Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Pengakuan Cinta


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak pertemuan Bara dan Renata. Seolah hilang ditelan bumi, Renata tidak pernah lagi menganggu Bara dengan kiriman pesan apalagi telepon.


Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Dua hari terakhir ini entah kenapa pikirannya sering terganggu dengan bayangan Renata.


Masalah usaha pembobolan data di rumah sakit Pratama sudah ditangani pihak berwajib karena para pelakunya sudah terbongkar. Salah satunya justru kekasih Ardi, pria yang pernah dikejar oleh Renata.


Meskipun tidak terbukti kalau Ardi terlibat, namun pria itu memilih mengundurkan diri karena merasa tidak enak. Ia menyesal telah dimanfaatkan oleh kekasihnya dengan cara dibuat mabuk.


Bara meraih handphonenya yang bergetar di atas meja. Evan dan Samuel masih sibuk membahas beberapa proyek yang sedang ditangani oleh MegaCyber.


Matanya menyipit saat melihat nama Renata muncul di layar handphonenya. Seolah ada kontak batin Renata menghubunginya. Ragu-ragu untuk menerimanya, akhirnya panggilan itu terputus sendiri. Berganti dengan satu pesan masuk dari wanita itu.


Renata : Bara, bisa kita bertemu lagi dalam waktu dekat. Ada yang mau aku sampaikan, tapi yang pasti tidak akan merepotkan atau membuatmu kesal 😊😊


Bara hanya membacanya tanpa tahu harus membalas dengan jawaban seperti apa.


“Kenapa lagi, Bro ?” suara Sebastian mengejutkannya.


Terlalu memikirkan Renata, Bara sampai tidak sadar kalau sahabat sekaligus boss nya sudah berada di dalam ruangan mereka.


Bara hanya memperlihatkan layar handphonenya dan sekilas Sebastian membaca nama Renata tanpa melihat detail pesanan yang dikirim oleh wanita itu.


“Kenapa lagi ?” Samuel yang sudah mendekati meja Bara ikutan bertanya melihat wajah sahabatnya yerlihat bingung.


”Paling masalah Renata lagi,” ledek Evan yang ikut mendekat.


Akhirnya mereka pindah ke sofa. Siang ini memang ada jadwal pertemuan keempat pria itu tanpa Dion. Rapat non-formal, membahas beberapa pekerjaan Sebastian yang akan dialihkan sebagian pada ketiga sahabatnya karena Kirana sudah semakin mendekati waktu melahirkan.


Sebastian tidak ingin jauh-jauh dari istrinya, hingga ia meminta bantuan ketiga sahabatnya untuk menangani pekerjaan-pekerjaan proyek yang sedang berjalan.


“Kalau memang elo merasa Renata sudah mulai berubah dan hati elo masih cinta, nggak ada salahnya dicoba,” Samuel buka suara kembali.


“Lebih baik gagal setelah mencoba daripada menyesal karena takut gagal, Bro,” timpal Evan. “Apalagi seperti cerita lo seminggu lalu kalau elo merasa Renata sedikit berubah.”


“Dia minta waktu ketemuan lagi,” ujar Bara.


”Gue sama Evan memang belum pernah punya pengalaman soal pacaran, beda tuh sama si boss yang udah dua kali,” Samuel melirik ke arah Sebastian yang sejak tadi fokus dengan handphonenya. Hari ini Kirana sedang diajak pergi lagi dengan mommy Amelia.


“Gue setuju dengan pendapat Samuel. -Kalau memang elo masih punya rasa dengan Renata, kenapa elo nggak kasih dia kesempatan untuk dekat dengan elo lagi. Sementara balik sebagai teman dulu sambil elo lihat gimana perubahan Renata. Kalau memang elo udah yakin, langsung lanjut jadi pacar.”


Bara meghela nafas mendengarkan saran dan pendapat para sahabatnya. Ada benarnya kalau Bara harus berani mencoba, entah bagaimana hasil akhirnya.


Tangannya langsung mengetik balasan pesan untuk Renata dan berjanji akan menemui wanita itu sore ini juga.


“Gue udah kasih kesempatan ketemu sore ini,” ujar Bara dengan tatapan tetap pada handphonenya.


“Nah gitu dong, Bro,” Evan memberikan jempolnya sambil tertawa.


“Kalau begitu, kita bereskan pekerjaan ini secepatnya,” ujar Sebastian sambil meletakan handphonenya di atas meja.


Keempatnya langsung membahas beberapa proyek yang sedang ditangani oleh MegaCyber.


**


**


Jam 6 sore Bara sudah sampai di restoran yang dipilih oleh Renata untuk bertemu. Seorang pelayan mengantarkan Bara menuju meja yang dipesan Renata dan ternyata wanita itu sudah lebih dulu duduk di sana.


“Hai Bara,” sapa Renata dengan suara yang terdengar lebih ramah dan kalem.


“Hmm…” Bara hanya menjawab singkat dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Renata.

__ADS_1


Bara sempat terkesima dengan penampilan Renata sore ini. Bukan karena pakaian mewah yang dikenakan Renata, tapi aura yang terpancar terlihat berbeda sore ini. Tatapan dan bahasa tubuh Renata jauh dari sikap sombong dan arogan.


Keduanya mengembalikan buku menu selesai memesan.


“Terima kasih sudah bersedia menemuiku sore ini,” ujar Renata sambil tersenyum. Senyum yang ternyata mampu menimbulkan debar di hati Bara.


“Terima kasih juga karena MegaCyber sudah bisa menemukan pelaku sebenarnya dan aku dibebaskan dari kecurigaan. Aku percaya kalau itu semua berkat kehebatanmu,” Renata tertawa pelan sambil memberikan jempolnya.


“Semuanya hasil kerja tim, bukan hanya aku sendiri,” sahut Bara dengan sedikit canggung.


“Tapi kamu adalah pimpro-nya, Bar. Aku tahu benar kehebatanmu saat menjadi mentorku.”


Bara hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Renata.


“Maaf,” Renata menghentikan tawanya. “Aku tidak bermaksud membuat kamu teringat akan perbuatan burukku yang menyakitimu saat di SMA dulu.”


“Semuanya sudah berlalu,” ujar Bara berusaha bersikap biasa-biasa saja.


Melihat beberapa kali Renata tertawa begitu lepas, hati Bara terus berdebar.


“Aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit Pratama,” ujar Renata pelan membuat Bara mengerutkan dahinya.


“Kenapa ? Bukankah kamu sudah terbukti tidak melakukan kesalahan apapun selain tergila-gila pada Ardi ?”


Renata tersenyum getir dan mengangkat wajahnya menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Bara.


“Aku ingin jauh dari mama. Hidup dalam aturan dan ambisinya membuat aku menyesali banyak hal dalam hidup ini, termasuk perasaanku padamu, Bar.”


Jantung Bara semakin berdebar namun ia tetap mengontrol emosinya agar tetap bersikap biasa saja.


“Aku pernah menyukaimu, Bara,” lanjut Renata dengan senyuman tipis. “Namun aku takut hidupku susah karena saat itu kamu sendiri bisa sekolah di tempat kita karena om-mu. Aku sudah tahu kalau mama pasti akan menentangku habis-habisan. Tapi aku sangat kecewa karena ternyata saat aku mencoba 'mengubur perasaanku padamu dan kembali fokus mengejar Sebastian, mama malah minta aku melepaskan Sebastian untuk adikku sendiri.”


Renata menjeda ucapannya dan kembali tersenyum getir. Kenangan pahit itu kembali terlintas di pikirannya. Itu sebabnya kenapa Renata sampai nekad kabur dan menemui Sebastian di Amerika. Bukan jalan keluar yang ia dapatkan, tetapi malah kembali disalahkan karena kejadian itu membuat Om Richard marah dan sempat mengacaukan usaha papanya.


Bara masih terdiam hingga pesanan mereka diantar oleh pelayan. Keduanya mulai menyantap dan menikmati hidangan yang ada.


“Masih tidak suka dengan buncis ?” tanya Bara saat Renata memisahkan buncis yang ada di piring steaknya.


“Kalau untuk yang satu ini sepertinya susah dihilangkan. Hanya masakan tumis buncis buatanmu yang bisa aku nikmati,” sahut Renata sambil tertawa.


Hati Renata ikut berdebar. Ternyata pria di depannya masih ingat dengan kebiasaannya yang anti makan buncis apalagi hanya direbus seperti yang ada di piringnya.


Namun pernah suatu kali, Renata justru tergiur dengan tumis buncis telur yang dibawa oleh Bara dalam kotak bekal makannya. Terlalu menikmati, sampai Renata akhirnya menghabiskan bekal milik Bara dan menukarnya dengan sepiring batagor untuk pria itu.


“Apa kamu masih suka masak di rumah om kamu, Bar ?”


“Hanya sekali-sekali kalau pas ke sana. Aku kost di dekat kampus saat kuliah.”


“Masakanmu enak, Bar. Biarpun sederhana tapi selalu menggugah selera makanku, apalagi kalau soal sayur, kamu tahu sendiri bagaimana sulitnya menelan masakan sayur-sayuran.”


Bara hanya tersenyum, ternyata Renata tidak pernah lupa dengan masakan Bara yang dibawa untuk bekal ke sekolah.''


Keduanya pun terlibat dengan cerita-cerita masa-masa sekolah dulu. Meskipun Bara hanya menanggapi sekali-sekali dengan jawaban singkat, Renata tetap berceloteh tentang hal-hal lucu dan menyenangkan yang pernah mereka lewati bersama.


Hingga akhirnya dua jam berlalu dan Renata harus kembali ke rumah sakit untuk membantu persalinan dadakan saat itu juga.


“Semoga saat kita bertemu lagi nanti, entah kapan, kamu sudah bisa menyembuhkan luka hatimu yang kutorehkan dulu.”


Renata mengulurkan tangannya saat mereka berdua sudah berdiri di dekat mobil masing-masing yang ternyata bersebelahan.


Bara hanya diam saja, tidak menanggapi uluran tangan Renata membuat wanita itu sedikit canggung.

__ADS_1


Renata kembali menarik tangannya dan tersenyum kikuk menghadapi sikap Bara yang berwajah datar dan hanya menatapnya.


“Aku jalan dulu, Bara. Sekali lagi terima kasih sudah bersedia menemuiku. Semoga kita masih bisa bertemu sebelum aku pergi,” Renata tersenyum dan melambaikan tangannya sambil perlahan menjauh menuju pintu mobil pengemudi.


Bara menahan lengan Renata dan menarik wanita itu hingga jatuh dalam pelukannya.


“Jangan lari lagi,” ujar Bara dengan pelan namun masih terdengar oleh Renata yang berada dalam pelukan Bara.


Debar jantung keduanya semakin cepat dan Renata sendiri terkejut dengan perlakuan Bara.


“Jangan lari dan belajarlah bertanggungjawab,” ujar Bara kembali.


“Bertanggungjawab ?” Renata melepaskan pelukan Bara perlahan dan menatap pria itu dengan alis menaut.


”Bertanggungjawab apalagi ?” tanya Renata dengan wajah bingung.


“Tanggungjawab menyembuhkan luka hatiku. Jangan coba lari lagi dan membiarkan aku menutup luka hanya bagian luarnya saja, tapi dalamnya tetap basah dan sering terasa pedih.”


“Bagaimana caranya aku membantumu menghapus luka itu ?” tanya Renata dengan nada sendu dan wajah menunduk.


“Tetaplah di sampingku seumur hidupmu.” Bara mengangkat dagu Renata dan mendapati mata wanita itu mengerjap, seakan tidak percaya dengan ucapan Bara.


“Jadilah bagian hidupku dan buat aku semakin membaik setiap harinya. Apa rasa itu masih ada tersisa untukku ?”


“Sama seperti luka hatimu, rasa itu tidak pernah bisa benar-benar aku hapus dari dalam hatiku,” jawab Renata malu-malu dan wajah tersipu.


“Kalau begitu jangan lagi menghindar. Asal kamu siap hidup susah dan senang denganku, pelan-pelan kita bisa membuat luka dan cinta itu menyatu.”


Renata masih tertunduk malu, namun ada rasa bahagia yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.


“Apa masalah restu orangtuamu akan menjadi penghalang lagi ?” tanya Bara.


“Tidak !” sahut Renata cepat dengan penuh keyakinan. Bahkan ia menatap Bara dengan sorot penuh percaya diri.


“Usiaku sudah hampir 30, bukan lagi waktunya mama mengatur hidupku. Bukan bermaksud jadi anak durhaka, aku hanya mengikuti suara hati yang dengan penuh keyakinan bisa aku buktikan hasil akhirnya.”


Baru saja Bara hendak bicara kembali, dering handphone Renata kembali berbunyi. Terlihat panggilan dari rumah sakit muncul di layarnya.


“Bisakah kita bicara lagi lain waktu ? Aku tidak mungkin menyuruh pasien menahan kelahiran,” ujar Renata sambil terkekeh.


“Pergilah !” Bara menganggukan kepalanya.


Renata mengangguk dan berbalik, namun teringat akan sesuatu Renata kembali berhadapan Bara dan berjinjit mendekati wajah pria itu.


Cup


Renata memberikan ciuman singkat di bibir Bara.


“I love you,” ucap Renata dengan suara pelan namun bisa didengar oleh Bara.


Tanpa menunggu jawaban Bara, Renata berlari kecil menuju mobilnya. Wajahnya terasa panas dan memerah menahan malu karena aksi nekadnya barusan.


Bara menahan mobil Renata yang keluar dari barisan, dan meminta Renata membuka kacanya.


Bara membungkuk dan meraih tengkuk Renata lalu memberikan ciuman di bibir wanita itu. Bukan sekedar ciuman singkat yang membuat tubuh Renata langsung panas dingin.


“I love you too,” ucap Bara setelah melepaskan ciumannya. “Kerja yang betul dan konsentrasi. Aku akan menunggu kabar darimu,”


Renata yang masih terkejut dengan perlakuan Bara hanya bisa mengangguk, membuat Bara tertawa pelan melihatnya.


“Pergilah sekarang, jangan biarkan pasienmu melahirkan tanpa dokter.”

__ADS_1


Lagi-lagi Renata hanya bisa mengangguk dan melanjutkan membawa mobilnya menuju rumah sakit.


Keduanya langsung memegang bibir mereka masing-masing dan tersenyum bahagia. Semoga kali ini semua rintangan yang menghalang lebih mudah dihadapi karena hati mereka telah menyatu.


__ADS_2