Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 76 Pembiacaraan Dari Hati ke Hati


__ADS_3

“Pipi kamu masih sakit ?” Sebastian menyentuh wajah Kirana yang ditampar oleh Shera.


 


Rasanya ia ingin langsung balas menampar wanita itu, namun ditahannya supaya rencananya bisa tercapai sempurna.


 


“Pak Bas masih marah sama saya ?” tanya Kirana mengerjap-ngerjapkan matanya setelah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Sebastian.


 


Sebastian menggeleng sambil tersennyum “Sejak awal aku tidak pernah marah padamu, Honey. Aku tahu yang sebenarnya.”


 


Kirana mengerutkan dahi sambil menatap Sebastian sampai suara deheman mengingatkan mereka kalau masih ada Felix di dekat situ.


 


“Eh maaf Kak Felix, saya sampai lupa,” Kirana tertawa pelan. “Lupa mengenalkan Pak Bas..”


 


“Honey !” tegur Sebastian sambil mendelik. Kirana masih sedikit bingung karena tiga hari yang lalu Sebastian melarangnya memanggil calon suaminya dengan panggilan kesayangannya.


 


Sebastian menghela nafas dan beralih pada Felix. Sebelah tangannya menggenggam tangan Kirana.


 


“Kenalkan saya Sebastian Pratama,” Sebastian mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri. “Saya adalah calon suami Kirana.”


 


Felix terperangah mendengar ucapan terakhir dari mulut Sebastian. Kirana bahkan tidak pernah bercerita kalau ia sudah memiliki calon suami pada Felix saat mereka bertemu dua hari yang lalu.


 


“Maaf Kak Felix, saya tidak bermaksud menutupi status saya,” ujar Kirana sambil tertunduk. Hatinya merasa tidak enak melihat wajah Felix yang terlihat bingung.


 


“Apa ada tempat yang bisa saya pakai untuk bicara berdua dengan Kirana tanpa Shera ketahui ? Ada hal penting yang mau saya bahas dengan calon istri saya,” tanya Sebastian pada Felix yang mencoba menerima ucapan Sebastian tentang status Kirana.


 


“Pakailah ruangan saya,” Felix mengeluarkan kunci dari kantong celananya. “Kirana tahu dimana letak ruangan saya,” lanjut Felix sambil menoleh menatap Kirana.


 


“Terima kasih Kak,” Kirana mengangguk dan memberi isyarat pada Sebastian untuk mengikutinya.


 


Felix yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Sepertinya Felix tidak boleh terlalu bersenang hati dulu saat Kirana meminta kembali pekerjaan lamanya dua hari yang lalu.


Baru saja Felix merasa senang dengan kembalinya Kirana bekerja di café. Ia sudah merencanakan untuk menjadikan Kirana orang keduanya supaya ia bisa fokus mengurus beberapa café lainnya. Tapi kenyataannya Kirana sebentar lagi akan menikah. Kalau melihat penampilan Sebastian, Felix yakin kalau calon suami Kirana itu bukan orang sembarangan.


 


“Apa kamu sering ke ruangan Felix ?” tanya Sebastian saat mengikuti Kirana naik ke lantai 2.


 


“Dua hari yang lalu, saat aku melamar untuk bekerja lagi di tempat ini.”


 


“Aku dengar kalau Felix itu masih single,” ujar Sebastian dengan nada yang terdengar penuh dengan rasa cemburu.


 

__ADS_1


“Kamu pasti sudah tahu banyak sebelum aku bercerita, Bee,” sahut Kirana sambil tertawa pelan. Ia pun memasukan kunci dan membuka pintu ruangan Felix lalu mempersilakan Sebastian masuk.


 


Tanpa menunggu lama, Sebastian menarik lengan Kirana dan menutup pintu lalu mendorong tubuh Kirana hingga menempel pada pintu. Ia pun langsung memberikan ciuman panjang di bibir Kirana. Rasanya ia ingin mengungkapkan segala kerinduannya setelah lama tidak bertemu bahkan empat hari sengaja bersikap musuhan pada calon istrinya.


 


“Aku mencintaimu, Kirana. Selalu. Dan aku lebih percaya denganmu daripada kiriman foto yang Steven berikan,” ujar Sebastian sambil mengusap lembut bibir Kirana.


 


“Tapi hari itu…”


 


Sebastian langsung menutup mulut Kirana dengan telunjuknya sambil tersenyum,


 


“Aku akan menceritakan semuanya padamu.”


 


Kirana mengangguk dan mengajak Sebastian duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mereka duduk bersebelahan dengan jemari saling bertautan.


 


Sebastian akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya dan rencananya untuk memancing Steven dan Shera menunjukkan niat mereka pada Sebastian dan Kirana. Ia yakin kalau keduanya bekerjasama demi mewujudkan keingingan  mereka.


 


“Lalu bagaimana dengan rekaman suaraku yang dipalsukan itu, Bee ? Aku berani bersumpah demi apapun, aku tidak pernah menyetujui permintaan Steven.”


 


“Aku sedang menyelidiki yang sebenarnya. Bukan Aldo yang mengecek rekaman itu sebelumya karena kami belum lama tiba di Indonesia saat aku menerima rekaman suara dari Steven. Aku sudah minta Dion dan Aldo untuk mencari tahu.”


 


 


“Apa kamu bisa berpura-pura sangat terpukul dengan sikapku yang mungkin membatalkan pernikahan kita, Bee ? Kalau perlu temui Steven dan yakinkan dia untuk melakukan tes DNA. Rencananya hari Sabtu ini, daddy sudah mengundang Uncle Raymond dan Tante Rosa serta Tante Mira dan Om Herman serta Raven. Sejujurnya aku tidak terlalu yakin kalau Steven akan bersedia melakukan tes DNA dengan Raven, tapi mungkin dengan penegasanmu pada Steven, ia akan bersedia menjalankan tes DNA.”


 


Kirana terdiam dan menundukkan kepalanya. Hatinya merasa cemas untuk kembali bertemu dengan Steven apalagi mengingat ancaman pria itu yang bertekad mendapatkan Kirana dengan cara apapun kalau perlu membuatnya hamil.


 


“Kiran,” Sebastian menyentuh jemari Kirana dan mengusapnya pelan. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?”


 


Kirana mendongak dan menatap Sebastian dengan wajah cemas,


 


“Aku takut, Bee,” lirihnya. “Aku merasa tidak tenang kalau harus kembali bertemu dengan Steven sendirian.”


 


Sebastian mengerutkan dahinya dan melihat ketakutan serta kecemasan di raut wajah Kirana.


Dibawanya Kirana ke dalam pelukannya dan diusapnya punggung Kiran dengan penuh cinta.


 


“Apa yang membuatmu sangat ketakutan, Honey ?” tanya Sebastian tanpa melerai pelukan mereka. Perlahan ia merasakn tangan Kirana memeluk erat di pinggangnya.


 


“Steven mengancamku, Bee. Aku takut,” ujar Kirana mulai terisak.

__ADS_1


 


Sebastian melerai pelukannya dan memperhatikan wajah Kirana dengan dahi berkerut. Dihapusnya air mata yang mulai membasahi pipi Kirana.


 


“Ia mengancam apa ?”


 


“Steven akan melakukan apapun untuk mendapatkanku, kalau perlu membuat aku hamil lebih dulu seperti Shera. Aku takut mendengar ancamannya, Bee,”  ujar Kirana memberi penjelasan sambil meneteskan air mata.


 


Sebastian mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Kirana. Kembali ia memeluk Kirana untuk memberikan ketenangan.


 


“Maaf aku tidak bermaksud mengadu padamu. Tapi aku sangat takut karena ancaman itu keluar dari orang yang terobsesi. Biasanya perbuatan mereka menjadi lebih menyeramkan daripada sifat aslinya.


“Aku paham dengan ketakutanmu, Honey. Aku berjanji tidak akan membiarkan Steven mendapatkan keinginannya dan akan selalu menjagamu.”


 


Sebastian langsung memutar otak untuk melanjutkan rencananya tanpa menyakiti Kirana dan menjauhkan peluang Steven untuk mewujudkan ancamannya.


Sebastian masih memeluk Kirana saat handphonenya berbunyi. Ia mengambilnya dari saku kemeja dan mendapati nama Shera di layar.


 


“Aku harus kembali menemui Shera dulu, Kiran,” Sebastian melerai pelukannya. “Sudah terlalu lama aku meninggalkannya, nanti dia malah curiga.”


 


“Tapi kamu dan Shera… “


 


Sebastian kembali membungkam mulut Kirana dengan ciuman yang dalam dan panjang. Keduanya seakan tidak mau saling melepaskan karena sudah menahan rindu beberapa minggu terakhir.


 


“Mari kita bongkar semua niat Shera dan Steven sekaligus mencari kebenaran untuk Raven. Dan percayalah kalau aku sangat mencintaimu, Kirana. Tidak akan mudah menggoyahkan cintaku apalagi hanya dengan kiriman foto dan rekaman suara yang masih bisa dibuat oleh manusia,” ujar Sebastian sambil mengecup kening Kirana.


 


Kirana mengangguk sambil tersenyum. Ia mengusap wajah Sebastian. Hatinya merasa sangat plong karena tahu kalau Sebastian masih begitu mempercayainya.


 


“Bertahanlah sebentar lagi Kirana,” pinta Sebastian sambil tersenyum. “Aku sudah membicarakan dengan mommy dan daddy dan mereka juga sudah bicara dengan mama dan papa,  kalau pernikahan kita tidak akan menunggu sampai duabelas atau tigabelas minggu lagi. Dalam empat minggu aku akan menikahimu dan menjadikan dirimu milikku satu-satunya sepanjang hidupku.”


 


“Terima kasih Bee… Aku juga akan menjadikanmu mlikku satu-satunya sepanjang hidupku.”


 


Sebastian beranjak bangun dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Kirana juga ikut bangun.


 


“Aku akan bicara dengan Felix dan meminta bantuannya untuk menjagamu dari Steven dan Shera. Tapi awas ya !” Sebastian menoel ujung hidung Kirana. “ Jangan tebar pesona dan tersenyum terlalu manis pada pria-pria yang kamu temui di sini, terutama boss mudamu itu. Aku ini calon suami yang sangat posesif dan pencemburu.”


 


Kirana tertawa pelan sambil mengangguk. Keduanya bergandegan tangan menuju pintu. Kirana kembali mengunci ruangan Felix setelah mereka berdua keluar.


 


Sebastian sengaja turun terlebih dahulu dan berjalan memutar masuk lewat pintu depan. Tadi ia pamit pada Shera untuk menerima telepon penting dari daddy Richard.


 

__ADS_1


Kiarna yang turun belakangan terlihat lebih tenang karena kekecewaanya terhadap Sebatian yang begitu mudah terhasut oleh foto dan rekaman suara ternyata hanya sandiwara saja. Sebastian hampir saja membuatnya benar-benar patah hati dan ingin memilih pergi menjaduh dari kehidupan Sebastian Pratama.


 


__ADS_2