Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 38 Cinta yang Sesungguhnya


__ADS_3

Kirana yang segera kembali dengan kesadarannya, bergegas menjauhi Steven dan mencari tempat sepi tanpa menutup panggilam vc dari Sebastian.


“Bee, aku nggak bohong kalau pergi dengan Mbak Echi dan Mbak Shera. Tadi Steven…”


Kirana bisa melihat bagaimana Sebastian menarik nafas kasar karena kesal.


“Bee…”


“Aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu, Kiran. Aku tutup dulu.”


Tanpa menunggu jawaban Kirana atau mengucapkan kata-kata cinta seperti biasanya, Sebastian langsung mengakhiri panggilannya.


Kirana mencari tempat duduk yang ada dekat situ. Kakinya mendadak lemas. Baru saja merasa bahagia karena bisa melihat wajah Sebastian setelah 3 hari, diganggu lagi dengan kehadiran Steven.


“Bee, jangan marah.” Kirana mengirim satu kalimat pesan untuk Sebastian yang terkirim namun tidak terbaca.


Sementara jauh di Kalimantan tepatnya di kota Pontianak, Sebastian kembali masuk ke ruangan yang merangkap sebagai kantor sementara MegaCyber. Wajahnya terlihat sangat emosi. Kalau cuma ada Dion dan ketiga sahabatnya, pasti kata-kata makian sudah keluar dari mulutnya.


Dion yang sempat mendengar percakapan Sebastian dengan Kirana, langsung mengambil tindakan untuk meredakan kemarahan bossnya.


Dion mendekati Sebastian dan memperlihatkan pesan yang masuk ke handphonenya.


Marsha : Kita lagi di mal nih Yon, ladies day. Bilang boss elo, Kirana aman sama kita berdua, nggak bakalan diajak macam-macam 😀😀


Dion : Elo nggak bawa-bawa cowok buat dikenalin sama Kirana, kan ?


Marsha : Ya ampun Yon, masa iya gue tega merusak cinta Pak Bas sama Kirana 😡😡 Mereka udah jadi pasangan co cweet gutu.


Dion ; Mal ramai ?


Marsha : Lumayan Mas Bro. Cuma yang gue heran dari sekian banyak mal di Jakarta, kenapa juga harus ketemu Bu Shera sama Dokter Steven.


Dion memaksa Sebastian yang menolak membaca pesan berbalas dengan Marsha di handphone milik Dion.


Dengan wajah ogah-ogahan akhirnya Sebastian menerima juga dan membacanya.


“Jangan gampang nethink, Pak Bas. Yakinlah kalau Kirana bukan perempuan yang mudah berpaling.”


Dion pun menerima handphonenya yang langsung dikembalikan oleh Sebastian.


“Kenapa, Bro ?” Bara menepuk bahu sahabatnya dan meletakan segelas kopi di meja depan Sebastian. “Minum dulu. Terlalu capek buat pikiran jadi butek dan hati gampang emosi.”

__ADS_1


“Steven,” gumam Sebastian.


“Bro, namanya hidup pasti selalu ada tantangannya. Yang penting, Kirana nya. Dia menanggapi cowok yang mendekatinya atau nggak,” Evan ikut menimpali dan duduk dekat situ.


“Lagipula jangan lupa, Bas, Kirana itu masih lumayan muda- baru awal duapuluhan. Kata orang kalau kayak kembang lagi mekar-mekarnya.”


Samuel yang paling konyol pun ikut menimpali dan bergabung dengan ketiga sahabatnya.


“Lebih baik Bapak telepon Kirana lagi, jangan sampai salah paham. Apalagi kan Bapak lagi jauh dari Kirana.”


“Jangan sampai kondisi dia yang lagi sedih karena perlakuan elo, dimanfaatkan sama sepupu elo yang nggak kalah ganteng itu,” Samuel kembali menimpali dengan nada meledek


“Jangan sukanya manasin orang,” Evan langsung melotot ke arah Samuel yang terkikik.


Sebastian menimbang-nimbang apakah akan menghubungi Kirana kembali. Ia sendiri sadar kalau tidak mungkin Kirana yang sedang pergi dengan Steven berani menerima panggilan video call dari Sebastian.


Terlihat sepupunya itu lebih agresif dari yang Sebastian kenal. Yang agak mengkhawatirkan perasaan Steven yang terpupuk sejak lama menciptakan obsesi terhadap Kirana.


Sebastian mengurungkan niatnya untuk menghubungi Kirana kembali, bahkan pesan terakhir yang dikirimkan oleh kekasihnya hanya dilihat tanpa membuka nama Kirana.


Sebastian ingin menyelesaikan tugas awalnya di proyek ini secepatnya, dan pulang menemui Kirana. Kalau perlu langsung mengajak mommy dan daddy untuk melamar tambatan hatinya.


Kirana sendiri masih duduk di bangku yang sama. Ia sendiri merasa kesal kenapa Steven malah menjadi pengganggu dalam hidupnya.


Kirana mendongak, menatap pria yang menjadi sahabatnya dulu, sekarang terlihat lebih dewasa. Namun sayangnya di mata Kirana, sifat Steven justru semakin kekanak-kanakan.


“Aku sedang tidak mood untuk bicara apapun, Steve. Apalagi membahas tentang kita. Alu permisi dulu.”


Kirana bangkit dari bangkunya dan berjalan ke arah lain. Ia sengaja tidak melewati Steven supaya tidak tertahan lagi oleh pria itu.


“Na !” Ternyata Steven mengejarnya dan mensejajarkan langkah mereka. “Berikan aku waktu untuk berbicara denganmu lagi. Mumpung Sebastian sedang tidak ada di Jakarta.”


Kirana yang sedang sibuk menghubungi Echi dan Marsha menghentikan langkahnya dan memutar badan menghadap Steven.


“Ada atau tidaknya Sebastian di Jakarta bukan menjadi alasan bagiku untuk mau atau tidak berbicara denganmu. Lagipula Sebastian tidak pernah membatasi pergaulanku bila dianggapnya baik-baik saja. Jadi kalau sampai dia memintaku untuk tidak dekat denganmu, pasti ada alasan kuat yang aku percaya terbaik untukku.”


“Berikan aku satu kesempatan Kirana. Sekali saja,” wajah Steven terlihat memelas, sedikit ada rasa iba di hati Kirana namun segera ditepisnya.


“Kita sudah bicara panjang lebar saat di Bogor, Steve. Semua sudah jelas, apa lagi yang kamu ingin bicarakan ?” Raut wajah Kirana terlihat kesal.


“Bukan kesempatan bicara. Beri kesempatan untuk berada di sisimu, menjadi kekasihmu.” Tegas Steven.

__ADS_1


Kirana terbelalak mendengar permintaan Steven yang terdengar tidak masuk akal.


“Kamu masih waras kan, Steve ?” Kirana menggelengkan kepalanya. “Kamu itu seorang dokter hebat, dari keluarga terpandang dan berkecukupan. Tinggal tunjuk jarimu ingin kekasih seperti apa. Aku ini kekasih sepupumu.” Suara Kirana sedikit meninggi, namun kesadarannya masih ingat kalau saat ini sedang berada di tempat umum.


“Sejak awal aku mencintaimu, bahkan sebelum Sebastian mengenalmu. Aku lebih dulu mencintaimu, Kirana !” Steven pun berusaha menekan emosinya dengan meredakan suaranya.


Kirana tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


“Kamu salah Steve, Sebastian sudah menjadi bagian hidupku sejak dulu bahkan tanpa aku sadari.”


“Maksudmu ?”Steven mengerutkan dahinya.


“Sebastian adalah anak lelaki yang pernah aku tanyakan ada di halaman rumahnu. Dialah yang terluka karena terkena ketapelku. Aku yakin kamu tidak lupa saat aku menanyakan padamu, dan kamu menjawab tidak tahu.”


Steven mengerutkan dahinya kembali, mencoba mengingat kejadian itu. Ia menarik nafas panjang setelah sadar akan ucapan Kirana barusan.


“Tetapi akulah yang bertemu denganmu sebelum


Sebastian !” Steven mencengkram lengan Kirana cukup kuat, membuat gadis itu meringis.


“Lepaskan aku Steve, sakit !” Kirana berusaha melepaskan cengkraman Steven yang semakin kencang.


Steven menatap wajah Kirana dengan penuh emosi yang tertahan. Ia tidak sadar kalau Kirana semakin meringis kesakitan.


“Steve !” Bentak Kirana.


Kembali dari lamunan panjangnya, Steve yang tersentak kaget langsung melepaskan cengkramannya. Dilihatnya wajah Kirana yang sudah memerah menahan sakit.


Kirana bergegas pergi meninggalkan Steven. Ia melihat handphonenya yang sempat berbunyi beberapa kali. Terakhir pesan masuk dari Marsha yang mengabarkan kalau ia dan Echi menunggu Kirana di foodcourt lantai 3.


“Maaf,” kalimat pertama yang diucapkan Kirana saat ia sudah berdiri dekat meja yang ditempati Echi, Marsha dan kedua anak Echi beserta babysitter mereka


“Ki, kamu baik-baik saja kan ?” Exhi mengerutkan dahi saat dilihatnya wajah Kirana memerah dan ada bekas air mata.


“Apa Pak Bas memarahimu karena pergi dengan kami ?” Timpal Marsha yang ikut melihat wajah Kirana terlihat berbeda.


“Nggak kok Mbak, Pak Bas sama sekali nggak marah.Apalagi perginya sama dua wanita cantik di MegaCyber,” Kirana mengerling dan berusaha tertawa.


“Tapi wajah dan mata kamu…” Marsha menunjuk wajah Kirana.


“Kangen sama Pak Bas,” jawab Kirana sengaja dibuat sedikit sendu.

__ADS_1


“Ya ampun Kirana !” Marsha menepuk jidatnya sendiri. “Baru ditinggal 3 hari kok melow begitu,” ledeknya sambil mencebik.


Echi malah tertawa dan mengusap lengan Kirana yang tadi dicengkram oleh Steven. Ia berusaha tidak meringis supaya tidak semakin banyak pertanyaan dari Echi dan Marsha.


__ADS_2