
Kirana masih duduk di dalam busway yang akan membawanya ke Mal. Ia tidak berniat langsung pulang ke rumah dalam keadaan sekarang ini.
Sudah lima hari, seperti hitungan Sebastian, Kirana membuat keluarganya terlibat dalam masalah foto itu. Jadi sudah waktunya Kirana harus kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja, supaya tidak menambah khawatir terutama papa dan mama.
Belum juga busway membawa Kirana sampai di tempat tujuannya, handphone Kirana bergetar. Antara melihat atau mengabaikan, Kirana bingung sendiri. Akhirnya ia memilih mengambil handphone dari dalam tas selempangnya dan alisnya menaut saat mendapati nama Kendra di sana.
Ekspresi wajahnya langsung berubah saat mendapati bukan Kendra yang berbicara tapi seseorang yang mengaku polisi dan mengabarkan kalau adiknya kecelakaan.
Kirana bergegas turun di halte berikutnya dan batal ke mal. Namun mengingat banyak penipuan di Jakarta mengatasnamakan peristiwa kecelakaan, Kirana mencoba mencari tahu nomor telepon Rumah Sakit Pratama, tempat Kendra dibawa.
Kirana memastikan kalau memang ada pasien UGD yang bernama Kendra Gunawan sebagai korban kecelakaan lalu lintas. Dan setelah semuanya jelas, Kirana memilih naik taksi ke sana.
Sampai di ruang UGD, Kirana sempat ragu ingin melangkah masuk. Hatinya cemas, membayangkan keadaan buruk yang menimpa Kendra. Di tengah kebekuannya, seorang pria dengan seragam polisi mendekatinya.
“Ibu Kirana ?” Sapa polisi itu dengan sikap ramah.
“Nggg… iya saya Pak,” suara Kirana mendadak terbata karena kecemasan yang melanda hatinya.
Polisi itu mengeluarkan handphone milik Kendra yang terlihat retak di bagian layarnya.
“Mas Kendra sudah diobati dan sepertinya hanya luka luar. Dokter tidak bisa melakukan tindakan lebih lanjut tanpa keluarga pasien. Tapi sepertinya Mas Kendra kenal dengan salah satu dokter di sini yang langsung memberikan jaminan.”
“Terima kasih, Pak.”
“Mari ikut saya, Bu. Ada berita acara yang harus ditandatangani.”
Polisi itu mendahului Kirana masuk ke dalam UGD dan langsung membawanya ke tempat Kendra terbaring.
Kendra sendiri sedang dalam posisi setengah duduk di atas tempat tidur pasien dengan selang infus di tangannya.
“Kak Kirana,” panggil Kendra dengan suara pelan.
“Kamu nggak apa-apa Ken ?” Kirana menggenggam jemari adiknya dengan perasaan cemas. Kendra menggeleng.
“Kecelakaan terjadi karena ada mobil yang melanggar lampu merah, Bu,” jelas polisi yang masih berdiri dekat situ.
“Pengemudinya sudah kami tahan dan berjanji akan membayar semua biaya pengobatan dan perbaikan motor Mas Kendra.”
“Terima kasih, Pak.”
Kendra menjelaskan kalau ia bertemu dengan Steven saat pertama kali dibawa ke ruang UGD. Sahabat kecil kakaknya itu sedang berada di ruangan UGD. Steven pula yang berpesan pada dokter yang bertugas di UGD untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan atas jaminannya.
Setelah menjalani pemeriksaan, luka di tubuh Kendra tidak parah apalagi sampai mengalami patah tulang atau retak. Cukup tindakan rontgen saja tanpa perlu MRI atau CT Scan.
Polisi tadi membawa Kirana keluar ruangan dan memintanya menandatangani berita acara serah terima barang-baramg milik Kendra yang berhasil diamankan polisi termasuk laptop milik adiknya. Untuk motor dan penyelesaian kecelakaan ini, Kirana akan diminta datang ke kantor polisi yang sudah ditentukan.
Kirana dan Pak Norman, polisi yang mendampingi Kendra dan satu korban lainnya sejak awal, bertukar nomor handphone untuk memudahkan komunikasi. Setelah selesai urusan dengan Kirana, Pak Norman pun pamit kembali ke kantornya.
“Nana !”
Lagi-lagi suara itu yang memanggil namanya. Ingin menghindar tidak mungkin, malah Kirana harus berterima kasih pada Steven yang sudah membantu kemudahan pemeriksaan Kendra.
Kirana memutar badannya dan tersenyum pada Steven yang berjalan mendekatinya.
“Terima kasih atas bantuanmu pada Kendra, Steve.”
__ADS_1
“Boleh temani aku minum kopi di cafe depan ?”
Kirana yang semula ingin menolak merasa tidak enak, hingga akhirnya ia mengangguk.
“Aku pamit dulu sama Kendra, nanti dia nungguin.”
Steven mengangguk dan mengikuti Kirana masuk kembali ke ruangan UGD. Dilihatnya Kendra sedang tertidur di atas ranjang.
“Aku akan titip pesan dengan dokter Egi. Kalau nanti Kendra bangun dan infusnya sudah habis, biar temanku itu menelepon. Tidak ada luka yang perlu dikhawatirkan, jadi Kendra bisa langsung pulang.”
Kirana hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengikuti Steven menuju nurse station menemui Dokter Egi, kenalan Steven, yang berjaga di situ.
“Pacarnya nih, Dok ?” Goda salah satu perawat.
Steven hanya tersenyum tanpa menjawab sementara Kirana menoleh ke lain arah.
Keduanya pun meninggalkan ruang UGD, menuju cafe yang ada di dekat pintu masuk utama rumah sakit.
Selesai memesan minuman di kasir, keduanya menunggu pesanan di meja yang letaknya dekat kaca dan agak jauh dari pintu masuk cafe.
“Terima kasih, Steve, sudah membantu pemeriksaan Kendra,” Kirana membuka percakapan saat mereka sudah duduk berhadapan.
“Kamu mau bilang terima kasih berapa kali padaku ?” Steven tertawa.
Steven sedikit tercubit dengan sikap Kirana yang terlihat kaku dan formal padanya. Ada kerinduan pada kedekatan mereka saat masih sama-sama satu sekolah. Celoteh Kirana tentang banyak hal selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Steven.
“Nana,” Steven mencoba meraih jemari Kirana yang ada di atas meja. Namun dengan sigap Kirana mengangkatnya sebelum Steven berhasil menyentuhnya.
“Maaf,” lirih Steven saat melihat reaksi Kirana. “Apakah hubunganmu benar-benar serius dengan Sebastian ?”
“Apa tidak cukup sudah lebih tiga kali aku mengatakannya padamu, bahkan sudah aku ceritakan kalau Sebastian itu..”
Kirana terdiam dan membiarkan pelayan menyajikan pesanan mereka. Americano dingin untuk Steven dan Strawberry smoothies untuk Kirana.
“Tidak ada hubungan yang berjalan mulus terus, Steve. Justru di dalam masalah itu, pasangan akan saling mengenal dan memahami.”
Kirana menikmati smoothiesnya sambil merutuki dirinya dalam hati.
Bagaimana bisa ia bicara sebijaksana itu sementara kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja karena sebuah foto yang dikirim oleh pengecut yang langsung menon-aktifkan nomornya.
“Tidak mudah menjadi pasangan hidup Sebastian, Na. Shera banyak bercerita padaku.”
Mendengar nama mantan istri Sebastian, Kirana hanya tersenyum tipis.
“Sebastian selalu menjadi incaran banyak wanita yang melihatnya sebagai pria mapan, tampan dan berkharisma. Bahkan mereka rela hanya menjadi teman satu malam untuk Sebastian. Bagi lelaki normal, tidak akan mudah terus menerus melawan godaan semacam itu. Apa kamu sanggup menghalau semua wanita yang mencoba mengganggu Sebastian ?”
Kirana menatap Steven dengan alis bertaut. Terlihat senyuman sinis di bibir Kirana.
“Apakah itu yang dirasakan Shera selama menjalin hubungan dengan Sebastian sampai akhirnya ia memutuskan untuk berselingkuh sampai hamil dari pria lain ?”
“Aku tidak mau tahu masalah perasaan Shera, Na. Tapi yang pasti aku tidak ingin kamu yang berada dalam situasi seperti itu.”
“Jadi dengan kata lain kamu mau bilang kalau kamu adalah lelaki yang lebih baik dari Sebastian ?”
Steven menghela nafas panjang. Ingin menjawab iya, nanti ia akan dilihat sebagai pria arogan di mata Kirana. Mau jawab tidak, berarti ia sama dengan gambaran Sebastian yang diucapkannya barusan.
__ADS_1
“Jangan khawatirkan aku terlalu berlebihan, Steve. Aku sadar kalau diriku minim pengalaman soal hubungan dengan pria. Tapi aku akan belajar menjadikan semuanya pengalaman berharga dalam hidupku. Bahkan sekalipun aku harus mengalami kecewa, sakit hati atau bahkan sampai patah hati..” Kirana tersenyum dan berusaha bersikap biasa.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, tapi jangan terlalu berlebihan. Keputusanku kemarin, hari ini atau besok tetap sama, kita ini hanya sahabat, teman kecil. Maaf kalau aku tidak bisa membalas perasaanmu.”
Dari kejauhan Sebastian hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di samping. Ia sudah sampai di rumah sakit sejak Kirana melakukan serah terima dengan Pak Norman.
Aldo yang diminta terus memantau keberadaan Kirana, langsung melapor ke Dion saat mendapati posisi Kirana berada di Rumah Sakit Pratama.
Tanpa pikir panjang, khawatir ada sesuatu terjadi dengan Kirana, Sebastian membawa mobilnya sendiri ke sana.
Baru saja hendak menghampiri Kirana setelah urusannya dengan polisi selesai, namun Steven sudah muncul lebih dulu.
Sebastian memutuskan untuk memgikuti Steven dan Kirana tanpa ingin menganggu Kirana supaya suasana hatinya tidak semakin memburuk.
Melihat keduanya duduk di cafe, Sebastian seperti de javu. Di tempat yang sama ia pernah mendapati Shera bertemu dengan Steven. Masalahnya saat itu Shera tengah berbohong padanya, dan keduanya sedang berbincang sambil tertawa bahagia.
Sebastian baru saja hendak melangkah kembali ke mobil dan berencana meninggalkan rumah sakit, namun panggilan itu menghentikannya.
“Bee !” Suara Kirana sedikit kencang membuat Sebastian menoleh.
Dilihatnya Kirana sudah berjalan menuju ke arahnya. Steven mengikutinya dari belakang. Ternyata keduanya sudah meninggalkan cafe tanpa Sebastiian sadari.
Tanpa sungkan, Kirana langsung merengkuh lengan Sebastian begitu posisinya sudah dekat dengan pria itu.
“Maaf jadi merepotkanmu, Bee. Kendra baik-baik saja dan boleh langsung pulang. Untung tadi bertemu dengan Steven, jadi dokter bisa langsung mengambil tindakan tanpa menunggu kedatanganku.”
Sebastian yang sebetulnya tidak tahu menahu masalah keberadaan Kirana di rumah sakit ini karena Kendra kecelakaan sempat bingung. Tapi pikirannya langsung menangkap drama yang sedang dimainkan Kirana.
“Terima kasih sudah membantu Kendra, Steve,” Sebastian tersenyum pada sepupunya itu.
“Tadi Steven sempat menawarkan ingin mengantar aku dan Kendra pulang. Tapi aku bilang kalau kamu akan datang menjemputku. Terima kasih, Bee, maaf kalau sudah mengganggu jadwal meetingmu.”
“Untukmu tidak masalah, Honey.” Demi menjiwai peran yang diberikan oleh Kirana, Sebastian mencium kening kekasihnya. Ia bersyukur karena malah terjebak dalam drama Kirana ini.
“Kalau begitu aku pamit, Na, Bas.” Steven menganggukan kepalanya. “Bicara langsung saja dengan Dokter Egi kalau memang Kendra mau dibawa pulang sekarang.”
“Thankyou Steve,” ujar Kirana sambil mengangguk.
Kirana langsung melepaskan tangannya di lengan Sebastian dan hendak berlalu menuju ruang UGD.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Kirana,” Sebastian menahan lengan Kirana dan menggenggamnya erat.
“Saya hanya memanfaatkan anda untuk melepaskan diri dari Dokter Steven, Pak Sebastian,” ujar Kirana dengan nada ketus
“Dengan senang hati saya bersedia anda manfaatkan kapapun Nona Kirana,” sahut Sebastian dengan santai dan menggandeng Kirana menuju ruang UGD.
“Jangan memancing di air keruh, Pak Bas,” bisik Kirana.
“Kalau mau main drama jangan tanggung-tanggung, Honey. Apa kamu lupa kalau Steven itu anak pemilik rumah sakit ini ? Bisa saja setelah ini dia langsung ke ruang CCTV untuk memastikan kalau perbuatanmu padaku bukan drama.”
Sebastian menoleh sambil menyeringai licik. Diciumny pipi kiri Kirana dengan mesra.
“Biar lebih meyakinkan Steven, kalau cinta Sebastian pada Kirana lebih dari sekedar drama,” bisiknya pelan di telinga Kirana, membuat tengkuknya bergidik.
Kirana melengos sambil mengutuki dirinya yang memilih memanggil Sebastian untuk menghindari omongan soal hati dengan Steven. Tidak sengaja ia melihat bayangan Sebastian saat masih duduk di cafe. Posisinya yang menghadap ke arah pintu masuk sempat melihat Sebastian yang sedang diam berdiri seperti sedang melamum.
__ADS_1
Sekarang Kirana merasa terjebak dalam permainannya sendiri. Duda satu ini malah ketagihan jadi pemain drama dadakan buatan Kirana.
“I love you, Honey. Always.” Bisik Sebastian dengan suara lembut dan mesra.