Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Kenangan Tentang Cinta


__ADS_3

Berempat mereka duduk berhadapan di ruang tamu apartemen Bara. Sebastian dan Kirana datang setelah Bara memberitahu tentang Shera yang masuk ke dalam mobilnya dengan wajah ketakutan.


Kirana duduk di sebelah mantan istri Sebastian itu sambil berusaha menenangkannya setelah sempat membantu Kirana membersihkan beberapa bagian tubuhnya yang kotor.


Sebastian sudah mencoba menghubungi Steven yang saat ini sudah berstatus sebagai suami Shera, namun pria itu tidak bisa datang dengan alasan sibuk dengan tugasnya di rumah sakit. Steven malah minta tolong pada Sebastian untuk membawa Shera ke rumah orangtuanya sendiri dimana Raven juga sedang menginap di sana.


“Sebetulnya apa yang terjadi ?” Kirana yang pertama kali buka suara saat melihat Shera sudah tenang kembali.


“Mereka orang-orang suruhan musuh klienku,” sahut Shera dengan suara lirih dan tangannya saling meremas.


“Memangnya kamu lagi menangani masalah apa ?” Kirana menautkan alisnya berharap Shera bercerita. “Dan bagaimana ceritanya kamu bisa sampai di tempat yang jauh dari rumah dan pusat keramaian ?”


Sebastian hanya diam saja. Mengenal sosok Shera yang sering berlaku sebagai drama queen, membuat Sebastian malas menunjukan simpati terhadap kondisi Shera.


Bara sendiri juga hanya diam dan menunggu Shera memberikan jawaban. Sejak tadi Bara memang belum menanyakan apapun. Membawa Shera ke apartemen miliknya bukan atas keinginannya tapi karena permintaan Sebastian.


“Ceritanya panjang dan aku…” Shera tertunduk dan mulai terisak.


Kirana menoleh ke arah suaminya yang langsung menggeleng. Sebastian melarang istrinya untuk membujuk Shera terlalu berlebihan. Hatinya yang pernah tersakiti sulit untuk percaya lagi dengan mantan istrinya itu.


“Sebaiknya kami pulang sekarang, Bar. Steven titip ucapan terima kasih karena sudah menolong Shera,” Sebastian hendak beranjak bangun untuk pamitan namun melihat Shera menggeleng membuat ia urung bangun dan tetap duduk di sofa.


“Bolehkah aku menginap di sini malam ini ?” Setelah menatap Sebastian, kini Shera menatap Bara seolah minta ijin kepada pemilik tempat.


“Tidak boleh !” Sebastian menjawab dengan tegas. “Jangan mencoba untuk menjatuhkan citra Bara ! Mana ada wanita bersuami tinggal di apartemen seorang pria, masih single pula.”


“Tapi Bas…” Shera masih berusaha meminta.


“Tidak bisa ! Mungkin tidak masalah bagimu menghabiskan malam dengan lelaki manapun, tapi tidak akan aku biarkan sahabatku menjadi salah satu tempat pelarianmu.”


“Bee,” tegur Kirana dengan suara pelan.


Sebastian menoleh menatap istrinya masih dengan tampang galaknya dan Kirana membalasnya dengan senyuman sambil menggeleng.


“Shera,” panggil Kirana sambil menyentuh bahu Shera. “Dalam keadaan apapun kamu harus pulang. Raven pasti sudah menunggumu. Statusmu pun sekarang sudah menjadi seorang istrinya Steven, sudah kewajiban kita menjaga nama baik suami.”


“Istri ? Suami ?” Shera tertawa dengan suara miris. “Sepertinya Steven tidak pernah menganggapku sebagai istrinya. Dan suami ? Bahkan hampir lima bulan kami menikah, Steven tidak pernah menjalankan kewajiban batin sebagai suami.”


“Bersabarlah, Steven pasti butuh waktu untuk menerima semuanya ini,” ujar Kirana menasehati.


“Sabar ? Bagaimana mungkin menunggu cinta Steven yang sampai hari ini masih mencintaimu ? Jangankan menyentuhku, tidur sekamar denganku saja dia enggan. Tatapannya seperti jijik setiap kali melihatku,.”

__ADS_1


“Jangan bawa-bawa istriku ke dalam masalah rumah tanggamu !” bentak Sebastian. “Seharusnya kamu puas karena berhasil membuat Steven menjadi milikmu sekalipun dia tidak mencintaimu. Bukankah memang itu tujuanmu sejak awal, sampai membiarkan dirimu hamil anak Steven ?”


Shera menatap Sebastian dengan wajah sendu. Tidak ada lagi tatapan cinta yang dimiliki pria yang sempat menyandang status sebagai suaminya itu. Padahal Sebastian pernah begitu mencintainya dan memperhatikannya saat mereka berpacaran bertahun-tahun lalu.


“Kami akan mengantarmu ke rumah om Herman,” Sebastian membalas tatapan Shera dengan wajah datar dan tegas.


Sebastian beranjak bangun dan mengulurkan tangan untuk membantu Kirana bangun. Wajah Sebastian sudah dihiasi senyum dan tidak lagi galak saat menatap Kirana.


“Tolong temani kami ke bawah dulu, Bar,” pinta Sebastian.


Shera menghela nafas sebelum beranjak bangun. Ia enggan pulang ke rumah orangtuanya karena tidak ingin membawa masalahnya ke sana. Shera sadar kalau ia sudah membuat kedua orangtuanya berada dalam posisi yang sulit.


Keempatnya turun ke basement tanpa percakapan, hanya Sebastian yang begitu posesif mengingatkan Kirana untuk lebih berhati-hati saat berjalan.


Memasuki bulan kelima, perut Kirana yang membawa bayi kembar sudah terlihat lumayan besar.


Terlihat beberapa kali Shera menghela nafas melihat kemesraan Sebastian pada istrinya. Ada sedikit penyesalan dalam hati Shera. Kalau saja ia dulu menerima kondisi apa adanya, membiarkan Steven mengejar Kirana sebagai cintanya dan menerima Sebastian sebagai suaminya, tentu keadaan tidak akan sekacau sekarang.


Sebastian mengucapkan terima kasih mewakili Steven atas bantuan Bara yang menolong Shera. Sesudahya pria single yang berusia tigapuluh tahun itu kembali ke apartemennya.


Ia tersenyum sendiri sambil geleng-geleng. Ternyata kehidupan Sebastian sedikit rumit di matanya. Wanita yang menjadi cinta pertamanya dan pernah dipuja-puja oleh Sebastian sekarang menjadi istri sepupunya, dan wanita yang sangat dicintai dan dipuja oleh sepupunya justru lebih memilih Sebastian menjadi suaminya.


Butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah orangtua Shera karena jarak yang cukup jauh dari apartemen Bara.


“Mau mampir dulu, Ki ?” Shera menawarkan Kirana saat mobil Sebastian sudah berhenti di depan gerbang.


“Istriku sedang hamil, aku tidak mengijinkannya keluar sampai larut malam,” Sebastian yang menyahut dengan suara galaknya.


Shera hanya tersenyum miris dan membuka pintu mobil.


”Terima kasih karena sudah menolongku dan maaf karena merepotkan kalian,” ujar Shera sebelum ia benar-benar turun dari mobil.


”Titip salam untuk om Herman, tante Mira dan Raven,” kali ini Kirana yang menyahut sambil menoleh ke arah belakang. Ia pun sempat tersenyum kepada Shera.


Shera balas tersenyum dan kembali mengangguk. Ia pun langsung turun tanpa menunggu tanggapan Sebastian yang tetap memandang ke arah depan.


“Kita tunggu sampai Shera masuk, Bee,” tangan Kirana menahan Sebastian yang hendak memindahkan posisi gigi mobil.


“Ini sudah di depan rumahnya, Honey,” sahut Sebastian dengan wajah malas.


“Mungkin saja orang yang bermaksud jahat padanya itu datang kemari dan sudah menunggu Shera di tempat tersembunyi.”

__ADS_1


Kirana mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan mengedarkan pandangan dengan tatapan was-was. Sebastian tertawa dan mencubit pipi istrinya dengan gemas.


“Kamu cocok juga jadi detektif.”


“Bee !” Kirana langsung cemberut saat Sebastian malah menertawakannya. “Biar bagaimana pun dia itu adik iparmu sekarang,” gerutu Kirana.


“Apa aku masih kurang baik sebagai kakak ipar ?” ledek Sebastian. “Aku sampai rela menunda bermanja-manja dengan istriku hanya demi menjemputnya dan menuruti permintaan suaminya untuk membawanya kemari.”


“Kenapa Steven nggak suruh Shera langsung pulang aja ke rumah mereka ?” Kirana menautkan alisnya.


“Apa kamu lupa dengan curahan hati Shera tadi ? Steven tidak pernah menganggapnya apalagi memperlakukannya sebagai seorang istri. Malah dengan santainya Shera bilang kalau suaminya itu masih mencintaimu. Menyebalkan !” Sebastian menggerutu membuat Kirana terkekeh.


“Ada yang cemburu nih ? Tapi kok aku malah senang dan gemes banget sama wajah suamiku yang terlihat imut kalau lagi ngambek begini.” Gantian Kirana mencubit sebelah pipi Sebastian dan menggoyangkannya.


“Sakit Kiran,” gerutu Sebastian sambil menjauhkan wajahnya. Kirana melepaskan tangannya sambil tertawa.


“Sekarang kamu percaya kan dengan pengelihatanku kalau Steven masih memiliki rasa padamu,” Sebastian dengan wajah juteknya mulai menggerutu, kedua alisnya terangkat sambil menatap Kirana.


“Iya sayang, iya… Aku percaya dan akan menghindari Steven sejauh mungkin. Dan kamu sendiri !” Kirana menunjuk ke arah Sebastian .”Awas saja kalau membiarkan para ulat bulu itu menempel di dekatmu. Terutama dua wanita yang sudah bukan lagi seperti ulat bulu tetapi lintah, susah lepas kalau sudah nempel. Sepertinya perlu aku lumerkan dengan garam.”


Sebastian tertawa melihat wajah dan mulut istrinya yang mengomel.


Terlalu asyik berdebat, mereka sampai tidak sadar kalau Shera sudah masuk ke dalam rumah bahkan sedang mengintip ke arah mobil Sebastian yang masih terparkir di sana.


Mengkhianati dan memanfaatkan Sebastian dalam hidup percintaannya, memaksa Steven menjadi miliknya dengan cara membuat diri hamil, membuat Shera benar-benar terpuruk dalam kubang penyesalan.


Kedua pewaris keluarga Pratama itu adalah pria-pria baik yang hidupnya telah dibuat berantakan oleh Shera.


Para bodyguard yang sempat mengejarnya di taman adalah orang-orang suruhan pria yang menjadi teman tidur Shera setelah diceraikan oleh Sebastian. Pria beristri yang usianya di atas Sebastian tidak mau menikahinya sebagai istri kedua tetapi juga tidak mau melepaskan Shera setelah statusnya berganti menjadi istri Steven.


Shera yang sudah memutuskan ingin belajar menjadi wanita baik-baik dan istri yang bertanggungjawab pada suami dan anaknya, menyanpaikan biatnya untuk mengakhiri hubungannya denganpria itu. Mungkin dengan cara itu, ia bisa membayar kesalahannya dan membuat Steven mencintainya.


Tapi sayangnya pria yang sudah menjadikannya semacam simpanan tidak membiarkan Shera pergi dari sisinya sekalipun ia tidak melarang Shera menjalankan perannya sebagai istri Steven.


Shera yang sadar akan kegilaan pria itu pun melakukan pemutusan hubungan sepihak dan tidak lagi menemui pria itu selama beberapa minggu terakhir. Namun ternyata pria itu membuktikan ucapannya kalau ia tidak akan melepaskan Shera sebagai teman tidurnya.


Shera menghela nafas saat melihat mobil Sebastian perlahan meninggalkan depan rumahnya. Tatapan penuh cinta pada Kirana yang terlihat di mata Sebastian begitu dalam, melebihi yang pernah dilihatnya saat Sebastian melamarnya untuk menjadi istri.


Seolah terhipnotis dengan mata Sebastian, Shera kembali larut dalam ingatan tentang cinta Sebastian yang pernah juga diberikan untuknya. Namun entah mengapa saat itu Shera tidak mampu menerimanya dengan perasaan bahagia, pikirannya hanya tertuju pada Steven yang kembali sering ditemuinya saat statusnya menjadi kekasih Sebastian.


Shera menghela nafas. Mengapa hatinya begitu iri melihat tatapan cinta untuk Kirana yang diberikan oleh Sebastian ?

__ADS_1


__ADS_2