Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 44 Kemarahan Kirana


__ADS_3

Sebastian terkejut saat bangun cahaya matahari sudsah sangat terang mengintip sari balik tirai. Mungkin karena merasa sangat lelah jiwa dan raganya, hari ini ia bangun kesiangan. Apalagi Mommy Amelia tidak mengijinkan para pelayan membangunkan putranya.


Tuan Richard dan Nyonya Amelia sudah mendengar sendiri dari mulut Sebastian kalau Kirana sudah berhasil ditemukannya. Sebastian juga menceritakan secara garis besar bagaimana ia menemukan kekasihnya dan bagaimana Kirana masih menolak untuk bicara soal alasannya.


“Sabarlah, Bas. Mommy percaya kalau Kirana juga tidak menginginkan kondisi ini. Tapi apapun pesan yang diterimanya, cukup menggoncang hatinya. Lagipula usianya masih cukup muda dan kalau tidak salah ini adalah pertama kalinya pacaran,” nasehat Mommy Amelia saat mereka sarapan bersama.


“Mintalah Dion dan Aldo mencari tahu siapa yang berani mengusik kalian,” tegas Daddy Richard.


“Iya Dad, hari ini Aldo akan membantuku mencari tahu lewat handphone Kirana.”


“Jangan terlalu keras pada Kirana, Bas,” pesan Mommy Amelia. “Hatinya yang terasa sakit menandakan kalau ia sangat mencintaimu. Berbeda dengan Shera yang pasrah menerima keputusanmu untuk berpisah tanpa berusaha memberikan penjelasan apapun.”


“Mom,” wajah Sebastian terlihat cemberut. “Bisakah kita tidak membahas soal Shera. Bahkan beberapa hari yang lalu ia datang ke kantor menemuiku.”


“Apa dia memintamu kembali , Bas ?” Wajah Mommy Amelia terlihat kaget sekaligus penasaran.


“Bukan itu Mom,” Sebastian tertawa pelan. “Bukan minta kembali, namun memprovokasi aku untuk mempertimbangkan kembali soal Kirana. Dia mencoba memanasiku dengan membawa nama Steven.”


“Apa hubungannya dengan Steven ?” Tanya Daddy Richard dengan dahi berkerut.


“Steven dan Kirana adalah teman satu sekolah sejak SD sampai Steven lulus SMA. Ternyata hubungan itu membuat Steven menyukai Kirana, tapi tidak dengan Kirana.”


“Apa Steven meminta Kirana kembali padanya ? Bukannya Steven sedang penjajakan dengan Shera dan beberapa kali mengajak perempuan itu hadir dalam acara keluarga ?” Dahi Mommy Amelia berkerut juga.


Sebastian yang sudah selesai dengan sarapannya beranjak bangun dan bersiap berangkat ke kantor bersama Daddy Richard diantar Pak Tomo.


“Kita lihat saja apa yang akan Steven lakukan, Mom,” ujar Sebastian sambil tertawa. “Yang pasti aku dan Kirana sama-sama saling mencintai. Kalau perlu Daddy dan Mommy segera melamar Kirana untukku.”


Sebastian mendekati mommy Amelia dan mencium kedua pipi ibunya itu yang masih duduk di bangku meja makan.


Daddy Richard ikut mendekat dan memberikan pelukan pada istrinya plus memberikan ciuman bibir untuk memberinya semangat bekerja.


“Cepat selesaikan urusanmu, Bas. Daddy ingin mengajak mommy-mu jalan-jalan ke Eropa bersama teman-teman SMA Daddy. Sekalian bernostalgia.”


ujar Daddy Richard saat mereka hendak masuk ke dalam mobil.


“Lusa juga Daddy bisa berangkat kalau sudah siap,” sahut Sebastian sambil tertawa.


“Awal bulan depan, boy. Om Sapto sedang menyusun acara dan masalah reknis lainnya.”


“Kalau begitu tolong lamar Kirana sebelum daddy dan mommy pergi, jangan sampai Steven mendahuluiku.”


Daddy Ricahrd tertawa sementara Sebastisn hanya tersenyum dan duduk tenang di kursi belakang bersama daddy-nya menuju kantor MegaCyber.


Sampai di kantor, Sebastian dan Tuan Richard berpisah di lantai 15 menuju ruangan masing-masing.


Sekitar jam 10.30, Aldo dipanggil ke ruangan Sebastian. Rapat dengan Divisi Keuangan baru akan dimulai setelah makan siang.


Sebastian menyerahkan handphone milik Kirana pada Aldo. Bertiga dengan Dion mereka duduk di sofa dan Aldo sudah siap dengan laptopnya.


“Sepertinya pesan dari nomor yang diberikan oleh Kirana sudah dihapus seluruhnya.”ujar Aldo saat memeriksa handphone Kirana. “Kirana menyimpannya dengan nama Penguntit.”

__ADS_1


“Kalau begitu dipulihkan saja, Do,” perintah Sebastian.


Aldo mengangguk mengiyakan dan mulai menyambungkan handphone milik Kirana ke laptopnya. Namun sebelum proses penelusuran dimulai, pintu ruangan Sebastian dibuka dengan kasar tanpa diketuk sebelumnya.


Ketiga pria itu menoleh dengan wajah terkejut saat melihat Kirana sedang berdiri di pintu dengan wajah marah.


Kirana melangkah mendekati sofa dan tatapannya semakin penuh dengan kemarahan.


Tanpa berkata apa-apa, ia mencabut handphonenya yang sudah tersambung dengan laptop Aldo. Tatapannya beralih pada Sebastian yang mencoba memegangnya.


Dion memberi kode pada Aldo supaya segera meninggalkan ruangan Sebastian. Sekarang hanya tinggal Kirana dan Sebastian dalam ruangan itu.


“Honey,” panggil Sebastian mencoba meraih kembali tangan Kirana yang sempat ditarik saat Sebastian meraihnya.


“Jadi ini tujuanmu ke rumah membawa kue dan bunga ? Untuk mengambil handphoneku di saat aku lengah ? Apakah aku tidsk bisa punya privasi atas hidupku sendiri ?” Semakin lama suara Kirana semakin meninggi, lebih mirip teriakan


“Bukan maksudku begitu, Honey,” Sebastian langsung memeluk Kirana, namun gadis itu terus memberontak membuat Sebastian sedikit kewalahan.


Kemarahan Kirana membuat tenaga gadis itu lebih besar dari biasanya.


“Aku jijik padamu !” Kirana mendorong tubuh Sebastian dengan sangat keras hingga pria itu sempat terhuyung.


“Aku membencimu Sebastian Pratama !” Desis Kirana dengan penuh emosi.


Kirana berbalik, hendak meninggalkan ruangan Sebastian. Namun pria itu lebih sigap dan mendahului Kirana. Pintu ruangan langsung dikunci dan menyimpan kuncinya di dalam saku celana.


Kirana mendorong tubuh Sebastian yang menghalangi pintu dan mencoba membuka pintu. Kirana tahu usahanya akan sia-sia. Ia menangis sambil memegang gagang pintu.


“Biarkan saya keluar, Pak Bas,”lirihnya sambil menangis.


Perlahan tubuh Kirana luruh ke bawah hingga ia berjongkok dan menelungkup kepalanya di antara kedua kaki yang menekuk.


Sebastian mendekat dan langsung menggendongnya menuju sofa . Dipeluknya tubuh Kirana di atas pangkuannya.


“Aku mencintaimu, Honey. Sangat mencintaimu. Apa yang membuat kamu begitu jijik padaku ?”


Kirana masih menangis dalam pelukan Sebastian tanpa membalas pelukan pria itu. Sebastian sendiri semakin erat memeluk kekasihnya dan sesekali mengusap punggung Kirana.


Perlahan suara tangis Kirana mulai mereda. Sebastian melerai pelukannya dan mendengar Kirana sesekali masih sesunggukan. Ia mengambil tisu yang ada di meja sofa dan perlahan mengusap pipi Kirana yang basah, bahkan tanpa merasa jijik, Sebastian menghapus ingus yang keluar dari hidung Kirana.


“Ceritakan apapun yang penguntit itu kirim padamu, aku pasti akan menjelaskan yang sebenarnya dan mencari tahu maksud orsng itu mengirimkannya padamu.”


Sebastian mengusap kepala Kirana dan menyibakkan rambutnya yang menempel di wajah lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Ia mengambil tisu kembali dan membersihkan sisa-sisa air mata di wajah Kiirana.


“Aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh Kirana, dan tidak pernah terlintas di benakku untuk menyakitimu. Ceritakan padaku yang membuatmu merasa begitu tersakiti, ya ?”


Sebastian tersenyum lalu meraih handphone yang masih digenggam oleh Kirana.


“Boleh aku ikut melihat pesan yang dikirim oleh penguntitmu itu ?”


Kirana mengerjapkan matanya. Entah kenapa, ia merasa telah bersikap kekanak-kanakan pada Sebastian. Teringat ucapan mama semalam, seharusnya ia menanyakan langsung pada Sebastian, bukan mendiamkannya. Tapi apakah Sebastian akan jujur kalau Kirana menanyakan kebenaran foto itu ?

__ADS_1


“Sudah aku hapus,” lirih Kirana sambil menunduk.


Sebastian kembali memeluk Kirana sambil tertawa pelan. Diciumnya pipi Kirana penuh kasih sayang.


“Terima kasih sudah mau berbicara lagi denganku.”


Sebastian mengangkat dagu Kirana hingga mereka sekarang bertatapan.


“Boleh aku minta Aldo membantu memulihkan pesan itu ?”


Kirana menggeleng dan mengambil handphonenya yang sudah diletakan di atas meja oleh Sebastian.


Ia mengetik sesuatu di handphonenya, dan tidak lama noifikasi pesan masuk justru berbunyi di handphone Sebastian.


Sebastian meraih handphonenya yang juga ada si atas meja sofa dan melihat nama Kendra muncul di layar handphonenya.


“Kendra mengirim pesan untukku,” Sebastian menunjukan layar handphonenya. Kirana hanya mengangguk.


Kirana hendak bangun dari pangkuan Sebastian karena merasa kurang nyaman, namun lengan Sebastian menahan pinggangnya dan ia menggeleng saat Kirana menatapnya.


Dahi Sebastian berkerut saat membuka foto yang dikirimkan oleh Kendra. Berusaha mengingat kapan dia berada dalam seperti itu dengan wanita yang ada di foto. Sebastian mengamati dengan teliti detail yang ada di dalam foto.


Kirana mengernyit dan terlihat kesal karena Sebastian sama sekali tidak terlihat kaget saar melihat foto itu. Meski Kirana tahu kalau Sebastian sedang menelisik foto itu, tapi pikiran negatif justru yang memenuhi otsak Kirana.


“Jadi Kendra juga sudah tahu juga foto ini ?” Tanya Sebastian sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Ya, aemua. Papa dan mama juga,” sahut Kirana dengan suara ketus.


Blush


Wajah Sebastian memerah karena malu. Fotonya dengan perempuan lain dalam posisi yang tidak wajar justru diperlihatkan Kirana pada calon mertua dan adik iparmya.


“Jadi benar kan apa yang terlihat di foto itu ?” Kirana mengernyit, masih melihat tingkah Sebastian yang terlihat canggung.


Ia menggeleng tanpa menatap Kirana. Bahkan ia mengusap tengkuknya karena salah tingkah.


“Foto itu bukan editan !” Seru Kirana cukup keras membuat Sebastian terkejut.


Kirana kembali berusaha turun dari pangkuan Sebastian namun lagi-lagi tidak berhasil.


“Tolong turunkan saya Pak Bas !” Kirana menatap Sebastian dengan tajam.


“Tidak akan ! Aku akan meminta pertanggungjawabanmu,” Sebastian membalas tatapan Kirana.


“Kenapa jadi aku yang harus bertanggungjawab atas perbuatanmu !” Serunya dengan galak.


Sebastian langsung meraih tengkuk Kirana dan mencium bibir gadis itu. Kirana yang kaget sempat terdiam namun sepesekian detik kemudian ia memukul bahu Sebastian supaya melepaskannya.


“Kamu harus bertanggungjawab karena sudah membuat aku malu di depan calon mertua dan adik iparku dengan memperlihatkan foto itu pada mereka.” Bisik Sebastian dengan suara yang sengaja dibuat manja.


Kirana langsung melotot dan mendengus kesal.

__ADS_1


“Jangan marah begitu, bikin aku ingin cium kamu lagi lebih dari yang tadi. Aku akan menjelaskan padamu, tapi tolong jangan marah lagi padaku.”


Kirana membuang pandangan ke lain arah masih dengan wajah kesal. Bagaimana mungkin Kirana bisa memaafkan Sebastian yang belum memberikan penjelasan apapun kepadanya.


__ADS_2