Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Pengakuan Shera


__ADS_3

Sebastian dan Kirana sedang berbincang santai saat Shera melewati meja mereka. Sama seperti Kirana dan Sebastian yang tidak menyangka akan bertemu dengan Shera dan Steven, mantan istri Sebastian itu juga terlihat kaget saat melihat sosok Sebastian yang posisi duduknya terlihat lebih dulu dari arah Shera datang.


 


“Kebetulan yang sangat pas,” ujar Shera dengan tatapan sinis. “Jadi kamu belum lupa restoran kesukaan kita, Bas ?”


 


Kirana menatap Shera sambil tersenyum. Sebetulnya dadanya bergemuruh karena kesal. Kesal karena Sebastian berbohong padanya dengan mengatakan kalau restoran ini adalah tempat yang sering dikunjunginya bersama klien, bukan dengan Shera.


 


“Apakah karena kalian sering datang kemari berarti restoran ini milik kalian berdua ?” tanya Kirana sambil tersenyum.


 


“Tentu saja bukan itu maksudku, Kirana. Terlalu banyak memori yang indah di tempat ini selama kami berpacaran dulu.” Shera tersenyum dengan wajah bahagia.


 


Shera membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Kirana.


 


“Dan di restorn ini juga, Sebastian pernah meminta aku menjadi istrinya untuk pertama kalinya,” bisiknya dengan senyum mengejek.


 


“Tidak masalah,” sahut Kirana yang berusaha tegar. “Makanan di sini memang sesuai dengan seleraku, jadi tidak masalah seberapa sering kamu pernah mengunjunginya bersama Sebastian. Karena seperti pernah aku bilang padamu lebih dari sekali. Kamu adalah masa lalu Sebastian yang tidak bisa aku hapus dari catatan hidupnya, tetapi aku adalah masa depan Sebatian, yang akan menghabiskan hidup kami berdua sampai maut memisahkan.”


 


“Kamu yakin ?” Shera tertawa mengejek. “Jangan terlalu naif Kirana ! Seorang laki-laki yang pernah mencicipi lebih dari satu perempuan, bukan tidak mungkin mencoba mencari yang lain lagi bila sudah bosan.”


 


“Cukup Shera !” bentak Sebastian. “Jangan terus menerus memprovokasi Kirana dengan omong kosongmu.”


Tatapan Sebastian yang terlihat begitu emosi hanya ditanggapi dengan senyuman penuh ejekan dari bibir Shera.


 


“Nana !” Steven yang baru saja berjalan ke arah mereka langsung memanggil nama Kirana sekalipun posisi gadis itu memunggunginya.


 


“Ah kebetulan karena Steven juga ada di sini. Lebih baik kalau aku bicara dengan kalian semua.”


 


Tanpa meminta ijin, Shera langsung menarik kursi kosong yang ada di sebelah Sebastian, dan pada saat yang sama, Sebastian beranjak bangun dan pindah duduk di sebelah Kirana.


 


“Apa kamu begitu khawatir tidak bisa mengendalikan diri kalau duduk di sebelahku, Bas ? Terlalu banyak memori kita di sini yang mungkin bisa menggugah cintamu lagi,” sindir Shera dengan senyuman sinis.


 


“Ya aku takut tidak bisa mengendalikan diri padamu. Tapi bukan karena memori yang kamu bilang sejak tadi. Aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menamparmu karena ucapanmu yang penuh kebusukan,” sahut Sebastian dengan tidak kalah sinis.


 


“Nana,” Steven yang masih berdiri memanggil Kirana kembali.


 


Kirana yang sudah mulai diliputi rasa kesal, akhirnya menoleh dan menatap Steven sambil tersenyum.


 


“Duduklah Steve, mungkin memang ini saatnya kita menyelesaiakan semua masalah yang ada di antara kita berempat,” ujar Kirana sambil memberi isyarat supaya Steven ikut duduk satu meja dengan mereka.


 


Steven pun menurut dan merasa senang karena posisi duduknya persis berhadapan dengan Kirana. Sebastian yang  baru menyadari itu, segera meminta mereka bertukar tempat.

__ADS_1


Sekarang Sebastian lah yang berhadapan langsung dengan Steven, sedangkan Kirana berhadapan langsung dengan Shera.


 


“Jadi kamu yang menyuruh Steven untuk melakukan tes DNA ?” Shera menatap tajam ke arah Kirana.


 


“Ya, aku yang meminta Steven menjalankan tes DNA itu.”


 


“Apa keuntungan bagimu kalau Steven melakukan tes DNA ?”


 


“Tidak ada,” jawab Kirana dengan tegas. “Hanya naluriku mengatakan kalau Steven ada hubungannya dengan Raven. Bukankah sebagai ibu kandungnya seharusnya kamu merasa bahagia kalau bisa memberikan seorang ayah apalagi ayah kandungnya untuk Raven ?”


 


“Dasar perempuan naif,” decih Shera sambil tersenyum sinis.


 


“Shera !” bentak Sebastian lagi. Shera tertawa dan mengankat kedua tangannya.


 


“Aku tidak yakin dengan niat baikmu itu. Bukankah semua itu kamu minta hanya untuk meyakinkan hatimu kalau Steven adalah seorang laki-laki sempurna yang akan memberikan dirinya hanya untukmu ?”


 


Sebastian terlihat gusar dan mulai emosi, tetapi Kirana meraih jemari calon suaminya itu dan menggenggamnya di bawah meja. Padahal saat ini Kirana sama emosinya pada Sebastian, bukan pada Shera.


 


“Aku tidak bisa mengatur pikiranmu, Shera. Terserah apa pandanganmu. Yang perlu kamu tahu kalau apapun hasil tes DNA antara Steven dan Raven, aku tetap akan memilih Sebastian sebagai suamiku.”


 


 


“Raven memang anak Steven,” Shera berucap dengan suara tegas dan penuh keyakinan.


 


“Shera !” pekik Steven dengan wajah yang sangat terkejut. “Jangan suka memfitnah orang.”


 


Shera tertawa namun bukan karena bahagia. Tawa yang terdengar mengejek situasi ketiga orang yang ada di depannya.


 


“Bukan fitnah, tapi memang itulah kenyataannya. Silakan saja kamu mau tidak percaya, tapi tes DNA akan membuktikannya.”


 


“Tapi aku tidak pernah merasa… Kita tidak pernah melakukannya. Aku yakin,” tegas Steven.


 


“Tentu saja kamu tidak akan pernah ingat pernah melakukan one night stand dengan calon istri sepupumu, karena yang ada di dalam otakmu itu hanya Kirana dan Kirana,” ujar Shera sambil tertawa sinis.


 


“Apa maksudmu ?” tanya Steven dengan dahi berkerut.


 


“Aku mencintaimu sejak dulu Steven, tapi kamu tidak pernah mau melihatku sedikit pun. Yang ada dalam benak dan hatimu hanya Kirana dan Kirana. Bahkan setelah perempuan ini meninggalkan dan mengabaikanmu,” Shera menunjuk Kirana yang duduk di seberangnya,


 


“Aku sengaja terus mengikutimu sampai kuliah di Jogja. Menjadi teman baikmu, yang selalu ada kapanpun kamu membutuhkan aku, tapi selalu saja nama Kirana yang jadi pemenangnya,” suara Shera semakin meninggi karena bertambah emosi.

__ADS_1


 


Kirana dan Sebastian mendengarkan percakapan keduanya sekaligus menjadi penonton adegan curahan hati Shera yang menatap Steven penuh kemarahan dan kekecewaan yang terpendam.


 


Sebastian menoleh dan menatap Kirana dengan alis menaut saat gadis itu melepaskan genggaman Sebastian dengan agak kasar dan menyembunyikan telapak tangannya hingga calon suaminya tidak bisa memegangnya.


 


“Kenapa kamu tidak bisa melihatku sebentar saja dan menghargai keberadaanku, Steven ? Kenapa perempuan yang begitu membuatmu patah hati dan kecewa, kamu biarkan hidup dan bertumbuh di hatimu ?”


 


Emosi Shera mulai menurun, bahkan ucapannya mengandung kesedihan yang mendalam.


 


“Aku sangat mencintaimu dan ingin menjadi bagian hidupmu, tapi kamu selalu menutup hatimu dengan nama Kirana. Sampai akhirnya aku diperkenalkan pada Sebastian oleh papa. Papa sangat mengharapkan aku bisa menjadi bagian keluarga Pratama. Dengan senang hati aku ingin mewujudkan keinginan papa, tapi bukan dengan Sebastian melainkan denganmu.”


 


“Jadi kamu hanya memanfaatkan aku untuk membalas sakit hatimu pada Steven ?” tahya Sebastian dengan nada sinis.


 


“Bukan untuk membalaskan sakit hatiku pada Steven, tapi ingin berada dekatnya dan menjadi bagian dari hidupnya. Meski tidak bisa menjadi istrinya, dengan menikah denganmu, paling tidak aku akan sering bertemu dengan Steven.”


Sebatian terlihat menghela nafas panjang dengan raut wajah yang kesal.


 


“Tapi aku yakin kita tidak pernah berhubungan suami istri yang bisa membuatmu hamil, Shera !” tegas Steven dengan wajah mengeras.


 


“Tentu saja tidak pernah dalam keadaan sadar, tapi apa kamu bisa menolaknya di bawah pengaruh obat ? Bahkan kamu melakukannya beberapa kali dalam semalam,” sahut Shera dengan wajah mengejek.


 


“Kamu pasti sudah gila, Shera !” maki Steven.


 


“Ya, aku memang sudah gila. Membuat diriku hamil olehmu tapi menikahi sepupumu hanya untuk mempertahankan hak anakku mendapat nama Pratama. Hanya untuk melihat seorang Kirana hancur karena ternyata Steven bukanlah pria baik-baik.”


 


“Jadi kamu nekat memberi aku obat perangsang hanya supaya aku menidurimu ? Dasar gila ! Bukankah saat itu statusmu sudah menjadi calon istri Sebastian ?” Ujar Steven kesal.


 


“Ya, aku nekat melakukannya karena ingin ada bagian darimu yang melekat dalam hidupku selamanya. Aku membiarkan diriku mengandung benihmu meski aku tidak bisa memilikimu.”


 


“Jadi malam itu kamu yang membawa aku ke hotel setelah kita bertemu dengan teman-teman SMA ? Tapi pagi harinya …”


 


Shera langsung tertawa mengejek dan menatap sinis pada Steven. Kemudian ia beralih menatap Sebastian.


 


“Ya, aku yang melakukan semua itu. Memakaikan celanamu kembali supaya kamu tidak sadar telah melakukan hubungan dengan perempuan. Karena aku tahu, sekalipun aku hamil anakmu, kamu pasti akan menolakku, bahkan mungkin menyuruhku menggugurkan kandungan kalau sampai aku hamil. Karena dalam hatimu hanya ada Kirana dan Kirana !” Shera mengucapkan nama Kirana penuh penekanan dan sedikit berteriak.


 


“Kalau kamu cinta padaku, kenapa kamu tidak membiarkan aku hidup bahagia dengan wanita yang aku cintai ?” Tanya Steven dengan wajah sendu.


Shera menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar lalu menoleh ke arah Steven.


“Aku sudah berniat untuk melepaskanmu dan melanjutkan pernikahanku dengan Sebastian. Tapi sepertinya Tuhan tidak mengijinkan aku menuntaskan rencanaku itu.”


Semuanya terdiam sesaat dengan pikiran masing-masing tentang pengakuan Shera. Hanya Sebastian yang masih mengerutkan dahi sambil menatap Kirana. Calon istrinya itu masih menolak saat Sebastian berusaha menggenggam tangannya di bawah meja.

__ADS_1


__ADS_2