Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Ulat Bulu yang Bikin Mual


__ADS_3

Kirana menyusuri lorong supermarket di salah satu mal yang tidak jauh dari apartemen. Isi kulkasnya yang sudah menipis perlu diisi ulang terutama buah-buahan yang menjadi cemilan kegemaran Kirana sejak hamil.


“Jadi kamu istrinya Sebastian ?”


Seorang wanita bertubuh sangat ideal bagaikan foto model menghampirinya dengan wajah sinis.


Kirana mengernyit dan memandang wanita di depannya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Cantik dan berkelas. Sudah pasti wanita dari keluarga kaya dan berpendidikan.


“Kenapa ngeliatin orang seperti itu ? Merasa minder ?” tanyanya dengan senyuman sinis.


“Saya nggak minder,” Kirana menggeleng. “Hanya sedang mengingat-ingat dimana kita pernah bertemu. Sepertinya saya tidak mengenal anda.”


Dengan wajah kesalnya, wanita di depannya mendengus dan kembali tertawa sinis.


“Tentu saja perempuan kayak elo nggak akan pernah bisa bertemu dengan gue ! Mungkin saat elo jadi pelayan dan gue pelanggan di tempat elo bekerja.”


Kirana mengernyit, menelisik kembali sosok wanita di depannya dan mencoba mengenali apa iya wanita ini salah satu pelanggan kafe atau restoran yang pernah menjadi tempatnya mencari nafkah.


“Nggak ingat. Wajah ibu tidak terekam dalam memori saya,” jawab Kirana dengan nada santai.


Dalam hatinya ia sudah tahu kalau wanita di depannya sudah pasti salah satu ulat bulu yang akan membuat gatal rumah tangganya.


“Ibu ?” Wanita itu langsung melotot sambil bertolak pinggang. “Sejak kapan gue kawin sama bapak elo sampai dipanggil ibu ?”


“Maaf saya tidak memanggil orangtua dengan sebutan bapak ibu, tapi papa mama. Kalau anda tidak mau dihormati dengan panggilan yang sopan, apa bisa kasih petunjuk panggilan apa yang harus saya berikan ?”


Wanita itu menggeram kesal dan mengepalkan kedua tangannya di samping. Kirana kembali mengernyit. Baru kali ini bertemu dengan ulat bulu yang emosinya level 30, super pedas dan langsung bikin bibir panas.


“Jangan merasa sok cakep dan hebat karena status elo sekarang adalah istri Sebastian Pratama,” ujarnya dengan nada ketus.


“Anda kenal sama suami saya ? Tapi sayangnya saya tidak mengenal ada,” Kirana sengaja bersikap santai dan tetap tersenyum.


Moodnya sedang normal, tidak mudah terpancing emosi. Nalarnya masih berjalan baik, dan melihat kalau wanita dengan emosi tingkat tinggi ini akan lebih mudah dijatuhkan dengan sikap santai daripada emosi juga.


Wanita itu mendekatkan tubuhnya ke arah Kirana namun tidak membuat Kirana mundur selangkah pun.


“Jangan kira elo akan jadi istri Sebastian selamanya. Sepertinya elo belum terlalu mengenal pria macam apa Sebastian itu.”


Wanita itu membungkukan badannya hingga mulutnya tepat berada di samping telinga Kirana. Dengan penuh penekanan, kalimat itu diucapkan untuk memancing emosi Kirana.


Kirana sedikit menjauh dari wanita itu, bukan karena takut atau emosi, tapi bau parfum yang terlalu menyengat membuat perutnya langsung terasa seperti diaduk-aduk.


Kirana cepat-cepat mengambil tisu dari dalam tasnya, dan menutup mulutnya yang yang sudah tidak tahan ingin muntah. Untungnya tidak ada yang keluar.


“Elo benar-benar perempuan tengil yang menyebalkan !” omel wanita itu.


Wanita itu sengaja mendekati Kirana kembali dengan senyuman liciknya. Kirana kembali mundur sambil menghela nafas.


Kirana langsung berbalik dan berniat meninggalkan wanita ulat bulu itu. Perutnya semakin mual dan kepalanya mulai terasa pusing.


Namun cekalan wanita itu menahan langkahnya yang sudah setengah berbalik badan.

__ADS_1


“Mau kabur kemana ? Hanya segitu kesombongan dan kehebatan elo ? Cih..” Wanita itu berdecih dengan muka sombongnya.


“Parfum anda membuat saya mual,” sahut Kirana sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tisu.


“Elo pikir gue pakai barang palsu ?” suara wanita tadi kembali meninggi dengan mata melotot.


“Mama,” panggilan anak kecil membuat kedua wanita yang berhadapan ini menoleh.


Kirana masih menutup mulut dan hidungnya dengan tisu karena perutnya masih terasa mual. Wajahnya berbinar saat melihat bocah tiga tahun berlari kecil ke arahnya.


Kirana melepaskan tangannya dari cekalan dan mengabaikan wanita itu, berjalan menghampiri Raven yang berlari ke arahnya. Ia langsung berjongkok saat posisi mereka sudah berdekatan.


Raven, anak kandung Shera dan Steven itu langsung memeluknya dan minta gendong. Tapi dengan kondisinya saat ini, Kirana tidak berani menggendong bocah itu.


“Raven sama siapa ?” tanya Kirana saat melerainpelukannya.


Bocah itu menoleh ke belakang dan langsung menunjuk pria gagah yang berdiri mendekati mereka.


“Steve,” sapa Kirana dengan senyuman.


“Itu siapa ?” Kirana sengaja bertanya pada Raven sambil menunjuk ke arah Steven.


“Papa,” ujar bocah ini sambil tertawa-tawa.


Kirana langsung tersenyum. Ada kebahagiaan saat melihat Steven ikut tersenyum sambil memandang Raven yang mulai diakui sebagai anak kandungnya.


“Mommy mana ?” Kirana kembali bertanya lagi pada Raven. Bocah itu menggeleng.


“Ooo ternyata istri Sebastian seorang janda ?” Ucap wanita yang hampir dilupakan Kirana dengan nada sinis.


Steven mengernyit, memandang wanita yang berdiri di belakang Kirana lalu beralih menatap Kirana seolah bertanya siapa wanita itu.


Kirana mengangkat kedua bahunya. Perlahan ia kembali berdiri namun kepalanya tiba-tiba pusing. Untung Steven cukup sikap untuk menahannya.


Wanita yang belum menyebutkan namanya itu menatap sinis dan langsung mengambil adegan di depannya dengan kamera handphone.


“Kamu nggak apa-apa ?” Steven masih menahan tubuh Kirana yang sempat sempoyongan.


“Aku sedikit pusing dan mual,” sahut Kirana dengan wajah mulai pucat.


“Sudah makan ?” tanya Steven dengan nada khawatir. Kirana hanya mengangguk.


Raven yang berdiri dekat kaki Kirana menggoyang-goyangkan rok Kirana membuat wanita itu menunduk sambil tersenyum. Wajahnya langsung tercengang saat melihat mata Raven mulai berair.


“Mama nggak apa-apa sayang,” Kirana mengusap lembut kepala Raven.


“Steve, bisa tolong gendong Raven saja, kasihan dia pasti khawatir melihatku,” pinta Kirana yang langsung diangguki oleh Steven.


Raven langsung mendekatkan tubuhnya dan merangkul leher Kirana saat sudah berada dalam gendongan Steven. Sekilas terlihat kalau ketiganya saling berpelukan.


Wanita tadi kembali mengambil foto dengan handphonenya dan senyuman sinis masih menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Tidak lama handphone Kirana berbunyi. Raven langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan Kirana mengangkat teleponnya.


Kirana menghela nafas. Akhirnya Sebastian menghubunginya juga. Pasti pesan yang dikirimnya baru terbaca.


“Kamu dimana ?” pertanyaan itu langsung terdengar begitu Kirana mendekatkan handphone ke telinganya. Bahkan ucapan salam masih menggantung di ujung lidah Kirana.


“Supermarket,” sahut Kirana dengan nada malas. “Tadi aku sudah mengirim pesan padamu dan mengabarkan kalau aku jalan ke mal dekat sini.”


“Sendirian ?”


“Ramai-ramai dengan pengunjung mal,” sahut Kirana sambil memutar bola matanya.


“Bukannya dengan Steven ?” nada suara Sebastian mulai terdengar kesal, membuat Kirana menghela nafas.


Rupanya wanita di depannya bukan sekedar ulat bulu yang menempel, tapi juga provokator yang sukanya membuat orang ribut.


“Apa ulat bulu melaporkannya padamu ?” tanya Kirana dengan suara malas.


“Ulat bulu apa ?” Tanya Sebastian dengan nada suara yang semakin emosi. “Kamu tidak menjawab pertanyaanku Kirana Gunawan !”


Kirana kembali menghela nafas. Sebastian dalam mode emosi berat kalau sudah memanggilnya dengan nama lengkap.


Tanpa berkata apa-apa, Kirana merubah panggilan telepon itu menjadi video call. Tidak langsung disetujui oleh Sebastian hingga Kirana kembali memutar bola matanya dengan malas.


“Itu ulat bulu peliharaanmu,” ujar Kirana dengan nada ketus setelah mengubah posisi kamera ke arah wanita yang berdiri tidak jauh darinya.


Kirana kembali merubah panggilan telepon menjadi voice call.


“Apa kamu lebih percaya dengan kiriman foto dari ulat bulumu itu daripada istrimu ?” tanya Kirana dengan nada ketus. Sebastian belum memberikan jawaban apa-apa.


“Suasana hatiku sudah cukup buruk karena ulat bulu itu bukan saja membuat gatal, tapi aku juga ingin muntah dan pusing. Jangan membuat rasa mualku bertambah, Bee. Seharusnya kamu berterima kasih pada Raven dan Steven karena sudah membuatku terlepas dari perbuatan kasar ulat bulu itu.”


“Honey…”


Belum sempat Sebastian melanjutkan kalimatnya, Kirana langsung menutup panggilan teleponnya dengan wajah kesal.


Wanita yang berdiri di depannya tersenyum puas karena sudah berhasil membuat Sebastian dan Kirana bertengkar, meski ia sendiri tidak tahu apa yang diperbincangkan.


“Temani aku makan, Steve,” pinta Kirana.


“Belanjaanmu ?” Steve melirik ke arah troli yang sudah terisi dan berada di sisi wanita itu.


“Biarkan saja. Mood ku langsung jelek mendengar omelan sepupumu itu,” sungut Kirana dengan wajah kesal.


Ia berjalan mendahului Steven yang masih menggendong Raven. Steven menatap dengan wajah sinis ke arah wanita ala foto model itu.


“Sepupuku itu adalah suamimu,” ujar Steven berusaha menggoda Kirana saat keduanya sudah berjalan sejajar.


Babysitter Raven yang baru saja kembali dari toliet terlihat bingung melihat majikan dan anak asuhnya sudah berjalan bersama Kirana namun menjauh dari supermarket. Rencana awalnya ayah dan anak itu hendak berbelanja di sana.


“Sepupumu yang sangat menyebalkan !” gerutu Kirana dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Steven tertawa. Raven yang belum mengerti akhirnya ikut tertawa seperti papanya namun masih bingung menatap Kirana yang masih memasang wajah kesal.


__ADS_2