Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 72 Keputusan Sebastian


__ADS_3

Kirana masuk kerja seperti biasa. Sejak semalam pesannya tidak terkirim untuk Sebastian. Hatinya yang merasa cemas dengan ancaman Steven sangat mendambakan kehadiran Sebastian. Tapi seperti beberapa hari terakhir, Sebastian terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


 


Tidak mampu menahan rindu, Kirana membuka pintu ruangan calon suaminya itu. Matanya mengerjap begitu melihat sosok yang dirindukannya sedang berdiri memandang keluar jendela.


 


“Bee,” panggilnya perlahan untuk memastikan. Namun sosok itu bergeming di tempatnya, tidak menoleh seolah tidak mendengar panggilan Kirana.


 


Kirana meneruskan langkahnya mendekati dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Sosok itu tidak menghilang, tetap berdiri di sana membelakanginya.


 


“Bee,” Kirana memanggilnya kembali sambil terus mendekat.


 


Kerinduannya semakin membuncah. Saat langkahnya benar-benar sudah dekat, sosok yang dirindukan itu berbalik. Sayangnya bukan rentangan tangan yang diberikan untuk Kirana, namun Sebastian malah mundur dan menghalangi Kirana untuk mendekat.


 


“Berlakulah sopan, ini kantor,” ujar Sebastian dengan tegas.


 


“Bee,” desis Kirana.


 


Sebastian pun berjalan ke arah meja dan duduk di kursi kerjanya. Ia pun menyuruh Kirana untuk duduk di kursi hadap yang ada di depan mejanya.


 


Dengan perasaan tidak menentu, Kirana menurut dan menarik kursi yang biasa digunakan Dion saat membahas pekerjaan dengan Sebastian. Tidak ada pelukan hangat atau duduk di pangkuan Sebastian seperti biasanya.


 


“Bee,” lirih Kirana.


 


Sebastian menyodorkan handphonenya yang sudah terbuka. Hanya dengan gerakan mata dan wajahnya ia memberi isyarat pada Kirana untuk melihat ke layar handphonenya.



Dengan tangan bergetar, Kirana menekan layar yang sempat berubah hitam. Saat terbuka yang ternyata tidak diberi kunci pengaman oleh Sebastian, mata Kirana langsung membelalak.


Terpampang di layar fotonya dengan Steven di dekat lobby hotel semalam.


Di foto itu terlihat mereka seperti sedang berciuman, padahal tidak ada sentuhan fisik di bagian wajah mereka dalam posisi semalam.


 


“Jadi selama aku tinggal kamu malah semakin intens dengan Steven ?” tanya Sebastian dengan suara garang.


 


“Aku memang bertemu dengan Steven dua kali, Bee.”


 


“Aku bilang ini kantor, jadi pergunakan panggilan yang benar !” teriak Sebastian sambil menggebrak meja, membuat Kirana terlonjak kaget.


 


“Maaf Pak Bastian.” Kirana menunduk. Ia berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata agar kemarahan Sebastian tidak semakin bertambah.

__ADS_1


 


“Kami tidak bersentuhan fisik di area sekitar wajah, Pak Bastian. Steven memang memegang lengan saya, itu pun karena saya ingin meninggalkannya.”


 


“Lalu apa ini ?” Sebastian menarik handphonenya dan menekan-nekan sesuatu hingga terdengar rekaman percakapan Kirana dan Steven.


 


Dalam rekaman itu terdengar persetujuan Kirana untuk menerima Steven sebagai suaminya jika hasil DNA bisa membuktikan kalau Raven bukanlah anak Steven dan Shera.


 


“Saya tidak pernah berbicara seperti itu Pak Bastian. Sungguh !” ujar Kirana dengan wajah serius, bahkan ia mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. “Demi apapun saya tidak pernah mengiyakan permintaan Steven.”


 


“Lalu kamu bilang ini semua bohong ? Bahkan Aldo sudah mengeceknya dan membenarkan kalau ucapanmu bukan hasil editan, bukan sambungan dari beberapa potong kalimat. Lalu kamu mau menyangkal apalagi ?”


 


“Tapi semua itu bohong. Saya berani bersumpah kalau itu semua bohong,” ujar Kirana dengan penuh kekecewaan dan kesedihan.


 


Tidak lama pintu ruangan Sebastian diketuk, dan Dion langsung masuk tanpa menunggu jawaban. Saat di perjalanan tadi, Sebastian mengirimkan pesan pada asistennya itu untuk langsung menemuinya di ruangan setelah sampai di kantor.


 


Dion tampak terkejut melihat Kirana duduk dengan wajah menunduk di kursi hadap depan meja Sebastian. Langkah Dion terhenti sampai akhirnya Sebastian memberinya isyarat untuk mendekat dan duduk di kursi sebelah Kirana yang masih kosong.


 


“Tolong hubungi kantor percetakan undangan saya, minta mereka menunda proses cetaknya. Hubungi juga hotel yang sudah dipesan mommy dan katakan untuk memasukkan acara saya di dalam daftar cadangan mereka.”


 


 


“Dan terakhir minta Pak Rano untuk membuat surat penangguhan pengangkatan Kirana selama 2 minggu. Saya tidak ingin dia mengganggu konsentrasi pekerjaan saya.”


 


Kirana hanya bisa menarik nafas dan memejamkan matanya mendengar semua perintah Sebastian pada Dion. Tangannya terkepal di samping pahanya.


 


“Minta Pak Rano membuat suratnya berlaku sejak hari ini,” sambung Sebastian dan memberi isyarat pada Dion untuk membawa Kirana keluar.


 


“Ki,” panggil Dion pelan.


 


Kirana menoleh dan tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya.


 


“Tidak perlu membawa aku keluar, Yon, aku bisa sendiri. Sepertinya masih banyak yang Pak Sebastian mau perintahkan padamu. Aku pamit dulu, Yon.”


 


Kirana beranjak dari kursinya dan membungkukan badannya pada Sebastian.


 

__ADS_1


“Saya permisi, Pak.”


 


Terlihat Kirana menghela nafas beberapa kali. Entah siapa yang mengirim foto dan rekaman pembicaraannya dengan Steven yang semuanya penuh kebohongan. Kirana yakin kalau Shera ikut andil dalam masalah ini. Bahkan mungkin Shera bekerja sama dengan Steven untuk mengacaukan bahkan mungkin membatalkan pernikahannya dengan Sebastian.


 


Sampai di meja kerjanya, Kirana kembali menghela nafas panjang, Ia mengambil buku agenda yang biasa dipergunakannya untuk mencatat semua aktivitas Sebastian. Ditulisnya beberapa catatan untuk Dion mulai dari tempat penyimpanan file, password komputer, dan dokumen-dokumen penting yang dipegang oleh Kirana.


 


Terakhir Kirana juga menulis surat pengunduran dirinya yang akan di serahkan langsung sebelum Pak Rano membuat surat penangguhan kontraknya. Kali ini tidak akan mudah meyakinkan Sebastian karena terlalu banyak bukti-bukti yang diterima oleh Sebastian. Bahkan Kirana yakin kalau calon suaminya itu sudah meminta rekaman CCTV dari hotel yang masih milik keluarga Pratama.


 


Kirana merapikan barang-barang pribadinya ke dalam satu dus yang didapatnya dari Mansyur. Ia minta tolong pada OB itu untuk menaruh barang-barangnya di gudang sementara, dan akan diambilnya saat Sebastian tidak ada di kantor. Selesai dengan semuanya, Dion masih juga belum keluar dari ruangan Sebastian.


 


Kirana pun langsung turun ke ruang  Pak Rano dan langsung bertemu beliau yang baru saja rapat evaluasi pagi seperti biasanya.


 


“Wah, calon ibu boss sudah mau berhenti saja nih, biar bisa urus pernikahannya ya ?” goda Pak Rano yang ternyata belum tahu soal permintaan Sebastian.


 


“Iya , senang kalau Bapak mengerti,” jawab Kirana sambil tertawa pelan.


 


Pak Rano yang membuka amplop berisi surat pengunduran diri Kirana mengerutkan dahinya.


 


“Tapi ini belum ditandatangani persetujuan Pak Sebastian, Ki. Maaf ini memang prosedur di sini. Lebih baik kamu minta tandatangan calon suamimu dulu,” Pak Rano melipat kembali surat Kirana dan menyerahkan pada pemiliknya.


 


“Apa Pak Rano bisa bantu saya ? Maaf soalnya saya sudah ditunggu di bawah, mau ada urusan,” pinta Kirana dengan wajah memohon dan kedua tangannya menangkup  di depan wajah.


 


Bertepatan dengan ucapannya, handphone Kirana berbunyi. Pak Rano yang berpikir kalau Kirana sudah ditunggu oleh calon mertuanya, yang tidak lain adalah pemilik MegaCyber akhirnya mengangguk.


 


“Ya sudah nanti saya akan minta tolong Dion membantu mengurusnya.”


 


Kirana segera beranjak dan mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan ruangan Pak Rano dengan sedikit tergesa. Saat di lift handphonenya kembali berbunyi. Dia menghela nafas saat melihat nama Steven di sana.


 


Hatinya sudah terlampau kesal bahkan sakit pagi ini, karena saat Sebastian menyodorkan handphonenya pada Kirana, terlihat nama Steven yang mengirim foto itu pada calon suaminya.


 


Ada kalimat yang ditulis bersamaan dengan foto itu, namun karena terlalu kaget, Kirana tidak sempat membacanya. Saat kesadarannya mulai sedikit normal, Sebastian sudah keburu menarik handphonenya dan memperdengarkan rekaman percakapan Kirana dan Steven yang sudah pasti di edit oleh pria itu.


 


Kirana menyapa beberapa karyawan MegaCyber yang menatapnya penuh tanda tanya, namun Ia hanya mengangguk sambil tersenyum, hingga langkahnya berhenti di halte bus yang tidak jauh dari kantor MegaCyber.


 

__ADS_1


Hatinya kecewa karena Sebastian begitu mudah percaya tanpa mendengarkan pembelaannya terlebih dahulu. Hanya karena bukti-bukti yang didapatnya sudah dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang memang ahlinya, Sebastian lebih percaya dengan apa yang dilihatnya daripada pernyatan Kirana yang sebenarnya.


Kirana langsung mematikan handphonenya setelah duduk di dalam busway. Ia benar-benar kecewa dengan keputusan Sebastian


__ADS_2