Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Ibarat Pohon Buah


__ADS_3

Empat bulan berlalu sejak kematian Shera. Steven pun akhirnya berangkat ke Papua dan rencananya akan kembali pada liburan akhir tahun.


Raven tetap tinggal dengan orangtua Shera dan Kirana ikut membantu mengawasi bocah berusia tiga tahun itu yang mulai sekolah di kelas pre-school.


Awalnya Sebastian menentang keras, tapi karena itu semua permintaan Shera di surat terakhirnya, akhirnya Sebastian mengalah dengan catatan Raven tidak boleh lagi memanggil Kirana dengan sebutan mama. Sebastian berharap Steven akan segera menikah lagi supaya mandat Shers pada istrinya berakhir saat Raven memiliki ibu sambung.


Pagi ini Kirana hendak memberikan kejutan untuk suaminya. Sesudah merapikan semua kebutuhan si kembar, Kirana mengantarnya ke rumah mommy Amelia. Siang nanti mommy akan menyusul ke kantor membawa si kembar sekalian makan siang dengan daddy Richard dan Sebastian.


Sekitar jam 10 Kirana baru saja keluar dari lift di lantai 15,. Matanya mengernyit saat melihat ruangan Widya tidak berpenghuni tapi komputer tetap nyala.


Langkahnya berhenti di depan pintu ruangan Sebastian karena mendengar ada suara lain dari dalam ruangan tapi bukan suara Dion, melainkan suara perempuan.


Tangannya sudsh memegang handel pintu ruangan Sebastian, tapi ragu untuk membukanya. Belum sempat Kirana membuka pintu, dari dalam sudah muncul orang tapi bukan Sebastian, gerakannya juga sedikit mencurigakan seperti sedang mengendap-endap.


”Selamat pagi Kirana,” sapa Markus dengan suara pelan.


Pria yang muncul itu adalah senior marketing manager yang sudah lama bekerja di Megacyber. Bahkan jauh sebelum Kirana berkerja sebagai sekretaris Sebastian.


Kirana hanya balas dengan anggukan karena pandangannya lebih tertarik pada yang terlihat di dalam ruangan.


Markus sendiri langsung bergegas melesat meninggalkan Kirana yang membiarkan pintu ruangan Sebastian terbuka.


Seorang wanita yang belum pernah dilihatnya duduk di samping suaminya yang sedang fokus membaca dokumen.


Entah sengaja atau tidak sadar kalau ada Kirana di situ, wanita tadi menggeser duduknya hingga kedua lutut mereka bertemu. Pakaiannya memang ala kantoran, tapi rok nya hanya menutupi setengah pahanya, belum lagi kemeja tipis yang ada di balik blazernya sengaja dibuka hingga tiga kancing ke bawah.


Kirana langsung menatap kesal karena Sebastian sepertinya diam saja sementara si wanita tidak bisa duduk tenang.


“Kiran,” panggilan Widya yang baru saja balik ke ruangannya mengusik Sebastian yang langsung mendongak dan berbinar melihat sosok istrinya berdiri di pintu.


Tapi hanya sekejap karena wanita yang duduk di sampingnya ikut terkejut dan terjatuh ke arah Sebastian dan langsung memeluk boss-nya itu.


Sebastian kaget dan langsung mendorong wanita tadi hingga terjatuh dari sofa dengan wajah meringis.


“Kamu lagi ngapain di sini ?” hardik Sebastian dengan wajah kesal.


Seingat Sebastian di sebelahnya tidak ada siapa-siapa. Markus dan staf barunya itu duduk di sofa berseberangan dengan Sebastian.


Ia bergegas bangun tapi sudah tidak ada sosok istrinya di pintu.


“Kemana Kirana ?” tanya Sebastian saat melihat Widya berdiri di depan pintu.


“Pergi,” Widya menujuk ke arah lorong di luar pintunya.


“Urus wanita di dalam !” perintah Sebastian dengan geram. “Kalau perlu kasih peringatan juga ke Markus.”


Widya mengangguk dan membiarkan Sebastian berlari di lorong menuju lift. Tidak ada istrinya, hanya ada Mansyur.


“Dimana istri saya ?” tanya Sebastian dengan wajah panik.


“Turun Pak Bas.”

__ADS_1


Sebastian menghela nafas saat melihat angka di lift sudah tidak bergerak. Kirana sudah sampai di lobby.


Sebastian mencoba menghubungi Kirana tapi kondisi handphonenya mati, hingga tidak mungkin juga dilacak keberadaannya.


“Ngapain tadi kamu duduk di sebelah saya dan kemana Markus ?”


Gadis itu hanya diam saja sambil menunduk. Lala, karyawan yang baru sebulan bekerja di divisi marketing yang dikepalai oleh Markus, tidak berani menjawab apa-apa.


Hari ini adalah pertama kalinya Lala bertemu dengan sang pemilik perusahaan. Begitu melihat Sebastian, jantung Lala langsung berdegup. Pria mapan berusia hampir 30 tahun itu memang selalu mempesona meskipun tidak banyak bicara.


Markus yang melihat gelagat anak buahnya bukanny menegur malah seperti memberi peluang, entah apa alasannya, tapi cukup membuat Sebastian berang.


“Kirana sudah keluar meninggalkan gedung, Pak,” lapor Widya saat Sebastian sudah kembali ke ruangan Widya.


“Minta Aldo…”


“Kecuali habdphone, alat pelacak lainnya ada di rumah dan sekarang handphone Kirana dalam keadaan mati,”ujar Widya cepat sebelum Sebastian menyampaikan maksudnya.


“Shit !” Sebastian menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.


“Minta HRD mengeluarkan karyawan tadi !” perintah Sebastian yang langsung kembali ke ruangannya sambil membanting pintu.


Dia merutuki kebiasaan buruknya. Kalau sudah fokus membaca, Sebastian tidak lagi memperhatikan suasana di sekelilingnya.


Itu sebabnya sejak kecil, Sebastian selalu memilih tempat yang sepi, jauh dari keramaian. Bukan karena terganggu dengan suara berisik tapi seringkali dia malah cenderung lengah dengan banyak hal di sekelilingnya. Salah satunya kejadian ketapel Kirana. Sampai batu itu melukai pelipisnya, Sebastian baru sadar ada orang lain di dekatnya, tapi akhirnya secepat kilat Kirana juga menghilang.


Hingga satu jam berlalu, kondisinya masih sama. Kirana belum bisa dihubungi. Di rumah juga tidak ada, malah bibik bilang kalau si kembar dibawa ke rumah momny Amelia sejak pagi.


Mau menghubungi mommy Amelia sepertinya akan menambah kerunmutan, apalagi kalau mommy-nya tahu Kirana menghilang gara-gara ulat bulu.


Sebastian menghela nafasnya dan bersiap menerima omelan mommy Amelia. Kalau saja hari ini Dion tidak cuti karena ada keperluan keluarga, tidak akan ada kejadian Sebastian ditinggal berdua di ruangan oleh karyawannya sendiri.


Dengan lesu Sebastian naik ke ruangan daddy Richard. Dia sempat melirik, menyapu ruangan sekretariat dan staf khusus tapi tidak ada tanda-tanda Kirana ada di sana.


Tanpa mengetuk lagi, Sebastian langsung membuka pintu lainnya. Bukan hanya daddy Richard dan momny Amelia, ternyata ada di kembar dengan babysitter mereka di dalam.


Keduanya yang berada dalam gendongan opa dan omanya langsung menggerak-gerakan kaki dan tangannya begitu melihat papi mereka ada di situ.


Sebastian memberi isyarat pada kedua babysitter supaya menunggu di luar karena tidak ingin mereka mendengarkan mommy Amelia memarahinya karena Kirana.


“Loh Kirana mana, Bas ?” mommy Amelia mengerutkan dahi dan menyerahkan Roland yang terus bergerak minta digendong papinya.


Ronald terdiam saat melihat Sebastian menggendong adiknya, tapi Sebastian tetap mendekatinya lalu mencium putra sulungnya dengan gemas hingga bayi berusia enam bulan itu tertawa kegelian.


“Tadi Kirana sudah datang pas aku lagi meeting, Mom. Sekarang nggak tahu kemana, udah satu jam handphonenya tidak bisa dihubungi.”


“Ulet bulu mana lagi yang mendekati kamu kali ini ?” tanya mommy dengan mata memicing.


Sebetulnya Kirana sempat menghubungi mommy Amelia menggunakan handphone orang lain, entah siapa punya. Alasannya baterai handphonenya habis dan Kirana tidak membawa pengisi daya cadangan. Itu pun bukan karena ingin mengadu, tapi memberitahu kalau Kirana sedang keluar sebentar dan akan kembali sebelum jam makan siang.


Curiga dengan menantunya, akhirnya mommy langsung menghubungi Widya dan mencari tahu persoalan yang sebenarnya.

__ADS_1


“Kirana tidak ngadu sama Mommy, tapi insting Momny yakin terjadi sesuatu di antara kalian,” ujar mommy Kirana saat melihat wajah Sebastian.


Daddy Richard tidak ikut bicara, hanya mendengarkan saja dan sibuk bermain dengan kedua cucunya yang akhirnya didudukan di kereta dorong mereka.


Sebastian menghela nafas dan akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Bukannya kasihan daddy Richard malah tertawa. Ternyata pengalamannya menular ke putra tunggalnya.


“Makanya harus ingat-ingat Bas, kamu itu ibarat pohon buah yang nggak kenal musim,” ledek daddy Richard.


“Nggak perlu tunggu ranum, banyak yang tertarik ingin mengambil buahmu. Jangan biarkan terlalu banyak dahan tumbuh sampai keluar pagar, akhirnya hanya memberi kesempatan orang untuk naik ke batang dan memetik buah meski belum ijin sama pemilik pohon alias mencuri,” lanjut daddy Richard.


“Belajar sana sama Daddy yang selalu punya cara jitu,” ledek mommy Amelia sambil melirik suaminya.


“Sepertinya Markus ikut terlibat juga, Dad. Tadi kami meeting bertiga, tahu-tahu Markus pergi jadi aku tinggal berdua.”


“Jangan lengah dan akhirnya memberi orang kesempatan untuk masuk, Bas,” nasehat mommy.


Sosok yang muncul setelah pintu diketuk membuat Sebastian menarik nafas lega. Istri kesayangannya datang membawa satu paper bag.


“Ini jus alpukat untuk Mommy dan sirsak untuk Daddy,” Kirana menyerahkan dua gelas pesanan mertuanya. Ia sendiri sedang menikmati jus mangga.


Dilewatinya Sebastian tanpa bicara apa-apa bahkan melirik pun tidak.


Kirana langsung mendekati si kembar yang kembali bergerak lincah ingin minta digendong dan berusaha menggapai gelas plastik yang dipegang Kirana.


Sebastian menghela nafas dan menunggu istrinya berdiri tegak kembali.


“Jadi yang dibeliin cuma Mommy dan Daddy aja ? Papinya kembar nggak dibeliin ?” bisik Sebastian sambil memeluk istrinya dari belakang tanpa mempedulikan kedua orangtuanya yang ada di situ.


Tubuh Kirana langsung membeku, wajahnya mendadak pucat. Sekuat tenaga ia melepaskan diri dari Sebastian hingga suaminya hampir terjungkal ke belakang.


“Honey !” dahi Sebastian berkerut mendapat perlakuan istrinya yang sedikit kasar.


Kirana berbalik menatap Sebastian dengan raut wajah kesal sekaligus pucat.


“Kamu bau ! Bau parfum cewek !”


Kirana meletakan gelasnya di atas meja sofa dan bergegas keluar sambil menutup hidungnya.


Sebastian hanya tercengang dengan bibir terbuka, sementara Daddy dan Mommy malah tergelak menertawakannya. Si kembar ikut tertawa melihat opa dan omanya tertawa.


“Syukurin kamu, Bas. Makanya jadi lelaki jangan suka tebar pesona. Nggak dikawal sama Dion sehari aja udah bikin masalah,” ledek daddy di sela-sela tawanya.


Sebastian hanya tertawa kikut dan mengusap tengkuknya.


“Ngapain malah bengong ! Kejar sana istri kamu ! Mau buat menantu Mommy menghilang lagi ?” hardik mommy sambil melotot.


“Eh iya, Mom.” Sebastian pun bergegas keluar ruangan untuk menyusul Kirana.


Sebastian sempat mencium kemejanya sendiri dan memang benar ada bau parfum lain yang melekat di bagian depan.

__ADS_1


“Tolong ambilkan kemeja ganti untuk saya,” perintah Sebastian pada Amir sebelum ia keluar dari pintunruang sekretariat.


Amir, Echi, dan Marsha saling pandang-pandangan dengan alis menaut.


__ADS_2