
Sebastian sedang mengadakan crapat internal saat Dion menjedanya dan memperlihatkan layar handphonenya. Terlihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dengan tulisan Nyonya Amelia.
Widya yang ikut hadir dalam rapat itu mengambil handphone dari kantong blazernya dan ternyata sama juga, ada lebih dari lima panggilan tidak terjawab dari Nyonya Amelia.
Sebastian yang terpikir dengan istrinya langsung menutup rapat dan bergegas meninggalkan ruangan. Dion pun ikut di belakangnya sambil menghubungi Pak Tomo agar bersiap di lobby.
Tanpa kembali ke ruangannya terlebih dahulu, Sebastian langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di lobby dan menyuruh Pak Tomo bergegas ke rumah sakit Pratama.
“Handphonemu dibuang ke laut, Bas ?” omelan mommy Amelia langsung terdengar saat panggilan Sebastian tersambung.
“Sudah tahu istrimu mendekati waktu bersalin, handphone malah kamu biarkan tidak bersuara.”
“Tadi lagi rapat bulanan, Mom. Biasa memang handphone aku buat mode diam.”
“Sudah cepat sekarang kemari, Kirana sudah masuk ruang bersalin.”
30 menit kemudian, mobil yang mengantar Sebastian sampai di lobby rumah sakit Pratama. Bergegas Sebastian turun yang diikuti oleh Dion dan langsung menuju lift yang membawa mereka ke lantai 4.
Begitu keluar dari lift, Sebastian sudah bisa melihat kedua orangtua dan mertuanya berdiri di depan ruang bersalin.
“Dasar suami kurang peka, bukannya rajin-rajin mengecek handphone malah membiarkan istri sampai harus masuk sendiri ke dalam,” mommy Amelia kembali menyambut Sebastian dengan omelan sambil memukuli bahu putranya.
“Ampun Mom, aku lupa bikin mode getar. Sudah kebiasaan kalau sedang rapat.”
“Sudah cepat masuk ke dalam sana, istrimu sedang siap-siap melahirkan.”
Sebastian bergegas ke pintu masuk ruangan namun sempat berhenti sejenak.
“Apa menakutkan menemani istri melahirkan, Dad ?” Sebastian menatap daddy Richard yang langsung menggelengkan kepalanya.
“Sebentar lagi kamu sudah mau jadi daddy juga, demi istri dan anak-anakmu, sekalipun sangat menakutkan, harus kamu hadapi,” sahut daddy Richard sedikit mengomel.
Akhirnya Sebastian memberanikan diri masuk ke dalam dan mulai bergidik saat mendengar desisan Kirana menahan sakitnya.
“Bee,” panggil Kirana dengan wajah meringis dan terlihat pucat. Peluh membasahi wajahny membuat Sebastian bergegas mendekat sambil mengambil tisu yang ada di meja samping Kirana.
“Kamu pasti bisa, sayang,” ujar Sebastian sambil menghapus peluh yang membasahi wajah Kirana lalu mengecup kening istrinya.
“Kamu mau temani aku di sini, Bee ?” tany Kirana dengan wajah penuh harap.
“Sejujurnya aku sedikit takut, tapi kalau ingat sebentar lagi akan bertemu dengan anak-anak kita, rasanya tidak sabar ingin melihat mereka.”
Kirana hanya tertawa kecil dan mengeratkan genggaman tangan Sebastian.
Tidak lama dokter Wanda didampingi Renata dan beberapa suster memasuki ruangan. Sebastian langsung melotot saat melihat Steven berjalan paling belakang sudah berpakaian lengkap seperti dokter Wanda dan Renata.
“Ngapain kamu di sini ?” omel Sebastian.
Dokter Wanda sempat mengernyit dan akhirnya sadar ke arah mana tatapan Sebastian tertuju.
“Dokter Ria sedang dalam perjalanan kemari, entah keburu atau tidak sampai di sini karena istrimu sudah pembukaan sembilan, Bas,” ujar dokter Wanda menjelaskan.
“Apa dokter anak di rumah sakit ini hanya dia ?” Sebastian menunjuk sepupunya yang hanya senyum-senyum berdiri di samping Renata.
“Bas…”
__ADS_1
“Pokoknya saya nggak mau kalau Steven yang jadi dokter anak saya saat ini,” tegas Sebastian dengan wajah emosi.
“Bee,” panggil Kirana dengan wajah meringis. “Bukan waktunya kamu berdebat masalah ini. Perut aku tambah mulas dan sepertinya anak kita akan keluar sebentar lagi.”
“Tapi sayang, aku benar-benar nggak mau dia ada dekat-dekat dengan tante Wanda,” Sebastian menatap Kirana dengan dahi berkerut.
Dokter Wanda hanya geleng-geleng melihat sikap Sebastian yang terlihat kekanakan, begitu juga dengan para suster dan Renata yang ikut senyum-senyum melihat sikap posesif Sebastian.
Baru kali ini ada suami berdebat masalah dokter anak sementara istrinya tambah kesakitan karena semakin mendekati waktu bersalin.
“Begini saja, Bas,” Renata mencoba menengahi. “Steven tidak akan berdiri di dekat dokter Wanda, aku yang akan membantu menerima anak-anak kalian sementara Steven yang akan mengurus prosedur selanjutnya.”
“Bee !” Pekik Kirana. “Ini bukan saatnya negosiasi untuk memenangkan tender. Perutku udah tambah mules nih.”
Sebastian akhirnya mengangguk dan mendekati Kirana. Renata mengarahkan posisi Sebastian untuk mendampingi Kirana sementara Steven sambil senyum-senyum menjauh, berdiri dekat tempat pemeriksaan bayi yang baru lahir.
Kirana mulai mengejan, mengikuti aba-aba dari dokter Wanda, sementara Sebastian terlihat sedih melihat istrinya kesakitan saat melahirkan anak-anak mereka. Entah berapa lembar tisu yang Sebastian pergunakan untuk menghapus peluh yang membasahi Kirana dan dirinya sendiri.
Hingga akhirnya kedua anak kembar dengan jenis kelamin laki-laki diserahkan pada Sebastian dan Kirana. Tanpa bisa dicegah, Sebastian meneteskan air matanya, memandang kedua putranya yang berada dalam gendongannya dan Kirana.
“Anak-anakmu sangat tampan, Bas. Selamat ya Kirana sudah menjadi ibu, dapat dua sekaligus,” Renata tersenyum sambil berdiri dekat pasangan yang berbahagia itu.
“Terima kasih dokter,” sahut Kirana sambil tersenyum,
“Panggil aku Renata saja atau Nata atau Tata, tidak usah dengan embel-embel dokter,” ujar Renata sambil tertawa pelan.
“Akhirnya aku juga yang mengurus anak-anakmu pertama kali, Nana,” Steven ikut mendekat dan berdiri di sisi lainnya.
“Bukan hanya anak Kirana, tapi anakku juga. Kenapa cuma Kirana yang diberi selamat sementara aku yang adalah sepupu dekatmu dianggap tidak ada ?” omel Sebastian dengan tatapan galaknya.
Dokter Wanda yang sedang menyelesaikan tugasnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Terlihat Kirana masih sekali-sekali meringis saat dokter Wanda menjahit jalan lahir anak-anaknya.
“Jangan mengomel di depan anak-anak, Bee,” tegur Kirana sambil menatap lembut suaminya. “Biarkan saja dokter ini mau ngomong apa, yang pasti anak-anak ini adalah buah cinta kita. Lihat saja wajah-wajah mereka seperti kembar tiga denganmu.”
Sebastian tersenyum bangga sambil menatap kedua putranya dan membelai pipi mereka bergantian.
“Kamu mau ngapain lagi lama-lama di sini ? Bukannya tugasmu sebagai dokter anak sudah selesai ?” ketus Sebastian sambil menatap sepupunya yang masih berdiri di samping Kirana.
“Aku akan membawa anak-anakmu untuk diperlihatkan pada opa dan oma mereka,” sahut Steven dengan wajah santai.
Sebastian menoleh ke arah dokter Wanda ingin memastikan ucapan Steven,
“Lebih baik kalian berdua keluar bersama, biar tante bereskan Kirana sebelum pindah ke ruang rawat inap,” ujar dokter Wanda memberi isyarat pada Sebastian.
Steven sudah mengulurkan tangannya hendak mengambil bayi yang ada dalam pelukan Kirana namun segera ditahan oleh Sebastian. Sejak tadi ia tahu kalau Kirana tidak memakai bra di balik baju pasiennya. Tidak rela rasanya kalau Steven melihatnya sekalipun hanya bayangannya saja.
“Kamu bawa yang ini,” Sebastian menyerahkan bayi yang ada dalam gendongannya. “Dan sana jalan dulu jauh-jauh.”
Kirana menggeleng melihat kelakuan suaminya yang begitu posesif malah cenderung seperti anak kecil. Padahal sudah jelas-jelas Steven adalah seorang dokter juga.
Steven hanya menggeleng dan menerima bayi yang diserahkan oleh Sebastian dan berlalu diikuti oleh seorang perawat.
Sebastian mendekat dan hendak menggendong bayi yang sedang dipeluk Kirana.
__ADS_1
“Kamu kok mendadak kayak anak kecil, Bee,” ujar Kirana pelan saat wajah Sebastian dekat dengan wajahnya.
“Kamu tuh nggak pakai bra, Honey dan kelihatan bayangannya. Mana rela aku membiarkan penggemarmu itu ngintip-ngintip aset pribadimu yang sudah jadi milikku seorang,” gerutu Sebastian.
Reflek Kirana menyentuh dadanya setelah bayi mereka berpindah ke gendongan Sebstian. Ia tersenyum dan mencoba memahami kecemburuan Sebastian.
“Terima kasih sudah menjagaku, Bee,” ucap Kirana pelan sambil tersenyum, bahkan tangan Kirana sempat membelai pipi suaminya.
Sebastian ikut tersenyum dan mengecup kening istrinya cukup lama.
“Terima kasih sudah berjuang melahirkan anak-anak yang tampan ini untukku. Semoga kamu tidak kapok, karena setelah lewat masa nifasmu, kita akan siap-siap produksi lagi,” ujar Sebastian sambil terkekeh.
“Bee ! Rasa sakitnya aja masih belum hilang,” Kirana melotot. “Bisa-bisanya kamu sudah berpikir untuk produksi adik untuk mereka.”
“Bercanda Honey, bercanda,” ujar Sebastian sambil tertawa.
“Aku keluar dulu, jangan sampai sepupu kurang ajar itu ngomong macam-macam sama mommy dan daddy,” Sebastian mulai berjalan meninggalkan ruangan.
“Terima kasih bantuannya Tante,” ucap Sebastian saat berada dekat dokter Wanda. “Siap-siap tahun depan membantu Kirana melahirkan lagi.”
“Bee !” pekik Kirana sambil melotot.
Sebastian hanya melirik sambil tertawa dan berjalan menuju pintu keluar.
“Kamu benar-benar sudah menaklukan pria itu, Kirana. Belum pernah tante melihat Sebastian begitu kekanakan seperti tadi,” ujar dokter Wanda sambil tertawa pelan.
“Bahkan saat memergoki Shera dengan Steven di rumah sakit, Sebastian tidak menunjukan sikap kesalnya seperti tadi,” lanjut dokter Wanda.
“Loh memangnya Steven ada hubungan apa dengan mantan istri Sebastian, Dok ?” tanya Renata dengan alis menaut.
“Anak Shera itu ya anaknya Steven, dokter,” Kirana yang menyahut. “Jadi harap dimaklumi kalau Mas Bas begitu waspada terhadap Steven. Dua wanita yang pernah dekat dengannya selalu ada hubungannya dengan Steven,” ujar Kirana sambil tertawa pelan.
“Jangan bilang kamu ini mantan pacarnya Steven ?” Renata mengernyit sambil menatap Kirana.
“Bukan pacar, Ren, tapi wanita yang digilai Steven, dari unyu-unyu sampai sekarang,” gantian dokter Wanda yang menyahut sambil beranjak dari kursinya karena sudah selesai merapikan Kirana.
“Oooo.. “Renata manggut-manggut. “Pantas saja kalau Sebastian begitu protektif menjagamu, Kirana. Jangan sampai kamu kecewakan Sebastian, dia itu tipe pria setia. Sekali cinta susah untuk berpaling dan bersyukurlah karena kamu adalah wanita pilihan hatinya yang begitu dicintainya.”
“Semoga Bara juga memiliki cinta yang sama untukmu,” ujar Kirana sambil tertawa pelan.
Renata membelalak, terkejut mendengar ucapan Kirana yang sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Bara. Padahal selama ini belum pernah Bara membawanya menemui sahabat-sahabatnya.
“Jangan curiga, selain partner kerja Mas Bas, tiga pria tampan teman SMA-mu itu sudah seperti kakak dan bodyguard bagiku,” ujar Kirana sambil tersenyum.
“Aku dan Mas Bas bahagia karena cinta kalian yang lama terpendam akhirnya bisa bersatu. Semoga bisa lancar sampai membangun rumah tangga.”
“Terima kasih, Nana,” ujar Renata tulus. “Sekarang aku semakin tahu kenapa Sebastian memilihmu meskipun banyak wanita cantik yang berusaha mendapatkan cintanya.”
“Jadi aku tidak cantik ?” mulut Kirana langsung cemberut.
“Nggak,” sahut Renata sambil tertawa. “Bukan cantik fisik, tapi hatimu yang cantik. Dan itulah yang dicari Sebastian selama ini. Wajah dan tubuh yang indah bisa dibeli dan dibentuk dengan uang, tapi hati yang cantik tidak bisa didapat sekalipun kamu sekolah di tempat yang mahal dan terkenal.”
Kirana hanya tersenyum dan wajahmya memancarkan kebahagiaan. Ucapan Renata sangat tepat. Sebastian begitu mencintainya dan Kirana merasa beruntung menjadi wanita pilihan pria itu. Semoga ke depannya, Kirana mampu semakin membahagiakan Sebastian sebagai istri, ibu sekaligus teman hidupnya.
__ADS_1