Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Kemarahan Steven


__ADS_3

Steven mengerjapkan mata sambil berusaha mengenali ruangan dimana ia berada. Steven sadar kalau saat ini ia tidak berada di kamarnya sendiri.


 


Sekilas kejadian kemarin menjelang sore itu terlintas di benaknya, tentang pertemuannya terakhir dengan Kirana di coffe shop Hotel Pratama. Itu pun tidak disengaja. Steven datang ke hotel milik keluarganya ini karena ada janji dengan Shera, sementara Kirana baru saja bertemu dengan staf WO yang akan mengurus pernikahannya dengan Sebastian.


 


Sudah tiga hari terakhir ini Shera  terus menghubungi Steven dan meminta waktu bertemu untuk membahas masalah Raven saat hasil tes DNA keluar dalam dua hari ke depan. Awalnya Steven menolak bertemu dan sudah memutuskan akan membahas masalah ini setelah menerima hasil tes DNA, itupun akan dibicarakan langsung di depan kedua orangtua mereka. Tapi Shera dengan aksi dramanya berhasil meluluhkan hati Steven yang mudah iba.


 


Steven melihat wanita yang tidur dengan posisi menelungkup di sebelahnya. Sadar kalau wanita inilah yang menjadi penyebab semua ini terjadi. Kemarahan dan kebencian Steven semakin membuncah, sampai rasanya ingin melenyapkan wanita ini dari hidupnya.


 


Perlahan Steven bangun dengan kepala yang masih terasa pusing. Ia memicing, melihat handphone dan dompetnya sudah rapi diletakkan di atas nakas sementara pakaian mereka tercecer di lantai. Entah siapa yang merapikannya, yang terpikir saat ini adalah menghubungi orang yang bisa membantunya.


 


Perlahan Steven berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pikirannya melayang pada Kirana. Rasa khawatir begitu memenuhi hati dan pikirannya pada kondisi wanita yang dicintainya itu.


 


Steven sadar kalau mereka berdua telah diberikan obat terkutuk yang dicampurkan ke dalam makanan atau minuman. Entah bagaiamana Shera melakukannya, yang pasti Steven berharap kalau saat ini kondisi Kirana baik-baik saja.


 


Tepat saat ia keluar kamar mandi, bel kamar hotel berbunyi. Steven yang hanya berbalut jubah mandi mendapati Edi, orang kepercayaan papa Raymond, sudah berdiri di balik pintu dan membawa semua pesanan yang Steven minta.


 


“Tuan baik-baik saja ?” tanya Edi dengan wajah khawatir melihat Steven terlihat sedikit pucat karena kepalanya masih sedikit pusing.


 


“Aku baik, Edi. Terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu. Untuk sementara tolong jangan bilang apa-apa dulu ke papa. Aku pasti akan menceritakannya sendiri pada papa.”


 


“Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan,” Edi membungkukkan badannya sedikit dan dibalas dengan anggukan oleh Steven.


 


Selesai menutup pintu setelah kepergian Edi, Steven kembali ke kamar mandi untuk memakai baju yang dibawakan oleh Edi. Ia juga sudah menghubungi asisten perawatnya untuk membatalkan semua janji pasien pagi ini. Rencananya ia baru akan praktek di sore hari.


 


Tanpa kelembutan sama sekali, selesai berpakaian lengkap, Steven membangunkan Shera. Sebelumnya Steven sudah menutupi punggung wanita itu yang tadi terkespos karena selimut yang digunakanhanya menutupi mulai dari pinggang ke kaki.


 


Shera menggeliat dan berbalik sambil mengucek matanya. Badannya terasa pegal namun kepalanya tidak pusing seperti Steven.


 


“Bangun !” perintah Steven dengan suara dingin dan keras.


 


Shera masih mengerjapkan mata dan mengumpulkan kesadarannya. Ia pun beringsut bangun sambil memegang selimut lalu bersandar pada ranjang.

__ADS_1


 


“Minum ini !” Steven menyodorkan dua pil putih dan sebotol air mineral.


 


“Kenapa ? Kamu takut kalau aku hamil lagi ?” Shera tersenyum sinis sambil menatap Steven yang terlihat dingin.


 


“Minum ini !” Steven semakin mendekatkan telapak tangannya yang memegang obat.


 


“Dengan senang hati aku akan mengandung anakmu lagi,” sahut Shera dengan senyuman menantang.


 


Steven membuka tutup botol air mineral dan meletakannya di nakas. Lalu tanpa diduga oleh Shera,  pria itu menarik rambut Shera ke belakang dan memaksa Shera membuka mulutnya.


 


Shera masih berusaha melawan tapi kondisinya belum sepenuhnya normal. Steven memasukan kedua pil tadi secara paksa dan langsung mengambil botor air mineral untuk disodorkan ke mulut Shera.


 


Dengan caranya Steven berhasil memasukkan kedua pil itu ke dalam tubuh Shera. Matanya sempat melirik dada Shera yang tidak tertutup selimut karena terlepas dari pegangan wanita itu saat memberontak melawan Steven. Tapi tubuhnya tidak beresaksi sama sekali. Steven menjauh dan merapikan pakaian miliknya yang tercecer di lantai, sementara milik Shera ia abaikan.


 


Shera sempat terbatuk karena dipaksa minum oleh Steven. Matanya menatap pria yang sangat dicintainya itu dengan penuh kemarahan tetapi  hatinya terasa sangat sakit diperlakukan seperti tadi oleh Steven. Shera merasa diperlakukan seperti wanita bayaran yang tugasnya hanya memuaskan kebutuhan Steven tanpa boleh hamil.


 


 


“Sayangnya aku tetap mencintainya sekalipun sekarang Kirana tidak baik-baik saja,” sahut Steven tanpa membalikkan badannya.  “Dan ia masih jauh lebih baik daripada dirimu yang dipenuhi dengan pikiran jahat dan licik.”


 


“Setidaknya aku berhasil menghancurkanmu sekali lagi,” ujar Shera sambil tertawa puas.


 


Wajah Shera memperlihatkan kemarahan yang terus bertambah, tapi hatinya justru semakin sakit mendapati Steven yang tidak perduli sedikitpun padanya.


 


“Aku tidak akan menghalangimu menghancurkan hidupku yang memang sudah hancur sejak kamu sengaja membuatku menidurimu. Tapi jangan coba-coba mendekati Kirana dan mengganggunya ! Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya aku hancurkan hidupmu sampai berkeping-keping, tapi akan aku buat dirimu menyesal sudah dilahirkan ke dunia ini.”


 


Steven membalikkan badannya dan menatap Shera dengan tatapan dingin yang penuh dengan kemarahan.


 


“Dasar pria bodoh,” Shera masih berusaha mengintimidasi Steven dengan hinaan. “Bagaimana mungkin orang sehebat dirimu begitu mencintai perempuan gampangan itu.  Bahkan kalau kau mau…”


 


“Cukup !” Bentak Steven dengan mata yang mulai memerah. “Sekali lagi aku dengar kata hinaan pada Kirana, jangan harap kamu akan lepas dari tanganku.”

__ADS_1


 


Steven kembali mendekati Shera yang sudah menutupi badannya dengan selimut namun masih dalam posisi duduk bersandar ke ranjang.


 


“Dengar perempuan murahan !” Steven mencengkram dagu Shera dan tidak mempedulikan ringisan di wajah wanita itu.


 


“Jangan pernah membandingkan dirimu dengan Kirana, karena bahkan menjadi bayangannya saja kamu tidak pantas. Jangan pikir aku tidak tahu kalau aku bukanlah laki-laki pertama dan satu-satunya yang pernah menidurimu. Kamu tidak lebih baik dari pe**cur yang menjajakan diri untuk materi, bahkan dirimu jauh lebih menjijikan dari mereka,” ujar Steven pelan namun tegas dan penuh kebencian.


 


Shera membalas tatapan Steven tanpa gentar sedikitpun, namun dalam hati ia terkejut melihat sikap Steven pagi ini. Selama mengenal pria itu, belum pernah Shera melihat tatapan Steven penuh kebencian dan kemarahan. Matanya memerah dan tidak ada kelemahlembutan yang selama ini membuat Shera jatuh cinta padanya.


 


“Jangan pernah berharap kamu akan menjadi istri dalam hidupku. Sekalipun kedua orangtua akan memaksa kita menikah, jangan berharap hatiku akan berubah padamu. Kejadian semalam membuat aku semakin terbuka melihatmu sebagai wanita yang penuh ambisi dan berhati jahat. Kamu bukan mencintai aku, tapi semuanya itu hanya obsesi. Perasaan tidak mau dikalahkan oleh wanita sebaik Kirana. Wanita yang kamu anggap tidak sederajat denganmu, yang tidak pantas menjadi sainganmu, tapi selalu keluar sebagai pemenang dalam setiap ambisimu,” ujar Steven masih mencengkram dagu Shera.


 


“Bahkan Kirana begitu mudah meluluhkan hati Sebastian dan membuatnya menghapus namamu dari hatinya tanpa ada bekas sedikitpun,” Steven tertawa sinis dan melepaskan tangannya dari dagu Shera dengan kasar hingga Shera kembali meringis.


 


Ia mengambil saputangan dari saku celana panjangannya dan membersihkan tangannya.


 


“Aku berharap kejahatanmu tidak menular dalam otakku, jadi ada baiknya aku berjaga-jaga untuk membersihkan tubuhku yang tersentuh olehmu,” ujar Steven dengan senyuman sinis. Ia sengaja membersihkan seluruh jemarinya sampai ke sela-sela di hadapan Shera.


 


“Dasar pria bodoh !” maki Shera sambil berteriak dan melemparkan bantal ke arah Steven yang udah berjalan menuju kamar mandi.


 


Terdengar suara air keran wastafel dinyalakan membuat Shera mulai menangis. Sebegitu jijiknya Steven memandang dirinya, bahkan tangan yang sempat menyentuh dagunya sampai harus dicuci kembali dengan air.


 


Selesai kamar mandi, Steven mengambil kantong yang berisi pakaian bekas semalam yang sudah dirapikannya. Tanpa berpamitan ia pun meninggalkan Shera yang masih duduk di atas ranjang.


 


Shera kembali melemparkan bantal dan berteriak histeris setelah Steven menutup pintu kamar hotel.  Tidak ada tanda-tanda Steven mendengar suaranya dan berniat kembali untuk menenangkan Shera.


 


Hati wanita itu semakin sakit karena Steven semakin mengeraskan hatinya, bahkan tidak peduli sedikitpun pada dirinya.


 


Shera mengangkat kedua lututnya dan menangis di antara keduanya. Perkataan Steven masih terngiang-ngiang di benaknya. Steven benar, selama ini Shera selalu mendapatkan semua keinginannya dengan cara apapun. Sejak kecil Om Herman selalu memenuhi permintaannya dan memperlakukannya bagaikan putri raja yang tidak boleh merasakan kekecewaan karena penolakan atau kegagalan.


 


Tapi hatinya tidak pernah merasa bahagia. Kepuasaan yang dirasakannya setiap kali berhasil memenuhi keinginannya hanya bersifat semu karena tidak pernah ada kata cukup dan ucapan syukur dalam kamus hidup Shera.


 

__ADS_1


Tangisan Shera bertambah keras dengan posisi wajah masih menelungkup di antara kedua lututnya yang terlipat. Entah bagaimana hidupnya bersama Steven setelah hasil tes DNA Raven keluar.


 


__ADS_2