Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 71 Keputusan Steven


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak perbincangan dengan Steven tentang permintaan tes DNA yang diajukan oleh Kirana, namun pria itu masih belum memberikan kabar atau jawaban apapun padanya.


 


Sebastian sudah mengirimkan pesan pada Kirana namun belum menghubunginya. Pesan di handphonenya juga diterima pada jam 3 subuh waktu Indonesia, jadi Kirana tidak bisa langsung membalasnya. Itupun hanya mengabarkan kalau Sebastian baik-baik saja.


 


Selesai makan siang dengan Echi dan Marsha, Kirana kembali ke ruangannya.  Hari ini daddy Richard tidak datang ke kantor karena ada keperluan dengan mommy Amelia. Baru saja duduk di balik mejanya, suara telepon masuk terdengar dari handphone Kirana. Berharap nama Sebastian yang terlihat, namun ternyata nama Steven yang tertulis.


 


“Ada apa Steve ?’ tanya Kirana saat mereka sudah tersambung


 


“Bisa datang ke rumah sakit hari ini ? Hari ini jadwalku agak penuh karena tadi mendadak ada jadwal operasi caesar dan meminta aku jadi dokter anaknya. Aku mau memberi jawaban masalah tes DNA.”


 


“Aku baru bisa datang setelah jam pulang kantor, Steve.”


 


“Tidak masalah, aku ada praktek sampai jam 6 sore. Pas jadinya.”


 


“Okey Steve, nanti aku ke sana.”


 


Selesai mengakhiri percakapannya dengan Steven, Kirana langsung mengirimkan pesan pada Sebastian, mengabarkan kalau hari ini ia akan ke rumah sakit menemui Steven untuk membahas masalah Raven. Meski baru centang satu, Kirana yakin kalau Sebastian akan membacanya begitu pesannya terkirim.


 


Jam lima tepat Kirana meninggalkan ruang kerjanya setelah pamit pada Echi dan Marsha. Ia pun memberitahu kalau tujuannya sore ini adalah rumah sakit keluarga Pratama. Semula ia ingin naik taksi atau kendaraan umum ke sana, tapi demi menghindari kesalahpahaman dengan Sebastian, akhirnya Kirana meminta Pak Tomo yang mengantarnya ke sana.


 


Setelah 45 menit menempuh perjalanan, Kirana sampai di lobby rumah sakit. Kirana  meminta Pak Tomo langsung pulang dan memastikan kalau ada Steven yang akan mengantarnya pulang, meski ia sendiri tidak yakin.


 


Belum juga Kirana selesai mengabari Steven tentang kedatangannya, pria itu sudah menghampirinya dekat bagian farmasi. Secara penampilan, dokter muda ini memang sama kerennya dengan Sebastian. Tapi sayangnya, hati Kirana sudah terpikat dengan Sebastian meskipun usia mereka terpaut lebih jauh.


 


“Mau menemani aku makan, Nana ?” tanya Steven yang sudah mendekat, masih lengkap dengan snellinya.


 


“Aku ikut saja, yang penting tempatnya nyaman untuk kita bicara. Memangny jadwal praktekmu sudah selesai ?” Tutur Kirana sambil tersenyum.


 


Steven mengangguk sambil melangkah ke arah lobby. Ternyata mobil miliknya juga sudah disiapkan di dekat lobby. Terlihat seorang pria tigapuluhan menyerahkan kunci mobil Steven,


 


“Kamu tidak melepas snellimu ?” Kirana mengerutkan dahi.


 


“Biar orang tahu kamu lagi jalan sama dokter,” sahutnya sambil tertawa.


 


Ternyata begitu sampai di samping mobil, Steven melepas snellinya dan menggantung dengan hanger yang memang ada di belakang mobilnya.


 


“Sepertinya aku tetap terlihat keren meskipun tanpa snelli,” canda Steven sambil tertawa dan membukakan pintu untuk Kirana.


 


“Kalau sudah sadar dirimu keren, kenapa masih menutup diri dari perempuan-perempuan cantik yang mendekatimu ?” ledek Kirana sambil masuk ke dalam mobil.


 


Selama perjalanan, keduanya berbincang banyak tentang kenangan masa sekolah mereka. Kirana juga menceritakan bahwa ia sudah bertemu kembali dengan Aleandro. Steven senang mendengarnya karena ia sendiri sempat putus kontak dengan siswa yang pernah merisaknya.


Tidak ada pembahasan sedikitpun tentang Shera ataupun Sebastian.


 


 Kali ini Steven membawa Kirana ke salah satu hotel yang pernah didatanginya bersama Sebastian saat ia baru bekerja sebagai sekretaris pengganti Mbak Widya.



Terlihat semua orang begitu mengenal dan menghormati Steven, membuat Kirana mengerutkan dahinya.


 

__ADS_1


“Jangan bilang kalau hotel ini adalah salah satu milik keluarga Pratama ?” tanya Kirana saat mereka sudah duduk di salah satu meja di restoran hotel.


 


“Memangnya Sebastian tidak pernah menceritakan padamu ?” tanya Steven sambil terkekeh.


 


“Tidak pernah dan aku juga tidak pernah mencari tahu soal aset-aset yang dimiliki Sebastian atau daddy Richard,” jawab Kirana santai.


 


“Sepertinya kamu bukan wanita materialistis,” ledek Steven.


 


“Dan sepertinya anda kurang mengenal saya dengan baik, Dokter Steven,”  sahut Kirana sambil mencibir. Steven hanya tertawa.


 


Setelah memesan makanan, Kirana sempat mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran. Saat pertama datang, ia tidak punya kesempatan untuk melihat-lihat karena fokus dengan pekerjaannya.


 


“Baru pertama ke sini ?”


 


“Kedua kali,”  sahut Kirana sambil menggeleng. “Pertama kali dengan Sebastian untuk meeting dengan klien. Waktu itu aku baru saja bekerja menggantikan Mbak Widya dan pengalaman pertama juga menemani Sebastian meeting di luar.”


 


“Dan aku jamin kalau kali ini akan menjadi spesial,” ujar Steven sambil tersenyum.


 


Kirana tercengang melihat makanan yang dipesan oleh Steven bukan karena kemewahannya tapi porsinya yang cukup membuat perut langsung kenyang.


 


“Aku pesankan menu seafood kesukaanmu,” ujar Steven saat melihat Kirana masih terpesona dengan sajian yang terhidang di depannya. “Tidak lupa kepiting kesukaanmu. Aku sudah meminta koki hotel menyiapkannya sedemikian supaya kamu tidak kesulitan memakannya.”


 


Steven bangun dari kursinya dan mengambil apron plastik yang dibawakan oleh seorang pelayan.


 


 


“Aku bisa sendiri, Steve, “ Kirana mencoba mengambil apron yang dipegang oleh Steven, tapi pria itu menggeleng dan tetap memaksa memasangkannya pada Kirana.


 


Selesai memakaikan pada Kirana, Steven juga memakainya sendiri.


 


“Mari makan,” ujar Kirana dengan wajah berbinar karena disiapkan menu kesukaannya.


 


Steven sendiri lebih banyak memperhatikan Kirana daripada menikmati makanan yang sudah dipesannya. Ia merindukan waktu seperti ini yang pernah dilewatinya bersama Kirana dan Aleandro saat Kirana baru saja menerima hasil kelulusan SMP nya dan tepat sebelum ia berangkat ke Jogja meneruskan kuliah.


 


Tidak ada pembahasan tentang Sebastian dan Shera, keduanya masih bernostalgia dengan masa-masa mereka masih satu sekolah dulu. Bagaimana banyak teman Steven mengejek Kirana sebagai bodyguard-nya Sebastian.


 


Rasanya Steven semakin sulit untuk melepaskan Kirana. Steven menyadari kalau ia telah menggunakan cara yang salah mendekati Kirana saat mereka dipertemukan kembali. Steven yang tidak mampu menahan kerinduannya terlalu memaksakan dirinya pada Kirana hingga membuat gadis itu malah menjauh darinya.


 


Kirana menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi. Wajahnya terlihat puas bahkan ia mengusap perutnya yang kekenyangan.


 


“Aku cuci tangan dulu, Steve,” Kirana beranjak bangun, dan berjalan menuju toliet.


 


Tidak lama ia sudah kembali tanpa menggunakan apron lagi.


 


“Mau aku pesankan es krim ?” tanya Steven sambil melipat tangannya di atas meja.


 


“Sudah terlalu kenyang Steve, perutku nggak akan sanggup,” sahut Kirana.

__ADS_1


 


Steven hanya menggangguk dengan pandangannya masih melihat semua pergerakan Kirana yang tidak sadar sedang diperhatikan sejak tadi.


 


“Jadi bagaimana keputusanmu, Steve ?”  tanya Kirana yang tidak lupa pada tujuan awalnya.


 


Steven menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


 


“Apakah tidak bisa kita membahasnya besok atau besoknya lagi ? Aku tidak ingin merusak suasana hari ini. Aku bahagia banget, Nana. Terakhir kita makan seperti ini… “


 


“Cukup nostalgia nya Steve,” Kirana mengangkat telapak tangannya. “Aku menunggu jawabanmu sekarang.”


 


Steven terdiam dan kembali menghela nafas panjang. Tangannya meraih gelas air putih dan meneguknya sedikit.


 


“Aku akan melakukan tes DNA dengan Raven,” ujarnya perlahan sambil menatap Kirana. Wajah gadis itu langsung berbinar dan bibirnya mengembangkan senyuman.


 


“Tetapi semuanya tetap bersyarat,” lanjut Steven lagi dengan alis terangkat sebelah. “Dan aku ingin kamu membuat perjanjian tertulis sebelum aku melakukannya.”


 


“Perjanjian tertulis ?” Kirana mengerutkan dahinya. “Perjanjian apa, Steve ?”


 


“Jika hasil tes DNA bisa membuktikan kalau Raven bukan anakku, maka kamu akan meninggalkan Sebastian dan menikah denganku,” ujarnya tegas dengan sorot mata tajam menatap Kirana.


 


“Lalu bagaimana seandainya terbukti kalau Raven adalah anak kandungmu ?” tanya Kirana dengan perasaan cemas.


 


“Aku akan mengesahkannya secara hukum, tapi tidak akan menikahi Shera. Karena satu-satunya wanita yang akan aku nikahi hanya Kirana Gunawan.”


 


Tatapan Steven yang semakin tajam membuat Kirana jadi bergidik. Sepertinya ia akan memilih membiarkan Raven tidak mengetahui ayah biologisnya.


 


“Kalau seperti itu dengan atau tanpa tes DNA, kamu tetap akan memaksa aku meninggalkan Sebastian dan memilih kamu, Steve ?”


 


“Anak pintar,” Steven menempelkan badannya ke meja dan memajukan wajahnya hingga lebih dekat pada Kirana. Seringai licik terlihat di bibirnya.


 


“Kalau aku tidak bisa menggunakan cara baik-baik untuk mendapatkanmu, maka aku tidak keberatan untuk menggunakan cara yang kasar. Kalau perlu, aku akan membuat kamu seperti Shera, hamil sebelum menikah. Bedanya Shera tidak ingin pria itu bertanggungjawab, sementara aku akan memaksamu untuk menerima pertanggunjawabanku.”


 


“Kamu gila Steve !” pekik Kirana dengan suara tertahan. “Kamu benar-benar sakit,” Kirana bangun dari duduknya dan  menarik nafas panjang.


 


“Aku tidak peduli lagi dengan masalah tes DNA itu. Terserah bagaimana maumu. Semula aku hanya ingin kamu bertanggungjawab terhadap perbuatanmu jika memang Raven terbukti anakmu. Tapi kalau hubunganku dengan Sebastian yang jadi taruhannya, aku tidak akan melakukannya, Steve. Dan jangan coba-coba mengancamku !”


 


Kirana bergegas meninggalkan restoran menuju lobby. Steven pun ikut bangun dan menyusul Kirana. Tangannya menahan Kirana sebelum mencapai lobby.


 


“Lepaskan aku Steve !” desis Kirana.


 


“Kali ini kamu akan aku lepaskan, Nana,” bisik Steven begitu dekat di telinganya, membuat Kirana semakin bergidik. “Tapi tidak lain kali, “ lanjutnya sambil menjauhkan wajahnya.


 


Kirana menoleh namun ia segera menjauhkan wajahnya karena ternyata posisi wajah Steven masih cukup dekat. Untung saja tidak ada bagian dari wajah mereka yang bersentuhan.


 


Kirana kembali melihat seringai licik di bibir Steven. Ia segera mengibaskan tangan Steven yang memegang lengannya. Dan kali ini Steven membiarkan Kirana keluar lobby dan memanggil taksi yang ada di situ.

__ADS_1


__ADS_2