jahat, malah sayang banget sama Auntie,” Kirana menghentikan tangisnya dan berusaha tersenyum.
“Terus kenapa Mama nangis ?”
Sebastian memutar bola matanya dan menarik nafas kesal mendengar anak Steven dan Shera masih memanggil istirnya dengan sebutan mama dan Steven dengan sebutan papa. Padahal Kirana sendiri sudah membahasakan dirinya dengan auntie di depan Raven.
“Auntie sedih karena mommy Raven tidur dan tidak akan bangun lagi.”
__ADS_1
Raven mengernyit, tangannya masih mengusap pipi Kirana yang basah bekas air mata.
“Mommy bobo siang ?” tanya Raven sambil mengernyit. “Mommy ngantuk terus makanya nggak bangun lagi, Ma ?”
“Mommy bobo karena mau pergi melihat bintang dan bulan di langit,” ujar Kirana sambil berusaha tersenyum.
“It’s okey,” ujar Raven sambil tersenyum.
Hati Kirana seperti ditusuk, perih, saat melihat tidak raut kecemasan apalagi kesedihan di wajah Raven saat mendengar mommy-nya tertidur panjang dan mungkin tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.
“Masih ada Papa,” Raven menoleh ke arah Steven sambil tersenyum. “Masih ada Mama juga yang akan temani Raven.”
Sebastian menarik nafas menahan emosinya. Rasanya ingin menjelaskan panjang lebar kalau Kirana bukanlah mamanya, tapi maminya Ronald dan Roland. Apalagi menyebut Kirana dan Steven sebagai papa dan mamanya. Tidak mungkin menjelaskan sambil marah-marah karena Raven tambah tidak mengerti.
“Auntie Kirana, bukan mama,” ujar Kirana sambil tersenyum.
Ia sempat melirik wajah Sebastian yang terlihat sangat kesal sementara Steven biasa saja, tidak berusaha memberikan penjelasan pada putranya.
“Raven panggil auntie bukan mama,” ujar Kirana kembali. “Nanti dedek Ronald dan Roland marah kalau dengar Raven panggil mami mereka dengan sebutan mama.”
Raven hanya mengernyit, pikirannya belum bisa menangkap jelas maksud ucapan Kirana.
“Kita cari makanan dulu, Boy,” Steven mendekat dan langsung menggendong putranya dari belakang lalu menciuminya hingga bocah itu terkekeh.
Entah apa yang dirasakan oleh Steven saat ini, Kirana enggan menebak-nebak. Kirana hanya bisa tersenyum getir saat melihat Steven sudah menjauh, masuk ke dalam lift sambil mengajak Raven bercanda dalam gendongannya.
Sebastian mendekat dan merangkul bahu istrinya.
“Hatinya pasti sakit seperti yang pernah aku alami dulu,” ujar Sebastian.
“Maksud kamu ?” Kedua alis Kirana menaut.
“Meskipun Steven tidak mengakui Shera sebagai istri sahnya, namun di atas kertas hubungan mereka adalah suami istri. Aku pernah merasakan bagaimana wanita yang berstatus istriku dinyatakan hamil oleh orang lain. Dan saat ini, berita kehamilan Shera membuat Steven lebih terpukul daripada kenyataan kalau Shera sudah tiada. Harga dirinya sebagai seorang laki-laki dan suami pasti terluka.”
Kirana menghela nafas dan menyusup dalam pelukan Sebastian sambil memeluk pinggang suaminya.
“Apakah keadaan akan berbeda kalau sampai kita membantu Shera, Bee ?” lirih Kirana.
“Tidak, tidak akan merubah apapun.”
Kirana mendongak dan menatap Sebastian dengan dahi berkerut.
“Dion baru saja mengabarkan, kalau mobil itu jatuh ke jurang bukan karena terserempet kendaraan lain, tapi lebih seperti usaha bunuh diri. Sekalipun kita menolongnya menjauhkan Romi dari keluarga mereka, Shera tetap akan sulit menerima kenyataan kalau dirinya tengah mengandung benih dari Romi. Bukan tidak mungkin Shera memilih bunuh diri sebagai jalan keluar terakhirnya karena tidak ingin mengecewakan Steven.
Shera baru mengungkapkan masalahnya padamu tiga minggu yang lalu, sementara usia kandungannya sudah 4 minggu. Jadi sekalipun kamu membantunya melepaskan diri dari Romi, Shera tetap harus menerima kenyataan kalau dirinya sudah terlanjur hamil anaknya Romi.”
Kirana menghela nafas karena tidak menyangka begitu rumit jalan hidup yang dipilih oleh Shera. Cinta dan obsesi begitu tipis, namun akhirnya di saat Shera menemukan jawaban yang sebenarnya, kenyataan pahit lain harus dihadapinya sebagai konsekuensi keputusannya di masa lalu.
__ADS_1