Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Aksi Para Jones


__ADS_3

“Kamu mau makan apa, Honey ?” tanya Sebastian saat mereka sudah sampai di mal yang didatangi Kirana kemarin.


“Boleh masakan Jepang lagi ?”


“Nggak bosan ?”


“Sepertinya belum,” sahut Kirana sambil mengelus perutnya.


“As you wish, baby,” bisik Sebastian di telinga Kirana membuat wanita itu bergidik karena kegelian.


“Kamu jadi ketemuan dengan Bara dan Dion, Bee ?” Kirana sudah tidak memberikan panggilan Pak lagi ke Bara atas perintah Sebastian.


“Jadi. Aku sudah kirim pesan ke Dion untuk bertemu di sini. Sebentar aku info dulu tempatnya. Sekalianmakan siang dengan mereka nggak apa-apa, ya ?”


Keduanya langsung duduk di meja untuk lima orang, karena perkiraan Sebastian, hanya Bara dan Dion yang akan datang siang ini.


“Kiran, kamu pesan dulu, aku mau ke toilet sebentar,” Sebastian kembali beranjak dari kursinya dan Kirana hanya mengangguk mengiyakan.


Hampir sepuluh menit Sebastian masih belum kembali. Kirana tidak tahu kalau saat ini suaminya sedang menerima panggilan dari daddy Richard.


Meski posisinya membelakangi pintu masuk, Kirana langsung mengenali suara para pria yang diantar duduk ke salah satu meja dekat ia duduk.


Kirana sengaja tidak menoleh dan membiarkan para pria itu duduk di meja lain dulu sampai Sebastian datang. Badannya masih sedikit lemas, bukan hanya karena muntah-muntah, tapi kegiatan olahraga pagi dengan Sebastian ternyata tidak cukup tigapuluh menit saja.


“Jadi taruhannya ?” tanya Dion membuka percakapan setelah keempatnya duduk.


“Kenapa nggak ?” Samuel menyahut sambil menaikturunkan alisnya.


“Saya pilih tiga,” ujar Dion cepat.


“Gue empat deh,” timpal Samuel.


“Hari ini gue cukup dua aja, biar aman kiri kanan,” Evan pun ikut buka suara sambil tertawa pelan.


“Ya pada curang, gue yang terakhir,” gerutu Bara. “Kan nggak mungkin juga gue pilih sepuluh. Bukan tanda sengatan Kirana lagi tapi itu mah hasil kerikan.”


Samuel dan Dion langsung tertawa. Evan hanya senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala.


Kirana menautkan kedua alisnya dan telinganya langsung fokus menangkap percakapan selanjutnya.


Sengatan ! Cck, Kirana menangkap topik yang dibicarakan oleh keempat Jones ini. Wajah Kirana langsung cemberut dan tangannya mengepal. Sepertinya para Jones ini perlu diberi pelajaran.


“Semoga saja Pak Bas tidak memakai kaos tertutup, supaya bisa dihitung jumlah sengatannya,” ujar Dion sambil tertawa pelan.


“Apa perlu kita suruh Bastian buka kemeja atau kaosnya biar hitungannya akurat,” timpal Samuel ikut tergelak.


“Kalau sampai buka kaos segala, gue yakin Bara yang bakal menang,” Evan ikut buka suara.


Keempatnya langsung terbahak membuat Kirana bertambah geram.


“Cukup yang kelihatan aja,” ujar Bara dengan nada sok bijak. “Gue yakin Bastian bakal pamer lagi kalau udah urusan sengatan Kirana.”


Sementara para Jones masih membahas masalah taruhan mereka, diam-diam Kirana keluar dari restoran dan berharap tidak satupun dari keempat pria itu melihatnya.


Sampai di luar, Kirana langsung menangkap sosok Sebastian yang sedang melangkah menuju ke restoran. Kirana pun sengaja berjalan dari sisi lain, seolah ia baru kembali ke restoran.


“Loh kamu kok keluar juga ?” Sebastian langsung mengerutkan dahi begitu melihat istrinya berada di luar restoran.

__ADS_1


“Habis dari toilet juga. Kamu kok lama banget, Bee ?” Kirana langsung menggandeng lengan Sebastian.


“Tadi habis dari toilet baru lihat kalau daddy telepon. Missed call lebih dari tiga kali, makanya aku telepon balik. Maaf kalau kamu jadi kelamaan,” Sebastian mengusap tangan istrinya.


“Eh Bara dan Dion sudah datang, Evan dan Samuel ikut juga,” Kirana menunjuk dengan dagunya ke arah meja tempat para jones duduk.


“Udah kayak anak kembar siam aja, kemana-mana maunya berempat,” gerutu Sebastian dengan wajah kesal.


Begitu sampai di dekat meja, keempat pria yang senyum-senyum menyebalkan itu langsung menyapa Kirana dan Sebastian.


Kirana sendiri tersenyum tipis dan duduk di sebelah Sebastian.


“Kamu mau pesan makan apa sayang ?” Sebastian menoleh ke arah Kirana.


Dengan gerakan refleks, keempat jones langsung memperhatikan leher Sebastian. Semuanya itu tidak luput dari pengamatan Kirana.


“Bee, aku mau pesan ini, ini dan ini,” Kirana menunjuk menu-menu yang tidak biasanya dipilih oleh istrinya.


“Kamu yakin mau makan itu semua ? Jangan yang ini dan ini, Honey. Itu makanan mentah. Kamu kan lagi hamil, jangan banyak makanan mentah dulu.”


“Bukan buat aku, Bee,” Kirana mengerjap. “Sekali-kali biar para sahabat dan asisten kamu makan yang spesial. Apalagi akhir-akhir ini kan kamu sibuk ngurusin aku.”


Sebastian tersenyum, bahagia karena istrinya perhatian pada para sahabatnya dan juga Dion. Apa yang dikatakan Kirana ada betulnya. Akhirnya Sebastian menyerahkan pesanan siang itu pada pilihan Kirana.


Hanya Bara yang terlihat santai dan biasa saja menatap hidangan yang dipesan Kirana siang ini. Bukan hanya sushi dan ramen, Kirana bahkan memesankan menu ikan salmon yang secara harga lumayan mahal.


Samuel, Evan dan Dion menikmati makanan mereka sementara Bara dan Sebastian sambil membahas masalah pekerjaan.


Sekitar satu jam kemudian, ketiga pria di depan Kirana menyenderkan tubuh mereka di sandaran kursi. Wajah mereka terlihat puas dan kenyang.


“Kalau makan begini tiap hari, bisa-bisa perut gue saingan sama Kirana,” ujar Samuel sambil mengusap-usap perutnya.


“Sering-sering aja bawaan bayi jadi baik begini, Ki. Dengan senang hati kita akan menemani Bastian mau meeting dimana aja,” seloroh Samuel sambil terkikik.


Kirana hanya mengangguk sambil tersenyum, padahal dalam hatinya ia sedang menanti saat-saat membuat para jones jahil ini berhenti menjadikan dirinya dan Sebastian taruhan.


“Jadi aku hari ini nggak ke kantor ya, Bar. Besok diatur aja meeting dengan Tuan Bernard. Untuk pekerjaan dengan Deana lebih baik dibatalkan saja.”


Bara hanya mengangguk dan meminta Dion merapikan dokumen yang sempat diperlihatkan pada Sebastian.


Sebastian memberi isyarat pada pelayan untuk membawakan tagihan makan siang mereka.


Tidak lama, Sebastian sudah mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya, tapi dicegah oleh Kirana.


Sebastian menoleh ke arah istrinya dengan dahi berkerut. Kirana menggeleng sambil tersenyum. Dialmbilnya bon tagihan yang diletakan di atas meja.


“Sepertinya makan siang kali ini kita akan ditraktir sama Dion, Bee.” Kirana menyodorkan bon itu ke hadapan Dion.


“Tapi Ki, tetap perlu Pak Bas untuk masalah pin kartu kreditnya,” sahut Dion dengan wajah bingung.


“Hari ini kamu yang traktir,” Kirana mencondongkan badannya ke dekat meja dan berbicara pelan seperti orang berbisik. “Kan kamu yang menang taruhan.”


Semua menautkan alis termasuk Sebastian yang duduk di sampingnya.


“Sayang,” Kirana memegang lengan suaminya. “Hari ini semuanya datang ikut meeting bukan tanpa rencana dan maksud tertentu. Mereka sedang taruhan tentang kita, Supaya tidak ada kecurangan, Evan dan Samuel sepertinya sengaja ikut, untuk melihat langsung berapa tanda cinta yang kamu punya siang ini.”


Sebastian masih mengerutkan dahi dengan wajah bingung karena tidak mengerti maksud ucapan Kirana.

__ADS_1


“Pak Bara jadi pilih berapa ? Satu atau lima ?” Kirana menatap ke arah Bara dengan alis terangkat sebelah.


Keempat pria itu langsung menelan salivanya karena mereka tidak menyangka kalau Kirana akan tahu masalah taruhan mereka.


“Tapi tidak penting juga mau satu atau lima karena Dion tetap jadi pemenangnya karena sudah memilih angka tiga,” ujar Kirana sambil tersenyum mengejek ke arah asisten Sebastian itu.


“Perlu dihitung ?” Ledek Kirana sambil menatap satu persatu keempat pria itu.


“Aku masih belum mengerti, Kiran.” Sebastian menyentuh jemari istrinya.


“Sejak tadi mereka menghitung berapa banyak tanda di lehermu. Dion memilih tiga, Samuel empat dan Evan memilih dua. Hanya Pak Bara yang masih galau mau satu atau lima, karena Pak Bara bilang kalau sepuluh bukan tanda cinta melainkan hasil kerikan.”


Keempat pria itu bertambah pucat karena penjelasan Kirana begitu terperinci. Apalagi saat Sebastian yahg mulai memahami maksud ucapan istrinya, menatap tajam ke arah empat pria itu bergantian.


“Besok-besok kalau mau taruhan yang elite sedikit, jangan coba-coba pasang taruhan untuk urusan pribadi boss kalian !” tegas Kirana dengan mata melotot.


Akhirnya Sebastian malah tertawa melihat ekspresi keempatnya mendapat semprotan dari Kirana. Omelan ibu hamil ternyata lebih menyeramkan daripada bentakan boss MegaCyber.


Tidak lama pelayan mengantarkan pesanan makanan Kirana untuk dibawa pulang.


“Terima kasih, Yon, sudah traktir makan siang enak hari ini. Bayi-bayi di perutku bahagia banget karena ternyata asisten papinya bukan hanya cekatan tapi juga murah hati,” Kirana sengaja tersenyum manis meski nada suaranya sedikit mengejek Dion yang kembali menelan saivanya.


“Buat tagihannya jadi cicilan 6 bulan aja, Yon,” ledek Sebastian sambil tertawa melihat wajah Dion yang diam saja.


“Kita jadi belanja, Bee ?” tanya Kirana sambil merangkul lengan suaminya.


Sebastian mengangguk dan beranjak dari kursinya masih sambil tertawa. Ia pun mengulurkan tangan untuk mengajak Kirana bangun dan mengambil kantong pesanan makanan milik Kirana.


“Gue pamit dulu, Bro,” ujar Sebastian sambil mengangkat tangannya.


“Sepertinya tidak perlu kasih tips karena sudah dikenakan biaya service,” ujar Kirana sambil terkekeh. Tidak lupa ia melambaikan tangan pada keempat pria yang masih terdiam itu.


“Oh ya Bro,” Kirana berhenti dan berbalik badan membuat Sebastian menautkan alisnya. Apalagi mendengar Kirana menyebut keempat pria itu dengan panggilan Bro.


“Sekalipun kaos Mas Bas dibuka, tandanya nggak akan lebih dari sepuluh karena saya nggak seganas itu.”


Kirana tergelak dan kembali melambaikan tangannya. Sebastian langsung menggandeng istrinya dengan posesif.


Sebetulnya ada rasa tidak tega di hati Sebastian kalau membiarkan asistennya yang membayar tagihan makan siang mereka yang hampir mencapai 2 juta. Tapi mengingat kejahilan keeempat cowok itu, Sebastian membiarkan Dion mencari jalan keluarnya bersama tiga sahabatnya.


“Kamu kok bisa tahu, Honey ?” tanya Sebastian saat mereka sudah turun ke lantai dasar menuju supermarket.


“Aku mendengar langsung mereka bicara saat menunggu kamu tadi. Biar aja mereka urunan buat bayar tagihannya. Siapa suruh pakai bikin taruhan berapa banyak tanda yang aku buat di leher kamu. Dasar jones,” omel Kirana dengan wajah kesal.


Sebastian tertawa dan merengkuh bahu Kirana lalu mengusap-usapnya.


Sementara itu dengan berat hati Dion mengeluarkan kartu kredit miliknya untuk membayar tagihan makan siang mereka.


Hati sudah bahagia karena menang taruhan dan bisa makan siang enak pula. Ternyata Kirana lebih cerdik balik mengerjai mereka.


“Udah tagihannya kita bagi empat aja,” ujar Bara dengan nada tidak rela. “Nggak mungkin juga elo yang bayar semuanya, Yon.”


“Nasib-nasib, bukannya bahagia bisa menang taruhan, malah balik dikerjain sama bintang taruhannya,” ujar Samuel sambil menepuk bahu Dion yang masih terdiam karena tidak percaya berhasil dikerjai Kirana.


Dalam hatinya Dion berjanji tidak akan lagi iseng menjadikan boss-nya bahan taruhan.


Evan, Samuel dan Bara langsung meminta nomor rekening milik Dion dan mentransfer sejumlah uang untuk menanggung biaya makan mereka plus Sebastian dan Kirana.

__ADS_1


Nasib…nasib…


Kalau begini bukan nasib buruk namanya tapi kualat karena sudah berani berniat buruk pada atasan ! 😂😂


__ADS_2