Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bukan yang Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Sekitar jam 12.30 Sebastian baru masuk ke kamar pengantin. Diliriknya Kirana sudah tertidur sambil bergelung selimut di atas ranjang.


Aleandro sempat mengajaknya melanjutkan obrolan mereka di lounge hotel yang buka 24 jam. Steven yang semula menolak untuk bergabung akhirnya ikut juga setelah Aleandro membujuknya.


Tidak ada pembahasan soal Kirana, karena baik Sebastian maupun Aleandro bisa melihat kalau hati Steven belum sepernuhnya rela melepaskan Kirana dan menerima kenyataan hidupnya.


Sebastian tersenyum dengan pandangan masih menatap Kirana. Mulai malam ini ia akan memiliki teman tidur dan puas memandangi wajah Kirana yang akan dilihatnya sebelum tidur dan saat membuka matanya di pagi hari.


Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Terlihat pakaian tidurnya sudah disiapkan Kirana di ujung ranjang. Tapi sepertinya malam ini Sebastian tidak akan membutuhkan pakaian tidur.


Sekitar 20 menit kemudian, Sebastian keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Rambutnya masih agak basah.


Ia melangkah mendekati ranjang dan duduk di sisi Kirana. Dipandanginya wajah Kirana yang tertidur pulas. Bisa dilihat oleh Sebastian kalau malam ini Kirana mengenakan pakaian tidur biasa.


Disibaknya rambut yang menutupi wajah dan dibelai lembut wajah istrinya itu lalu mencium keningnya cukup lama.


Tanpa mengenakan kaos tidur, Sebastian ikut masuk ke dalam selimut dan merebahkan diri. Seluruh tubuhnya baru terasa letih dengan sejumlah acara yang dimulai sejak subuh tadi.


Ia memindahkan kepala Kirana agar bersandar pada lengannya. Keletihan yang menguasai tubuhnya menbuat Sebastian akhirnya ikut memasuki dunia mimpi. Tidak akan maksimal memberikan nafkah batin pada istrinya dengan tubuh yang sangat letih seperti ini.


Sebastian mencium kembali kening dan pipi Kirana. Istrinya itu sudah benar-benar pulas sampai tidak bereaksi apapun. Sebastian tersenyum dan membawa tubuh Kirana ke dalam dekapannya lalu ikut memejamkan matanya.


Kirana mulai membuka matanya perlahan. Wangi khas tubuh Sebastian membuatnya langsung tersenyum meski belum melihat wajah orang yang mendekapnya dengan bertelanjang dada.


Kirana mengerjapkan matanya sambil mendongak. Dipandanginya wajah tampan Sebastian dan tangannya langsung menelusuri wajah suaminya itu.


Kirana tersenyum bahagia. Tidak pernah ia berharap kalau pria yang pernah terluka karena keisengannya dan membuat hatinya merasakan debar pertamanya hanya dengan menatap sosok lelaki itu dari kejauhan, sekarang ada di hadapannya. Bukan hanya sekedar menjadi teman tidurnya hari ini atau besok, tapi teman hidup selamanya hingga batas waktu yang Tuhan berikan.


Kirana melepaskan tangan Sebastian yang masih merangkul pinggangnya. Ia duduk di atas ranjang dan merenggangkan tubuhnya yang masih terasa pegal.


Sebastian masih tertidur pulas dengan posisi miring ke arah Kirana. Tangannya kembali mengelus wajah Sebastian yang masih saja membuat hatinya berdebar.


Kirana menundukkan wajahnya. Tidak tahan ingin mencium bibir sensual Sebastian yang terlihat menggoda.


Tanpa disangka, Sebastian kembali menarik Kirana ke dalam pelukannya dan membalas ciuman sekilas Kirana dengan ******* mesra.


Kirana membelalak dan memukul-mukul dada Sebastian untuk melepaskan ciumannya.


“Kenapa ? Bukannya kamu sendiri yang memancing serigala yang sedang tidur ?” tannya Sebastian sambil tertawa, apalagi dilihatnya wajah Kirana sudah merona.


“Aku kan cuma mau kasih ciuman selamat pagi aja, bukannya ciuman kayak tadi,” sungut Kirana dengan wajah cemberut.

__ADS_1


“Memang barusan ciuman model apa ?” Goda Sebastian dengan wajah yang begitu dekat.


Kirana langsung menutup mulutnya dan menoleh ke samping.


“Aku belum sikat gigi pagi, Bee,” ujarnya berusaha melepaskan diri dari Sebastian.


“Tetap wangi, sudah aku tes tadi. Dan sangat menggoda,” ujar Sebastian. Wajahnya semakin mendekati wajah Kirana yang kian merona.


“Dan tetap terlihat seksi,” bisik Sebastian dengan suara mendesah di telinga Kirana, membuat istrinya itu bergidik kegelian.


“Aku mau mandi dulu, Bee. Keluarga kita pasti sudah menunggu untuk sarapan bersama,” Kirana berusaha mendorong tubuh Sebastian yang masih mendekapnya.


“Aku sudah kirim pesan ke Mommy kalau pagi ini kita tidak akan ikut sarapan.”


“Kapan kamu kirim pesannya ?” Kirana menautkan kedua alisnya. “Kamu aja baru bangun tidur.”


“Semalam,” sahut Sebastian sambi tersenyum. “Saat mendapati istriku sudah tertidur pulas padahal sudah diingatkan untuk menunggu suaminya datang.”


“Suaminya lupa kalau sudah punya istri,” Kirana mengerucutkan bibirnya lagi.


“Semalam aku sudah mandi bersih dan wangi, menunggu suami yang katanya tidak lama lagi akan datang. Sudah capek aku menahan rasa kantuk. Ternyata suamiku nggak balik-balik ke kamar, sepertinya lupa kalau sekarang sudah jadi pria beristri.”


“Gara-gara Aleandro yang memaksaku menemaninya ngobrol sambil minum di lounge. Ternyata dia begitu cerewet sama seperti kamu,” Sebastian menoel hidung Kirana.


“Sebetulnya Aleandro bukan cowok bawel, tapi energik. Termasuk cowok yang supel dan luas pergaulannya. Cowok idola sekolah juga, tapi entah kenapa belum pernah aku mendengarnya berpacaran apalagi ganti-ganti pasangan.”


“Jangan bilang kalau dia juga suka padamu,” ujar Sebastian sambil mendelik.


“Haiiss.. aku tidak terlalu sering bersama dengan Aleandro karena aktivitasnya saja sudah segudang. Anggota OSIS, tim inti basket, belum lagi geng-nya yang isinya cowok-cowok penggemar bola. Jadi aku lebih sering dengan Steven daripada sama Aleandro.”


“Mungkin Aleandro tahu kalau Steven suka padamu dan ia mengalah untuk sepupuku itu.”


“Kenapa nggak tanya langsung sama orangnya ?” ujar Kirana dengan wajah cemberut.


“Kamu kenapa ?” Sebastian mengerutkan dahinya.


“Penting banget apa membahas cowok-cowok yang pernah dekat denganku. Kamu lagi menginterogasiku, Bee ? Kenapa tanyanya sekarang ? Kenapa bukan kemarin-kemarin sebelum kita sah menjadi suami istri ? Kalau sampai ada ceritaku yang bikin kamu langsung emosi, akan aku beri hukuman tanpa ampun biar kamu memohon.”


Sebastian tergelak melihat Kirana yang mengomel dengan wajah cemberut.


“Jadi ceritanya istriku marah nih gara-gara gagal melewati malam pertama sama suami kesayangannya ?” ledek Sebastian.

__ADS_1


“Iihh mana ada ngambek gara-gara nggak dapat jatah. Lagipula semalam itu bukan malam pertama kita. Kan kamu sudah mengambil paksa dua minggu lalu,” cibir Kirana.


“Bukan mengambil paksa, tapi terpaksa melakukannya dengan hati luar biasa bahagia,” goda Sebastian sambil menaik turunkan alisnya.


“Mana ada orang terpaksa tapi bahagia ? Lagupula itu mah bisa-bisanya kamu aja, Bee. Mana ada kucing yang disodori ikan akan memakannya sambil bilang terpaksa,” gerutu Kirana


Sebastian tertawa dan menciumi wajah Kirana sampai-sampai wanita itu memekik kegelian.


“Tapi untuk pagi ini, aku jamin kamu tidak akan terpaksa. Tidak akan lupa atau bisa pura-pura lupa bagaimana rasa sensasi dan kenikmatannya,” ujar Sebastian dengan posisi sudah berada di atas badan Kirana.


“Bee, ini masih pagi,” ujar Kirana dengan wajah kembali merona.


“Apa ada hukum tertulis yang mengatur boleh tidaknya suami istri mengungkapkan rasa cinta mereka ?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya.


“Nggak ada, tapi kemungkinan banyak orang akan mendengar suara-suara…” Kirana tersipu malu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Suara-suara apa ?”ledek Sebastian sambil tersenyum.


“Suara-suara itu,” lirih Kirana pelan.


“Kok kamu tahu ?”


“Dari bacaan dan film-film, Bee,” sahut Kirana kesal.


“Jadi kamu suka baca dan nonton yang mengandung unsur triple x ?” Sebastian mengerutkan dahi tapi bibirnya tersenyum.


“Pernah tapi baru sekali dua kali,” sahut Kirana pelan. “Dan mana bisa kalau baru sekali dua kali dibilang suka,” sungutnya.


“Memangnya kelakuan kamu dua minggu lalu tidak ada yang nyangkut dalam ingatanmu ?” Ledek Sebastian.


“Nggak terlalu ingat,” jawab Kirana malu-malu.


“Kalau begitu akan aku buat pagi ini sesuatu yang bisa membuatnya ingat kembali,” bisik Sebastian.


“Tapi Bee…” belum selesai Kirana berbicara, Sebastian sudah membekap mulut Kirana dengan bibirnya.


“Jangan terlalu banyak teori, lebih baik kita langsung praktek saja, biar memorimu lebih mudah menyimpannya.


Tanpa menunggu jawaban Kirana lagi yang sudah pasti akan lama endingnya, Sebastian kembali ******* bibir Kirana dan memberikan sensasi luar biasa untuk istri kecilnya ini


Penyatuan cinta mereka bukan memang bukan yang pertama untuk mereka, tapi bukan juga yang terakhir karena keduanya telah mengikatkan diri dalam janji suci untuk mencintai satu sama lain

__ADS_1


“Semoga akan cepat tumbuh Sebastian junior di sini,” ujar Sebastian sambil mengelus perut Kirana setelah satu jam penyatuan mereka.


__ADS_2